RSS

Arsip Bulanan: September 2011

Lima Hak Al-Qur’an

 

“Ki, bukankah Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi kita ki?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, bahkan dengan tegas Al-Qur’an menyatakan bahwa ‘tidak ada keraguan di dalamnya’ sebagai petunjuk orang-orang mutaqin.” Jawab Ki Bijak, sambil mengutip ayat Al-Qur’an.

“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”(QS. Al-Baqarah [2] : 2)

“Lalu kenapa masih banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tapi masih banyak di antara kita yang masih kelimpungan mencari petunjuk lain selain Al-Qur’an, apanya yang salah ki?” Tanya Maula.

“Tidak ada yang salah bagi kita yang rajin dan pandai membaca Al-Qur’an, dan jika kita belum menemukan Al-Qur’an sebagai petunjuk, itu karena kita belum menunaikan hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.

“Hak-hak Al-Qur’an ki?” Tanya Maula

“Benar Nak Mas, kadang kita terlalu sibuk menuntut Al-Qur’an sebagai ini dan itu, sementara hak-nya tidak pernah kita hiraukan.”

“Al-Qur’an juga mempunyai hak atas kita, yang jika hak-hak Al-Qur’an itu kita tunaikan, insya Allah, kita akan benar-benar mendapati Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kita, bahkan lebih dari itu, Al-Qur’an akan menjadi rahmat dan pemberi syafaat bagi kita di yaumil akhir nanti.” Sambung Ki Bijak.

“Apa saja hak-hak Al-Qur’an atas kita ki?” Tanya Maula.

“Setidaknya ada lima hak Al-Qur’an yang harus kita tunaikan, yang pertama, hak Al-Qur’an atas kita adalah dibaca sesuai dengan ketentuan tajwid dan mahroj-nya.” Kata Ki Bijak.

“Alhamdulillah, kalau sekarang ini banyak metode pembelajaran Al qu’ran yang bagus, yang bisa dengan cepat mengajar kita untuk bisa baca Al-Qur’an, hanya kadang sebagian kita kurang terlalu peduli dengan kaidah-kaidah baca Al-Qur’an yang benar, sehingga keagungan bacaan Al-Qur’an sebagai kalam ilahi, menjadi kurang tampak, dan bahkan bagi sebagian orang, membaca Al-Qur’an tidak lebih penting dari membaca koran, ini yang harus kita perbaiki, sebagai salah satu langkah kita untuk memenuhi hak Al-Qur’an atas kita, baca Al-Qur’an sesuai dengan ketentuan dan kaidahnya.” Kata Ki Bijak.

“Lalu hak Al-Qur’an yang kedua atas kita apa ki?” Tanya Maula.

“Setelah kita bisa membaca Al-Qur’an, maka akan timbul hak Al-Qur’an yang kedua, yaitu memahami artinya, baik arti secara harfiah, maupun arti maknawi (tafsir)-nya.” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat, apa saja yang terkandung dalam Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki, secara garis besar, Al-Qur’an mengandung pelajaran ketauhidan, kisah-kisah bangsa terdahulu serta hukum-hukum atau syari’at.” Jawab Maula,

“Karenanya, kita harus benar-benar memahami apa arti bacaan Al-Qur’an, agar kita bisa melaksanakan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an serta menjauhi apa yang dilarang Allah seperti tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an,”

“Atau bagaimana mungkin kita bisa menjadikan kisah-kisah bangsa terdahulu yang diterangkan Al-Qur’an sementara kita tidak mengetahui apa yang dikatakan Al-Qur’an? untuk itulah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an adalah mengerti dan memahami arti dan maknanya.” Kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut mendengar penjelasan gurunya, “Yang ketiga ki?” Tanyanya kemudian.

“Hak Al-Qur’an yang ketiga adalah dihapal.” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat dengan hadits yang menunjukan keistimewaan orang yang hapal Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki, dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata, ‘Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al-Quran mereka. Setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hapalan Al-Qur’an-nya’,”

“Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW, ‘Berapa banyak Al-Qur’an yang telah engkau hapal, hai fulan?’ ia menjawab, ‘aku telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah.’ Rasulullah SAW kembali bertanya, ‘Apakah engkau hapal surah Al-Baqarah?’ Ia menjawab, ‘Betul.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!’.” Kata Maula mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmizi.

“Benar Nak Mas, itu salah satunya, dan masih banyak lagi hadits yang menyatakan betapa orang yang di dalam dadanya hapal Al-Qur’an, mendapat kehormatan di sisi Allah dan Rasul-Nya, seperti sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Penghapal Al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Quran akan berkata, “Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia,” kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Quran kembali meminta, “Wahai Tuhanku tambahkanlah,” maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Quran memohon lagi, “Wahai Tuhanku, ridhailah dia,” maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, “bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga),” dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nimat dan kebaikan’.” Kata Ki Bijak.

