RSS

Beberapa pendapat Mengenai Madzhab

13 Sep

Diambil dari beberapa sumber di internet.


Imam 4 Madhzab Apakah Setingkat Wali?

 

Pertanyaan :

Assalaamualaikum wr wb,

P. Ustadz, saya ingin menanyakan apakah keempat imam madhzab itu kedudukannya setingkat wali atau apa? Apakah mereka juga memiliki karomah? Mengapa ijtihad mereka dijadikan pegangan bahkan oleh waliyullah sekalipun (seperti halnya walisongo). Mohon penjelasannya, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalam

jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Keempat imam mazhab itu bukan tokoh dongeng dunia hayal. Mereka tidak punya ilmu sakti mandragunanan digjaya, juga tidakpunya ilmu ghaib dan kesaktian semacam tokoh dunia pewayangan. Mereka tidak bisa menghilang, atau menunjuk batu menjadi emas, atau melakukan tapa di pinggir sungai.

Sebaliknya, mereka adalah sosok para intelektual, ilmuwan dan insan cerdas secara nalar dan logika. Mereka tidak dikenal kecuali lewat ilmu-ilmu logika yang teramat eksak.

Para imam mazhab adalah tokoh besar dan penemu disiplin ilmu, seperti halnya seorang Pithagoras untuk ilmu trigonometri, atau Isaac Newton dalam ilmu fisika, atau Einstain dalam ilmu nuklir.

Jadi tidak ada hubungannya dengan urusan karomah, keajaiban, atau hal-hal yang tidak masuk akal lainnya. Urusan yang ghaib seperti itu hanyalah dongeng para penghayal yang jauh dari ilmu eksak. Biasa dijadikan hikayat yang tidak jelas ujung pangkalnya oleh para tokoh tasawuf yang menyimpang.

Tokoh Ilmu Hukum dan Logika

Ilmu yang dikembangkan oleh para imam mazhab justru ilmu logika nalar yang sehat dan positif. Tujuannya untuk mendapatkankesimpulan hukum dari sumber-sumbernya yang utama, seperti Al-Quran dan Sunnah Rasululah SAW.

Mengingat bahwa kedua sumber utama ajaran Islam itu tidak diturunkan dalam bentuk bahasa hukum, tetapi berupa prosa, kisah, laporan pandangan mata atau kutipan statemen.

Sehingga masih dibutuhkan sebuah kerja keras untuk membuat kesimpulannya dengan cara membahas keduanya dengan teliti, cermat, logis dan kritis. Hasilny adalah sebuah karya berisi kesimpulan-kesimpulan hukum baik urusan ibadah maupun muamalah.

Dan produk yang langsung kita rasakan adalah apa yang terkandung di dalam ilmu fiqih. Sehingga setiap ibadah yang Allah perintahkan itu bisa dipahami teknisnya dengan sedetail-detailnya, lengkap dengan kandungan hukumnya, bahkan bisa dibuatkan kerangka syarat, rukun, sunnah dan ketentuannya secara rinci.

Kerja-kerja itu adalah ijtihad yang kalau pun hasilnya salah, tetap sajasudah dijamin dengan 1 pahala. Dan seandainya benar, maka pahalanya ada dua.

Mengapa kalau salah tetap dapat pahala?

Sebab yang melakukannya adalah orang ahli di bidangnya. Ibarat dokter ahli, meski sudah melakukan semua kerja dengan memenuhi prosedur dan etika kedokteran, tetap saja tidak bisa melawan ketentuan Allah SWT. Entah karena keterbatasandunia kedokteran atau pun karena hal-hal lainnya.

Selama semua prosedur telah dijalankan dengan baik, namun seandainya tetap masih ada terjadi hambatan dan kesalahan juga, maka kesalahan itu tidak bisa begitu saja dibebankan kepada pelakunya. Karena akan ada banyak faktor yang ikut bepengaruh.

Maka seandainya hasil ijtihad seorang mujtahid tidak tepat, dia tetap tidak bisa dipersalahkan, dan tetap mendapat ‘honor’ berupapahala. Tapi kalau hasilnya benar, maka dia akan dapat ‘bonus’ tambahan pahala.

