RSS

Arsip Kategori: ISLAM News

Hukum Memakai Ayat Al Quran Dan Lafadz Adzan Sebagai Ring Tone

Telah berkembang luas akhir akhir ini, pada sebagian umat Islam fenomena menjadikan ayat-ayat al-Quran dan lafadz adzan sebagai ring tone di telepon dan HP mereka. Dengan tujuan menjauhi ring tone musik yang diharamkan. Akan tetapi, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya.

Ayat Al-Quran dan lafadz adzan sesungguhnya adalah lafadz-lafadz yang digunakan dalam beribadah. Allah sudah menjadikannya terkait dengan hukum-hukum syari’at baik qiraah Al-Quran atau sebagai panggilan untuk shalat. Sebagaimana telah terjelaskan dalam hadist yang menerangkan tentang itu. Dari Malik bin al-Khuairits RA dia berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

“Jika telah datang waktu shalat maka hendaklah salah seorang diantara kalian adzan.” (HR. Bukhari-Muslim).

Demikian juga hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Aisyah, “Sesungguhnya Bilal menyerukan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum menyeru (adzan).”

Maka prinsip dasar kita dalam beragama adalah ittiba’ (mengikuti sunnah) bukan ibtida’ (menambah atau mengurangi sunnah). Andaikan agama ini berdasarkan pendapat dan hawa nafsu, maka adzan yang lebih utama tentu untuk shalat ‘ied atau khusuf (shalat gerhana) daripada shalat lima waktu. Maka karena dasar agama ini adalah mengikuti sunnah, sehingga yang lebih utama adalah tidak menjadikan lafadz adzan untuk perkara-perkara dunia baik untuk ring tone HP atapun alarm pada jam beker dan semacamnya selain adzan yang digunakan untuk pada masuknya waktu shalat.

Maka menjadikan ayat Al Quran dan lafadz adzan untuk ring tone HP dan sejenisnya adalah sudah termasuk mempermainkannya dan termasuk hal yang sia-sia. Adapun pelakunya telah masuk dalam firman Allah:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً

“Dan berkata rasul, “Wahai Rabb sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Quran ini sebagai yang disia-siakan.”

Hendaknya setiap kita mengetahui, bahwasanya dzikir kepada Allah akan dinilai sebagai ibadah jika dalam bentuk yang disyariatkan bukan dengan perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya syarat suatu amalan adalah ittiba’ dan ikhlas. Tidaklah masuk akal Allah menurunkan Al-Quran untuk dijadikannya ring tone untuk menandai adanya penelpon. Dan barang siapa yang merasa melakukan demikian itu karena senang mendengarkan Al-Quran maka kami katakan, sesungguhnya mendengarkan Al Quran ada beberapa jalan. Diantaranya adalah melalui kaset dan radio. Maka orang yang meletakkan kaset dalam tape recorder pasti dia berniat untuk mendengarkan akan tetapi siapa yang meletakkannya pada ring tone HP, dia justru mempunyai tujuan lain yaitu sebagai tanda adanya penelpon, dan inilah yang dilarang. Andaikan saja seseorang ingin mendengarkan al-Quran sedang dia dalam tempat yang najis, kita katakan bahwa perbuatan ini tidak pantas bagi Al-Quran sehingga dia tidak boleh mendengarkannya. Dan tidak dapat dibenarkan bantahannya dengan alasan ingin mendengarkan al Quran, karena tidak diperdengarkan dengan cara yang benar. Dan kenyataannya, begitu ayat berbunyi langsung dimatikan, karena memang tujuannya bukan untuk mendengarkan ayat.

Musibah yang ditimbulkan dari perbuatan ini tidak terhenti pada hal ini saja tetapi akan berimbas pada yang lain. Lihat saja, ketika datang telepon dari seseorang, sangat mungkin HP yang sedang memperdengarkan ayat-ayat al-Quran dan lafadz adzan itu akan segera dimatikan. Bahkan dia (penerima) menggerutu dan kesal setiap kali ring tone itu berbunyi, padahal ring tone nya adalah bacaan ayat-ayat Al-Quran dan lafadz adzan. Seandainya ada yang membela diri bahwa dia mematikan HP dan menggerutu itu karena adanya penelpon yang tidak disukainya bukan karena ayat-ayat al-Qquran dan lafadz adzan tadi, kami katakan, akan tetapi perbuatan yang kau lakukan ini terjadi terhadap ayat-ayat al-Quran dan lafadz adzan yang kau jadikan sebagai ring tone, maka mengapa kau jadikan ayat-ayat Al-Quran dan lafadz adzan sebagai sasaran? Apakah ini masih termasuk memuliakan ayat-ayat Al Quran dan lafadz adzan? Allah ta’ala berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka dia termasuk dari ketakwaan hati”.

