RSS

Yatim Piatu di Musim Hujan

22 Jun

« pada: Maret 06, 2007, 12:24:18 pm »

Diambil dari salah satu forum.

14 February

Akhir-akhir ini , cuaca di Jakarta dan sekitarnya hampir setiap hari diselimuti mendung, terutama malam hari, malah terkadang disertai angin kencang yang menakutkan sampai-sampai ada beberapa pohon yang rubuh.

Tak jauh beda, Rabu malam ini dalam dinginnya hujan , saya bermalas-malasan nonton tv, bercampur suara tv dan gemiritik titik hujan yang lumayan besar, lamat-lamat terdengar suara mengucapkan assalamualaikum seolah-olah takut mengganggu orang.

Benar saja, diluar pagar seorang nenek berbadan kurus dengan seorang cucu berpayung bersama dengan tubuh agak menggigil kedinginan…

Disela perbincangan , sang nenek mengenalkan diri ….

…… mohon maaf pak, saya mengganggu istirahat bapak , nama saya bu Astar suami saya berumur 60 tahun dan saya 57….. kami dikarunia anak 11 orang tapi yang hidup tinggal 6 orang , yang terkecil berumur 12 tahun , masih kelas 6 madrasah.

….. suami saya bekerja sebagai tukang , namun lantaran sudah tua praktis banyak menganggur ketimbang kerja …………….

… yang bersama cucu saya Marisah , umurnya 8 tahun sekarang kelas 2 madrasah Nurul Irfan, adiknya ada dirumah , Fanesah berumur 2 tahun…..

…. Marisah dan adiknya sekarang yatim piatu ayahnya seorang supir angkot meninggal karena kecelakaan saat Fanesah dalam kandungan, sedangkan ibunya mungkin lantaran tdk kuat menanggung beban, meninggal sekitar 2 bulan setelah melahirkan Fanesah.

… di sekolah , Marisah praktis sekolah gratis , sebab lantaran yatim piatu ditanggung oleh Madrasah , tapi kebutuhan hidup sehari-hari mau tidak mau kami berharap dari belas kasian orang.

….cucu saya yang paling kecil , adik Marisah terkadang kalau ada rejki saya beri susu , kalau tdk ya… air teh manis , kalau pun juga tidak ada gula ya.. air putih…

.. .sementara anak saya terkecil yang sekolah di 1 madrasah dengan Marisah sudah menunggak bayaran selama 12 bulan …

… kami diam menempati rumah bpk dokterandus orang Jakarta, dulu rumah itu kami kontrak 150,00 perbulan , tapi sekarang sudah tidak sanggup lagi , dan yang empunya rumah juga merelakan kami diam gratis asalkan listrik dibayar , rumah dirawat dan sewaktu-waktu pak dokterandus butuh, kami harus rela keluar.

Setelah panjang lebar berbincang.. saya berjanji akan akan menjenguk kerumah tsb dan sekolah Marisah untuk … setidak-tidaknya mengecek kebenarannya…

18 February

Sabtu , dengan keterbatasan waktu , saya hanya mengintip dari luar pagar seng , tidak masuk kerumah yang dikelilingi oleh tanah kosong berlokasi di komplek Adhi Karya namun setidak-tidaknya saya dapat melihat kehidupan yang cukup memprihatinkan.

22 February.

Mungkin lantaran sangat berharap saya datang, berbasah-basah dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 km mereka kembali datang kerumah saya malah datang dengan membawa surat dari RT yang menyatakan mereka yatim dan duafa.

Saya sangat merasa bersalah, dan kembali berjanji besok istri saya akan ke sekolah Marisah dan Sabtu akan berkunjung ke rumah mereka, menjelang pamit , ibu Astar berucap, ” pak mohon maaf, maaf sebesar-besarnya saya menyusahkan benar, tapi pak , dirumah sudah gak punya beras sama sekali”

Ya Allah , saya tidak pernah khawatir besok , lusa , minggu depan harus makan apa, sementara disekililing saya masih ada yang berpikir nanti malam apakah ada beras yang akan dimasak.

23 February 2007.

Jumat pagi , istri saya ke madrasah Nurul Irfan , bertemu dengan wali kelas, dan dibenarkan oleh wali kelas bahwa Marisah bersekolah kelas 2, tdk ada yang harus dibayar , tapi sang guru menyampaikan nelangsanya , tidak ada perhatian dari warga sama sekali akan kebutuhan anak bungsu ibu Astar yang kelas 6 tsb, padahal mereka adalah duafa dan sudah menunggak spp bayaran :

Spp selama 8 bulan @ 15,000 = rp. 120,000

Buku semester 1 = rp. 85,000

Buku semester 2 = rp. 45,000

Total = rp. 250,000

Yayasan tdk akan mengeluarkan mereka , lantara mereka tidak mampu, tapi kalau nanti selesai sekolah , otamatis ijazah akan ditahan dulu.

Saya membayangkan tunggakan 8 bulan spp tsb masih jauh dibawah spp 1 bulan SMA favorit di Jakarta.

25 February.

Didepan rumah berukuran 3 x 5 meter , ditengah-tengah tanah yang luasnya sekitar 600 meter, Fanesah lagi bermain seorang diri.

Selesai mengucapkan salam , pagar seng saya buka , mungkin insting atau kerinduan akan sosok seorang ayah yang tak pernah dilihatnya, begitu melihat saya , Fanesah berucap ” bapak… bapak… ” ..

Fanesah hanya memakai rok terusan dan (maaf) tanpa celana dalam , yang belum sempat tau akan ayahnya , melihat ibunya pun terhitung bulan , melihat neneknya membereskan meja ,

Setelah berbincang-bincang saya menjanjikan bahwa tunggakan Imam akan kita selesaikan , dan akan diusahakan sekolah sampai selesai SMA (tengah tahun ini Insya Allah , salah satu dari yatim yang kita santuni yaitu Vita selesai SMA, maka saya putuskan dananya akan kita salurkan ke Imam) juga setiap bulan juga akan ditanggung :

· 1 karung beras untuk keluarga.

· Spp untuk Imam

· Susu untuk Fanesah.

Ada kekurang jelian saya pada silaturahim tsb saya bertanya “seandainya tanah ini diambil oleh yang punya , bagaimana nanti ?” pak Astar mererawan dan terdiam sejenak , kemudian berucap ” ya … silahkan, bukan punya saya, jadi gimana nanti saja, kalo saya pikirkan dari sekarang, juga tdk akan bisa terpecahkan” , terlihat wajah pasrah beliau.

Akhirnya saya pamit , diselingi isak tangis ibu Astar, pak Astar mengucapkan terima kasih atas dana yatim piatu & duafa yang kita salurkan kemereka.

Dalam perjalanan pulang menuju warung gado-gado di RTM , saya dan istri banyak terdiam, dan akhirnya saya hanya berucap ” Ya Allah… ampuni hambamu yang kurang berterima kasih atas rejki yang engkau berikan setiap saat, gaji yang hamba terima setiap bulan , kesehatan, anak yang sekolah tdk pernah putus, makanan yang tersaji setiap saat, kendaraan , rumah , terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 22, 2011 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s