Bandingkan dengan dongeng tentang wali-wali nan digjaya, di mana cerita-ceria burung tentang kesaktian tokoh-tokoh ajaib menjadi penghias kedustaan. Maka sosok para mujtahid itu 180 derajat berbeda.

Wallahu a’lam bishshawab,

wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

Apakah Kita Harus Mengikuti Mazhab?

Pertanyaan

Assalamualaikum Wr Wb,

Apakah kita selaku umat nabi Muhammad SAW harus mengikuti salah satu mazhab (Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Hambali) sebagi dasar jurisprudensi Islam? Mengapa ada umat Islam yang mengikuti non-mazhabi?

Jazakallohu Khayr

jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya mazhab itu sekedar sebuah bentuk pola pemahaman atau interpretasi dari apa yang kita pahami dari Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap orang pada dasarnya berhak punya cara pemahaman sendiri-sendiri atas kedua sumber agama itu. Dan cara pemahaman seseorang atas keduanya, tidak lain adalah sebuah mazhab.

Jadi ketika anda membaca Al-Quran, lalu anda melirik teks terjemahannya di sebelahnya, sedikit banyak anda mengerti esensi kandungan informasi hukum yang ada di ayat itu, atau mungkin ada juga yang kurang anda mengerti, maka semua persepsi itu tidak lain adalah mazhab anda.

Tidak beda dengan seorang mujtahid besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Sya-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah. Mazhab-mazhab mereka tidak lain adalah interpretasi, pemahaman, pencerapan dan kesimpulan hukum atas apa yang pahami dari Al-Quran dan As-Sunnah. Sama seperti apa yang terjadi pada diri anda.

Hanya ada sedikit bedanya. Mereka paham betul bahasa arab, sedangkan kita belum tentu. Mereka tahu betul kekuatan bahasa dan gaya bahasa tiap ayat dan hadits, sedangkan masih dan masih terus mengandalkan terjemahan orang lain.

Mereka tahu betul maksud dan tujuan tiap ayat diturunkan (asbabun nuzul), sedangkan kita tidak tahu. Mereka juga tahu betul kapan sebuah hadits terjadi di masa Rasulullah SAW, serta tahu mana yang terjadi duluan dan mana yang belakangan. Sedangkan kita tidak tahu.

Mereka punya konsep dan sistematika yang sudah sangat baku dan diakui oleh semua ulama sepanjang zaman, dalam rangka menarik kesimpulan hukum dari tiap ayat dan hadits, sedangkan kita tidak punya.

Mereka mengerti bagaimana mengaitkan suatu ayat hukum dan ayat hukum yang lain, sehingga meski seklias terlihat saling berbeda, namun tetap bisa digabungkan dan dicari titik-titik temunya. Sedangkan kita tidak mampu.

Mereka tahu maksud Allah dan Rasulullah SAW di balik tiap kata di dalam Al-Quran dan Sunnah, serta mengenal betul apa esensi dan keinginan dari tiap sumber itu. Sedangkan kita tidak mengerti.

Mereka telah menelusuri pada perawi hadits satu persatu dari mulai orang yang menyampaikannya kepada mereka hingga ke level shahabat, serta telah memastikan keshahihan tiap hadits itu secara langsung, bukan dengan memhbolak-balik sebuah kitab. Sedangkan kita tidak pernah melakukan penelitian sejauh itu.

Yang sulit disaingi adalah bahwa mereka, para imam mazhab itu- hidup di masa seratusan hingga dua ratusan tahun sepeninggal Rasulullah SAW. Sehingga jarak yang lebih dekat kepada Rasulullah SAW ini menjadi salah satu jaminan keaslian dan originalitas syariah Islam. Dibandingkan dengan kita yang hidup lebih dari 1400 tahun kemudian, maka jarak waktu kita kepada Rasulullah SAW sangat jauh. Kemungkinan bias dan distorsi jauh lebih besar terjadi pada masa kita.

