RSS

Arsip Bulanan: April 2009

RING FLASH buatan sendiri

Disadur dari situs FN

Membuat RingFlash Murah meriah

Barang yang diperlukan :

1. Lampu LED bercahaya putih terang 12 bh x @ rp.2.000,- (Not led biasa @Rp300)

2. Tempat Battre AA2 yang bisa untuk 4 battre @ Rp.2.000,-

3. Kabel kecil 1 meter @Rp.700,-

4. Potensio meter 1k @Rp 500 (sebagai tahanan, utk pengatur cahaya LED, seperti volume pada tape)

5. Saklar kecil @Rp.250

Langkah Pertama yang harus di persiapkan adalah

  1. Ambil pulpen dan pensil + penggaris.
  2. buatlah potongan kertas 4 cm x 10 cm untuk menutupi ADAPTER dan rekatkan dg slotip

Buatlah potongan kertas 4 cm x 50 cm beberapa buah dan gulunglah pada ADAPTER setebal mungkin, tetapi jangan di selotip ke adapter supaya bisa di lepas. Jangan lupa ketika membuat gulungan usahakan untuk dilem, pake lem AIKA AIBON secukupnya, lepaslah gulungan tersebut dari adapter dan sisi atas di kasih lem AIKA AIBON, untuk mempermudah penyusunan lampu LED NANTI….

Susunlah lampu LED Satu demi satu, dengan jarak yang sama.

Ambil Benang dan lilitkan kada kumpulan LAMPU LED TERSEBUT DAN IKAT MATI.

BENGKOK-kan kaki-kaki LAMPU LED TERSEBUT, pilih yang sejenis (+) POSITIF semua atau pilih yang (-) NEGATIF semua.

 

Tutup kembali kaki-kaki LAMPU LED tersebut sampai hampir menutupi semua kaki-kaki LAMPU LED yang tidak di bengkokkan.

1. Kaki-kaki LAMPU LED yang di bengkokkan di sambung pake kabel yang sudah di kelupas kulitnya.

2. Demikian pula Kaki Kaki LAMPU LED yang tidak di bengkokkan harus di sambung pake kabel yang sudah di kelupas kulitnya.

Ambil potongan karton lagi, dan tutuplah sekali lagi kaki-kaki LAMPU LED yang sudah tersambung oleh kabel. Sambunglah kabel dari lampu led dengan kabel yang lebih panjang ke kabel tempat battre.

(JANGAN TERBALIK ANTARA POSITIF DAN NEGATIF) KAKI LAMPU LED YANG PANJANG ADALAH YANG POSITIF, SEDANGKAN YANG LEBIH PENDEK NEGATIF.

– Kalau proses sudah selesai dan lampu led bisa nyala, PUTUSKAN salah satu kabel POSITIF atau NEGATIF, dan sambungkan ke Saklar dan POTENSIO METER.

– RAPIKAN HASIL KERJAAN, Lem SAKLAR dan POTENSIO METER ke tempat Battre dan BERSIAP UNTUK BERMAKRO MALAM

 

KESIMPULAN :

1. MAKIN BANYAK LAMPU LED MAKIN RAPAT SUSUNAN LAMPU LEDNYA, OTOMATIS CAHAYA MAKIN RATA,

2. Terangnya Cahaya LED bisa diatur di Potensio Meter, akali supaya potensio meter mudah untuk di putar-putar.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2009 in Hobbies, Ilmu Pengetahuan

 

Moment in April

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2009 in photo collection

 

Kartini Day

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2009 in photo collection

 

ISTILAH FOTOGRAFI

Aperture / Bukaan

Aperture / Bukaan atau rana di dalam fotografi berarti ukuran pembukaan diafragma yang mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke dalam kamera. Biasanya dilambangkan dengan huruf f.

Angka bukaan umumnya merupakan urutan 1, 1.2, 1.4, 2, 2.8, 4, 5.6, 8, 11, 16, dan seterusnya.

Nilai bukaan merupakan perbandingan antara jarak fokus lensa dengan diameter lubang diafragma, yang biasanya dituliskan dengan format f/(nilai bukaan). Sebagai contoh, lensa 100mm, pada pengaturan bukaan 4 (f/4), mempunyai arti bahwa diafragma pada lensa tersebut sedang terbuka dengan diameter 25mm.

Karena bukaan adalah perbandingan antara jarak fokus lensa dengan diameter dari diafragma yang terbuka saat itu, maka untuk satu nilai bukaan (misalnya f/8) pada semua lensa (tidak tergantung dari panjang fokal lensa tersebut), akan meneruskan intensitas cahaya yang sama.