“Selanjutnya, Al-Qur’an mempunyai hak atas kita untuk diamalkan, bacaan yang bagus, pemahaman arti yang baik, dan hapalan yang banyak, tidak boleh lantas menjadikan kita bangga diri, karena bacaan, arti dan hapalan yang tidak disertai dengan pengamalan yang baik dan benar, laksana pohon rindang tanpa buah, tak banyak memberikan manfaat pada orang yang memilikinya.” Kata Ki Bijak.

“Bahkan menurut hemat Aki, pengamalan nilai-nilai yang terkadung dalam Al-Qur’an merupakan hal terpenting dalam upaya kita memenuhi hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an, tapi tidak bisa membaca Al-Qur’an bagaimana ki?” Tanya Maula.

“Benar, ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an meski ia tidak bisa membacanya, tapi itu sama sekali tidak berarti menggugurkan kewajibannya untuk belajar membaca Al-Qur’an, belajar memahami artinya, belajar menghapalnya, karena kewajiban tetaplah kewajiban, yang harus ditunaikan, dan insya Allah, mereka yang sudah melaksanakan hukum-hukum Al-Qur’an sebelum bisa membacanya, akan menjadi lebih baik lagi pengamalan Al-Qur’anya kalau ditambah dengan membaca, mengerti dan menghapal Al-Qur’an dengan baik.” kata Ki Bijak.

“Selanjutnya, mengajarkan Al-Qur’an juga merupakan sebuah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang harus kita laksanakan, ajarkan apa yang kita mampu, walaupun hanya satu ayat.” Kata Ki Bijak.

“Buah yang matang dan ranum, tidak akan dapat dirasakan manis dan nikmatnya jika hanya dibiarkan menggantung diketinggian pohonnya, untuk itu, buah itu harus kita petik dan kita sampaikan, agar orang lain bisa menikmati manis dan lezatnya buah yang kita hasilkan.” Kata Ki Bijak.

“Ki, setelah mendengar penjelasan Aki tadi, ana merasa, ana masih punya banyak ‘hutang’ terhadap Al-Qur’an ki, bacaan Al-Qur’an ana masih banyak kurangnya, pemahaman ana terhadap Al-Qur’anpun masih sedemikian dangkal, apalagi menghapal dan mengamalkannya, ana merasa masih sangat-sangat jauh ki.” Kata Maula.

“Aki-pun demikian Nak Mas, masih banyak hak-hak Al-Qur’an yang belum bisa Aki penuhi seluruhnya, tapi setidaknya mulai sekarang, marilah kita kembali buka dan pelajari lagi Al-Qur’an, agar kita tidak termasuk orang yang dianggap lalai dalam memenuhi kewajiban kita terhadap Al-Qur’an.” kata Ki Bijak merendah.

“Ki, adakah kiat yang bisa ana pakai untuk bisa belajar Al-Qur’an dengan benar ki.” Tanya Maula.

“Setiap orang, memiliki cara dan kekhususan tersendiri dalam mempelajari Al-Qur’an, setiap orang mungkin berbeda cara belajarnya, namun setidaknya kita harus memiliki beberapa hal mendasar sebagai modal kita untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.

“Apa saja modal dasar itu, ki?” Tanya Maula.

“Pertama, Niat dan komitmen yang kuat, niatkan belajar kita lillahi ta’ala, hanya semata karena mengharap ridha-Nya, kemudian, tanamkan dalam diri kita sebuah komitmen yang tinggi untuk benar-benar belajar dan mempelajari Al-Qur’an.”

“Kedua, tanamkan selalu sifat rendah hati, sifat tawadlu, agar kita tidak cepat merasa bosan atau cepat merasa puas dengan apa yang telah kita pelajari.”

“Ketiga, belajarlah terus menerus dengan penuh kesungguhan.”

“Keempat, amalkan apa yang sudah kita pelajari, misalkan kita sudah belajar baca bismillah, pahami apa arti dan makna yang terkandung didalamnya, kemudian amalkan dalam keseharian kita, bahwa tidak ada satupun aktivitas kita yang lepas dari memohon pertologan kepada Allah, yaitu dengan membaca Bismilllah.”

