RSS

Arsip Bulanan: Januari 2012

Jangan Sadar Secara Terpaksa

 

Apakah kita akan beribadah kepada Allah jika kondisi sudah memaksa kita untuk itu. Sebenarnya Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah kepada-Nya, seperti yang disebutkan dalam firman Allah SWT

Yang artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Q.S Adz-dzaariyaat : 56 )

Karena itu, sadarlah sedari awal bukan karena keterpaksaan. Mumpung Allah masih memberikan nikmat sehat dan umur kepada kita. Hidup kita jangan seperti raja yang tersebut dalam tamsil berikut ini,

Ada seorang raja yang mengalami kegemukan. Dan karena itu pula, ia sering sakit sakitan. Hampir semua dokter dan tabib telah didatangkan untuk mengobati penyakit sang raja. Tapi, penyakit itu tak kunjung sembuh juga. Tinggal satu orang tabib yan belum dipanggil. Itu pun karena ia dikenal berpikiran beda dan kadang dianggap tidak wajar. Tapi, karena tidak ada pilihan Iain Iagi, maka. dipanggillah tabib yang dianggap setengah gila ini.

Maka, datanglah tabib pada raja. Ketika sang tabib masuk kamar dan memeriksa, ia langsung berlari keluar kamar dengan wajah ketakutan. Maka ia dikejar oleh pengawal istana, dan ditanya tentang penyakit sang raja. Tapi, tabib setengah gila ini tak mau menjawabnya, meski telah dibujuk sedemikian rupa. Barulah setelah ia diancam akan mendapatkan hukuman, baru ia memberitahu, kalau umur raja tinggal 28 hari Iagi. Sang raja sedang menunggu ajalnya. Mendengar jawaban tabib, sang raja sangat kaget. Ia pun menangis tersedu.

Sejak saat itu, Raja yang gemuk itu tidak bisa makan enak dan tak Iagi tidur nyenyak. Sejak mendengar perkataan tabib, raja pun mulai melaksanakan ibadah. Namun sampai pada hari ke 28, sang raja belum mati, maka dipanggillah tabib tadi untuk menghadap.

Dengan enteng, tabib aneh itu hanya menjawab, “Si Raja memang tidak mati, tapi berat badan baginda turun drastis dari sebelumnya dan ia semakin rajin beribadah. Dan itu membuat baginda sehat melebihi sebeIumnya.”

Ini juga kisah tentang kesadaran;

Aidh AI-Qarni menyebutkan bahwa ada dua pengalaman yang paling berkesan yaitu apa yang pernah ditulis oleh Syaikh Ali Ath-Thanthawi dalam memoarnya.

Pertama, ketika menceritakan tentang dirinya yang hampir tenggelam di tepi pantai Beirut saat berenang, dan hampir tewas. Tubuhnya digotong orang-orang yang menolongnya ke tepi dalam keadaan tidak sadar. Pada saat itu, dia betul-betul berserah diri total kepada Sang Maha Pencipta. Dia bertekad bahwa seandainya dia dikembalikan ke dalam kehidupannya walau hanya sesaat, maka dia akan memperbaharui iman dan amal salehnya. Dan, alhasil, ia pun sampai pada puncak keimanan.

Kedua, ketika menceritakan bahwa ia pernah bersama-sama kafilah dari Suriah yang bermaksud beribadah ke Baitullah. Tapi, ketika sampai di gurun Tabuk, kafilah itu tersesat dan terkatung-katung selama tiga hari. Bekal makanan dan minuman pun sudah habis, hingga mereka hampir mati kelaparan dan kehausan. Kemudian, dia berdiri dan berkhutbah di tengah-tengah rombongan itu, menyampaikan pesan tauhid dengan cukup semangat dan mengena. Dia sendiri sampai menangis, juga yang lain. Saat itu, dia merasa bahwa imannya meningkat. Dia sudah pasrah bahwa yang bisa menolong dan menyelamatkan mereka hanyalah Allah. “Semua yang ada di Iangit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (Ar-Rahman: 29)

Kisah di atas bisa menjadi contoh sekaligus inspirasi, bahwa ada manusia yang hanya tunduk kepada Allah dengan cara terpaksa. Padahal, Allah hanya bermain-main saja dengan kita. Dan, sungguh yang memenangkan permainan itu semua hanya Allah. Jalur-jalur dimana kita diberi pilihan, sesungguhnya tidak banyak. Dan, juga tidak ada faedahnya bagi manusia menunda-nunda ketaatan kepada Allah. Karena pada akhirnya manusia akan kembali kepada-Nya dengan rela atau terpaksa.