Pengaruh bukaan

Semakin besar angka bukaan, berarti semakin kecil diameter lubang diafragma di bagian dalam lensa. Besarnya diameter terbukanya diafragma akan membuat cahaya yang masuk menjadi lebih banyak, sehingga pajanan cahaya bertambah dan akibatnya tingkat keterangan foto bertambah, demikian pula sebaliknya.

Pengaruh lain dari bukaan adalah terjadinya perbedaan ruang ketajaman. Angka bukaan yang kecil menyebabkan ruang ketajaman berkurang. Sebaliknya angka bukaan yang kecil akan menyebabkan ruang ketajaman bertambah.

 

Depth of Field

Depth of Field adalah istilah khusus di dalam fotografi untuk menunjukkan ruangan tertentu di dalam foto yang mendapatkan perhatian khusus oleh mata karena adanya perbedaan ketajaman (fokus).

Perubahan kedalaman ruang dipengaruhi oleh tiga faktor:

  1. Jarak fokus utama dari kamera

    Lebar ruang tajam berbanding lurus dengan kuadrat jarak objek. Jika kita mengubah jarak antara kamera dengan objek sebesar 3x (lebih jauh – dengan menggeser kamera mundur dari posisi semula) maka lebar ruang tajam akan menjadi 9x lebar semula.

  2. Bukaan diafragma

    Lebar ruang tajam berbanding lurus dengan diafragma. Contoh: jika diafragma dinaikkan 2 stop dari f/8 ke f/16, maka lebar ruang tajam akan menjadi 2x lebar semula.

  3. Panjang fokus lensa yang digunakan

    Lebar ruang tajam berbanding terbalik dari kuadrat panjang fokus. Dengan kata lain, lebar ruang tajam akan menjadi 4x lebar semula jika kita mengubah lensa dari 100mm ke 50mm (panjang fokus lensa setengah dari semula).

     

 

DIAFRAGMA

Diafragma adalah komponen dari lensa yang berfungsi mengatur intensitas cahaya yang masuk ke kamera.

Diafragma lensa biasanya membentuk lubang mirip lingkaran atau segi tertentu. Ia terbentuk dari sejumlah lembaran logam (umumnya 5, 7 atau 8 lembar) yang dapat diatur untuk mengubah ukuran dari lubang bukaan (rana) lensa dimana cahaya akan lewat. Bukaan akan mengembang dan menyempit persis seperti pupil di mata manusia.

 

EXPOSURE

Pajanan (atau lebih populer dalam istilah Bahasa Inggris exposure) adalah istilah dalam fotografi yang mengacu kepada banyaknya cahaya yang jatuh ke medium (film atau sensor gambar) dalam proses pengambilan foto.

Untuk membantu fotografer mendapat setting paling tepat untuk pajanan, digunakan lightmeter. Lightmeter, yang biasanya sudah ada di dalam kamera, akan mengukur intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera. Sehingga didapat pajanan normal.

  1. Hal-hal yang mempengaruhi pajanan

    Pajanan dipengaruhi oleh tujuh hal, yaitu:

    Jenis dan intensitas sumber cahaya

    Respon benda terhadap cahaya

    Jarak kamera dengan benda

    Shutter speed.

    Bukaan.

    Ukuran ISO/ASA film yang digunakan.

    Penggunaan filter tertentu.

  2. Pengaruh tingkat pajanan

    Tingkat pajanan akan mempengaruhi tingkat keterangan foto secara keseluruhan.

    Selain itu, respon tiap benda di dalam satu karya fotografi akan berbeda, sehingga dengan pengolahan yang tepat fotografer bisa mengatur emphasis yang dihasilkan.

  3. Pajanan tidak normal

    Ada dua jenis pajanan tidak normal yang sering ditemui di dalam karya fotografi, yaitu over eksposure dan under exposure.

    Overexposure adalah keadaan foto yang dipajan lebih lama dari yang diinstruksikan lightmeter atau subjek yang ditangkap lebih terang dari sebenarnya. Sementara under exposure adalah keadaan sebaliknya.

Tidak ada ukuran benar atau salah untuk penentuan pajanan. Seluruhnya tergantung tingkat emphasis dan hasil foto yang diinginkan fotografer.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 22, 2009 in Ilmu Pengetahuan

 

TABEL HUMIDITY STANDARD

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2009 in Ilmu Pengetahuan

 

Fotografi Makro

Disadur dari Anif Putramijaya (FN )

Prakata:

Fotografi adalah dua kata yang berarti Photos dan Graphos,

dimana arti secara harfiahnya adalah “Melukis dengan Cahaya”.

Didalam kategori dunia fotografi kita akan menemui salah satunya adalah fotografi makro.Yang mana pada saat ini sedang mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan sangat menarik untuk di pelajari serta di dalami.