“Selanjutnya, untuk membantu proses belajar kita, ajarkan apa yang sudah kita pahami, proses ini akan membantu ingatan kita terhadap apa yang telah kita dapat, dengan mengajarkan, secara otomatis kita selalu mengulang-ulang pelajaran yang sama, sehingga tingkat pemahaman dan belajar kita insya Allah menjadi lebih baik.”

“Kemudian, kalau lima proses diatas sudah kita lakukan dengan benar, maka kita akan memiliki karakter.” kata Ki Bijak

“Apa cirinya kita sudah memiliki karakter ki?” Tanya Maula

“Cirinya, kita akan merasa rugi kalau sehari saja kita tidak baca Al-Qur’an,kita akan merasa kehilangan, kalau sehari saja kita tidak buka Al-Qur’an, atau kita akan merasa bersedih karena kehilangan momentun belajar Al-Qur’an, setiap hari, setiap saat dan setiap detik, orang yang memiliki karakter ini akan menunjukan semangat dan keinginan yang kuat untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.

“Alangkah bahagianya mereka yang sudah memiliki karakter seperti itu ya ki.” Kata Maula.

“Ya, berbahagialah orang yang memiliki karakter positif seperti itu, sebaliknya kita mesti berhati-hati kalau justru karakter negatif secara tidak sengaja menempel pada diri kita.” Kata Ki Bijak.

“Contohnya apa ki?” Tanya Maula.

“Menunda waktu shalat, kadang juga merupakan menjadi ciri atau karakter seseorang, sehingga kalau ia shalat tepat waktu, malah merasa rugi dan terganggu.”

“Kemudian lagi kebiasaan mencela, juga bisa jadi karakter seseorang, sehingga kalau belum mencela, rasanya gatal, dan lain sebagainya.” Kata Ki Bijak memperingatkan Maula untuk berhati-hati.

“Ya ki, semoga ana bisa memiliki karakter positif dan semoga pula ana terhindar dari karakter negatif tadi ya ki.” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas.” Kata Ki Bijak.

Wassalam.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 29, 2011 in Sucikan Hati

 

FENOMENA HAJI DAN PERUBAHAN SOSIAL

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian sama sucinya seperti hari ini, di negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah SWT ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya.”

Begitulah cuplikan pidato Rasulullah SAW beribu tahun yang lalu terhadap sahabatnya setelah melalui ritual ibadah haji. Pidato yang merupakan dekralasi atas kesamaan hak manusia di muka bumi ini. Tidak ada kaum yang lebih tinggi ataupun lebih rendah derajatnya. Semua sama di mata Allah SWT, yang membedakan hanya takwa.
Pidato ini pula menjadi isyarat betapa sucinya makna persaudaraan. Betapa pentingnya cinta kasih sesama manusia. Betapa tingginya arti solidaritas sosial dalam tatanan masyarakat. Apabila bangunan persaudaraan itu runtuh, maka kehancuran suatu bangsa akan bisa diramalkan. Karena kehormatan setiap manusia sama sucinya dengan negeri makkah, tanah yang suci.
Haji merupakan simbol semangat bagi umat muslim untuk bertemu dengan tuhannya. Kerinduan akan perjumpaan dengan Allah SWT adalah puncak tertinggi kebahagiaan umat muslim. Hal ini terlihat jelas betapa merindunya orang-orang untuk segera bergegas ke ‘rumah-Nya’. Banyak yang akan rela menabung bertahun-tahun untuk melepas dahaga akan salah satu kewajiban umat Islam itu.
Maka, seiring dengan waktu, haji pun menjadi fenomena dan popular dalam kehidupan masyarakat kita. Jangan harap, begitu ada uang, Anda akan bisa langsung meluncur ke tanah suci. Harus menunggu antrian hingga ribuan orang. Terkecuali mungkin program khusus.
Namun, seiring dengan waktu pula, haji menjadi tanda tanya. Sebab berbondong-bondongnya umat muslim mengejar haji ternyata tidak sebanding dengan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Haji di Indonesia menjamur di tengah maraknya kasus korupsi, menjulangnya angka pengangguran, meningginya tingkat kemiskinan, rawannya konflik sosial, dan lain sebagainya.
Ini merupakan pukulan telak. Ruh ratusan ribu hingga jutaan orang bergelar haji di negeri ini seolah hampa. Islam pun sebagai agama yang sempurna kian dipertanyakan.
Menurut Haedar Nashir, tinggi dan menguatnya tradisi keberagamaan dan keislaman di Indonesia, ternyata tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara nasional. Angka kemiskinan dan pengangguran masih sangat menakutkan. Inilah akibat dari tidak terjaganya bandul keseimbangan dari agama Islam.
Umat Islam begitu bangga bila menunaikan ibadah haji hingga berkali-kali. Namun, tidak sadar bahwa di sekelilingnya masih banyak orang yang tidak bisa berdiri tegak beribadah karena kelaparan. Umat Islam ada yang begitu sedih tidak dapat menunaikan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Namun, lupa akan keberadaan tetangganya yang sangat membutuhkan uluran tangan darinya.