Semoga kita diberi kemudahan dan kepahaman untuk niat amal dan sampaikan.

Insya Allah

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2012 in Sucikan Hati

 

Engkau Lebih Gagah dari Abdullah bin Ummi Maktum

Suatu ketika, Abdullah bin Ummi Maktum, laki-laki buta, datang kepada Rasulullah meminta diberikan keringanan khusus agar tidak datang shalat ke masjid karena memang dari hitungan matematika, ia berhak mendapatkan dispensasi. Ia buta,

Tidak sekadar buta, ia juga memiliki udzur-udzur syar’i yang lain. Bahkan, Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya Ahamiyyatu Shalatil Jama’ah merinci udzur-udzurnya;

a. Ia seorang laki-laki buta. Jangankan berjalan menuju masjid, walau hanya sekadar keluar dari pintu rumah saja, ia sudah tak sanggup. Terlalu sulit dan bahaya baginya jikalau ia memaksakan diri.

b. Tidak ada guide (pemandu) yang menemaninya di perjalanan, ia hidup seorang diri.

c. Jarak yang cukup jauh antara rumah dan masjid Rasulullah. Perjalanan pun hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Karena saat itu, segala sesuatunya masih serba bersahaja, belum ada fasilitas kendaraan seperti masa kini.

d. Di Madinah kala itu, banyak pohon-pohon kurma besar nan menjulang. Ditambah lagi, belum ada fasilitas penerangan, seperti listrik atau senter.

e. Banyaknya binatang buas yang sangat berbahaya.

f. Usianya yang sudah renta dan tulang-tulangnya pun sudah melemah.

Tapi, sebelum beranjak, Rasulullah menyodorkan pertanyaan kepadanya, “Wahai saudaraku, apakah engkau mendengar kumandang adzan?” Abdullah bin Ummi Maktum menukas, “Iya, saya mendengarnya wahai Rasulullah” . Rasulullah menutup percakapan dengan mengatakan, Jika demikan, engkau tetap wajib memenuhi panggilan adzan. ” (HR. Muslim)

Jika kita mencoba membanding-bandingkan diri ini dengan pribadi Abdullah bin Ummi Maktum; maka kita tentunya lebih unggul dan lebih gagah dalam banyak hal;

a. Kita memiliki kualitas penglihatan yang sempurna dan sangat jelas. Bahkan, bisa mendengar suara adzan yang bertalu-talu dari corong-corong masjid. Apalagi, saat ini hampir semua masjid telah menggunakan pembesar suara.

b. Kita memiliki kendaraan; sepeda, motor, mobil, mulai dari yang sederhana sampai yang mewah, bahkan mulai dari buatan lndonesia sampai made in Eropa dengan speed yang tinggi. Sayangnya, fasilitas mewah i itu jarang sekali mengantarkan pemiliknya ke rumah-rumah Allah, majelis-majelis taklim dan tempat-tempat yang Allah senangi. Bahkan parahnya, setiap kali diarahkan ke sana, selalu saja ada halangan.

c. Jarak antara rumah kita dan masjid terlalu dekat. Bahkan, terkadang ada di antara kaum muslimin yang rumah dan masjid atau mushalla hanya dibatasi dinding.

d. Jalan antara masjid dan rumah telah diaspal licin. Di beberapa tempat, jalan dikelilingi oleh taman-taman indah. Ruang-ruang Masjid pun sudah dilengkapi AC yang menambah suasana masjid semakin nyaman.

e. Usia kita relatif masih muda dan sangat sehat, otot-otot masih sangat kuat.

Coba bayangkan, ketika kondisi kita berada di puncak kejayaan fisik, ekonomi seperti sekarang ini, lalu kita menghampiri Rasulullah untuk meminta keringanan seperti yang pernah diminta Abdullah bin Ummi Maktum. Jawaban apa gerangan yang beliau akan sampaikan kepada kita?

Yang jelas, kita lebih sehat dan gagah dari Abdullah bin Ummi Maktum. Laki-laki buta itu telah mengajarkan kita tentang kemuliaan shalat dan kemuliaan rumah – rumah Allah.

Jangan hanya sekedar kita mengaku bahwa kita adalah umat Rasulullah SAW, tetapi apa yang dicontohkan dan disabdakan Beliau seharusnya menjadi pegangan kita untuk menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.