Mengapa Makro? Jawabannya mungkin banyak sekali, dan bahkan tidak akan mencukupi bila disebutkan semuanya disini.

Secara garis besarnya fotografi makro diperlukan antara lain:

Untuk bahan Scientific/ identifikasi species (satwa/tumbuh2an).

Untuk Engineering, metallurgy, manufacture.

Untuk tujuan promosi/marketing suatu benda/hewan/tumbuh2an .

Untuk keindahan , bahwa di dunia ini ada makhluk lain cipta’an Tuhan yang tidak bisa kita melihat keindahannya dengan mata biasa.

Dan masih banyak lainnya.

Detail suatu benda/object, komposisi dan bentuk suatu benda yang kecil, pastilah kita akan selalu luput memperhatikannya, maka dengan makro fotografi kita akan bisa melihat dengan jelas secara detail, baik warna maupun bentuknya.

Jadi melalui fotografi makro kita dapat melihat dengan jelas detail mata/facet sebuah lalat (yang mungkin kita akan jijik ketika melihat lalatnya) akan menjadi indah bentuk dan warnanya, proses penyerbukan putik pada bunga oleh lebah, kupu2 yang sedang menghisap madu, lekuk detail ukiran sebuah koin, bahkan membekukan sebuah lebah yang sedang terbang.

Seiring dengan bertambah majunya era digitalisasi saat ini, mempelajari fotografi makro adalah hal yang tidak sulit, tidak seperti di era fotografi saat masih menggunakan kamera analog plus negative film.

Oleh sebab itu pada saat era digital saa ini, fotografi makro dapat dilakukan oleh siapa saja ,tua maupun muda, lelaki atau perempuan, bahkan untuk fotogafer pemula dan kamera yang bukan pro, asal saja dilakukan dengan sungguh-sungguh .

Fotografi Makro

Fotografi makro adalah salah satu kategori fotografi yang membuat pembesaran terhadap suatu object. Atau bisa dengan kata lain dunia fotografi yang diperkecil kedalam dunia Micro.

Pembesaran tersebut bisa dilakukan dengan medekatkan obect dengan kamera, atau pun dari jarak terentu dengan menggunakan lensa tele. dan harus tetap mengusung konsep “Foto yang berbicara” dengan melibatkan unsur komposisi, POI dan keseimbangan.

Benda-benda yang dapat di makro adalah:

Ø Benda mati/diam

Seperti: sendok/garpu,perhiasan, uang koin, perangko,bunga,miniature mobil2an, souvenir dll.

 

Ø Makhluk hidup

Seperti : serangga, kupu-kupu, bunga tanaman, laba2, dll

 

Alat bantu untuk fotografi makro:

* Kamera Saku/Prosumer

Dengan kamera saku/prosumer pun kita bisa mengabadikan keindahan sebuah bunga mawar, sebuah kupu2 yang hinggap di bunga untuk menghisap madunya. Karena saat ini tekhnologi digital telah memungkinkan kita untuk melakukan fotografi makro dengan hasil yang tidak kalah bagusnya dengan kamera professional. Hampir semua kamera saku/prosumer yang sudah menyediakan fasilitas macro (biasanya ditandai dengan lambing gambar bunga tulip). Dan memungkinkan kita memotret dengan jarak focus kamera dan bendanya hingga beberapa sentimeter saja.

Saat ini sudah tersedia filter/alat tambahan yang dapat di pasang di kamera saku didepan lensanya untuk fotografi makro seperti Raynox dan filter lainnya untuk mendapatkan pembesaran yang lebih .

 

* Kamera SLR (Single Lens Reflex) baik analog maupun digital.

Semua kamera SLRDSLR kini sudah memiliki fasilitas untuk fotografi makro dengan menggunakan lensa yang berbeda-beda , dan biasanya jarak antara focus lensa ke objectnya akan berbeda tergantung jenis lensa yang kita gunakan.

Untuk lensa khusus makro biasanya jarak object ke lensa bisa sampai 20 cm, tapi apabila kita menggunakan lensa tele maka jarak terdekat yang bisa kita dapatkan titik focus biasanya lebih dari 1 meter dari object.

Sekarang telah banyak tersedia alat tambahan berupa filter close up,filter Lup/Raynox dan reverse lens (sebuah lensa yang dimodifikasi) yang di tempelkan didepan lensa, maka jarak antara object dan lensa akan semakin dekat untuk mendapatkan pembesaran lebih dari 1:1. Dan ada juga tele converter dan extension tube yang dipasang diantara lensa dan odi kamera.

 

Pembagian fotografi makro menggunakan kamera SLR/DSLR

Umum:

Menggunakan lensa khusus makro atau lensa zoom yang bertanda “bunga tulip”(bisa untuk foto makro )

Menggunakan lensa tele atau lensa normal plus tele converter..