Oleh karenanya dalam hal ini, lebih utama bagi seseorang untuk mengganti ring tone nya dengan suara-suara yang lain, yang tidak berbau agama juga bukan pula berupa musik atau nyanyian. Inilah jalan yang lebih selamat bagi semuanya.

sumber: qiblati.com
 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 2, 2011 in ISLAM News

 

FENOMENA HAJI DAN PERUBAHAN SOSIAL

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian sama sucinya seperti hari ini, di negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah SWT ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya.”

Begitulah cuplikan pidato Rasulullah SAW beribu tahun yang lalu terhadap sahabatnya setelah melalui ritual ibadah haji. Pidato yang merupakan dekralasi atas kesamaan hak manusia di muka bumi ini. Tidak ada kaum yang lebih tinggi ataupun lebih rendah derajatnya. Semua sama di mata Allah SWT, yang membedakan hanya takwa.
Pidato ini pula menjadi isyarat betapa sucinya makna persaudaraan. Betapa pentingnya cinta kasih sesama manusia. Betapa tingginya arti solidaritas sosial dalam tatanan masyarakat. Apabila bangunan persaudaraan itu runtuh, maka kehancuran suatu bangsa akan bisa diramalkan. Karena kehormatan setiap manusia sama sucinya dengan negeri makkah, tanah yang suci.
Haji merupakan simbol semangat bagi umat muslim untuk bertemu dengan tuhannya. Kerinduan akan perjumpaan dengan Allah SWT adalah puncak tertinggi kebahagiaan umat muslim. Hal ini terlihat jelas betapa merindunya orang-orang untuk segera bergegas ke ‘rumah-Nya’. Banyak yang akan rela menabung bertahun-tahun untuk melepas dahaga akan salah satu kewajiban umat Islam itu.
Maka, seiring dengan waktu, haji pun menjadi fenomena dan popular dalam kehidupan masyarakat kita. Jangan harap, begitu ada uang, Anda akan bisa langsung meluncur ke tanah suci. Harus menunggu antrian hingga ribuan orang. Terkecuali mungkin program khusus.
Namun, seiring dengan waktu pula, haji menjadi tanda tanya. Sebab berbondong-bondongnya umat muslim mengejar haji ternyata tidak sebanding dengan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Haji di Indonesia menjamur di tengah maraknya kasus korupsi, menjulangnya angka pengangguran, meningginya tingkat kemiskinan, rawannya konflik sosial, dan lain sebagainya.
Ini merupakan pukulan telak. Ruh ratusan ribu hingga jutaan orang bergelar haji di negeri ini seolah hampa. Islam pun sebagai agama yang sempurna kian dipertanyakan.
Menurut Haedar Nashir, tinggi dan menguatnya tradisi keberagamaan dan keislaman di Indonesia, ternyata tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara nasional. Angka kemiskinan dan pengangguran masih sangat menakutkan. Inilah akibat dari tidak terjaganya bandul keseimbangan dari agama Islam.
Umat Islam begitu bangga bila menunaikan ibadah haji hingga berkali-kali. Namun, tidak sadar bahwa di sekelilingnya masih banyak orang yang tidak bisa berdiri tegak beribadah karena kelaparan. Umat Islam ada yang begitu sedih tidak dapat menunaikan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Namun, lupa akan keberadaan tetangganya yang sangat membutuhkan uluran tangan darinya.