Semoga kita diberi kemudahan dan kepahaman untuk niat amal dan sampaikan.

Insya Allah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 30, 2012 in Sucikan Hati

 

Shalatlah Seolah-olah Hari Ini Adalah Hari Terakhirmu. Mungkin Saja

SHALATLAH seolah-olah hari ini adalah hari terakhirmu di dunia, besok engkau akan kembali kepada Rabbmu. Boleh jadi,karena Anda tidak pernah tahu.

Richard Carlson, Ph.Dl menulis dalam bukunya Don’t Sweat The Small Stuff, (Jangan Membuat Masalah Kecil Menjadi Masalah Besar), “Kapan Anda akan mati? Dalam lima puluh tahun, dua puluh, sepuluh, lima, hari ini? Sampai detik ini tak seorang pun yang tahu. Saya sering bertanya-tanya bila sedang mendengarkan berita, apakah orang yang tewas dalam mobil dalam perjalanannya pulang ke rumah; ingat untuk mengatakan kepada keluarganya “Betapa aku mencintai kalian?” Tapi, satu hal yang pasti, ia masih memiliki setumpuk tugas yang belurn diselesaikannya?

la juga menulis, “Kenyataannya adalah, tidak seorangpun dari kita yang memiliki gagasan berapa lama lagi kira akan hidup. Namun, yang menyedihkan, kita bersikap seolah·olah kita akan hidup selamanya.”

lbnu Umar menasehati, “Bekerjalah untuk duniamu seperti engkau hidup selamanya, dan beramal dan beribadahlah seperti engkau akan mati esok pagi.”

Rasulullah mengingatkan suatu ketika, “Jika engkau shalat, maka shalatlah seperti ia shalat terakhirmu.” (Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

Adapun maknanya bukan menggiring opini manusia untuk fokus terhadap urusan dunia dan menyepelekan akhirat. Namun sebaliknya, maknanya adalah mengajak untuk menyegerakan amalan akhirat serta menunda pekerjaan dunia. Karena perkataan, “bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya” bermakna bahwa sesuatu (urusan dunia) yang tidak dapat dikerjakan hari ini dapat dikerjakan besok dan yang tidak bisa dikerjakan besok bisa dikerjakan lusa. Maka bekerjalah pelan-pelan dan jangan tergesa-gesa. Andaikan hari ini terlewat, maka masih ada hari esok yang datang.

Adapun tentang akhirat, “bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok”, maknanya adalah segeralah beramal, jangan sepelekan, seakan kamu akan mati besok. Bahkan ulama katakan, seakan kamu akan mati sebelum besok. Karena manusia tidak mengetahui kapan datangnya kematian. “jika pagi telah datang, maka janganlah menunggu sore. Jika sore telah datang, maka janganlah menunggu pagi. Pergunakan saat sehatmu sebelum kamu sakit, dan pergunakan masa hidupmu sebelum kamu mati”.

Insya Allah kita berniat amal dan sampaikan, karena walaupun ilmu sedikit tetapi kita amalkan, akan jauh bermanfaat daripada ilmu yang banyak tetapi tidak pernah kita amalkan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 26, 2012 in Sucikan Hati

 

Shalat, Ala Bisa Karena Biasa

Hidup itu adalah himpunan kebiasaan. Kita Cuma punya dua pilihan: membiasakan diri pada yang hal-hal yang baik atau kalau tidak pada hal – hal yang buruk. Tidak ada jalan tengah. Dan, shalat itu masuk pada kebiasaan pertama.

Seorang yang berulang melakukan suatu kegiatan akhimya akan terbiasa. Dan, kebiasan itulah yang akan melahirkan skill, dimana ia melakukannya dengan sangat ringan dan enteng.

lni cerita inspiratif tentang kebiasaan yang melahlrkan skill itu.

Zaman dahulu kala, di negeri Tiongkok, hidup seorang panglima perang yang sangat terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada khalayak ramai. Ia pun memerintahkan prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran beserta seratus buah anak panah. Setelah semua siap, panglima itu pun mulai melepaskan satu persatu anak panah ke sasaran yang telah dipasang. Anak-anak panah itu pun tertancap tepat di sasarannya. Rakyat pun bersorak-sorak dan bersiut-siut menyaksikan kehebatan sang panglima dalam memanah. Dengan wajah yang berseri—seri dan penuh kebanggaan, panglima itu berucap, “LihatIah panglimamu ini, keahIian memanahku tidak ada tandingannya di seantero negeri.”

