RSS

FENOMENA HAJI DAN PERUBAHAN SOSIAL

28 Sep

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian sama sucinya seperti hari ini, di negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah SWT ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya.”

Begitulah cuplikan pidato Rasulullah SAW beribu tahun yang lalu terhadap sahabatnya setelah melalui ritual ibadah haji. Pidato yang merupakan dekralasi atas kesamaan hak manusia di muka bumi ini. Tidak ada kaum yang lebih tinggi ataupun lebih rendah derajatnya. Semua sama di mata Allah SWT, yang membedakan hanya takwa.
Pidato ini pula menjadi isyarat betapa sucinya makna persaudaraan. Betapa pentingnya cinta kasih sesama manusia. Betapa tingginya arti solidaritas sosial dalam tatanan masyarakat. Apabila bangunan persaudaraan itu runtuh, maka kehancuran suatu bangsa akan bisa diramalkan. Karena kehormatan setiap manusia sama sucinya dengan negeri makkah, tanah yang suci.
Haji merupakan simbol semangat bagi umat muslim untuk bertemu dengan tuhannya. Kerinduan akan perjumpaan dengan Allah SWT adalah puncak tertinggi kebahagiaan umat muslim. Hal ini terlihat jelas betapa merindunya orang-orang untuk segera bergegas ke ‘rumah-Nya’. Banyak yang akan rela menabung bertahun-tahun untuk melepas dahaga akan salah satu kewajiban umat Islam itu.
Maka, seiring dengan waktu, haji pun menjadi fenomena dan popular dalam kehidupan masyarakat kita. Jangan harap, begitu ada uang, Anda akan bisa langsung meluncur ke tanah suci. Harus menunggu antrian hingga ribuan orang. Terkecuali mungkin program khusus.
Namun, seiring dengan waktu pula, haji menjadi tanda tanya. Sebab berbondong-bondongnya umat muslim mengejar haji ternyata tidak sebanding dengan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Haji di Indonesia menjamur di tengah maraknya kasus korupsi, menjulangnya angka pengangguran, meningginya tingkat kemiskinan, rawannya konflik sosial, dan lain sebagainya.
Ini merupakan pukulan telak. Ruh ratusan ribu hingga jutaan orang bergelar haji di negeri ini seolah hampa. Islam pun sebagai agama yang sempurna kian dipertanyakan.
Menurut Haedar Nashir, tinggi dan menguatnya tradisi keberagamaan dan keislaman di Indonesia, ternyata tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara nasional. Angka kemiskinan dan pengangguran masih sangat menakutkan. Inilah akibat dari tidak terjaganya bandul keseimbangan dari agama Islam.
Umat Islam begitu bangga bila menunaikan ibadah haji hingga berkali-kali. Namun, tidak sadar bahwa di sekelilingnya masih banyak orang yang tidak bisa berdiri tegak beribadah karena kelaparan. Umat Islam ada yang begitu sedih tidak dapat menunaikan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Namun, lupa akan keberadaan tetangganya yang sangat membutuhkan uluran tangan darinya.