Ritual Haji dan Kemanusiaan
Ritual haji sesungguhnya adalah proses menuju ‘kesempurnaan manusia’. Mereka yang terpanggil oleh Allah SWT menginjakkan kakinya di tanah suci akan rela melepas segala atribut keduniaannya. Panggilan suci ini akan menanggalkan sifat-sifat keiblisannya diganti dengan siraman cahaya nurani.
Pakaian ihram yang hanya merupakan selembar kain putih tak berjahit merupakan bagian dari ritual haji yang menyimbolkan persamaan derajat manusia. Status sosial, kedudukan ataupun jabatan akan diruntuhkan dengan ritual ini.
Wukuf di Arafah melambangkan betapa kecilnya umat manusia di hadapan Sang Pencipta. Manusia hanya seperti butiran pasir di tengah gurun yang amat luas. Hanya seperti setetes air di tengah hamparan samudera. Maka, tidak ada alasan manusia untuk menyombongkan diri. Tidak alasan untuk menindas satu sama lain.
Thawaf yang disimbolkan dengan mengelilingi Ka’bah mengisyaratkan kesamaan manusia di hadapan tuhannya. Semua suku, bangsa adalah sama.
Sa’i yang ditandai dengan berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah melambangkan bahwa manusia bertanggung jawab atas sesamanya. Orang kaya punya tanggung jawab terhadap orang miskin. Penguasa bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.
Seorang haji di mata Allah SWT adalah yang tersempurnakan syahadat, shalat, puasa, dan zakatnya. Maka sebagai manusia yang ‘tersempurnakan’ sudah seharusnya kepekaan sosialnya lebih tinggi atas lainnya. Kualitas ibadah haji seseorang akan ternilai melalui kemampuannya bertransformasi terhadap lingkungan.
Haji yang dibawa kembali ke tanah air tidak membuat seseorang menjadi feodal baru. Tapi, justru harus membawa semangat pembebasan. Dahulu, ketika awal modernisasi di Indonesia, awal abad 20-an, seseorang bergelar haji akan membawa pengaruh sangat tinggi di kalangan masyarakat. Mereka biasanya membawa pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan dan progresif.
Progresifitas itu, baik pemikiran maupun ekonomi, tidak terlepas dari modenisasi timur tengah kala itu. Semangat pembaharuan Islam banyak diadopsi oleh jamaah haji kemudian diterapkan di tanah air. Hal itulah kemudian menjadi pilar modernisasi di Indonesia. Menurut Belanda, seorang haji akan semakin ulet dalam berdagang, dan juga tidak kompromi melakukan perlawanan terhadap penjajah.
Semangat haji seseorang, hendaknya ditransformasikan melalui etika kejujuran dan bersih apabila ia politisi. Hendaknya ditransformasikan melalui pengembangan keilmuan bagi ia yang akademisi. Hendaknya ditansformasikan melalui keberpihakannya pada yang lemah apabila ia seorang pemimpin.
Haji bukanlah simbol sebagai golongan orang yang dijamin masuk surga di daerahnya. Haji jangan sampai hanya dijadikan fashion sebagian orang. Yang membuatnya memiliki identitas sendiri dibanding kelompok masyarakat lainnya.
Absurditas haji akan muncul apabila kehajiannya dieksploitasi sedemikian rupa untuk mengejar kepentingan dunia. Haji absurd apabila itu menjadikannya alasan untuk tidak bergaul dengan masyarakat kelas rendah, merasa angkuh selalu berdiri di kelasnya sendiri.