Semua penonton berteriak memuji, “Hebat! Hebat! Hebat!” Namun, di sela-sela teriakan pujian tersebut, tiba—tiba menyeruak seorang penjual minyak yang terlihat sudah tua. la berkata dengan keras, “Panglima memang hebat! Tetapi, kepandaian panglima itu hanyalah kebiasaan kecil yang dilatih terus menerus!”

Sontak panglima dan penonton memandangi kelancangan orang tua penjual minyak itu, tanpa mengerti tujuan perkataannya. Merasa tanggapan orang tak bersahabat, ia pun berkata, “Tunggu sebentar;” sambil beranjak dari tempatnya, Ialu mengambil sebuah uang koin kuno yang memiliki Iubang kecil di tengahnya. Koin itu diletakkannya di atas mulut botol guci minyak kosong. Lalu dengan penuh keyakinan, ia menuang minyak dari atas ke dalam bctol melalui lubang kecil di tengah koin tadi. Tak ada setetes pun minyak yang mengenai permukan koin tersebut!

Melihat perbuatan si tukang minyak, panglima perang dan penonton tercengang, Ialu bersorak—sorak menyaksikan pertunjukan keahlian si tukang minyak. Dengan penuh kerendahan hati, si orang tua penjual minyak itu membungkukkan badan memberi hormat kepada sang panglima, sambil mengucapkan kalimat bijaknya, “Kebiasaan yang diulang terus-menerus, akan melahirkan keahIian,” Panglima pun manggut-. manggut dan membalas hormat dari orang tua si penjual minyak.

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil satu hikmah yaitu, kebiasaan adalah kekuatan. Habit is a power. Semakin sering kita melakukan sesuatu, maka kita makin terampil, apalagi jika kita sudah menjadikannya sebagai kebiasaan. Dalam hal shalat juga demikian, tatkala kita terbiasa melakukannya maka -insya Allah ia akan menjadi sebuah skill dan enteng untuk dilakukan. Seorang yang sudah menjadikan shalat sebagai kebutuhan, maka ketika ia terlambat atau lupa mengerjakannya, seketika jam biologisnya menjadi reminder yang akan segera mengingatkannya bahwa ia belum shalat atau waktu shalat telah tiba.

Sekali lagi, hidup itu adalah kebiasaan dan kebiasaan itu akan melahirkan kemahiran. Shalat yang dilakukan secara berulang akan menjadi power bagi pelakunya, atau dalam teori disebut Repetitive Magic Power yang berarti kekuatan ajaib dari pengulangan.

Apabila seseorang melaksanakan shalat lima waktu, maka ia akan melakukan repetitive magic power ini sebanyak 150 kali dalam sebulan (5×30), atau 1.800 kali dalam setahun (150×12). Apabila ia telah melakukan shalat sepuluh tahun saja, maka ia telah melakukan repetitive magic power sebanyak 15.000 kali. Bagaimana kalau dilakukan seumur hidupnya, bayangkan energi yang ditimbulkannya.

Teori repetitive magic power ini diterapkan di jepang, di mana di beberapa pelatihan para instruktur mewajibkan para siswa eksekutifnya mengucapkan kalimat, “Saya juara!” seratus kali dalam sehari selama masa latihan. Padahal, Islam telah mengajarkan umatnya agar ikrar kalimat syahadat diucapkan paling sedikit sembilan kali dalam sehari semalam yang terdapat dalam “tahiyat awal dan akhir” dalam shalat lima waktu. jika ia terus diucapkan akan menjadi sebuah doktrin maha dahysat yang akan mengisi dan menggetarkan qalbu.

Allah juga sering mengulang ayat-ayat dalam Al-Qur`an sampai beberapa kali. Dalam surat Ar- Rahman, Allah mengulang-ulang ayat, “Fabi ayyi aalaa`i rabbikumaa tukadzibaan” sampai 31 kali. Ini bukan berarti Allah tidak mengerti cara berbahasa. Tapi, supaya setiap kali bertemu dengan ayat itu, kita semakin tersadar bahwa tidak ada nikmat Allah yang pantas didustakan. Semakin diulang, semakin disadari. Berulang-ulang melahirkan kemahiran. Karena itu, jadikanlah shalat sebagai kebiasaan yang diulang secara terus-menerus, dengan begitu ia akan menjadi kekuatan hidup yang tiada tara.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 24, 2012 in Sucikan Hati

 

