RSS

Pentingnya Belajar Hadits dan Sunnah

19 Agu

Pentingnya Hadits

Penjelasan pertama :

Pentingnya hadits dalam menjalankan kegiatan sehari-hari adalah wajib hukumnya bagi umat Islam dan tak lupa bahwa Al Qur’an lah penyebab dari sekian banyaknya hadits yang muncul.

Al Qur’an itu sulit dipahami oleh orang Indonesia, karena bahasanya adalah bahasa Arab.

Misal saja dalam Al Qur’an disebutkan tentang perintah kewajiban untuk menjalankan shalat.

Di situ, Al Qur’an tidak menyebutkan bagaiman caranya shalat, apalagi rukun shalat tak dijelaskan secara rinci.

Untuk itulah Rasulullah SAW memberikan contoh tentang caranya shalat, dan para sahabat menyaksikannya, dari takbiratul Ikhram hingga mengucap salam.

Bukankah yang demikian itu bahwa hadits itu sesungguhnya membuat jelas isi Al Qur’an.

Tapi kenapa umat Islam banyak yang enggan belajar hadits (mempelajarinya).

 

Penjelasan kedua :

Ajaran Islam dibangun di atas dua pondasi: Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Bahkan banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak bisa diamalkan dengan benar dan tepat tanpa bantuan keterangan dari Sunnah Nabi SAW. Demikian yang dikehendaki Allah SWT atas agama ini.

Bukti sederhana saja, dapatkah kita melakukan shalat lima waktu dengan benar tanpa mempelajari Sunnah? Tentu saja tidak. Sebab Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci detail-detail cara melakukan shalat. Al-Qur’an hanya menjelaskan pokok-pokok masalah saja, di mana disebutkan bahwa shalat lima waktu adalah wajib hukumnya.

Itulah salah satu contoh yang melukiskan pentingnya pengetahuan tentang Sunnah Rasulullah SAW. Mengingat pentingnya Sunnah ini, tak heran jika Imam Abu Hanifah berkata:”Tanpa Sunnah tak seorangpun dari kita yang dapat memahami Al-Qur’an.”

Mempelajari hadits Nabi SAW mempunyai keistimewaan tersendiri sebagaimana dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya bahwa orang yang mempelajari dan menghafal hadits-haditsnya akan dianugerahi oleh Allah SWT wajah yang bercahaya, penuh dengan pancaran nur keimanan yang menandakan ketenangan hati dan keteduhan batin. Sabda beliau SAW:”Allah membuat bercahaya wajah seseorang yang mendengar dari kami sebuah hadits, kemudian menghafalnya dan menyampaikannya …” (Abu Daud dalam Sunannya dan At-Tirmidzi dalam Sunannya).

Oleh karena itu, marilah kita menambah perbendaharaan ilmu dengan belajar ilmu Hadits….

 

A. PENJELASAN EMPAT KOMPONEN HADITS

Apakah hadits itu? Hadits adalah semua ucapan, perbuatan, pengakuan, dan sifat-sifat Nabi SAW.

Jadi hadits terdiri atas empat komponen, yaitu:

1. Ucapan-ucapan Nabi SAW, disebut Hadits Qawly.

2. Perbuatan-perbuatan Nabi SAW, disebut Hadits Fi’ly

3. Pengakuan-pengakuan Nabi SAW, disebut Hadits Taqriry

4. Sifat-sifat Nabi SAW.

Berikut diberikan penjelasan satu per satu.

1.Apakah yang dimaksud dengan ucapan Nabi SAW?. Maksudnya adalah semua perkataan yang keluar dari mulut beliau SAW dalam berbagai kesempatan dan suasana, yang menyangkut segala masalah. Baik ucapan itu disampaikan dalam forum resmi atau dalam perjalanan, baik disampaikan dalam keadaan sedih ataupun gembira, baik menyangkut masalah ibadah maupun masalah kehidupan sehari-hari, itu semua adalah hadits. Kemudian ucapan ini didengar oleh Shahabat r.a. lalu disampaikan kepada yang lain.

Contohnya adalah sabda beliau SAW:

“Barangsiapa mengadakan-adakan sesuatu yang baru dalam urusan kami ini (dien=agama) yang tidak termasuk di dalamnya, maka itu ditolak”.

(H.R. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a.)

2.Apakah yang dimaksud dengan perbuatan Nabi SAW? Maksudnya adalah bahwa Nabi SAW berbuat sesuatu yang dilihat oleh Shahabat r.a. kemudian disampaikan kepada Shahabat lainnya sebagai laporan.