Haji yang Rahmatan Lil ‘Alamin
Dalam buku ‘Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan’, Moeslim Abdurrahman menyatakan gagasannya tentang konsep Islam yang murni. Menurutnya, Islam yang paling murni itu hanya bisa dilihat dari pergulatan hidup sehari-hari para pemeluknya. Seorang muslim dapat dikatakan menjadi seorang muslim yang sebenarnya apabila dia telah membuktikan kemuslimannya. Bagaimana hidup kesehariannya dalam menegakkan keadilan itulah yang membuktikan derajat kemusliman seseorang. Islam adalah ruh kemanusiaan yang menuntun perubahan, terutama dalam pemerdekaan, untuk mewujudkan keadaban dan peradaban, dan untuk menghidupkan cita-cita kemanusiaan yang merdeka, bebas, dan terhormat.
Begitu pula dengan kehajian seseorang. Haji yang murni adalah haji yang membawanya untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat. Mereka selalu yang menjadi pelopor perubahan.
Kesempurnaan haji justru diraih pada perjuangannya memberantas kebodohan- misalnya. Haji dinilai pada pergulatannya memperjuangkan kaum-kaum yang ditindas oleh penguasa, dan membebaskan belenggu kemiskinan. Pengalaman spiritualnya ditransfer untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan di bumi tempat ia berpijak.
Di tengah kondisi bangsa akhir-akhir ini, bencana alam, korupsi merajalela, perekonomian yang sulit, semoga semangat iman dan islam para peserta haji bisa membumi di Indonesia hingga negeri ini menjadi baldatun toyibbatun warobbun ghofur.

*Penulis adalah Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Unhas

sumber http://fitrawanumar.blogspot.com
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2011 in ISLAM News

 

Harian The Independent Sebut Makkah Hanya untuk Orang Kaya dan ‘Mirip Vegas’

Harian The Independent Sebut Makkah Hanya untuk Orang Kaya dan 'Mirip Vegas'

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Dalam 10 tahun ini, Makkah mengalami transformasi yang luar biasa; lokasi Masjidil Haram ditata ulang, dan bermunculan gedung-gedung pencakar langit dan hotel berbintang berkelas internasional.

Dalam sebuah tulisan feature, harian The Independent mengupas sisi dalam Kota Suci. “Meski Nabi Muhammad datang untuk menekankan kesetaraan, Makkah berubah menjadi taman bermain bagi kaum kaya dimana kapitalisme secara kasat mata mengaburkan nilai spiritualitas kota,” tulis mereka, mengutip kata-kata seorang kritikus.

Harian ini menyoroti, betapa demi membangun kota yang kini ‘serupa Las Vegas’, banyak bangunan bersejarah yang dikorbankan. “Tak ada yang memperjuangkan aksi vandalisme budaya ini,” kata  Dr Irfan al-Alawi, direktur eksekutif The Islamic Heritage Research Foundation. “Kami sudah kehilangan 400-500 situs bersejarah. Saya harap belum terlambat untuk menyelamatkan yang tersisa.”

Sami Angawi, pakar arsitektur Islam Arab saudi, sama-sama prihatin. “Ini adalah kontradiksi mutlak untuk sifat Makkah dan kesucian rumah Allah,” katanya kepada kantor berita Reuters awal tahun ini. “Kedua kota [Makkah dan Madinah] secara historis hampir punah. Anda tidak menemukan apa-apa kecuali gedung pencakar langit.”

Kekhawatiran dr Alawi yang paling mendesak adalah ekspansi yang direncanakan senilai miliaran dolar AS dari Masjidil Haram, situs paling suci dalam Islam dimana Kabah berada. Konstruksi resmi dimulai awal bulan ini. Menteri Kehakiman, Mohammed al-Eissa, berseru bahwa proyek ini akan menghormati “kesucian dan kemuliaan dari Masjid Suci, dan demi kepentingan jamaah.”

Area perluasan sekitar 400 ribu meter persegi tengah dibangun untuk mampu meningkatkan daya tampung  1,2 juta jamaah lagi tiap Musim Haji tiba. Pembangunan ini, menurut The Islamic Heritage Research Foundation, bukan tanpa risiko. Lembaga ini menyusun daftar situs sejarah yang terancam diratakan dengan tanah akibat pembangunan ini, termasuk bangunan sisa-sisa peninggalan era Usmaniyah dan Abbasiyah. Termasuk dalam bangunan yang terancam dihancurkan adalah rumah di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan rumah pamannya, Hamzah, tumbuh.

Argumen yang selalu dikemukakan, tulis The Independent, adalah bahwa Makkah dan Madinah sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur. Dua belas juta peziarah mengunjungi kedua kota ini setiap tahun dengan jumlah yang diperkirakan meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.

Tetapi para kritikus khawatir bahwa keinginan untuk memperluas situs ziarah telah memungkinkan pihak berwenang untuk menginjak-injak warisan budaya di daerah itu. Lembaga yang dipimpin Alawi mencatat setidaknya 95 persen bangunan bersejarah yang berusia ratusan tahun telah dibongkar dalam dua dekade terakhir saja.

Kehancuran telah disokong oleh paham Wahabisme.Dengan alasan takut menjadi ajang sirik, bangunan bersejarah diratakan.