Ironi Shalat, ApaIagi Shalat Subuh

Pernah, salah seorang penguasa Yahudi, menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam kecuali pada satu hal. Ialah bila jumlah jamaah shalat subuh menyamai jumlah shalat Jum’at.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari pernyataan di atas? Ternyata, orang Yahudi lebih jeli terhadap kondisi kita, daripada diri kita sendiri. Betapa selama ini kebanyakan kaum muslimin terlena dalam malam panjang, sehingga hanya menyisakan segelintir orang yang membentuk sederet dua deret shaf pada shalat subuh. Mereka tidak menyadari, ada nilai reliji dan filosofi yang kuat dalam pelaksanaan shalat subuh. Alih-alih demikian, justru orang Yahudi yang menyadarinya.

Dengan berbagai alasan, akhirnya banyak orang meninggalkan shalat subuh, sebuah fenomena yang apabila terjadi pada masa Rasulullah akan diancam dengan pembakaran rumah. Bahkan, bagi sebagian muslimin, kewajiban shalat dimarjinalkan oleh berbagai kepentingan duniawi, dan tentunya bisikan setan.

lni fakta. Kerap kita saksikan dan dengar bahwa ada seorang maniak sepak bola menyetel alarm untuk bangun tengah malam demi menonton pertandingan Liga Champion, Liga Spanyol atau Liga lnggris. Tapi, usaha seperti ini tidak pernah dilakukan untuk bangun shalat subuh.

Fakta lain. Banyak yang merasa wajib menyetel alarm jam 5 atau 6 pagi untuk memulai aktivitas making money. Tapi, mereka tidak menyetel alarm jamnya untuk melakukan shalat subuh.

lni juga fakta. Banyak umat Islam yang ketika harus naik pesawat jam 6 pagi untuk keluar kota atau keluar negeri, ia akan berusaha tiba di bandara l atau 2 jam sebelumnya. Ia begitu khawatir apabila tertinggal pesawat. Tapi, tidak pemah merasa khawatir dan gundah ketika meninggalkan shalat subuh dan shalat fardhu lainnya. Alasannya selalu klasik; sibuk, tidak punya waktu, hidayah belum turun, atau nanti saja kalau agak sedikit tua.

Ketika harus masuk kerja jam 8 pagi, banyak karyawan yang rela bangun lebih pagi agar bisa tiba tepat waktu di kantor. Apalagi, bagi yang tempat tinggalnya jauh, ia akan bangun lebih pagi agar tidak terlambat. Atau, jika hendak terlambat, paling tidak akan meminta lzin kepada direktur atau manajer karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk datang pagi – pagi.

Sementara begitu mudahnya “meminta izin” kepada Allah agar terlambat shalat. Padahal, Dia-lah Dzat yang selalu mengguyuri manusia beragam kenikmatan. Bahkan, pada saat manusia lupa pun kepada·Nya, Dia tidak menghentikan guyuran nikmat—Nya.

Mengapa acapkali seorang muslim mengabaikan undangan Allah di waktu subuh? Salah satu alasannya adalah karena banyak umat Islam yang merasa tidak butuh dengan shalat subuh. Atau, merasa bahwa ia belum mendapat manfaat materi secara langsung dari shalatnya. Atau, barangkali tarikan shalat subuh dikalahkan oleh tarikan materi yang terlalu kencang. Kesenangan dunia yang satu ini telah membuat banyak orang terhipnotis dan ekstasi. Akibatnya, mazhab kebendaan mendominasi segenap alur pikirannya bahwa segala sesuatu harus langsung menghasilkan uang atau kenikmatan lain yang terlihat secara kasat mata.

Bayangkanlah, jika ada seorang pengusaha berjanji akan memberikan uang tunai seratus juta atau bahkan hanya sepuluh juta jika datang ke rumahnya tepat jam 5 pagi. Atau, seandainya pengurus masjid·mushola menyiapkan seratus juta bagi mereka yang shalat subuh. Tentu, kita akan menyaksikan, jamaah shalat akan berjubel, ramai seperti konser-konser musik, mereka akan berdesak-desakan masuk dari pintu utama bahkan jendela jendela masjid. Sehingga, pintu dan jendela rusak berat. Mengapa, karena sensasi kenikmatannya terasa secara langsung.

Padahal, Allah tidak hanya menyiapkan seratus juta rupiah bagi yang shalat subuh. Kata Rasullullah, “Dua rakaat sunnah sebelum fajar lebih baik dari dunia dan isinya”. lni baru shalat sunnahnya, belum shalat fardhunya.

