RSS

Ya Allah… Bagaimana dengan ibadahku….?

21 Mei

Dari kitab Tanbihul Ghofilin Syekh Abul Laits As Samarqondi.a

Al-Faqih mendengar sekelompok ulama meriwayatkan hadis yang sanadnya dihubungkan sampai kepada Khalid bin Ma’dan, di mana ia berkata kepada Mu’adz bin Jabal, “Ceritakanlah kepadaku suatu hadis yang kamu dengar langsung dari Rasulullah Saw. yang kemudian kamu hapal dan kamu sebutkan setiap hari sejak kamu mendengamya dari beliau.” Kemudian Mu’adz menangis, sampai-sampai saya mengira Ia tidak akan diam. Akan tetapi tidak lama kemudian, ia diam dan berkata, “Sewaktu saya perada dalam satu kendaraan dengan Rasulullah Saw ., beliau bersabda

“Segala puji bagi Allah yang telah menentukan keadaan makhluk-Nya
sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Mu’adz.” Saya menjawab,
“Saya, ya Rasululloh, imam kebaikan dan nabi pembawa Ramat.

“Beliau lalu bersabda, “Aku akan menceritakan kepadamu
suatu pembicaraan yang belum pernah diceritakan oleh seorang nabi pun
kepada umatnya, yang jika kamu jaga (ingat), niscaya akan bermanfaat
bagimu, dan jika kamu dengar tetapi kamu tidak menjaganya, maka hujjah-mu di hadapan Alloh nanti pada hari kiamat akan terputus.”
Kemudian beliau melanjutkan sabdanya, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan
tujuh malaikat sebelum menciptakan langit dan bumi, di mana setiap langit ada satu malaikat dan setiap pintu ada satu penjaga pintu dari kalangan malaikat. Malaikat hafazhah Selalu mencatat amal seseorang sejak pagi hingga sore, lalu membawa naik dengan bercahaya seperti cahaya matahari hingga sampai ke langit dunia. Amal itu dikiranya bersih banyak, akan tetapi kemudian malaikat penjaga langit dunia itu berkata, “Berhenti1ah, dan lemparkan amal ini ke muka orang yang memilikinya,
serta katakan kepadanya “Allah tidak mengampuni kamu.” Aku adalah
orang yang mengurusi ghibah (menggunjing), ia suka menggunjing kaum
muslimin, maka aku tidak membiarkan amalannya melewati aku untuk dibawa kepada yang lain.”

Malaikat hafazhah yang lain membawa naik
amal seeorang yang bercahaya terang hingga sampai ke langit kedua.
Malaikat penjaga langit kedua ini berkata, “Berhentilah dan lemparkanlah
amal ini ke muka orang yang memilikinya, serta katakan kepadanya,
 “Allah tidak mengampuni kamu”,  karena ia beramal untuk kemewahan
dunia. Aku adalah yang mengurusi amal dunia, tidak akan membiarkan
amalnya melewati aku untuk dibawa kepada yang lain.

Malaikat hafazhah yang lain membawa naik amal seseorang yang berkilauan
karena banyaknya sedekah dan salat, sehingga malaikat hafazhah sendiri
kagum, sampai ke langit ketiga. Malaikat penjaga langit ketiga berkata,
“Berhentilah dan lemparkan amal ini ke muka orang yang memilikinya,
serta katakan kepadanya, “Allah tidak mengampuni kamu.” Aku adalah
yang mengurusi masaIah kesombongan. Barangsiapa yang beramal dan
bersikap sombong terhadap manusia di majelis-majelis mereka, maka
Tuhanku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal itu melewati
aku untuk dibawa kepada yang lain.

Malaikat hafazhah yang lain naik dengan membawa amal seseorang yang sangat cemerlang seperti cemerlangnya bintang-bintang, karena penuh dengan tasbih dan puasa, sampai ke langit keempat. Kemudian malaikat penjaga langit keempat
berkata, “BerhentiIah dan katakan kepadanya, Allah tidak mengampuni
kamu. Aku adalah orang yang mengurusi ujub (mengagumi dirinya sendiri). Sesungguhnya orang yang mengerjakan amal itu memasukkan unsur ujub ke dalamnya, maka Tuhanku memerintahkan
aku untuk tidak membiarkan amal itu melewati aku untuk dibawa kepada yang lain.”.