Para imam mazhab itu punya jutaan murid yang kemudian menjadi mujtahid juga, serta menjadi ulama besar dan tersebar di berbagai belahan dunia. Mazhab yang mereka bangun itu seharusnya sudah musnah sejak lama, kalau saja tidak terlalu kuat hujjah dan argumentasinya. Dan dahulu memang bukan hanya ada 4 mazhab saja, belasan dan lusinan mazhab telah didirikan, namun yang bisa bertahan lama hingga hari ini memang tinggal 4 saja. Maksudnya yang mazhab besar. Sedangkan yang kecil-kecil, masih ada dan cukup banyak, hanya kurang punya pengaruh yang kuat.

Dengan semua pertimbangan itu, maka mengikuti sebuah mazhab yang besar dan sudah teruji lebih dari seribu tahun tentu bukan hal yang hina. Bahkan karena mazhab itu sudah sangat lengkap isinya, seolah-olah nyaris tidak ada tempat lagi untuk ijtihad, kecuali pada masalah-masalah kontemporer yang tidak ada di zaman dahulu.

Tidak Ada Kewajiban Untuk Terikat Dengan Satu Mazhab

Rasulullah SAW tidak pernah melarang seseorang untuk bertanya kepada beberapa shahabatnya. Dan para shahabat nabi itu sendiri, tidak pernah melarang siapapun untuk bertanya kepada banyak orang.

Yang penting, kita diwajibkan bertanya kepada yang ahli, yaitu mereka yang punya kapasitas dan kapabilitas dalam berijtihad, mampu memahami teks-teks syariah, serta punya jam terbang tinggi dalam membahas dan mengkaji masalah syariah.

Keempat imam mazhab pun tidak pernah melarang seseorang untuk meminta pendapat kepada imam lain. Tidak pernah ada peraturan bahwa bisa seseorang telah menggunakan pendapat Abu Hanifah, lalu terlarang untuk menggunakan pendapat Malik, Syafi’i atau Ahmad. Dan begitulah sifat mereka.

Maka tidak ada keharusan buat kita untuk terikat hanya pada satu mazhab saja. Namun bila seseorang ingin mudahnya, dibolehkan untuknya bertanya kepada satu mazhab saja.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Haruskan Ikut Satu Madzhab?

 

Apakah setiap muslim di masa sekarang harus mengikat dirinya dengan salah satu madzhab yang ada dan selalu mengambil pendapat madzhabnya saja, atau bolehkah kita berganti-ganti pegangan dan mengambil pendapat yang paling “ringan” dari beberapa madzhab pada setiap masalah?

Memang ada sedikit beda pendapat tentang masalah kesetiaan pada satu madzhab ini. Ada beberapa pendapat ulama yang menganjurkan agar kita tidak terlalu mudah bergonta-ganti madzhab. Bahkan ada juga yang sampai melarangnya hingga mengharamkannya. Sementara itu umumnya ulama tidak sampai mewajibkannya.

1. Mereka yang Mengharuskan

Hujjah mereka yang mengharuskan berpegang pada satu madzhab adalah agar tidak terjadi kerancuan dalam aplikasi ibadah. Sebab tiap-tiap madzhab dihasilkan dari suatu logika ijthad yang sistematis, teratur dan runtut. Sehingga menurut pendapat ini, kita tidak boleh main campur aduk begitu saja hasil-hasil ijtihad yang metologinya saling berbeda.

Harus ada sebuah logika yang runtut dan konsekuensi untuk tiap-tiap ijtihad. Karena itu sebagian ulama yang masuk ke dalam kelompok in berpendapat tidak bolehnya bergonta-ganti madzhab.

2. Mereka yang Tidak Mengharuskan

Sedangkan pendapat yang berlawan mengatakansebenarnya kalau diteliti lebih dalam, tidak ada kewajiban dari nash baik Quran maupun sunnah yang mengharuskan hal itu. Umumnya para ulama mengatakan bahwa setiap orang bebas untuk memilih mazhab mana yang ingin dipegangnya. Termasuk bila seseorang harus berganti madzhab berkali-kali.