Mengapa banyak orang yang rela antri berjam-jam untuk mendapatkan kupon beras murah? Kita kerap mendengar orang sampai rela pingsan hanya untuk mendapatkan jatah bantuan tunai yang besarnya hanya Rp. 5OO ribu. Tetapi, pemahkah kita mendengar orang antri untuk berwudhu sebelum shalat? Rasa-rasanya tidak pernah. Bahkan yang ada, banyak yang rnemberikan sisa-sisa waktu dan tenaganya kepada Allah. Baru ingat shalat ketika di puncak keletihannya dan di ujung kelelahannya lalu shalat seadanya. Sekadar menggugurkan kewajiban. Parahnya, ada ibu·ibu penggemar sinetron telenovela, karena batas waktu shalat hampir selesai dan agar ia tidak ketinggalan cerita yang lagi seru-serunya maka untuk efisiensi waktu ia shalat di saat iklan. Terkadang, shalatnya lebih cepat selesai dari iklan.

Padahal, Islam Adalah Shalat. Maksudnya, satu-satunya ibadah dalam Islam yang memiliki frekuensi paling banyak adalah shalat. Sehari semalam, minimal seorang muslim shalat sebanyak 5 kali: Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Belum lagi,shalat-shalat qabliyah dan ba’diyah yang menyertai setiap shalat wajib.

Berbeda dengan rukun Islam yang lain; bersyahadat sekali dalam hidup, Membayar zakat fitrah, sekali dalam setahun. Berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam setahun. Haji wajib, dilakukan sekali dalam seumur hidup bagi yang mampu.

Tidak salah, jika kemudian Islam memandang shalat sebagai ibadah sangat penting dilakukan oleh seorang muslim. Bahkan Islam menjadikannya sebagai barometer kualitas keimanan serta baik buruknya amal shaleh. Saking pentingnya, Rasulullah mengatakan, “Ibadah pertama yang akan dihisab adalah shalat. Jika ia baik maka amal lain akan baik, dan jika ia buruk maka amal lain akan buruk.” (HR. An-Nasa`i dari Abu Hurairah)

Islam memandang, shalat memiliki kedudukan sangat tinggi. Karena itu, Allah kemudian menempatkannya pada rukun Islam kedua setelah syahadat. “Islam dibangun di atas lima parkara: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa pada bulan Ramadhan. ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)

Imam An-Nawawi berpandangan bahwa mendirikan shalat dalam hadits ini maksudnya menjaga dan mengerjakan tepat pada waktunya, menunaikan dengan menyempurnakan syarat-syarat dan rukun-rukunnya, memperhatikan sunnah dan adab-adabnya. Dengan begitu, shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, “Dan dirikanlah shalat. Sungguh, shalat itu mencegah perbuatan perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 20, 2012 in Sucikan Hati

 

Misi Masjid : Hayya ‘ala shalah dan Hayya ‘alal faIah

Ketika seorang muslim mendatangi masjid untuk shalat, itu artinya ia sedang mengerjakan dua pekerjaan besar dalam hidupnya, yang sekaligus menjadi misi sebuah masjid; mengerjakan shalat dan setelah itu pulang membawa kemenangan kesuksesan besar.

ltulah dua misi besar yang ditawarkan masjid dan mushalla. Allah selalu menawarkan dua misi ini secara terbuka kepada orang-orang yang mengaku beriman melalui kumandang adzan yang sering terdengar dari corong-corong masjid. Allah hendak mengajak orang-orang beriman menuju surga—Nya, “Wallahu yad’u ilal jannah wal magfrah; ‘AlIah mengundang ke surga dan ampunan dengan ijin·Nya.”(Al-Baqarah: 221)

Sayangnya, oleh sebagian umat Islam, panggilan ini dianggap seruan biasa, bahkan tak jarang dianggap sebagai panggilan marbot masjid yang kebetulan ditugaskan menjadi muadzin, bukan panggilan Allah. Parahnya lagi, seruan ini dianggap pengganggu dan pemutus kegiatan making money. Padahal, kalaulah disadari sesungguhnya muadzin hanyalah perpanjangan ‘suara Allah’. Minimal, sebanyak lima kali, orang·orang beriman diajak untuk menangkap dua misi besar ini.

