RSS

Shalat telah membuat Kakek itu begitu bahagia

18 Jan

Sampai kini, Ingatan itu belum hilang dari memori. Ketika dulu, saya masih duduk di sebuah bangku SMA di kota kecil di Jawa . Saya tinggal di sebuah desa yang Allah anugerahkan memiliki pemandangan indah. Sebuah desa yang dikelilingi oleh pemantar sawah yang hijau nan membentang luas, pegunungan yang indah. Hawa dingin dan segar sangat terasa, terutama di waktu subuh.

Beberapa saat menjelang kumandang adzan subuh, bintang-bintang langit sebagian besamya masih terpandang jelas oleh kasat mata, kedua mata saya kerap menyaksikan seorang Kakek berjalan merunduk di tengah hamparan sawah menuju masjid kampung.

Berpakaian putih dilengkapi surban yang melingkar di lehernya, sesekali ia menyalakan senternya untukmenerangi jalan dan sesekali ia harus mematikan untuk sebuah penghematan, karena kala itu listrik belum masuk desa. Hidup masih serba bersahaja. Bersahaja sekali.

Saya merasakan, kakek itu begitu menkmati suasana subuh, di kala mayoritas manusia masih terlelap dalam tidur nyenyaknya, ia begitu bahagia menikmati masa tuanya sembari menghamba kepada Allah. Saya menyaksikan rona bahagia memancar pada wajahnya setiap kali usai menunaikan shalat subuh, sebuah ibadah besar yang berpahala besar.

Menurut saya, dia adalah orang yang paling berhak untuk disebut bahagia. Walaupun ia hidup serba sederhana, handphone tak digenggam, televisi tak punya, motor tak sanggup dibeli apalagi mobil- mobil Eropa bermerek. Mungkin, semua itu tidak pernah memusingkan kepalanya, tidak pernah terbesit dalam benaknya untuk dimiliki.

Tetapi, ia juga tidak bisa berdusta bahwa dialah orang yang paling senang dan bahagia. Mungkin, ia termasuk satu dari kelompok manusia yang disebut-sebut Allah bahwa ketenangan itu telah menyusup ke dalam dadanya, ala bidzkrillahi tathma’innul qulubKetahuilah, hanya dengan berdzikir mengingat Allah jiwa akan damai dan tenang.” Dan, kata sebagian ulama bahwa shalat adalah dzikir yang paling utama.

Saudaraku, ketika permasalahan hidup kian hari semakin kompleks, orang kemudian bersaing ketat memenuhi kebutuhan materinya. Apa saja boleh dilakukan, cara apa pun boleh ditempuh, yang penting kebutuhan jasad terpenuhi. Alasannya; berburu bahagia.

Padahal, ketika disodorkan sebuah pertanyaan sederhana kepada banyak orang, “Apakah bahagia itu?” Kemungkinan besar, akan ditemukan jawaban beragam. Masing-masing punya presepsi dan standar sendiri-sendiri tentang bahagia.

Orang pincang; akan mengklaim bahwa bahagia baginya, ketika ia bisa memiliki kaki sempuma yang bisa dipakai berjalan layaknya kebanyakan orang. Orang yang ingin terkenal; akan berdalih bahwa bahagia baginya adalah terkenal dan populer. Lantas setelah itu, ketika berjalan semua orang mcngenalnya, menyapanya, menyalami, mengomentarinya bahkan hormat kepadanya.

Orang miskin papa; akan meyakinkan bahwa bahagia itu ketika punya rupiah melimpah, mobil banyak, rumah mewah. Dan seterusnya. Begitulah.

Tapi, kata ulama bahwa bahagia itu ialah keriangan hati, kelapangan dada, ketenangan jiwa. Bahagia itu tidak dibatasi ruang dan waktu. Bahagia itu bukan Istana Abdul Malik bin Marwan, simpanan Qarun. Bukan juga rumah mewah Al-Jashshash, atau cek yang dicairkan, atau kendaraan yang dibeli.

Tapi, bahagia menurut Said bin Al-Musayyib; pemahaman terhadap Rabbnya. Al·Bukhari adalah ketika bisa memasukan sebuah hadits shahih dalam kitabnya, Hasan Al-Bashri; kejujurannya. Asy-Syafi’i; hukum-hukum yang disimpulkan. Imam Malik: kehati-hatiannya dalam mengeluarkan hukum. Ahmad bin Hambal; sikap wara’. Tsabit Al-Bunani; ibadahnya.

Singkat kata; bahagia itu tidak dibatasi oleh semua yang berbau materi. Tidak. Karena, Rasulullah pun pernah hidup dalam kebersahajaan, sangat nyenyak di atas tembikar dan begitu lezat dcngan butir korma. Ahmad bin Hambal pernah bahagia padahal kain penuh tambalan, makanannya hanya roti, sepatunya sudah berumur 17 tahun hanya ditambal dan dijahit, sekali sebulan makan daging. Ibnu Taimiyah pernah berbahagia di penjara. Juga, Yunus pemah berbahagia di dalam perut ikan. Jadi, bahagia bukan milik orang tertentu atau berada di tempat tertentu. Bahagia itu, boleh jadi ada di istana mewah dan boleh jadi ada di gubuk yang paling reyot. Bahagia bisa dirasakan oleh yang paling miskin di dunia dan bisa dirasakan oleh orang terkaya di dunia.

Orang-orang shaleh meyakini bahwa bahagia itu mendekat ketika tidak berbuat dosa dan beramal shaleh. Bahagia menyapa ketika dekat dengan Sang Pencipta, bahagia itu hadir ketika tugas-tugas shalat yang dibebankan kepada kita ditunaikan secara maksimal. Aqimi shalata lidzikirii “Tunaikan shalat untuk mengingatKu” Kata Allah kcpada Musa.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 18, 2012 in Sucikan Hati

 

2 responses to “Shalat telah membuat Kakek itu begitu bahagia

  1. nununk ittu nooraini

    Januari 18, 2012 at 2:11 pm

    Cerita nyata or fiksi aj brother………btw aku suwun bgt dah byk diingatkan ttng arti kata BAHAGIA

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s