Dalilnya adalah bahwa dahulu Rasulullah SAW tidak pernah mewajibkan untuk bertanya kepada satu orang shahabat saja. Tetapi siapa saja dari shahabat yang punya pengetahuan tentang suatu masalah, boleh dijadikan rujukan. Sebagaimana firman Allah:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An-Nahl: 43)

Ayat ini tidak mewajibkan bila sudah bertanya kepada satu orang, maka tidak boleh lagi bertanya kepada orang lain. Ayat ini hanya mensyaratkan bahwa kita wajib bertanya kalau tidak tahu, agar dapat beribadah dengan benar. Namun tidak boleh bertanya kepada sembarang orang, harus kepada ahluz-zikr, yang diterjemahkan sebagai ulama, fuqaha” ahli ilmu syariah yang kompeten dan benar-benar menguasai bidangnya. Tapi tidak mengharuskan hanya pada satu orang saja.

Bagaimana dengan Kita?

Di tengah beda pendapat antara dua “kubu” ini, kami lebih cenderung kepada pendapat yang memudahkan. Yaitu pendapat yang intinya tidak bikin susah seorang yang ingin menjalankan agamanya. Dan kondisi bisa saja berbeda-beda untuk tiap orang.

Di tempat tertentu, ada mungkin seorang “alim yang sangat menguasai ilmu agama dalam versi madzhab tertentu. Boleh dibilang bahwa dalam semua masalah agama, beliaulah satu-satunya rujukan yang ada. Meski ilmunya hanya dengan satu paham madzhab saja. Maka seorang muslim awam boleh bertanya kepada beliau dan menjadikannya sebagai rujukan dalam masalah agama.

Tidak ada kewajiban bagi si awam ini untuk melakukan konsultasi silang kepada ulama lain yang tidak terjangkau baginya. Asalkan si “alim itu memang seorang yang menguasai masalah fiqih, cukuplah bagi masyarakat di sekitarnya menjadikan pendapat-pendapat beliau sebagai rujukan. Atau dalam bahasa lainnya, bertaqlid kepadanya.

Tetapi bertaqlid di sini bukan kewajiban, melainkan justru memudahkan. Sifatnya bukan keharusan, tetapi kebolehan.

Di tempat lain boleh jadi ada surplus ulama, misalnya di situ berkumpul beberapa ulama dari beberapa madzhab yang saling. Maka buat orang-orang awam yang tinggal di tempat itu, boleh saja mereka berguru kepada masing-masing ulama dari beberapa madzhab itu. Tidak ada keharusan untuk “selalu setia sepanjang masa” dalam menjalankan pendapat dari ulama tertentu dari mereka. Sebagaimana juga tidak ada larangan untuk tetap setia kepada satu saja dari mereka.

Ini yang kami maksud dengan prinsip yang memudahkan. Bila di suatu tempat hanya ada satu ulama, kita boleh bermadzhab satu saja, tidak wajib berpindah-pindah madzhab. Karena pindah-pindahitu justru menyulitkan.

Sebaliknya, bila di suatu tempat ada banyak sumber ilmu dari beragam madzhab, boleh-boleh saja untuk membandingkannya dan memilih pendapat yang menurut kita paling kuat dalilnya. Tetapi juga tidak ada larangan untuk tetap berpegang saja pada satu madzhab, meski di sekeliling terdapat banyak madzhab lain.

Artinya, yang mana saja yang kita ikuti, selama suatu pendapat keluar dari seorang ulama yang kompeten dalam masalah istimbath hukum fiqih, silahkan saja. If”al-wa laa haraj, lakukan dan tidak ada keberatan.

Dalam Satu Madzhab Bisa Saja Ada Banyak Pendapat

Apa yang kami sampaikan ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa di dalam satu madzhab pun sangat mungkin terjadi perbedaan-perbedaan lagi.