Ritual Haji dan Kemanusiaan
Ritual haji sesungguhnya adalah proses menuju ‘kesempurnaan manusia’. Mereka yang terpanggil oleh Allah SWT menginjakkan kakinya di tanah suci akan rela melepas segala atribut keduniaannya. Panggilan suci ini akan menanggalkan sifat-sifat keiblisannya diganti dengan siraman cahaya nurani.
Pakaian ihram yang hanya merupakan selembar kain putih tak berjahit merupakan bagian dari ritual haji yang menyimbolkan persamaan derajat manusia. Status sosial, kedudukan ataupun jabatan akan diruntuhkan dengan ritual ini.
Wukuf di Arafah melambangkan betapa kecilnya umat manusia di hadapan Sang Pencipta. Manusia hanya seperti butiran pasir di tengah gurun yang amat luas. Hanya seperti setetes air di tengah hamparan samudera. Maka, tidak ada alasan manusia untuk menyombongkan diri. Tidak alasan untuk menindas satu sama lain.
Thawaf yang disimbolkan dengan mengelilingi Ka’bah mengisyaratkan kesamaan manusia di hadapan tuhannya. Semua suku, bangsa adalah sama.
Sa’i yang ditandai dengan berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah melambangkan bahwa manusia bertanggung jawab atas sesamanya. Orang kaya punya tanggung jawab terhadap orang miskin. Penguasa bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.
Seorang haji di mata Allah SWT adalah yang tersempurnakan syahadat, shalat, puasa, dan zakatnya. Maka sebagai manusia yang ‘tersempurnakan’ sudah seharusnya kepekaan sosialnya lebih tinggi atas lainnya. Kualitas ibadah haji seseorang akan ternilai melalui kemampuannya bertransformasi terhadap lingkungan.
Haji yang dibawa kembali ke tanah air tidak membuat seseorang menjadi feodal baru. Tapi, justru harus membawa semangat pembebasan. Dahulu, ketika awal modernisasi di Indonesia, awal abad 20-an, seseorang bergelar haji akan membawa pengaruh sangat tinggi di kalangan masyarakat. Mereka biasanya membawa pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan dan progresif.
Progresifitas itu, baik pemikiran maupun ekonomi, tidak terlepas dari modenisasi timur tengah kala itu. Semangat pembaharuan Islam banyak diadopsi oleh jamaah haji kemudian diterapkan di tanah air. Hal itulah kemudian menjadi pilar modernisasi di Indonesia. Menurut Belanda, seorang haji akan semakin ulet dalam berdagang, dan juga tidak kompromi melakukan perlawanan terhadap penjajah.
Semangat haji seseorang, hendaknya ditransformasikan melalui etika kejujuran dan bersih apabila ia politisi. Hendaknya ditransformasikan melalui pengembangan keilmuan bagi ia yang akademisi. Hendaknya ditansformasikan melalui keberpihakannya pada yang lemah apabila ia seorang pemimpin.
Haji bukanlah simbol sebagai golongan orang yang dijamin masuk surga di daerahnya. Haji jangan sampai hanya dijadikan fashion sebagian orang. Yang membuatnya memiliki identitas sendiri dibanding kelompok masyarakat lainnya.
Absurditas haji akan muncul apabila kehajiannya dieksploitasi sedemikian rupa untuk mengejar kepentingan dunia. Haji absurd apabila itu menjadikannya alasan untuk tidak bergaul dengan masyarakat kelas rendah, merasa angkuh selalu berdiri di kelasnya sendiri.

Haji yang Rahmatan Lil ‘Alamin
Dalam buku ‘Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan’, Moeslim Abdurrahman menyatakan gagasannya tentang konsep Islam yang murni. Menurutnya, Islam yang paling murni itu hanya bisa dilihat dari pergulatan hidup sehari-hari para pemeluknya. Seorang muslim dapat dikatakan menjadi seorang muslim yang sebenarnya apabila dia telah membuktikan kemuslimannya. Bagaimana hidup kesehariannya dalam menegakkan keadilan itulah yang membuktikan derajat kemusliman seseorang. Islam adalah ruh kemanusiaan yang menuntun perubahan, terutama dalam pemerdekaan, untuk mewujudkan keadaban dan peradaban, dan untuk menghidupkan cita-cita kemanusiaan yang merdeka, bebas, dan terhormat.
Begitu pula dengan kehajian seseorang. Haji yang murni adalah haji yang membawanya untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat. Mereka selalu yang menjadi pelopor perubahan.
Kesempurnaan haji justru diraih pada perjuangannya memberantas kebodohan- misalnya. Haji dinilai pada pergulatannya memperjuangkan kaum-kaum yang ditindas oleh penguasa, dan membebaskan belenggu kemiskinan. Pengalaman spiritualnya ditransfer untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan di bumi tempat ia berpijak.
Di tengah kondisi bangsa akhir-akhir ini, bencana alam, korupsi merajalela, perekonomian yang sulit, semoga semangat iman dan islam para peserta haji bisa membumi di Indonesia hingga negeri ini menjadi baldatun toyibbatun warobbun ghofur.