Sedikit catatan dari The Independent: Untuk membangun kota pencakar langit di Makkah, sebuah gunung didinamit dan diratakan, menghancurkan Benteng Ajyad di era usmaniyah yang berdiri di atasnya. Lalu, rumah Khadijah istri pertama Nabi telah berubah menjadi blok toilet masjidil Haram, sedang rumah tempat lahirnya bahkan diratakan begitu saja.

Alawi berharap masyarakat internasional ‘terbangun dari tidurnya’ dan melihat apa yang terjadi terhadap warisan sejarah Islam di Makkah. “Kami tidak akan mengizinkan seseorang pun untuk menghancurkan Piramida, jadi mengapa kita membiarkan sejarah Islam lenyap?” katanya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2011 in ISLAM News

 

Hukum merokok dalam ISLAM


(A.N.) Pertama tama saya mohon maaf terhadap para perokok. saya tidak bermaksud memojokkan hanya mengungkap sedikit fakta. Saya bukan sok tahu tapi saya yakin para perokok itupun “sangat ingin menghentikan “ kebiasaan merokoknya. Begitu pula dengan orang orang yang sudah terbiasa hidup dari rokok. Saya tahu dan mengerti benar bahwa mereka memiliki niat baik untuk menafkahi diri dan keluarga. tetapi yakinlah bahwa Allah Maha Kaya. Ketika meninggalkan sesuatu untuk mendapat Ridho Allah (tentu dibarengi dengan cara yang dibenarkan Sang Pencipta) maka ALLAH akan mengganti dengan yang lebih baik karena rizki akan datang dari arah yang dikehendakiNya.

Hukum merokok dalam Islam menurut opini sebagian masyarakat kita adalah makruh. Padahal, dampak rokok telah sangat mengkhawatirkan. Banyak kalangan menanti-nanti keluarnya fatwa yang lebih keras terhadap rokok.


Fatwa MUI: Merokok Haram

Di awal 2009, akhirnya MUI mengeluarkan fatwa tentang keharaman merokok. Sayangnya, fatwa haram tidak berlaku menyeluruh, hanya terbatas pada empat kriteria, yakni anak-anak, wanita hamil, merokok di tempat umum, dan merokok bagi pengurus MUI sendiri.

Banyak pihak meragukan efektivitas fatwa haram merokok yang setengah-setengah ini. Betapa tidak. Lelaki dewasa tidak termasuk dalam kategori yang diharamkan merokok.

Padahal, 80 persen perokok disinyalir adalah lelaki dewasa. Sementara jumlah wanita perokok cuma empat persen. Jumlah wanita hamil yang merokok jauh lebih sedikit dan tidak signifikan.


Hukum Merokok dalam Islam

Para perokok berat cenderung membantah keharaman merokok. Alasannya, tak ada dalil khusus tentang merokok dalam Al Quran sebagaimana dalil tentang minuman keras dan babi yang jelas-jelas terlarang.

Bagaimana sesungguhnya hukum merokok dalam Islam? Benarkah dalil tentang keharaman merokok tidak tercantum dalam Al Quran, kitab suci umat Islam yang katanya paling lengkap dan mencakup segala problematika umat manusia? Sesungguhnya, banyak sekali dalil yang dapat dijadikan landasan untuk mengharamkan rokok. Mari kita telaah satu-persatu:


1. Merokok Itu Buruk

Setiap orang yang ditanya dan diminta menjawab dengan jujur tentang baik buruknya merokok, niscaya ia akan menjawab bahwa merokok itu buruk. Banyak fenomena di masyarakat yang menandakan bahwa merokok itu buruk. Di sana-sini, kita dapati larangan merokok. Entah itu di rumah sakit, sekolah, masjid, ruang pertemuan, dan sebagainya.

Para perokok juga umumnya tak ingin anaknya mengikuti jejaknya menjadi perokok. Pabrik-pabrik rokok pun mengakui keburukan produk mereka dengan mencantumkan bahaya rokok pada kemasan rokok.

Semua orang, baik pembenci rokok, perokok berat, maupun pengusaha rokok telah sepakat mengenai keburukan rokok. Segala hal yang buruk itu diharamkan oleh Allah swt. Ini tercantum dalam Al Quran Surat AlA’raf: 157. Semua yang baik itu halal. Dan semua yang buruk adalah haram.


2. Merokok Itu Membinasakan

Rokok merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia. Data WHO menunjukkan ada satu orang manusia meninggal dunia setiap 6 detik gara-gara rokok.

Rokok dapat berakibat gangguan pernafasan, penyakit jantung, impotensi, kanker, dan berbagai penyakit lain yang berujung pada kematian. Bahaya rokok sebagai pembunuh yang meracuni tubuh manusia juga telah disetujui semua dokter dan ahli medis di seluruh dunia.