Dua misi besar ini tidak pemah berhenti dikumandangkan di ruang langit. Usai dikumandangkan di wilayah Timur, seperti Papua, Maluku, misi ini disambut oleh corong-corong masjid yang berada di wilayah Sulawesi dan Kalimantan,seperti Palu, Makassar, Balikpapan, Smarinda dll. Belum selesai dikumandangkan di daerah-daerah itu, misi ini langsung diteruskan oleh masjid- masjid yang berada di pulau Jawa termasuk Jakarta. Usai di Indonesia, misi ini digaungkan negara-negara lain yang waktu shalatnya berbeda dengan Indonesia. Dan insya Allah, gema akan selalu mengawal perputaran bumi hingga akhir zaman.

Subhanallah. Kumandang adzan yang menggema di ruang Iangit itu menjadikan kita merasa terlalu kecil di hadapan Allah. Kita kecil dalam lingkaran semesta. Jangankan semesta, dalam keramaian Padang Arafah saja, kita seperti butiran-butiran pasir.

Walaupun orang diceramahi seratus ustadz setiap harinya agar konsisten dengan shalat, atau jangan menunda-nunda shalat jika tidak ada udzur syar’i tapi, kalau Anda sendiri tidak membuka hati dan memaksimalkan tekad menerima ajakan itu, maka ceramah itu hanya menjadi ucapan-ucapan biasa tanpa makna dan bisa dipastikan perubahan itu tidak akan terjadi,

Apalagi kalau sedari awalnya, seseorang sudah merasa apriori dengan petuah, trauma dengan ceramah-ceramah berbau agama, atau secara frontal mcnolak, “Awas ya, saya tidak usah diceramahi tentang Islam, saya Iebih tahu dari Anda, saya lebih tahu apa yang mesti dilakukan, saya lebih sukses dari Anda, dll,” sungguh, tindakan penolakan ini tidak akan membuka pintu hidayah Allah, sebab menolak, mendemo, dan mengkritisi kebenaran adalah kesombongan tingkat tinggi,

Tidak sedikit yang terus konsisten dengan pandangan kelirunya dengan mengatakan, “Tidak shalat pun atau sholat tidak tepat waktupun, saya sudah merasa bahagia, istri dan anak·anak saya selalu sehat, karir saya lancar, persahabatan dengan banyak orang tetap tercipta, bahkan saya memerhatikan orang-orang yang shalat rezekinya selalu seret, banyak menghadapi masalah, hidupnya miskin, dll.”

Kadang-kadang faktanya memang begitu. Tapi, ada satu hal yang dilupakan bahwa shalat itu melahirkan ketenangan jiwa, kelezatan spiritual, kenikmatan hakiki dalam kalbu. Apabila spiritual sehat, secara otomatis anggota—anggota tubuh yang lain menjadi sehat, kalaulah ia dikonversikan ke rupiah boleh jadi nilainya jauh lebih mahal dari materi yang terlihat secara kasat mata.

Faktanya, Rasulullah SAW hidupnya sangat bersahaja, tapi sejarah mencatatnya sebagai sosok yang paling berbahagia. Bahagia itu ia peroleh melalui shalat.

Karena itu, gapailah sukses dan berbahagialah orang-orang yang sadar lebih awal untuk meraih dua misi besar ini; shalat dan kesuksesan besar.

Insya Allah niat amal dan sampaikan.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 20, 2012 in Sucikan Hati

 

Masjid dan Sholat Lima Waktu banyak diabaikan

Saudaraku, dari ilustrasi sebelumnya saya mencoba untuk mengaitkan antara pelaku shalat dan kebahagiaan hakiki yang menjadi buruan semua level manusia. Bahwa seorang muslim ini, sekadar hidup saja tidak cukup, sekadar bekerja saja tidak cukup, sekadar makan dan minum saja tidak cukup. Tapi, di balik semua gerak itu ada satu misi besar yang terkadang dilupakan atau pura – pura terlupa; misi beribadah kepada Allah.

Karena alasan itu pulalah, Allah menciptakan alam semesta ini. Sebab, betapa rendah misi penciptaan langit dan bumi beserta segenap isinya, jikalau pelatarannya hanya diramaikan dengan aktivitas makan, minum, berhubungan badan, making money sebanyak-banyaknya untuk kekenyangan pribadi.

Kalau hanya meraup materi sebanyak mungkin atau mengenyangkan perut dan apa yang di bawah perut menjadi obsesi utama, maka seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Nilai orang itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dikeluarkan oleh perut alias tinja.”

Hidup di era euporia modern dan kebebasan seperti ini, mayoritas orang meyakini bahwa bahagia hanya akan berhembus dari faktor materi. Karenanya, segenap waktu hidup habis dipakai untuk making money dan mengkonsumsinya, sementara tugas-tugas beribadah terabaikan.