Kalau kita umpamakan, anggaplah ada madzhab 1, 2, 3 dan 4. Terhadap suatu masalah, sangat mungkin terjadi perbedaan pendapat di antara keempat madzhab itu. Tapi kalau kita teliti di madzhab 1, ternyata masih ada perbedaan lagi.

Kita misalkan ada tiga pendapat yaitu pendapat a, b dan c. Di dalam madzhab 2, juga adalagi berpedaan pendapat, yaitu pendapat a, b dan c. Bukan itu saja, ternyata di dalam madzhab 3 ada juga perbedaan pendapat yaitu pendapat a, b dan c. Demikian juga di dalam madzhab 4, ada tiga pendapat yang berbeda, yaitu pendapat a, b dan c.

Maka kita akan punya 12 pendapat yang berbeda-beda, bukan hanya 4 pendapat saja.

Dan sangat boleh jadi, pecahan pendapat dari suatu madzhab justru punya kesamaan dengan pecahan pendapat dari madzhab lainnya. Misalnya, pendapat mazhab 1b sama dengan pendapat madzhab 3c. Pendapat madzhab 4 d sama dengan pendapat 2 d.

Kalau sudah begini, bagaimana kita mengatakan bahwa kita wajib berpegang teguh hanya pada satu madzhab saja? Padahal di dalam madzhab itu ada begitu banyak variasi pendapat?

Pendapat Suatu Madzhab Mungkin Saja Dikoreksi

Berpegang hanya pada satu madzhab saja ternyata tidak terlalu mudah. Sebab boleh jadi pendapat dalam satu madzhab berganti-ganti.

Jangan dibayangkan bahwa tiap-tiap hasil ijtihad dari suatu madzhab bersifat mutlak dan tidak bisa diubah lagi. Sebagian dari hasil ijtihad madzhab-madzhab itu sangat mungkin untuk dikoreksi dan diubah oleh ulamanya.

Ambillah contoh Al-Imam As-Syafi”i rahimahullah, yang punya dua versi dalam madzhabnya, yaitu qaul qadim dan qaul jadid. Sebagai contoh aplikatif, dalam qaul qadim-nya beliau berpendapat bahwa tayammum itu harus mengusapkan debu ke kedua tangan hingga kedua tapak tangan saja, tidak perlu sampai siku seperti dalam wudhu.

Namun dalam qaul jadid-nya, beliau mengoreksi hasil ijtihadnya dan mengatakan bahwa mengusapkan debu ketika tayammum harus sampai ke kedua siku, sebagaimana dalam wudhu”.

Orang Awam Bingung Pengelompokan Berdasarkan Madzhab

Dan yang paling menjadi hujjah tidak harusnya kita berpegang pada satu madzhab saja adalah bahwa kita sulit mengidentifikasi suatu pendapat itu merupakan produk madzhab mana.

Khususnya hal ini terjadi di wilayah di mana syariat Islam tidak diajarkan berdasarkan satu madzhab saja. Seperti yang umumnya dialami oleh muslim perkotaan. Sebab mereka punya akses yang begitu banyak, akibat padatnya arus informasi beragamnya kemungkinan akses kepada beragam ilmu syariah.

Kalau kita wajibkan mereka bermadzhab dengan satu madzhab saja, justru menyulitkan, sebab mereka justru tidak tahu, detail-detail ibadah mereka itu sesuai dengan madzhab yang mana.

Apakah dalam keadaan demikian kita mengatakan bahwa sebelum menjalankan shalat, seseorang diwajibkan mencari runtutan identitas madzhabnya? Apakah kita akan bilang shalatnya tidak sah kalau tidak tahu versi madzhabnya?

Tentu hal ini justru sangat memberatkan dan jadi beban tersendiri. Sebab adanya madzhab-madzhab ulama justru untuk memudahkan orang awam, sehingga tidak perlu lagi mereka direpotkan untuk berijtihad sendiri. Sesuatu yang boleh dibilang mustahil buat orang awam, mengingatkan syarat bolehnya berijtihad itu lumayan berat.

Syariah itu jadi mudah dengan adanya madzhab, bukan untuk bikin susah.