Merokok sama dengan membunuh diri sendiri secara perlahan-lahan. Padahal, Allah sangat melarang hambanya untuk menjatuhkan diri dalam kebinasaan (Al Quran Surat Al-Baqarah: 195).


3. Lebih Banyak Mudharat daripada Manfaat Rokok

Ada sebagian kalangan berpendapat bahwa rokok tak melulu merugikan. Rokok juga memiliki segi positif. Bagi pemerintah sendiri, industri rokok adalah penyumbang pemasukan negara yang tak sedikit. Maka mereka enggan untuk bersikap tegas terkait keharaman merokok.

Pemerintah lupa bahwa kelak mereka harus menderita kerugian yang berlipat-lipat karena harus membiayai jutaan warga negara yang sakit parah gara-gara rokok. Sungguh naif jika kita enggan menerima dalil keharaman merokok hanya lantaran rokok dianggap masih memiliki manfaat. Karena jika dibandingkan dengan mudharatnya, manfaat rokok hanya sepersekian persen saja.

Dalam kaidah fikih Islam, mencegah bahaya atau kemudharatan itu lebih utama ketimbang mengedepankan manfaat. Dalam Al Quran Surat Al Baqarah: 219, Allah mengambil contoh minuman keras dan judi yang mengandung mudharat sekaligus manfaat.

Namun karena unsur mudharat jauh lebih banyak ketimbang manfaat, maka hukum minuman keras dan judi menjadi haram. Dalil ini dapat kita terapkan pada rokok.


4. Merokok Dapat Membahayakan Diri Sendiri dan Diri Orang Lain

Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan Baihaqi dan Al-Hakim, Rasulullah melarang umatnya membahayakan diri sendiri dan orang lain. Rokok yang dihisap seseorang di tempat umum tak hanya membahayakan dirinya sendiri, namun juga diri orang lain yang ikut menghisap asap rokoknya. Orang lain jadi ikut merokok atau menjadi perokok pasif.

Padahal, tahukah Anda bahwa perokok pasif menanggung risiko bahaya tiga kali lipat lebih besar daripada perokok aktif? Berdasarkan penelitian, dari zat-zat racun yang terkandung dalam sebatang rokok, hanya 25% yang masuk ke tubuh si perokok. Sisanya sebesar 75% menyebar dan meracuni tubuh orang-orang di sekeliling si perokok.

Dalam Al Quran Surat Al Ahzab: 58, Allah melarang keras hamba-Nya menyakiti atau mengganggu sesama mukmin yang tak bersalah. Sungguh dzalim orang yang merokok di tempat umum. Ia tak sekadar mengganggu orang lain dengan asap rokoknya, tapi juga menyebar racun untuk membunuh orang-orang tak bersalah.

(A.N) Saya mengamati memang orang yang merokok terlihat lebih kuat, pekerja keras tetapi saya juga mengamati betapa buruk kondisi kesehatan keluarga atau teman yang sering terpapar asap rokoknya. Jika perokok memang sayangkeluarga sebaiknya ia berusaha meninggalkan rokok tersebut. saya tahu memang tak mudah, tetapi jika sudah niat maka semua akan mungkin terjadi.

5. Merokok Adalah Pemborosan

(A.N.) Saya mengamati  iklan rokok itu bagus bagus, tak ada yang mengajarkan untuk merokok atau beli rokok bahkan menunjukkan bahaya menggunakan rokok.

Orang yang telah kecanduan rokok rela menghabiskan uangnya untuk membeli rokok dan mengabaikan kebutuhan lain yang lebih penting. Ini adalah sebuah pemborosan, satu bentuk perbuatan setan yang dilarang Allah swt dalam Al Quran Surat Al Isra’: 26-27.

Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Rasulullah menyebutkan empat perkara yang yang harus dipertanggungjawabkan umatnya kelak di hari pengadilan. Salah satunya adalah tentang harta, dari mana asalnya dan dibelanjakan untuk apa.

Bayangkan bagaimana nasib seorang perokok di akherat nanti, ketika harus menjawab bahwa hartanya dibelanjakan untuk membeli rokok. Hartanya habis untuk membeli penyakit dan kematiannya sendiri. Naudzubillah min dzalik.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada September 27, 2011 in Ilmu Pengetahuan

 

Di balik pesona Jilbab Gaul

Kini, jilbab tak lagi menjadi pakaian khas para ustadzah atau aktivis dakwah. Jilbab menjadi pakaian yang umum dikenakan wanita muslimah. Pesona jilbab pun telah menyihir kaum lelaki. Banyak lelaki muslim masa kini yang mensyaratkan jilbab sebagai bagian dari kriteria wanita idamannya.