Amal itu lantas dipukulkan kepada yang memilikinya disertai
kutukan tiga hari. Malaikat hafazhah yang lain membawa amal seseorang
yang diiringi oleh malaikat bagaikan pengantin pria yang diantar ke
isterinya sampai ke langit kelima karena penuh dengan jihad dan salat di antara dua salat. Kemudian malaikat penjaga langit kelima itu berkata,
“BerhentiIah dan lemparkan amal ini kepada yang memilikinya serta pukulkanlah di antara pundaknya, karena ia dengki kepada orang yang  belajar dan beramal karena Allah.
Ia dengki kepada mereka dan selalu mengganggu mereka, Lalu malaikat hafazhah itu memikulkan di atas pundaknya dan mengutuknya sepanjang hidupnya.

Malaikat hafazhah yang lain naik dengan membawa amal seseorang dengan wudhu yang sempurna, salat malam dan salat yang banyak sampai langit keenam. Malaikat
penjaga langit keenam itu berkata, “Berhentilah dan lemparkan amal ini
kepada yang memilikinya, Aku adalah yang mengurusi kasih sayang,
dan orang ini tidak memiliki kasih sayang sedikitpun. Bahkan apabila ada orang yang kesakitan, tergelincir dosa atau tertimpa bahaya ia malah merasa
senang. Tuhanku telah memerintahkan kepadaku untuk tidak
membiarkan amal itu melewati aku untuk dibawa kepada yang lain”.

Malaikat hafazhah yang lain naik dengan membawa amal seseorang yang penuh dengan kejujuran, kesungguhan dalam ibadah dan wara’ yang cemerlang berkilau-kilauan seperti kilauan kilat hingga ke langit
yang ketujuh. Lantas malaikat penjaga langit ke tujuh itu berkata, “Berhentilah dan lemparkan amal ini kepada yang memilikinya, serta kuncilah hatinya.” Aku adalah yang mengurusi hijab (penghalang), di
mana aku menghalangi setiap amal yang bukan karena Allah T a’ala,
karena sesungguhnya dengan amalnya itu ia menginginkan kedudukan dan disebut-sebut di majelis-majelis serta dieluk-elukkan di kota-kota. Tuhanku telah memerintahkan aku untuk tidak mebiarkan amal itu
melewati aku untuk dibawa kepada yang lain.”

Malaikat hafazhah yang lain naik dengan membawa amal seseorang yang sangat cemerlang, karena penuh dengan akhlak yang terpuji, diam dan banyak zikir, diiringi oleh malaikat langit hingga sampai ke bawah arasy. Para malaikat itu kagum akan amal itu, lantas Allah berfirman, “Kamu hanyalah pencatat amal
hamba-Ku, sedangkan Aku mengawasi hatinya. la melakukan amal ini
bukan karena Aku, tetapi karena yang lain, maka ia mendapat kutukan-Ku.” Lalu semua malaikat berkata, “Ia mendapat kutukan-Mu dan kutukan kami.” Kemudian malaikat penghuni langit itu berkata, ‘Orang itu
mendapat kutukan Allah, kutukan tujuh langit dan bumi, dan kutukan kami semua.”

Kemudian Mu’adz bin Jabal r.a. menangis dan berkata, ‘Ya Rasulullah, apakah yang harus saya lakukan? Beliau bersabda, “Ikutilah Nabimu wahai Mu’ adz. Kamu harus merasa yakin meskipun di dalam amalmu itu ada kekurangan. Hentikan lidahmu dari membicarakan saudaramu, hendaknya dosa-dosamu hanya atas dirimu dan jangan melibatkan saudara-saudaramu dalam masalah dosa. Jangan merasa
dirimu bersih dengan mencela saudara-saudarmu, jangan menganggap
dirimu penting dengan merendahkan saudara-saudaramu, dan janganlah riya (memamerkan) amalmu kepada sesama manusia.”

Sahabat….Bagaimana dengan amal-amal ibadah kita….
Terkadang kita Bangga dengan Ibadan kita yang hanya sekarung padahal dibalik itu dosa kita yang bermilyaran menggunung….

Ya Alloh…Ibadah yang kami lakukan jauh dari kesempurnaan, dan kami tidak pernah tahu tentang diterima atau tidaknya ibadah kami….
Sedangkan dosa-dosa yang kami lakukan pasti tercatat oleh para Malaikat-Mu yang tidak pernah lengah dan salah.

Ya Alloh…Kami berlindung lepada-Mu dari Ibadah yang kami lakukan yang bukan karena-Mu….

Astagfirullahaladzim….. Astagfirullahaladzim….. Astagfirullahaladzim…..

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 21, 2011 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s