Untuk lebih jelasnya maka lensa2 dibawah ini adalah yang biasa di pergunakan untuk fotografi makro:

# Lensa Makro Normal : 50mm

# Lensa Makro Mid tele : 90-105mm

# Lensa Makro Tele : 150-180mm

 

Ekstrem:

Memasang lensa tambahan lagi dengan posisi terbalik didepan lensa dengan tambahan sebuah adapter khusus.

Menggunakan filter tambahan seperti filter close-up didepan lensa.

Memakai filter yang seperti sifatnya sebuah kaca pembesar/Lup , Raynox,

Atau bahkan ada juga yang menambahkan sebuah kaca pembesar yang di lekatkan didepan lensa.

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan selama pemotretan makro adalah:

Lighting (sumber cahaya)

Dibagi dalam 2 :

# Natural lighting/cahaya alam/Matahari/available light

# Artifisial lighting (Flash dan lampu studio)

Depth Of Field (DoF)

DOF (kedalaman fokus) dalam fotografi makro, ruang ketajaman suatu foto akan indah bisa dilihat jikalau sesuai dengan object yang akan kita abadikan.

Karena semakin dekat jarak antara titik focus kamera dengan object maka akan semakin tipis/sempit DoFnya, ini dapat kita control dengan mengatur bukaan diafraga dari lensa nya. Tentunya kita tak akan menghasilkan foto kupu2 yang hanya tajam dibagian mata saja sementara keindahan dari warna sayapnya menjadi blur.

Jadi jikalau kita ingin mendapatkan DoF yang lebih lebar, tetapi jarak antara lensa dengan objectnya ingin lebih dekat, maka bukaan difragma haruslah di set semakin kecil nilainya (biasanya antara f/5.6 bisa sampai f/16).

Faktor yang mempengaruhi DoF adalah :

Panjang Lensa :makin panjang lensa makin tipis DOF yang akan dihasilkan

Jarak focus : Makin dekat jarak focus suatu object dari lensa, makin tipis DoF yang akan dihasilkan.

Diafragma: Makin besar bukaan lensa (f/2.8) makin tipis DoF yang akan dihasilkan.

Jadi kesimpulannya, DoF yang dihasilkan adalah kombinasi dari ke 3 variabel tsb.

Pada fotografi makro, DoF yang akan dihasilkan relative sangatlah tipis (kebalikan dari pemotretan landscape).

 

Fokus

# Auto fokus

# Manual fokus

Focusing pada fotografi makro tidaklah sulit apabila kita lakukan pada benda mati/diam. Tapi akan sangatlah sulit jikalau kita melakukannya pada benda yang bergerak seperti serangga yang selalu beterbangan.

Walaupun kini semua lensa sudah dilengkapi dengan fitur auto focus, tapi tidaklah semuanya memiliki kecepatan seperti yang kita harapkan dalam mengikuti object yang bergerak tersebut, jadi manual focusing sangatlah dibutuhkan dalam hal ini.

Setelah cukup terbiasa mendapatkan fokuc yang baik, barulah mencoba mengatur komposisi yang bagus.

 

Komposisi

Membuat komposisi agar sesuai dengan kaidah “Rule Of Third” sangatlah sulit, karena object yang akan kita foto selalu bergerak dan sangatlah kecil, kadangkala seluruh object tersebut mengisi frame kamera sepenuhnya.

Hanya dengan sering berlatih dan berlatihlah maka akan didapat komposisi yang bagus dan kreatifitas seorang fotografer sangatlah berperan sekali dalam menentukan komposisi antara foreground, background yang mendukung object (POI-Point of Interest) dengan DOF yang pas.

 

Lokasi

# Indoor

Didalam ruangan biasanya menggunakan lampu tambahan seperti flash, ringflash, atau bahkan lampu studio.

# Outdoor

Diluar ruangan kita selalu memanfaatkan cahaya matahari sebagai available lightingnya. Biasanya saat yang tepat untuk memotret makro adalah di pagi hari sampai jam 9 pagi, atau di sore hari jam 3-5 sore.

 

Tripod atau handheld

Disaat penggunaan flash tidak memungkinkan (karena serangga yang akan kita foto akan lari menjauh) maka untuk mendapatkan eksposure yang baik antara bukaan diafragma yang kecil (agar DOFnya lebih lebar) dan shutter speed sementara shutter speed yang kita dapat sangat rendah rendah, maka penggunaan tripod/monopod sangatlah di butuhkan agar hasil fotonya tidak menjadi blur.