Wallahu a’lam bish-shawab. (www.ustsarwat.com).*

 

 

Apakah Kita Harus Bermazhab?

pertanyaan

Ustadz yang terhormat, apakah dalam menjalankan syariat agama Islam kita harus menganut satu mazhab tertentu dengan konsisten? Kalau ya bagaimana memulainya? Maksud saya kalau saya ingin bermazhab Syafii kepada kelompok mana saya harus belahar? Demikian. Terima kasih.

WAssalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Adi

 

Jawaban

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mazhab dalam fiqih tidak sama dengan sekte dalam agama nasrani. Sebab mazhab adalah sebuah metodolgi dalam menarik kesimpulan hukum yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Sedangkan sekte dalam agama nasrani merupakan perpecahan pada wilayah yang paling mendasar dalam suatu agama.

Sedangkan mazhab fiqih merupakan bentuk variasi dalam metodologi ilmiyah, di mana masing-masing mazhab itu mewakili kekuatan ilmiyahnya masing-masing. Kalau kita bandingkan dengan dunia software, kira-kira adanya mazhab fiqih sama dengan keberadaan sistem operasi pada PC yang kita kenal dewasa ini. Misalnya, ada yang menggunakan microsof Windows, ada yang menggunakan Apple Machintos, bahkan ada yang menggunakan Linux yang freeware.

Semuanya berguna buat manusia sebagai sistem operasi PC, di mana masing-masing punya kelebihan sekaligus kekurangan. Kalau dalam satu komunitas terdapat beberapa sistem operasi, bukan berarti di dalamnya telah terjadi perpecahan atau peperangan. Dan meski berbeda sistem operasi, masing-masing PC tetap bisa terkoneksi dalam satu jaringan.

Tidak Ada Kewajiban untuk Berpegang pada Satu Mazhab

Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak pernah mewajibkan kita untuk berpegang kepada satu pendapat saja dari pendapat yang telah diberikan ulama. Bahkan para shahabat Rasulullah SAW dahulu pun tidak pernah diperintahkan oleh beliau untuk merujuk kepada pendapat salah satu dari shahabat bila mereka mendapatkan masalah agama.

Maka tidak pada tempatnya bila kita saat ini membuat kotak-kotak sendiri dan mengatakan bahwa setiap orang harus berpegang teguh pada satu pendapat saja dan tidak boleh berpindah mazhab. Bahkan pada hakikatnya, setiap mazhab besar yang ada itupun sering berganti pendapat juga.

Lihatlah bagaimana dahulu Al-Imam Asy-Syafi’i merevisi mazhab qadim-nya dengan mazhab jadid. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang masih menggantungkan pendapat kepada masukan dari orang lain. Misalnya ungkapan paling masyhur dari mereka adalah: Apabila suatu hadits itu shahih, maka menjadi mazhabku.

Itu berarti seorang imam bisa saja tawaqquf atau memberikan peluang berubahnya fatwa bila terbukti ada dalil yang lebih kuat. Maka perubahan pendapat dalam mazhab itu sangat mungkin terjadi. Bila di dalam sebuah mazhab bisa dimungkinkan terjadinya perubahan fatwa, maka hal itu juga bermakna bahwa bisa saja seorang berpindah pendapat dari satu kepada yang lainnya.

Memang ada sedikit perbedaan pendapat di antara para fuqoha tentang masalah keharusan perpegang hanya pada satu mazhab.Secara garis besar, kira-kira demikian:

1. Pendapat Pertama: Wajib berpegang pada satu mazhab saja.

Pendapat mereka berangkat dari pemikiran bahwa imam mazhab telah memiliki metodologi tersendiri dalam membangun mazhab. Dan semua pendapatnya itu berangkat dari metodologi yang telah disusunnya, bukan sekedar pendapat yang bermunculan secara tiba-tiba.