Ritual Haji dan Kemanusiaan
Ritual haji sesungguhnya adalah proses menuju ‘kesempurnaan manusia’. Mereka yang terpanggil oleh Allah SWT menginjakkan kakinya di tanah suci akan rela melepas segala atribut keduniaannya. Panggilan suci ini akan menanggalkan sifat-sifat keiblisannya diganti dengan siraman cahaya nurani.
Pakaian ihram yang hanya merupakan selembar kain putih tak berjahit merupakan bagian dari ritual haji yang menyimbolkan persamaan derajat manusia. Status sosial, kedudukan ataupun jabatan akan diruntuhkan dengan ritual ini.
Wukuf di Arafah melambangkan betapa kecilnya umat manusia di hadapan Sang Pencipta. Manusia hanya seperti butiran pasir di tengah gurun yang amat luas. Hanya seperti setetes air di tengah hamparan samudera. Maka, tidak ada alasan manusia untuk menyombongkan diri. Tidak alasan untuk menindas satu sama lain.
Thawaf yang disimbolkan dengan mengelilingi Ka’bah mengisyaratkan kesamaan manusia di hadapan tuhannya. Semua suku, bangsa adalah sama.
Sa’i yang ditandai dengan berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah melambangkan bahwa manusia bertanggung jawab atas sesamanya. Orang kaya punya tanggung jawab terhadap orang miskin. Penguasa bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.
Seorang haji di mata Allah SWT adalah yang tersempurnakan syahadat, shalat, puasa, dan zakatnya. Maka sebagai manusia yang ‘tersempurnakan’ sudah seharusnya kepekaan sosialnya lebih tinggi atas lainnya. Kualitas ibadah haji seseorang akan ternilai melalui kemampuannya bertransformasi terhadap lingkungan.
Haji yang dibawa kembali ke tanah air tidak membuat seseorang menjadi feodal baru. Tapi, justru harus membawa semangat pembebasan. Dahulu, ketika awal modernisasi di Indonesia, awal abad 20-an, seseorang bergelar haji akan membawa pengaruh sangat tinggi di kalangan masyarakat. Mereka biasanya membawa pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan dan progresif.
Progresifitas itu, baik pemikiran maupun ekonomi, tidak terlepas dari modenisasi timur tengah kala itu. Semangat pembaharuan Islam banyak diadopsi oleh jamaah haji kemudian diterapkan di tanah air. Hal itulah kemudian menjadi pilar modernisasi di Indonesia. Menurut Belanda, seorang haji akan semakin ulet dalam berdagang, dan juga tidak kompromi melakukan perlawanan terhadap penjajah.
Semangat haji seseorang, hendaknya ditransformasikan melalui etika kejujuran dan bersih apabila ia politisi. Hendaknya ditransformasikan melalui pengembangan keilmuan bagi ia yang akademisi. Hendaknya ditansformasikan melalui keberpihakannya pada yang lemah apabila ia seorang pemimpin.
Haji bukanlah simbol sebagai golongan orang yang dijamin masuk surga di daerahnya. Haji jangan sampai hanya dijadikan fashion sebagian orang. Yang membuatnya memiliki identitas sendiri dibanding kelompok masyarakat lainnya.
Absurditas haji akan muncul apabila kehajiannya dieksploitasi sedemikian rupa untuk mengejar kepentingan dunia. Haji absurd apabila itu menjadikannya alasan untuk tidak bergaul dengan masyarakat kelas rendah, merasa angkuh selalu berdiri di kelasnya sendiri.

Haji yang Rahmatan Lil ‘Alamin
Dalam buku ‘Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan’, Moeslim Abdurrahman menyatakan gagasannya tentang konsep Islam yang murni. Menurutnya, Islam yang paling murni itu hanya bisa dilihat dari pergulatan hidup sehari-hari para pemeluknya. Seorang muslim dapat dikatakan menjadi seorang muslim yang sebenarnya apabila dia telah membuktikan kemuslimannya. Bagaimana hidup kesehariannya dalam menegakkan keadilan itulah yang membuktikan derajat kemusliman seseorang. Islam adalah ruh kemanusiaan yang menuntun perubahan, terutama dalam pemerdekaan, untuk mewujudkan keadaban dan peradaban, dan untuk menghidupkan cita-cita kemanusiaan yang merdeka, bebas, dan terhormat.
Begitu pula dengan kehajian seseorang. Haji yang murni adalah haji yang membawanya untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat. Mereka selalu yang menjadi pelopor perubahan.
Kesempurnaan haji justru diraih pada perjuangannya memberantas kebodohan- misalnya. Haji dinilai pada pergulatannya memperjuangkan kaum-kaum yang ditindas oleh penguasa, dan membebaskan belenggu kemiskinan. Pengalaman spiritualnya ditransfer untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan di bumi tempat ia berpijak.
Di tengah kondisi bangsa akhir-akhir ini, bencana alam, korupsi merajalela, perekonomian yang sulit, semoga semangat iman dan islam para peserta haji bisa membumi di Indonesia hingga negeri ini menjadi baldatun toyibbatun warobbun ghofur.

*Penulis adalah Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Unhas

sumber http://fitrawanumar.blogspot.com
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2011 in ISLAM News

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s