Akhirnya, kegelisahan menjadi bagian hidup yang tak berujung, stress selalu membuntuti, hati terlalu berat bersambung dengan panggilan-panggilan Allah. “Siapa berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit:.” (Thaha: 124).

Tentu, nilai seorang muslim tidak serendah itu. Karena Allah selalu akan memuliakan derajat orang – orang beriman yang memang sudah mulia sedari awalnya, sebab mereka merealisasikan misi besar nan mulia dalam hidupnya; beribadah kepada Allah. Ya, beribadah. Dan, shalat mengambil porsi terbesar dalam misi itu.

Masjid di Indonesia, termasuk bangunan paling mudah ditemukan. Dari pelosok kampung hingga kota·kota besar, dengan beragam model dan ukuran. Menurut sebuah sumber bahwa diperkirakan jumlah masjid di Indonesia saat ini antara 600.000—800.000 buah. Terpaut jauh dengan jumlah masjid di zaman Nabi. Namun, jujur kita bertutur; fungsi dan misi masjid pada generasi awal jauh lebih baik dan semarak. Ironis, masjid yang berdiri megah, dengan gaya arsitektur mengagumkan. Tapi, dalamnya hanya berisi kesunyian, nyamuk. Tak ubahnya, kuburan cina, sunyi dari semangat kebangkitan umat dan aktivitas shalat.

Ini fakta. Banyak yang ke masjid pada moment-moment tertentu saja; menghadiri akad nikah anaknya yang kebetulan diadakan di masjid. Ada yang ke masjid hanya pada shalar Idul Fitri dan Idul Adha saja. Atau, ada yang sekadar singgah sebentar karena ingin buang air kecil atau buang air besar, karena di masjid biasanya fasilitas air, wc, digratiskan. Ada juga yang sekadar mampir di teras masjid untuk melepaskan penat karena seharian ia letih mencari rupiah. Ada juga yang ke masjid hanya sekadar ingin berwisata membanding bandingkan arsitektur rumahnya dengan bangunan masjid. Atau hanya sekadar memberi nilai A, B, atau C seputar kepengurusan dan kegiatan di masjid. Yang lebih parah, ada yang ‘datang’ ke masjid ketika sudah berbentuk jenazah dan diusung dalam keranda alias siap dishalatkan. Padahal, di puncak masa sehat dan mudanya, tak pemah terpikir dalam benaknya untuk singgah memakmurkan rumah Allah. Tapi, di ujung kehidupannya, ia pun harus rela dituntun mengunjungi Rumah Allah.

Padahal, shalat ke masjid adalah indikasi kuat bahwa seseorang itu disebut mukmin. “Jika engkau melihat seseorang rajin mendatangi masjid, pastikanlah bahwa di dalam dada orang itu ada keimanan yang menancap,” Begitu kata Rasulullah suatu ketika.

Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia 241 juta jiwa, dan 80 % di antaranya adalah umat Islam. Memang, sedari dulunya, umat Islam sepanjang sejarah Indonesia adalah penduduk mayoritas, Dari sisi kuantitas, jumlah umat Islam jauh melampaui agama-agama resmi.

Tapi, pertanyaannya adalah dari jumlah mayoritas itu, berapa persen yang telah melakukan shalat? Pertanyaan selanjutnya, berapa dari mereka yang selalu shalat berjamaah di masjid? Bagaimana dengan pemudanya? Bagaimana dengan para orangtuanya? Bagaimana dengan para pekerja kantor? Bagaimana dengan para pelaku pasar? Dan seterusnya..

Fakta yang kerap terlihat bahwa sebagian besar umat Islam belum terlalu concern dcngan panggilan shalat. Mereka akan terus asyik melangsungkan aktivitasnya di tengah-tengah kumandang adzan sampai waktu shalat lewat.

Parahnya, kita tidak pernah sadar telah melakukan sebuah kelalaian besar di mata Allah. Telah berani meninggalkan sebuah amal yang menjadi barometer dari semua amal yang dikerjakan. “Sungguh, amal pertama yang akan dikalkulasi adalah shalat, jika shalat seseorang baik, baik pula seluruh amalnya, jika ia buruk, buruk pula seluruh amaInya,” (HR. An-Nasa`i dari Abu Hurairah)

Insya Allah niat amal dan sampaikan.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 19, 2012 in Sucikan Hati