RSS

Masjid dan Sholat Lima Waktu banyak diabaikan

19 Jan

Saudaraku, dari ilustrasi sebelumnya saya mencoba untuk mengaitkan antara pelaku shalat dan kebahagiaan hakiki yang menjadi buruan semua level manusia. Bahwa seorang muslim ini, sekadar hidup saja tidak cukup, sekadar bekerja saja tidak cukup, sekadar makan dan minum saja tidak cukup. Tapi, di balik semua gerak itu ada satu misi besar yang terkadang dilupakan atau pura – pura terlupa; misi beribadah kepada Allah.

Karena alasan itu pulalah, Allah menciptakan alam semesta ini. Sebab, betapa rendah misi penciptaan langit dan bumi beserta segenap isinya, jikalau pelatarannya hanya diramaikan dengan aktivitas makan, minum, berhubungan badan, making money sebanyak-banyaknya untuk kekenyangan pribadi.

Kalau hanya meraup materi sebanyak mungkin atau mengenyangkan perut dan apa yang di bawah perut menjadi obsesi utama, maka seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Nilai orang itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dikeluarkan oleh perut alias tinja.”

Hidup di era euporia modern dan kebebasan seperti ini, mayoritas orang meyakini bahwa bahagia hanya akan berhembus dari faktor materi. Karenanya, segenap waktu hidup habis dipakai untuk making money dan mengkonsumsinya, sementara tugas-tugas beribadah terabaikan.

Akhirnya, kegelisahan menjadi bagian hidup yang tak berujung, stress selalu membuntuti, hati terlalu berat bersambung dengan panggilan-panggilan Allah. “Siapa berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit:.” (Thaha: 124).

Tentu, nilai seorang muslim tidak serendah itu. Karena Allah selalu akan memuliakan derajat orang – orang beriman yang memang sudah mulia sedari awalnya, sebab mereka merealisasikan misi besar nan mulia dalam hidupnya; beribadah kepada Allah. Ya, beribadah. Dan, shalat mengambil porsi terbesar dalam misi itu.

Masjid di Indonesia, termasuk bangunan paling mudah ditemukan. Dari pelosok kampung hingga kota·kota besar, dengan beragam model dan ukuran. Menurut sebuah sumber bahwa diperkirakan jumlah masjid di Indonesia saat ini antara 600.000—800.000 buah. Terpaut jauh dengan jumlah masjid di zaman Nabi. Namun, jujur kita bertutur; fungsi dan misi masjid pada generasi awal jauh lebih baik dan semarak. Ironis, masjid yang berdiri megah, dengan gaya arsitektur mengagumkan. Tapi, dalamnya hanya berisi kesunyian, nyamuk. Tak ubahnya, kuburan cina, sunyi dari semangat kebangkitan umat dan aktivitas shalat.

Ini fakta. Banyak yang ke masjid pada moment-moment tertentu saja; menghadiri akad nikah anaknya yang kebetulan diadakan di masjid. Ada yang ke masjid hanya pada shalar Idul Fitri dan Idul Adha saja. Atau, ada yang sekadar singgah sebentar karena ingin buang air kecil atau buang air besar, karena di masjid biasanya fasilitas air, wc, digratiskan. Ada juga yang sekadar mampir di teras masjid untuk melepaskan penat karena seharian ia letih mencari rupiah. Ada juga yang ke masjid hanya sekadar ingin berwisata membanding bandingkan arsitektur rumahnya dengan bangunan masjid. Atau hanya sekadar memberi nilai A, B, atau C seputar kepengurusan dan kegiatan di masjid. Yang lebih parah, ada yang ‘datang’ ke masjid ketika sudah berbentuk jenazah dan diusung dalam keranda alias siap dishalatkan. Padahal, di puncak masa sehat dan mudanya, tak pemah terpikir dalam benaknya untuk singgah memakmurkan rumah Allah. Tapi, di ujung kehidupannya, ia pun harus rela dituntun mengunjungi Rumah Allah.

Padahal, shalat ke masjid adalah indikasi kuat bahwa seseorang itu disebut mukmin. “Jika engkau melihat seseorang rajin mendatangi masjid, pastikanlah bahwa di dalam dada orang itu ada keimanan yang menancap,” Begitu kata Rasulullah suatu ketika.

Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia 241 juta jiwa, dan 80 % di antaranya adalah umat Islam. Memang, sedari dulunya, umat Islam sepanjang sejarah Indonesia adalah penduduk mayoritas, Dari sisi kuantitas, jumlah umat Islam jauh melampaui agama-agama resmi.

Tapi, pertanyaannya adalah dari jumlah mayoritas itu, berapa persen yang telah melakukan shalat? Pertanyaan selanjutnya, berapa dari mereka yang selalu shalat berjamaah di masjid? Bagaimana dengan pemudanya? Bagaimana dengan para orangtuanya? Bagaimana dengan para pekerja kantor? Bagaimana dengan para pelaku pasar? Dan seterusnya..

Fakta yang kerap terlihat bahwa sebagian besar umat Islam belum terlalu concern dcngan panggilan shalat. Mereka akan terus asyik melangsungkan aktivitasnya di tengah-tengah kumandang adzan sampai waktu shalat lewat.

Parahnya, kita tidak pernah sadar telah melakukan sebuah kelalaian besar di mata Allah. Telah berani meninggalkan sebuah amal yang menjadi barometer dari semua amal yang dikerjakan. “Sungguh, amal pertama yang akan dikalkulasi adalah shalat, jika shalat seseorang baik, baik pula seluruh amalnya, jika ia buruk, buruk pula seluruh amaInya,” (HR. An-Nasa`i dari Abu Hurairah)

Insya Allah niat amal dan sampaikan.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 19, 2012 in Sucikan Hati

 

One response to “Masjid dan Sholat Lima Waktu banyak diabaikan

  1. annas

    Februari 6, 2012 at 3:01 pm

    Datangnya pertolongan Allah itu disyaratkan adanya pertolongan kita kepada agama-Nya. Bahkan sangat penting para aktivis yang ikhlas itu mengerahkan segala kesungguhan dan daya-upayanya, bahkan untuk melipatgandakan upayanya. Hal itu dibarengi dengan kesanggupan menanggung kesulitan, apapun bentuknya. Mereka harus menghiasi diri dengan kesabaran dan keteguhan dalam kebenaran. Mereka harus berpegang teguh dengan mabda’ (ideologi) Islam dan pada metode Rasul Saw. hingga tercapai yang mereka inginkan.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s