Fenomena Jilbab Gaul

Seiring dengan semakin maraknya penggunaan jilbab di kalangan wanita muslimah, mulai terjadi pergeseran makna jilbab itu sendiri. Para muslimah yang latah berjilbab tanpa mengetahui hukum jilbab dan aturan-aturan syariahnya, menjadi trendsetter penggunaan jilbab yang lebih mengarah pada tujuan mode. Inilah yang kita kenal dengan fenomena jilbab gaul.

Jilbab gaul dicirikan dengan pakaian ketat, transparan, dan membentuk lekuk tubuh. Kerudung yang digunakan tidak menutupi dada dan ujungnya diikat ke belakang. Pengguna jilbab gaul biasanya juga melengkapi penampilannya dengan dandanan menor, wewangian, serta aksesoris yang mencolok.

Hukum Jilbab Gaul

Di balik pesona jilbab gaul yang menjadi tren di mana-mana, sesungguhnya gaya berpakaian seperti ini sangat tidak memenuhi ketentuan jilbab seperti yang tercantum dalam Al Quran Surat An-Nur: 31.

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan wanita menutupkan kain kudung ke dada. Artinya, di samping kepala dan rambut, dada juga termasuk aurat yang harus ditutupi. Tidaklah disebut jilbab jika kerudung ditutupkan pada kepala saja dan ujungnya disampirkan ke belakang. Ujung kerudung harus dibiarkan jatuh menutupi dada.

Wanita berjilbab gaul dengan pakaian tipis, transparan, dan memperlihatkan lekuk tubuh juga sangat pas dengan perumpamaan Rasulullah dalam sebuah hadis shahih. Mereka adalah wanita yang berpakaian namun telanjang dan gemar berlenggak-lenggok. Wanita semacam ini menurut Rasulullah tidak akan masuk surga, bahkan mencium baunya pun tidak.

Di samping itu, dalam Al Quran Surat Al Ahzab: 33, Allah melarang wanita untuk bertabaruj. Tabaruj adalah menggunakan aksesoris, dandanan, serta wewangian secara berlebihan sehingga mengundang syahwat lelaki. Perilaku tabaruj ini biasanya tak dapat dilepaskan dari pengguna jilbab gaul.

Citra jilbab gaul menjadi bertambah buruk jika akhlak penggunanya masih jauh dari nilai-nilai Islami. Misalnya, masih suka berduaan dengan lawan jenis non-mahram serta menerapkan gaya pergaulan yang menyimpang dari syariat Islam.

Reformasi Jilbab Gaul

Walaupun banyak yang memandang negatif fenomena jilbab gaul, tidak ada salahnya kita tetap berprasangka baik pada wanita yang masih mengenakan jilbab gaul.

Muslimah pengguna jilbab gaul setidaknya telah memiliki kesadaran ke arah kehidupan yang lebih Islami. Bagaimanapun juga, tidak mudah meninggalkan kehidupan jahiliyah secara total.

Berhijrah adalah sebuah proses. Berniat pun sebuah proses pula. Dari yang niatnya sekadar latah berjilbab untuk mengikuti mode, lambat-laun, jika Allah berkehendak memberi hidayah, niat dapat direformasi menjadi lebih sempurna sehingga dalam berpakaian akan semakin mendekati kriteria jilbab yang sempurna.

Maka, bagi yang telah berjilbab secara total, tidak ada salahnya memberikan kesempatan dan dukungan kepada saudarinya untuk terus berproses menuju jilbab syariah.

Jilbab yang sesuai syariah menutupi tubuh seorang wanita muslimah secara sempurna. Kemuliaannya terpancar dari cara berpakaian yang tidak ketat, tidak transparan, tidak menyerupai pakaian laki-laki, dan minus segala jenis aksesoris serta wewangian pengundang syahwat lelaki.

Penggunanya jilbab syariah pun mematuhi adab-adab pergaulan dalam Islam. Menghindari kontak berlebihan dengan lawan jenis, menundukkan pandangan, serta menjauhi lenggak-lenggok yang bertujuan mencari perhatian.

Mari kita nantikan para “reformis” jilbab gaul yang terus berproses menyempurnakan cara berpakaiannya menuju jilbab syariah. Insya Allah.

 

dari berbagai sumber
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 27, 2011 in Sucikan Hati

 

Mudik 1432 H

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 26, 2011 in photo collection

 

Sholat Ied 1432H

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 26, 2011 in photo collection