RSS

Kombinasi Shutter Speed dan Aperture

04 Jun

Kombinasi Shutter Speed dan Aperture dan ISO akan menghasilkan foto dengan exprosure tertentu.

Sebenarnya tidak ada rumusan baku dalam menentukan kombinasi kedua hal tersebut, yang perlu diketahui adalah efek dari aperture dan shuter speed itu sendiri, dari sana kita bisa menentukan kombinasi dari nilai tersebut.

Efek dari Aperture:

1. ruang tajam (DOF)

Aperture yang mengatur volume cahaya dari lensa berpengaruh langsung terhadap daerah ketajaman gambar di depan dan dibelakang objek foto. Semakin kecil bukaan diagfragma maka akan semakin luas ruang tajam yang dihasilkan dan sebaliknya.

Contohnya, kalau saya ingin memotret orang dengan background terlihat blur menggunakan fix lens maka saya akan memotret orang tersebut dengan bukaan kecil misal f/1.8 sementara shutter speed dan ISOnya menyesuaikan. Teknik ini biasa disebut dengan teknik open lens.

Tapi satu hal yang perlu diingat, bahwa efek ruang tajam tidak hanya dihasilkan oleh aperture saja, melainkan juga jarak pemoteretan dan panjang fokus lensa.

 

2. Ketajaman gambar optimal (yang dihasilkan dari lensa tersebut)

Aperture mempengaruhi ketajaman gambar yang dihasilkan. Foto yang diambil dengan aperture yang lebar umumnya tidak setajam foto dengan aperture menengah (sekitar 2 – 3 stop dari maksimum). Itu mengapa untuk foto landscape, banyak yang menganjurkan menggunakan bukaan menengah (f/8, f/11, atau f/16). Tapi hal ini tidak baku, sebagai contoh untuk pemotretan produk, terkadang digunakan bukaan sampai f/22 atau f/32.

 

3. Difraksi.

Aperture yang terlalu kecil (misal f/16 atau f/22), dapat memberikan efek difraksi. Coba anda motret lampu penerangan jalan dengan bukaan kecil, maka biasanya pada foto, lampu tersebut akan terlihat seperti bintang.

 

Efek dari Shutter Speed :

1. Freeze

efek dari shutter speed yang tinggi adalah efek “freeze” atau membekukan objek. cocok bila anda ingin membuat foto yang seolah olah membekukan pergerakan objek. Berapa besar nilainya, tergantung kecepatan pergerakan objek itu sendiri.

 

2. Slow Motion.

efek dari shutter speed rendah biasanya 1 detik keatas, adalah slow motion. Bila anda ingin melihat perbedaan efek shutter speed tinggi dengan rendah, coba anda foto sebuah keran air yang sedang menyala, satu dengan shutter tinggi, misal 1/500 dan satu dengan shutter rendah, misal 2 detik.

Shutter rendah juga biasa digunakan pada saat membuat foto dengan teknik “painting with light” dan “camera toss”

Satu hal yang perlu diperhatikan dari shutter speed adalah batas minimum shutter untuk mencegah kegoyangan kamera. Senior saya pernah bilang bahwa untuk mencegah kegoyangan kamera pada kondisi pencahayaan normal adalah “1/Focal Length Lens”. Contoh, lensa yang digunakan 100mm, maka shutter speed minimum yang dianggap masih aman untuk mencegah kegoyangan kamera adalah 1/100.

 

Nah dengan mengetahui efek2 dari aperture dan shutter speed, maka kita dapat mengkombinasikan keduanya, sesuai dengan foto yang akan kita buat.

Kenali dan pahami kamera yang anda gunakan lalu optimalkan.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 4, 2009 in Teori Fotografi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s