Untuk jelasnya apabila shutter speed kita dibawah/lebih rendah/kecil dari 1/FL(Focal length) lensa yang dipergunakan maka sebaiknya pergunakanlah tripod/monopod. Contohnya kita memakai lensa yang 100mm, maka apabila shutter speed yang didapat di kamera 1/60 sebaiknya memakai tripod/monopod agar /object moment yang akan kita abadikan tidak menjadi blur.

Penggunaan tripod sangat membantu dalam pengambilan foto makro terutama disaat cuaca/matahari tidak sedang terik .

Monopod lebih flexible terutama dalam pengambilan foto makro serangga.

 

Mood dan kesabaran

Memotet adalah seperti halnya kita melukis sebuah kanvas putih, yang akan di lukis dengan menggunakan cahaya. Mood seorang fotografer akan tertuang dikanvas elektronik tersebut saat mengabadikannya.

Makro fotografi sangatlah menuntut kesabaran yang sangat tinggi dalam memotret sebuah bunga mawar apalagi seekor kupu2/lebah yang sedang sibuk menghisap madu di bunga.

Ingatlah, focus, eksposure dan komposisi dari object yang akan kita lukis di kamera apakah sudah seperti yang akan kita abadikan sesuai dengan mood nya.

 

Moment dan keberuntungan

Moment tidaklah sesulit seperti yang kita bayangkan, kita bisa mempelajari waktu, kebiasaan dan tempat dari setiap serangga keluar (pada umumnya pagi). Atau saat yang tepat/terbaik kapan sebuah bunga mawar akan mekar.

Kadang kala factor keberuntungan lah yang mempertemukan fotografer dengan objectnya.

Tapi janganlah lupa, jikalau kita tidak mendapatkan object baik dan menarik lantas tidak mau berusaha mengulanginya esok harinya.

Karena kunci dari fotografi makro adalah teerus berlatih dan terus berusaha semaksimal mungkin.

 

Beberapa tips & trik makro fotografi serangga dan bunga.

# Pelajari /baca wajah daripada object:

Pada saat memotret makro serangga, buatlah foto saat dia sedang berpose, tunggulah momen saat mata serangga tsb terpaku ke lensa.

Bila memotret bunga, perhatikan dan carilah sisi terbaik dari penampilan bunga tsb. Apakah harus mengambil angle secara keseluruhan, atau hanya diperlukan bagian kecil seperti putik atau benang sarinya.

Bereksperimenlah dengan berbagai arah dan anglenya.

 

# Background yang bersih:

Usahakan semaksimalnya BG/background itu bersih/simple yang mendukung POInya. Kalaupun ingin mendapatkan BG hitam (warna lain) bisa disiasati dengan menggunakan kain berwarna sebagai BGnya.

 

# Hindari Angin:

Memotret makro pada saat angin bertiup adalah hal yang sia2, karena kita akan mendapatkan hasil yang blur, bisa juga disiasati dengan mengatur shutter speed yang cepat, tapi sebisa mungkin hindarilah memotret makro disaat angin sedang bertiup sehingga akan membuat goyangan pada objectnya.

 

# Sabar menunggu momen yang tepat:

Pada saat berburu/hunting makro khususnya serangga, usahakan berdiam diri sehingga segala tidak menarik perhatian serangga tsb.

Apabila kita akan mendekati object, usahakan agar gerakan kita tidak membuat serangga tsb melarikan diri meninggalkan kita.

Dan apabila memotret serangga yang menempel pada bunga, cari posisi yang tepat pada saat dia sedang menghisap madu atau pada saat dia keluar dari bunga adalah moment yang sangat bagus untuk diabadikan.

 

# Tahan napas saat menekan shutter kamera.

Membuat posisi spt segitiga antara lengan dan siku yang ditempel kedada kita akan memperkokoh pegangan kamera, ditambah dengan menahan napas sesaat pada waktu menekan shutter kamera akan mengurangi kemungkinan kamera shake dan bisa menghindari hasil foto yang blur/shake.

 

# Tambahan cahaya:

Walaupun cahaya tambahan seperti flash adalah tidak dianjurkan, tapi jika dengan menggunakan diffuser atau peredam cahaya pada flash akan membuat halus hasil fotonya dan tidak akan terlau keras kontras yang dihasilkan pada objectnya.

