RSS

Ironi Shalat, ApaIagi Shalat Subuh

20 Jan

Pernah, salah seorang penguasa Yahudi, menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam kecuali pada satu hal. Ialah bila jumlah jamaah shalat subuh menyamai jumlah shalat Jum’at.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari pernyataan di atas? Ternyata, orang Yahudi lebih jeli terhadap kondisi kita, daripada diri kita sendiri. Betapa selama ini kebanyakan kaum muslimin terlena dalam malam panjang, sehingga hanya menyisakan segelintir orang yang membentuk sederet dua deret shaf pada shalat subuh. Mereka tidak menyadari, ada nilai reliji dan filosofi yang kuat dalam pelaksanaan shalat subuh. Alih-alih demikian, justru orang Yahudi yang menyadarinya.

Dengan berbagai alasan, akhirnya banyak orang meninggalkan shalat subuh, sebuah fenomena yang apabila terjadi pada masa Rasulullah akan diancam dengan pembakaran rumah. Bahkan, bagi sebagian muslimin, kewajiban shalat dimarjinalkan oleh berbagai kepentingan duniawi, dan tentunya bisikan setan.

lni fakta. Kerap kita saksikan dan dengar bahwa ada seorang maniak sepak bola menyetel alarm untuk bangun tengah malam demi menonton pertandingan Liga Champion, Liga Spanyol atau Liga lnggris. Tapi, usaha seperti ini tidak pernah dilakukan untuk bangun shalat subuh.

Fakta lain. Banyak yang merasa wajib menyetel alarm jam 5 atau 6 pagi untuk memulai aktivitas making money. Tapi, mereka tidak menyetel alarm jamnya untuk melakukan shalat subuh.

lni juga fakta. Banyak umat Islam yang ketika harus naik pesawat jam 6 pagi untuk keluar kota atau keluar negeri, ia akan berusaha tiba di bandara l atau 2 jam sebelumnya. Ia begitu khawatir apabila tertinggal pesawat. Tapi, tidak pemah merasa khawatir dan gundah ketika meninggalkan shalat subuh dan shalat fardhu lainnya. Alasannya selalu klasik; sibuk, tidak punya waktu, hidayah belum turun, atau nanti saja kalau agak sedikit tua.

Ketika harus masuk kerja jam 8 pagi, banyak karyawan yang rela bangun lebih pagi agar bisa tiba tepat waktu di kantor. Apalagi, bagi yang tempat tinggalnya jauh, ia akan bangun lebih pagi agar tidak terlambat. Atau, jika hendak terlambat, paling tidak akan meminta lzin kepada direktur atau manajer karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk datang pagi – pagi.

Sementara begitu mudahnya “meminta izin” kepada Allah agar terlambat shalat. Padahal, Dia-lah Dzat yang selalu mengguyuri manusia beragam kenikmatan. Bahkan, pada saat manusia lupa pun kepada·Nya, Dia tidak menghentikan guyuran nikmat—Nya.

Mengapa acapkali seorang muslim mengabaikan undangan Allah di waktu subuh? Salah satu alasannya adalah karena banyak umat Islam yang merasa tidak butuh dengan shalat subuh. Atau, merasa bahwa ia belum mendapat manfaat materi secara langsung dari shalatnya. Atau, barangkali tarikan shalat subuh dikalahkan oleh tarikan materi yang terlalu kencang. Kesenangan dunia yang satu ini telah membuat banyak orang terhipnotis dan ekstasi. Akibatnya, mazhab kebendaan mendominasi segenap alur pikirannya bahwa segala sesuatu harus langsung menghasilkan uang atau kenikmatan lain yang terlihat secara kasat mata.

Bayangkanlah, jika ada seorang pengusaha berjanji akan memberikan uang tunai seratus juta atau bahkan hanya sepuluh juta jika datang ke rumahnya tepat jam 5 pagi. Atau, seandainya pengurus masjid·mushola menyiapkan seratus juta bagi mereka yang shalat subuh. Tentu, kita akan menyaksikan, jamaah shalat akan berjubel, ramai seperti konser-konser musik, mereka akan berdesak-desakan masuk dari pintu utama bahkan jendela jendela masjid. Sehingga, pintu dan jendela rusak berat. Mengapa, karena sensasi kenikmatannya terasa secara langsung.

Padahal, Allah tidak hanya menyiapkan seratus juta rupiah bagi yang shalat subuh. Kata Rasullullah, “Dua rakaat sunnah sebelum fajar lebih baik dari dunia dan isinya”. lni baru shalat sunnahnya, belum shalat fardhunya.

Mengapa banyak orang yang rela antri berjam-jam untuk mendapatkan kupon beras murah? Kita kerap mendengar orang sampai rela pingsan hanya untuk mendapatkan jatah bantuan tunai yang besarnya hanya Rp. 5OO ribu. Tetapi, pemahkah kita mendengar orang antri untuk berwudhu sebelum shalat? Rasa-rasanya tidak pernah. Bahkan yang ada, banyak yang rnemberikan sisa-sisa waktu dan tenaganya kepada Allah. Baru ingat shalat ketika di puncak keletihannya dan di ujung kelelahannya lalu shalat seadanya. Sekadar menggugurkan kewajiban. Parahnya, ada ibu·ibu penggemar sinetron telenovela, karena batas waktu shalat hampir selesai dan agar ia tidak ketinggalan cerita yang lagi seru-serunya maka untuk efisiensi waktu ia shalat di saat iklan. Terkadang, shalatnya lebih cepat selesai dari iklan.

Padahal, Islam Adalah Shalat. Maksudnya, satu-satunya ibadah dalam Islam yang memiliki frekuensi paling banyak adalah shalat. Sehari semalam, minimal seorang muslim shalat sebanyak 5 kali: Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Belum lagi,shalat-shalat qabliyah dan ba’diyah yang menyertai setiap shalat wajib.

Berbeda dengan rukun Islam yang lain; bersyahadat sekali dalam hidup, Membayar zakat fitrah, sekali dalam setahun. Berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam setahun. Haji wajib, dilakukan sekali dalam seumur hidup bagi yang mampu.

Tidak salah, jika kemudian Islam memandang shalat sebagai ibadah sangat penting dilakukan oleh seorang muslim. Bahkan Islam menjadikannya sebagai barometer kualitas keimanan serta baik buruknya amal shaleh. Saking pentingnya, Rasulullah mengatakan, “Ibadah pertama yang akan dihisab adalah shalat. Jika ia baik maka amal lain akan baik, dan jika ia buruk maka amal lain akan buruk.” (HR. An-Nasa`i dari Abu Hurairah)

Islam memandang, shalat memiliki kedudukan sangat tinggi. Karena itu, Allah kemudian menempatkannya pada rukun Islam kedua setelah syahadat. “Islam dibangun di atas lima parkara: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa pada bulan Ramadhan. ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)

Imam An-Nawawi berpandangan bahwa mendirikan shalat dalam hadits ini maksudnya menjaga dan mengerjakan tepat pada waktunya, menunaikan dengan menyempurnakan syarat-syarat dan rukun-rukunnya, memperhatikan sunnah dan adab-adabnya. Dengan begitu, shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, “Dan dirikanlah shalat. Sungguh, shalat itu mencegah perbuatan perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 20, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s