RSS

Naik Turunnya Keimanan

19 Mei

Assalamualaikum Wr. Wb.

Naik Turunnya Keimanan

 

“Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kecuali seperti

saat salah seorang di antara kamu mencelupkan jari telunjuknya di samudra lautan,

lalu lihatlah yang tersisa di jari telunjuknya itu (itulah dunia).” (HR Muslim,

Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

 

Keimanan senantiasa naik turun. Saat iman naik, saat itu kita merasakan betapa

lezatnya iman itu. Hidup terasa tenang, dada lapang, mata terasa sejuk, pikiran

jernih, kata-kata manis, penuh tawakal, ibadah terasa ringan dan nikmat, kadang air

mata ikut menetes untuk ikut merasakan kenikmatannya.

 

Namun, iman bisa turun kalau penjagaannya tidak optimal, karena gerusan kemaksiatan

setiap hari pasti dijumpai karena kita tidak hidup sendiri. Tarik-menarik antara

keimanan dan kemaksiatan terus akan terjadi.

 

Kita juga akan merasakan bagaimana kondisi jiwa ketika iman dalam kondisi turun

(futur). Hidup penuh dengan ketegangan, dada terasa sempit, penuh dengki, mata liar

ke sana-kemari, pikiran kotor, kata-kata tidak

terkontrol, ibadah terasa berat, penuh kekhawatiran terhadap dunia, takut kehilangan

rezeki, dan sifat-sifat buruk lainnya.

 

Semakin banyak sifat dan perbuatan buruk dilakukan semakin deras luncuran iman itu

menuju titik terendah. Sebaliknya semakin tinggi kuantitas dan kualitas ketaatan

semakin cepat iman itu menanjak ke puncak.

 

Sebagaimana dijelaskan para ulama, iman naik karena ketaatan dan iman turun karena

kemaksiatan. Pertanyaannya bagaimana membangunkan iman ketika sedang terbujur lemah?

Ada tiga hal yang bisa kita lakukan,

pertama, pakar motivasi mengatakan tips mendobrak kemalasan dan ketakutan dengan

cara melakukan sebaliknya. Jika dia malas shalat segera bangun, shalat, maka rasa

malas itu akan berangsur-angsur hilang.

 

Kedua, menyadarkan diri kita bahwa kita diciptakan untuk akhirat, bukan dunia. Maka,

segala aktivitas dunia jangan sampai mengalahkan tujuan akhirat kita.

 

Ketiga, menyadarkan diri kita kehidupan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan

kehidupan akhirat. Hadis di atas setidaknya menggambarkan tentang perbedaan keduanya

yaitu antara setetes air kehidupan dunia dan luasnya samudera kehidupan akhirat.

Sungguh sebuah perumpamaan yang sangat jelas dipandang mata.

 

Maka, merugilah orang-orang yang hanya mengejar dunia dan melupakan akhirat.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 19, 2011 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s