RSS

KENYATAAN HIDUP DIBALIK PERMAINAN INI

29 Jul

Seorang guru wanita sedang mengajarkan sesuatu kepada murid – muridnya.

Ia duduk menghadap murid – muridnya. Ditangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus.

Guru itu berkata, ” saya ada satu permainan … caranya begini, ditangan kiri saya ada kapur, ditangan kanan saya ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini maka katakan “kapur”, jika saya angkat penghapus ini . maka katakan “penghapus”.

Murid – muridnya pun mengerti dan mengikuti, guru berganti – gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin cepat. Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, “baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka sebutlah “penghapus” , jika saya angkat penghapus maka sebutlah “kapur”.

Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid – murid tadi keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun mereka terbiasa dan tidak lagi kikuk, selang beberapa saat kemudian permainan berhenti.

Sang guru tersenyum kepada murid –muridnya. “murid – murid begitulah kita umat ISLAM, mulanya yang haq itu haq.yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh – musuh kita memaksakan kepada kita dengan berbagai cara untuk merubah dari yang haq menjadi bathil dan sebaliknya. Pada awalnya mungkin akan sukar bagi kita untuk menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisikan dengan cara – cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kamu akan terbiasa dengan hal itu, dan mulai dapat mengikutinya. Musuh – musuh kamu tidak pernah berhenti membalik dan menukar. ”

“keluar berduaan, berkasih – kasihan tidak lagi menjadi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi menjadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain – lain. ” semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, anda sedikit demi sedikit menerimanya tanpa ada perasaan itu adalah satu dosa dan kemaksiatan. Paham ?” Tanya guru kepada murid – muridnya ” paham guru”.

” baik permainan kedua…” gurunya berkata.

“Guru ada Qur’an, guru akan meletakan di tengah karpet. Sekarang anda berdiri diluar karpet. Permainannya adalah bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada ditengah tanpa menginjak karpet?”

murid – muridnya berpikir, ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain – lain.

Akhirnya guru memberikan jalan keluar, di gulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak. “murid – murid begitulah umat Islam dan musuh–musuhnya… musuh–musuh Islam tidak akan menginjak – injak anda dengan terang – terangan … karena anda akan menolaknya dengan mentah – mentah. Orang awampun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi musuh Islam akan menggulung anda perlahan – lahan dari pinggir, sehingga anda tidak sadar.

“jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka akan dibuat pondasi yang kuat.Begitulah Islam, jika ingin kuat maka bangunlah aqidah yang kuat .

Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah tentu susah kalau dimulai dari dari pondasinya dulu.Tentu saja hiasan – hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan …”

“begitulah musuh – musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang terangan, tapi ia akan perlahan – lahan membuat anda lalai. Mulai dari sikap anda, gaya hidup, pakaian dan lain – lain, sehingga meskipun anda muslim, tapi anda telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka,… dan itulah yang mereka inginkan. “ini semua adalah fenomena Gwazhul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh – musuh kita…”

“kenapa mereka tidak berani terang – terangan menginjak guru” Tanya murid

“sesungguhnya dahulu mereka terang – terangan menyerang, misalnya perang salib, perang tar – tar dan lain – lain. Tapi sekarang tidak lagi.

Begitulah Islam … kalau diserang perlahan – lahan mereka tidak akan sadar, lalu akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang – terangan, maka kita akan bangkit serentak, baru kita sadar”.

” kalau begitu kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…” matahari bersinar terik tatkala anak – anak itu keluar meninggalkan tempat belajar dengan dengan pikiran masing – masing dikepala.

RENUNGILAH SAHABAT SEMUA

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 29, 2011 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s