Hindari direct flash ,atau tambahkan difusser pada flash, atau gunakan tekhnik bouncing untuk mendapatkan dimensi dari object .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2009 Maret 17 00:23:42

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 9, 2009 in Hobbies

 

ILMU LENSA

Diambil dari beberapa review teman-teman FN

– 18-200 menentukan focal length: 18mm adalah wide angle, 200 mm bisa dimasukkan kategori tele lens, jadi lensa ini bisa diatur mulai wide angle (sudut pandang yang lebar) sampai tele (sudut pandang sempit). Memang makin panjang rentangnya umumnya makin mahal, tapi harus liat feature yang lain dulu

– f/3.5-5.6, artinya diafragma terlebar adalaf f/3.5 pada setting 18mm, dan f/5.6 pada setting 200mm, tentu pada focal length diantaranya, diafragma terlebarnya juga berubah (ya diantara f/3.5 dan f/5.6 tentunya). Makin besar max aperturenya, makin mahal, misal f/2.8 dibandingin f/5.6, harganya significant banget

– G, ini menyatakan lensa Nikkor yang ngga ada aperture ringnya di lensa, jadi pengaturan aperture/diafragma dilakukan pada body camera…

– IF, Internal Focusing: ini teknik focusing di dalam lensa, jadi ada elemen-elemen lensa di dalam yang berubah posisinya sehingga terfocus pada jarak tertentu, lensa non IF biasanya elemen lensa terluar ikut bergerak, sehingga biasanya moncong lensa berputar, ini agak mengganggu kalau kita pasang filter yang berpengaruh pada posisi putaran lensa bagian depan, misal filter polirizer (CPL), kalau pake IF bagian depan ngga ikutan muter

– ED: adalah jenis bahan lensa, Extra Low Disperssion Glass, kaca khusus sehingga hasil gambar lebih tajam dari lensa biasa, tentu lensa dengan ED biasanya mahal Umumnya ada pada lensa tele

– VR: Vibration Reduction: Ini teknologi gyro, sehingga kalau tangan/kamera bergetar pada saat motret, biasanya hasilnya blur kalau shutter speednya kurang cepet, tapi dengan teknologi VR, getaran tangan tadi bisa dikompensasi sehingga efeknya tetap tajam seperti kalau kita pake shutter speed yang tinggi. Sangat berguna untuk low light dengan handheld. Tapi tetap kurang berguna kalau subjectnya bergerak cepat Tentu dengan adanya fasilitas ini lensa yang ada VRnya ya iya lah lebih mahal ada gyronya gitu loh…

 

MAkin lebar range lensa (18-200 VS 70-200), maka biasanya makin murah (lensa type sama).

Tapi biasanya ada bukaan (F number) tertentu yang jadi korban.

Makanya kenapa lensa fix harganya seluar biasa hasilnya.

MAkin besar bukaan (F kecil) makin mahal, ini kayaknya masalah mahalnya technologi.

18-200 VR kelebihannya utamanya di focal lengthnya

bisa cover 18mm (28mm equiv) sampai 200mm (300mm equivalent) dan ada VRIInya, cocok untuk lensa all-around.

kalau 70-200VR kelebihannya di IQ(image quality)nya dan aperaturenya yg 2.8

cocok utk candid dan potraits (bokeh di 200mm @2.8nya terkenal bagus)

jadi penggunaannya lebih spesifik

jadi kalau mencari solusi all-around, beli lah 18-200VR

tapi kalau mencari lensa candid, 70-200VR bisa perform lebih baik (dengan harga yang lebih mahal)

 

Simbol lensa pada Nikon ada:

-F, keluarga besar mulut lensa dg kode ini, walau seri slr, kompatibel dengan system dslr, baik AF dan SWM jika ada pada lensa tsb.

-M/A, singkatan dari manual auto mode, switch autofocus dari auto kemanual tanpa time lag, walau AF mode sedang berjalan, tanpa merusak system.

-D, Distance Information adalah keluarga lensa termasuk juga G-type, yang didesain agar mendukung AF pada body camera dan bersinergi dr 3D Matrix metering dan 3D Multi-sensor Balanced Fill Flash. Untuk D-Type ada Aperture ring pada lensa, tidak untuk G-type yg aperturenya pada body kamera.

-SIC, adalah tehnik multi coating, Super Integrated Coating, yg membantu menghilangkan efek ghost dan flare akibat pantulan sinar, sering di pakai pada lensa zoom yg angka bukaan besar dengan posisi wide angle. Seperti pada zoom terkenalnya 80-200 f/2,8D.

-DX, adalah keluarga lensa yang didesain khusus untuk kebutuhan SLR-SLR yang punya sensor lebih kecil dari36x24mm (APS-H atau APS-C), sama seperti keluarga lensa EF-S pada Canon, lensa ini didesan dan dicoating spesial khusus digital dengan sensor ini saja, apabila dipakai disensor full frame atau 35mm film SLR maka akan menimbulkan vignetting yang parah. Di Sigma DC.