Dengan demikian maka pendapat-pendapat yang bersumber dari satu mazhab tertentu lahir dari sebuah proses yang teratur dan memiliki pola istimbath yang konsisten. Sehingga bila berpindah-pindah mazhab akan mengakibatkan ketidak-konsistenan dalam metodologi. Menurut pendukung pendapat ini, seseorang harus konsisten dalam metodologi mazhab.

2. Pendapat kedua: Tidak wajib untuk bertaqlid kepada satu mazhab sana.

Menurut para pendukung pendapat ini, seseorang boleh mengikuti pendapat yang berbeda dari beragam mazhab. Karena tidak ada perintah untuk berpegang tegus kepada satu orang mujtahid saja.

Ketika seseorang bermazhab tertentu seperti Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi`iyyah atau pun Al-Hanabilah, maka pada suautu masalah tertentu boleh saja dia tidak sepakat dengan pendapat mazhabnya. Hal seperti itu lazim terjadi dan sama sekali tidak ada larangan.

Allah sendiri tidak pernah mewajibkan seseorang untuk betaqlid pada mujtahid tertentu. Kalaupun ada perintah, maka Allah memerintahkan seseorang untuk bertanya kepada ahli ilmu secara umum. Allah berfirman:

Maka bertanyalah kepada ahli ilmu bila kamu tidak mengerti

Selain itu berpegang hanya pada satu mazhab saja tanpa dibolehkan melihat kepada mazhab lainnya merupakan sebuah kesempitan dan kesuilitan. Padahal adanya mazhab sebenarnya merupakan rahmat dan nikmat.

Apalagi di zaman yang semakin berkembang ini di mana bisa saja pandangan dari suatu mazhab menjadi kurang tepat untuk diterapkan lagi, sedangkan pandangan dari mazhab lain yang dulu kurang populer justru lebih terasa mengena di zaman ini. Karena itulah maka pendapat kedua ini nampaknya lebih tepat dan juga pendapat inilah yang disepakati oleh jumhur ulama.

Belajar Fiqh dengan Satu Mazhab atau Banyak Mazhab

Pada dasarnya hampir semua pengajaran masalah fiqih pada tingkat dasar, merupaka nkelaziman bila yang diajarkan hanya satu mazhab saja. Misalnya, ilmu fiqih yang diajarkan di banyak pesantren, madrasah, jamaah pengajian, majelis taklim dan lainnya, umumnya mengajarkan fiqih dengan satu mazhab saja.

Keunggulannya, pelajaran itu jadi lebih praktis, cepat, efisien dan aplikatif. Karena belum lagi bicara tentang perbadaan pendapat di kalangan ulama. Sehingga tidak menimbulkan kebingungan buat mereka yang masih baru belajar.

Justru yang sangat jarang diberikan adalah ilmu fiqih dalam bentuk perbandingan mazhab. Metode ini nyaris boleh dibilang tidak pernah disampaikan di pesantren tradisional, pengajian atau majelis taklim. Sebab selain kekurangan referensi, kita pun kekuranan tenagaahli fiqih yang menguasai fiqih perbandingan mazhab. Selain itu, metode ini hanya cocok buat mereka yang sudah berada pada level lanjutan.

Namun metode pengajaran fiqih dengan langsung membahas perbandingan dan perbedaan pendapat, juga punya keunggulan. Misalnya, masyarakat jadi tahu bahwa teknis ibadah itu ternyata bukan hanya satu versi, melainkan ada banyak versi. Selain itu, bila suatu ketika berhadapan dengan saudara-saudara muslim dari mazhab lain yang kebetulan berbeda teknis ibadahnya, sudah tidak asing lagi dan malah semakin erat hubungannya. Sehingga potensi perpecahan umat justru bisa diredam, karena masing-masing sudah punya wawasan tentang perbedaan masing-masing mazhab.

Buat mereka yang baru saja mengenal ilmu fiqih, seperti anak sekolah atau masyarakat awam, belajar fiqih dengan satu mazhab memang lebih tepat. Sebaliknya, buat tingkat lanjutan, belajar fiqih dengan perbandingan mazhab bisa menambah wawasan.

Wallahu a`lam bish-shawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 13, 2011 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s