RSS

Fenomena kehidupan Modern

13 Jan

Coba baca berita headline media massa setiap hari.Anda akan melihat kalimat-kalimat seperti ini : “Seorang pelajar ditemukan tewas gantung diri. Seorang suami menyiram wajah istrinya dengan air panas, Lantaran cintanya ditolak, seorang pemuda nekad memanjat tower listrik. Bayi perempuan ditemukan di dekat lintasan kereta. juga, berita lain Seorang anak membunuh ibunya sendiri gara-gara terlambat mendapatkan uang jajan. Seorang kakek memutilasi korbannya sangat sadis. Seorang gadis melompat dari gedung tinggi. Kasus perceraian artis ini dan itu kembali digelar, dan seterusnya.

Apa yang ingin dijelaskan oleh fenomena ini? Fenomena ini menjelaskan satu hal pada kita tentang iman yang begitu rapuh, sekaligus menjadi indikasi akan ‘sakit jiwa’ masyarakat di kehidupan modern. Sebab, mereka kadung mempercayakan kebutuhan jiwanya kepada kebendaan. Karena itu, hikmah yang bisa dipetik bahwa untuk mengurus jiwa, kita tak bisa melakukannya dengan santai atau seenak nafsu. Yang perlu diingat bahwa jiwa kita ini ada yang menciptakannya. Dan, Dia juga paling mengetahui kebutuhan – kebutuhan jiwa. Shalat adalah kebutuhan jiwa. Karena, tak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak memiliki kebutuhan kepada Allah. Selama kita masih butuh, memiliki harapan, merasakan cemas maka selama itu pula kita butuh kepada Allah, baik kebutuhan tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.

Mengutip ucapan tokoh penting Singapura, Lee Kuan Yew, pernah mengingatkan generasi mudanya, “Hidup bukan cuma untuk sepotong roti. Masih ada bianglala di langit Singapura. Keberhasilan pembangunan fisik bukan segala-galanya dalam hidup ini.” Ungkapan ini cukup beralasan, sekarang kita melihat generasi muda bangsa di dunia rata-rata berfikir dan berorientasi jangka pendek. Pertanyaan umum klasik rata-rata calon mahasiswa di dunia dari dulu sampai sekarang berkisar tentang kebimbangan, ketidakpastian tujuan hidup. “Bagaimana saya harus memutuskan, apa yang harus saya lakukan setelah saya dewasa?” Tapi sayang, perguruan tinggi tak bisa menjawab kegelisahan batin remaja dunia seperti ini. Bentuk baru kemiskinan idealisme generasi muda zaman ini ketika setiap fakultas hanya melaksanakan mandat mengajarkan kepada anak-anak bangsa untuk menjadi “mesin pembuat uang” Di seberang lain, perguruan tinggi harus merespon permintaan pasar sehingga berurusan dengan tujuan karir-profesi dan penambahan income belaka. Di kota-kota besar, tidak sedikit yang bertanya sendiri dalam hati, hidup ini untuk apa? ketika sudah di puncak? Ketika semuanya sudah diperoleh dan sangat berlebih? Tetapi mengapa seperti terus saja terasa ada yang belum tuntas dan belum terjawab dengan tuntas? Seperti ada yang belum terselesaikan? Pesona gemerlapan material, prestise, terbukti membuat pemburunya kecewa?

Kata orang, itulah fenomena “sakit jiwa” dalam kehidupan modern. Bentuk kekosongan spiritual insan berdasi karena tidak tepat memilih dan memutuskan tujuan hidup. Kecenderungan hidup untuk memiliki, bukan untuk menjadi bermakna dengan memberi. Kebanyakan mereka mempersepsikan, aktifitas memberi dan berkorban untuk sesama itu kehilangan, bukan mendapatkan. Sungguh, dunia tenggelam dalam kubangan lumpur materialisme.

Di tengah tarikan-tarikan materi terlalu kencang. Tingkat kepuasan yang tidak bermuara semakin memicu kompetisi yang tidak sehat. Orang tidak segan-segan lagi menghalalkan segala cara untuk memuluskan ambisi pribadinya. Kehampaan rohani terjadi di sana sini,

Maka Allah SWT melalui Baginda Rosulullah SAW sebenarnya telah menawarkan sebuah solusi terbaik kepada hamba-Nya yaitu Shalat. Shalat adalah sebuah alternatif untuk menggapai kebahagiaan hakiki. Ketika seorang mukmin melakukan shalat maka ia tidak saja telah melakukan ibadah besar yang berpahala besar namun ia telah memenuhi kebutuhan rohaninya, menemukan kepuasan spritualnya yang menjadi buruan banyak orang. Dengan Shalat kita akan maka kegundahan yang selama ini ada di hati akan tersingkirkan dengan sendirinya karena kita sudah memasrahkan segala sesuatu kepada sang Pemiliknya. Hanya Allah SWT lah yang memiliki kehidupan ini dan kitapun akan kembali kepada-Nya cepat atau lambat. Usaha dan ambisi dunia ini tidak akan pernah bisa menolong kita pada saat kita sudah kembali ke pangkuan-Nya. Harta, kekuasaan, jabatan bahkan sanak keluarga akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Apakah kita sudah menggunakan amanah yang ada pada kita selama di dunia ini dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang Allah SWT perintahkan.

Oleh karena itu, tidak bosan-bosannya saya mengajak kepada diri saya sendiri dan sahabat semua untuk menyegerakan apa yang telah diperintahkan Allah SWT kepada kita. Buang kebiasaan buruk untuk menunda waktu sholat karena terbentur dengan sesuatu yang menurut kita lebih penting. Padahal tidak ada yang lebih penting daripada panggilan Allah SWT.

Ingatkan kepada diri kita, apakah kita masih punya waktu untuk menunda Sholat walaupun hanya satu menit, karena umur hanyalah rahasia Illahi.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 13, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s