Contohnya tata-cara shalat beliau SAW, mulai dari mengangkat tangan (takbiratul ihram) hingga salam. Lalu beliau SAW bersabda:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Contoh lainnya adalah perbuatan beliau SAW tatkala mengerjakan manasik haji, mulai dari berihram untuk haji hingga mabit di Mina tiga malam pada hari-hari tasyriq. Lalu beliau SAW bersabda: “Ambillah dariku manasik haji kalian.” (H.R. Muslim).

3.Apakah yang dimaksud dengan pengakuan / taqrir Nabi SAW ?

Maksudnya adalah perbuatan atau perkataan Shahabat r.a yang diketahui Nabi SAW tetapi mendiamkannya atau tidak berkomentar. Diamnya Nabi SAW berarti setuju dengan perbuatan atau perkataan Shahabat tersebut. Sebab jika salah niscaya Nabi SAW tidak akan mendiamkannya.

Contoh ketika Ibnu ‘Umar melaporkan:”Kami pernah berkata pada waktu Nabi SAW masih hidup, orang yang terbaik dari umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Rasul SAW mendengarnya dan tidak membantah.” (Thabrany dalam Mu’jam al-Kabir).

4.Apakah maksudnya sifat Nabi SAW? Maksudnya bentuk tubuh atau fisik Nabi SA, karakter atau pembawaan beliau SAW.

Contoh Anas r.a. Berkata: “Bentuk fisik Nabi SAW tidak terlalu tinggi dan tidak pendek. Tidak terlalu putih dan tidak hitam. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak lurus.”

Aisyah melaporkan:”Rasulullah SAW tidak pernah berkata buruk, tidak berteriak di pasar dan tidak membalas keburukan orang dengan keburukan serupa, tetapi beliau mema’afkannya.”

 

B. HUBUNGAN ANTARA HADITS DAN SUNNAH

Adakah perbedaan antara Hadits dan Sunnah?

Pada masa Nabi SAW masih hidup istilah Sunnah memang dipakai untuk menerangkan praktik yang dilakukan oleh Beliau SAW seperti tata cara shalat, cara berhaji, cara berbicara, cara makan, dan sebagainya termasuk kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi SAW. Namun setelah beliau wafat mayoritas ahli Hadits tidak lagi membedakan Hadits dan Sunnah. Keduanya menjadi sama (muradif) karena keduanya berujung pada Rasulullah SAW.

Sunnah secara bahasa bermakna cara (thoriqoh). Tapi dalam konteks ini sebagaimana arti Hadits, Sunnah adalah semua yang berasal dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, maupun sifatnya.

Dalam ilmu Ushul Fiqh, makna “Sunnah” adalah segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah SAW selain Al-Quran yang bisa dijadikan sebagai dalil dalam hukum syara’.

 

C. ADAKAH SUNNAH SELAIN SUNNAH NABI SAW?

Satu-satunya Sunnah yang diakui selain Sunnah Nabi SAW adalah Sunnah Shahabat r.a. Sunnah Shahabat menerangkan praktik yang dilakukan oleh para Shahabat r.a. (amal al-Shahabat) baik asalnya dari Al-Qur’an maupun dari Hadits Rasul atau pun dari yang lainnya, karena mengikuti suatu Sunnah yang hidup di kalangan mereka atau ijtihad yang mereka sepakati.

Contoh Sunnah Shahabat adalah penghimpunan mushaf-mushaf Alquran yang bercerai-berai dilakukan oleh Abu Bakar atas usul dari Umar ibn Khattab. Kemudian pada masa Utsman ibn Affan diputuskan penggunaan satu qira’ah pembacaan saja dari tujuh qira’ah yang ada.

 

D. DAPATKAH SUNNAH SHAHABAT ITU DITERIMA DAN DIAMALKAN?

Sunnah Shahabat dapat diterima dan diamalkan berdasarkan sabda Nabi SAW: “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semua masuk neraka kecuali satu.” Para Shahabat bertanya: “Siapa itu wahai Rasulullah?” Beliau SAW menjawab: “Faham yang sesuai dengan aku dan Shahabatku” (Sunan Abu Daud dan Sunan Ibnu Majah).

Juga perintah Nabi SAW yang diriwayatkan oleh al-‘Irbadh Ibn Sariyah, sabdanya:”Peganglah Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ ar-Rasyidun sesudahku dan gigitlah dengan gigi geraham kalian” (Sunan Abu Daud).

 

E. ADAKAH PENGERTIAN SUNNAH YANG LAIN?

Dalam ilmu fiqih, kata “sunnah” mempunyai makna “tidak wajib”. Contoh shalat lima waktu itu hukumnya wajib, sedangkan shalat rawatib itu hukumnya sunnah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 19, 2011 in Sucikan Hati

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 444 pengikut lainnya.