*Penulis adalah Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Unhas

sumber http://fitrawanumar.blogspot.com
 
Leave a comment

Posted by pada September 28, 2011 in ISLAM News

 

Harian The Independent Sebut Makkah Hanya untuk Orang Kaya dan ‘Mirip Vegas’

Harian The Independent Sebut Makkah Hanya untuk Orang Kaya dan 'Mirip Vegas'

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Dalam 10 tahun ini, Makkah mengalami transformasi yang luar biasa; lokasi Masjidil Haram ditata ulang, dan bermunculan gedung-gedung pencakar langit dan hotel berbintang berkelas internasional.

Dalam sebuah tulisan feature, harian The Independent mengupas sisi dalam Kota Suci. “Meski Nabi Muhammad datang untuk menekankan kesetaraan, Makkah berubah menjadi taman bermain bagi kaum kaya dimana kapitalisme secara kasat mata mengaburkan nilai spiritualitas kota,” tulis mereka, mengutip kata-kata seorang kritikus.

Harian ini menyoroti, betapa demi membangun kota yang kini ‘serupa Las Vegas’, banyak bangunan bersejarah yang dikorbankan. “Tak ada yang memperjuangkan aksi vandalisme budaya ini,” kata  Dr Irfan al-Alawi, direktur eksekutif The Islamic Heritage Research Foundation. “Kami sudah kehilangan 400-500 situs bersejarah. Saya harap belum terlambat untuk menyelamatkan yang tersisa.”

Sami Angawi, pakar arsitektur Islam Arab saudi, sama-sama prihatin. “Ini adalah kontradiksi mutlak untuk sifat Makkah dan kesucian rumah Allah,” katanya kepada kantor berita Reuters awal tahun ini. “Kedua kota [Makkah dan Madinah] secara historis hampir punah. Anda tidak menemukan apa-apa kecuali gedung pencakar langit.”

Kekhawatiran dr Alawi yang paling mendesak adalah ekspansi yang direncanakan senilai miliaran dolar AS dari Masjidil Haram, situs paling suci dalam Islam dimana Kabah berada. Konstruksi resmi dimulai awal bulan ini. Menteri Kehakiman, Mohammed al-Eissa, berseru bahwa proyek ini akan menghormati “kesucian dan kemuliaan dari Masjid Suci, dan demi kepentingan jamaah.”

Area perluasan sekitar 400 ribu meter persegi tengah dibangun untuk mampu meningkatkan daya tampung  1,2 juta jamaah lagi tiap Musim Haji tiba. Pembangunan ini, menurut The Islamic Heritage Research Foundation, bukan tanpa risiko. Lembaga ini menyusun daftar situs sejarah yang terancam diratakan dengan tanah akibat pembangunan ini, termasuk bangunan sisa-sisa peninggalan era Usmaniyah dan Abbasiyah. Termasuk dalam bangunan yang terancam dihancurkan adalah rumah di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan rumah pamannya, Hamzah, tumbuh.

Argumen yang selalu dikemukakan, tulis The Independent, adalah bahwa Makkah dan Madinah sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur. Dua belas juta peziarah mengunjungi kedua kota ini setiap tahun dengan jumlah yang diperkirakan meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.

Tetapi para kritikus khawatir bahwa keinginan untuk memperluas situs ziarah telah memungkinkan pihak berwenang untuk menginjak-injak warisan budaya di daerah itu. Lembaga yang dipimpin Alawi mencatat setidaknya 95 persen bangunan bersejarah yang berusia ratusan tahun telah dibongkar dalam dua dekade terakhir saja.

Kehancuran telah disokong oleh paham Wahabisme.Dengan alasan takut menjadi ajang sirik, bangunan bersejarah diratakan.

Sedikit catatan dari The Independent: Untuk membangun kota pencakar langit di Makkah, sebuah gunung didinamit dan diratakan, menghancurkan Benteng Ajyad di era usmaniyah yang berdiri di atasnya. Lalu, rumah Khadijah istri pertama Nabi telah berubah menjadi blok toilet masjidil Haram, sedang rumah tempat lahirnya bahkan diratakan begitu saja.

Alawi berharap masyarakat internasional ‘terbangun dari tidurnya’ dan melihat apa yang terjadi terhadap warisan sejarah Islam di Makkah. “Kami tidak akan mengizinkan seseorang pun untuk menghancurkan Piramida, jadi mengapa kita membiarkan sejarah Islam lenyap?” katanya.

 
Leave a comment

Posted by pada September 28, 2011 in ISLAM News

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 589 pengikut lainnya.