-ASP., adalah lensa dengan elemen aspherical untuk mengurangi jumlah beling yang dipakai didalam dan untuk membuat bodynya jadi ringan dan pendek tanpa pengorbanan kualitas. Di Canon Aspherical Lenses, di sigma ASP juga

-ED, adalah lensa yang menggunakan beling XLD (Extra Low Dispersion) untuk menurunkan Chromatic Abberation, dibuat pertama pd th 1972 pd 300mm f/2,8 ED, ED membuat ketajaman yg superior pada range kecil maupun besar, biasanya lensa-2 yang ada tulisan ini mahal harganya. Di canon Super-UltraLowDispersion dan float, di sigma APO, di Tamron LD dan AD.

-VR, adalah singkatan dari Vibration Reduction, gunanya untuk mengurangi guncangan pada kamera. sama dengan image Stabilizer di Canon. Di Sigma OS

-CRC, Close Range Correction adalah lensa yang fokusnya ada di belakang dan juga didepan, setiap lempeng lensa dapat bergerak secara independent, sehingga dapat meningkatkan ketajaman, untuk kecepatan dan ketenangan dan lensa seperti ini tidak membuat flower-shaped lens hood berubah posisinya. Nikon mengklaim Cuma dia yg bias begini, banyak dipakai pada lens micro, wide, dan medium tele.

-RF, Rear Focusing adalah lensa yang fokusnya ada di belakang untuk kecepatan dan ketenangan dan lensa seperti ini tidak membuat flower-shaped lens hood berubah posisinya di canon Internal/Rear Focusing, di Sigma juga RF

-IF. Internal Focusing adalah lensa yang focusnya internal tapi didepan (dekat ujung lensa) sehingga tidak membuat flower-shaped lens hood berubah juga posisinya, dan tidak merubah size lensa, serta menambah kecepatan focus. Di sigma juga IF

– SWM, singkatan dari Silent Wave Motor, lensa-2 berkode ini menggunakan motor ultrasonic, sama dengan Canon USM Ultra Sonic Motor agar autofocusnya jadi secepat dan sesunyi ninja. Di Sigma HSM

 

 

Simbol lensa pada Canon ada:

Ini kode lensa yang umumnya ada di websitenya si Canon sendiri, brosur, review, dan di lensa:

-, u/ simbol ini dibentuk dari huruf USM, singkatan dari Ultra Sonic Motor. Lensa-2 yang mempunyai kode ini, punya motor autofocus secepat dan setenang ninja. Ada 2 generasi USM, generasi pertama motornya berisik, mengeluarkan suara *ngiing ngiing* yang kencang, lalu kalau mentok ada bunyi *tok*, saya punya lensa 28-70mm yang sudah lama sekali tapi udah mokad, ngga bisa fokus lebih jauh dari 5 meter. USM generasi ke-2 udah ninja silent, jadi ngga begitu lagi. Di sigma HSM Hyper Sonic Motor, di Nikon SWM

-,i/r ini artinya Internal/Rear Focusing, lensa berkode ini mempunyai fokus internal atau ring fokus dibelakang (dekat mounting lensa ke body kamera) sehingga tidak mengganggu fungsi flower-shaped lens hood atau filter-2 tertentu yang tidak kita kehendaki berpindah (misalnya: gradual ND). Di sigma dan Nikon RF Rear Focus

-,ca ini BUKAN singkatan dari “Color Abberation” seperti yang disalahpahamkan kebanyakan orang. CA adalah singkatan dari “Circular Aperture”. Lensa yang mempunyai simbol ini mempunyai diafragma yang bulet dari diafragma terbesarnya hingga terkecilnya, contoh lensa yang berlogo CA adalah lensa 70-200mm f/2.8 yang sangat terkenal itu. Lensa dengan CA bisa membuat CoC (Circle of Confusion/bokeh yang bulet-2 seperti yang disukai banyak orang) serta sanggup diintegrasikan dengan high-speed shooting (10 FPS pada EOS 1vHS?) di sigma DG

-, ftm singkatan dari FullTime-Manual, maksudnya adalah setelah fokus didapat oleh autofokus, kita bisa dengan aman menggerakan ring fokus lensa andaikata kita tidak setuju dengan penempatan fokus dari autofokus tanpa harus khawatir akan merusak motor/bagian lensa lainnya. Di Sigma beberapa seri EX. Excellent.

-, sud singkatan dari Super-UltraLowDispersion. Karena keberadaan CaF (Calcium Flourite) sangat langka (otomatis jadi mahal), dan lagipula tidak tahan panas (itulah kenapa lensa yang memakai beling ini dicat putih, supaya memantulkan panas sehingga tidak berpengaruh terhadap elemen CaF didalamnya), sehingga Canon menciptakan beling yang serupa karakteristiknya dengan CaF ini, walaupun tidak mungkin 100% identik, tapi dari segi harga pun berbeda. Angka 1 di simbol tersebut artinya beling S-UDnya cuma ada 1. di sigma APO, di Nikon ED, di Tamron LD dan AD.

-, al singkatan dari Aspherical Lenses, lensa-2 yang berkode seperti ini punya beling aspherical. Umumnya lensa terdiri dari lensa cembung untuk menangkap cahaya, sayangnya lensa ini punya cacad yang bisa membuat gambarnya pun kembung… oleh karena itu ditaruhlah beling aspherical ini agar cacadnya berkurang. Angka 3 pada logo ini berarti ada 3 beling aspheical didalam lensa itu. Di Sigma dan Nikon ASP. di Tamron ASL.

, is singkatan dari Image Stabilizer. Lensa berkode ini punya sensor gyro didalamnya, dan beberapa beling yang dapat bergerak sesuai sumbu yang diperlukan untuk membantu kita memotret dalam suasana kurang cahaya. Secara normal, aturan 1/focal length mengatakan bahwa kita harus menggunakan speed minimum 1/focal lengthnya. Misalnya kita menggunakan lensa 50mm, maka speed minimumnya adalah 1/50 atau resiko gambar akan blur, begitu juga dengan lensa 100mm, maka shutter speed minimumnya adalah 1/100, bagaimana kalau 500mm? Ya, dianjurkan menggunakan 1/500 detik. Hal ini bukan masalah kalau kita memotret di pantai, atau di suasana outdoor lainnya, tapi bagaimana kalau kita di orchestra? museum? fashion show? atau ditempat-2 yang melarang blitz lainnya (upacara adat, dll.). Image Stabilizer ada yang punya mode 1 & 2 (seperti pada 70-200mm f/2.8 L IS), dimana pada mode 1, Image Stabilizer akan menggerakan lensa di 2 sumbu (horizontal dan vertikal), sementara mode 2 hanya sumbu horizontalnya saja untuk keperluan panning, ada juga Image Stabilizer yang tidak ada pilihan ini (seperti pada 28-135mm f/3.5-5.6 IS). Di Sigma OS optical stabilizer, di Nikon VR

-, afs singkatan dari AutoFocus-Stop, adalah sebuah tombol di lensa yang berguna untuk men-stop sementara autofokus pada saat mode disetel ke AI-Servo. Tombol ini hanya ada di lensa-2 telephoto Canon (300mm, 400mm, 500mm, 600mm, 1200mm), sebuah tombol yang jarang dilihat orang, di Nikon M/A.

-, do singkatan dari Difractive Optics. Lensa berkode DO ini mempunyai ring hijau (lain dari yang lain). Lensa berelemen DO ini menggunakan beling yang diberi guratan-2 khusus seperti ini:. Guratan-2 itu bertugas untuk mengumpulkan cahaya lebih banyak, sehingga tidak perlu banyak beling untuk menghasilkan focal length yang tinggi dengan kemampuan mengumpulkan cahaya yang baik. Lensa DO kalau dilihat dari atas tampangnya akan seperti air beriak-2. Lensa DO ini beratnya bisa lebih ringan sampai 50%, dan ukurannya lebih pendek 33%, sayang hanya ada 2 seri lensa DO yaitu 70-300mm dan 400mm fixed focal length. Lensa DO ini walaupun tidak mempunyai gelang merah, tetapi sama istimewanya dengan gelang merah “L”, hanya gelangnya bewarna hijau, tapi harganya sama mahalnya, bahkan yang 400mm DO lebih mahal dari 400mm biasa.

-, fp singkatan dari Focus Preset, sebuah kemampuan lensa untuk “mengingat” posisi-2 fokus, dan lalu nanti kita dengan mudahnya untuk menggunakan memori fokus tersebut. Fitur ini baru ada di lensa-2 telephoto

-, Caf21ini adalah simbol unsur Calcium Flourite, sebuah unsur yang bisa dipergunakan sebagai optik yang ditemukan tahun 1880 untuk pembuatan mikroskop, karena indeks refraksinya yang sangat kecil, maka Canon menggunakannya untuk bahan lensa, sayangnya karena bahan ini hanya tersedia sedikit dan harganya mahal, maka tidak semua lensa mempunyainya (bahkan 70-200mm f/2.8 pun tidak dikasih, kasihan…,, tapi anehnya yang 70-200mm f/4 ada)

-, FLOAT bukan singkatan dari apa-2, sesuai artinya dalam bahasa Indonesia yaitu “mengambang”, didalam lensa-2 berkode FLOAT ini ada elemen yang mengkoreksi Chromatic Abberation yang dapat bergerak sesuai pergerakan zoom, biasanya ada di lensa-2 wide angle. dan tilt & shift. Di sigma APO, di Nikon ED. di Tamron LD dan AD.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 8, 2009 in Hobbies