RSS

Misi Masjid : Hayya ‘ala shalah dan Hayya ‘alal faIah

20 Jan

Ketika seorang muslim mendatangi masjid untuk shalat, itu artinya ia sedang mengerjakan dua pekerjaan besar dalam hidupnya, yang sekaligus menjadi misi sebuah masjid; mengerjakan shalat dan setelah itu pulang membawa kemenangan kesuksesan besar.

ltulah dua misi besar yang ditawarkan masjid dan mushalla. Allah selalu menawarkan dua misi ini secara terbuka kepada orang-orang yang mengaku beriman melalui kumandang adzan yang sering terdengar dari corong-corong masjid. Allah hendak mengajak orang-orang beriman menuju surga—Nya, “Wallahu yad’u ilal jannah wal magfrah; ‘AlIah mengundang ke surga dan ampunan dengan ijin·Nya.”(Al-Baqarah: 221)

Sayangnya, oleh sebagian umat Islam, panggilan ini dianggap seruan biasa, bahkan tak jarang dianggap sebagai panggilan marbot masjid yang kebetulan ditugaskan menjadi muadzin, bukan panggilan Allah. Parahnya lagi, seruan ini dianggap pengganggu dan pemutus kegiatan making money. Padahal, kalaulah disadari sesungguhnya muadzin hanyalah perpanjangan ‘suara Allah’. Minimal, sebanyak lima kali, orang·orang beriman diajak untuk menangkap dua misi besar ini.

Dua misi besar ini tidak pemah berhenti dikumandangkan di ruang langit. Usai dikumandangkan di wilayah Timur, seperti Papua, Maluku, misi ini disambut oleh corong-corong masjid yang berada di wilayah Sulawesi dan Kalimantan,seperti Palu, Makassar, Balikpapan, Smarinda dll. Belum selesai dikumandangkan di daerah-daerah itu, misi ini langsung diteruskan oleh masjid- masjid yang berada di pulau Jawa termasuk Jakarta. Usai di Indonesia, misi ini digaungkan negara-negara lain yang waktu shalatnya berbeda dengan Indonesia. Dan insya Allah, gema akan selalu mengawal perputaran bumi hingga akhir zaman.

Subhanallah. Kumandang adzan yang menggema di ruang Iangit itu menjadikan kita merasa terlalu kecil di hadapan Allah. Kita kecil dalam lingkaran semesta. Jangankan semesta, dalam keramaian Padang Arafah saja, kita seperti butiran-butiran pasir.

Walaupun orang diceramahi seratus ustadz setiap harinya agar konsisten dengan shalat, atau jangan menunda-nunda shalat jika tidak ada udzur syar’i tapi, kalau Anda sendiri tidak membuka hati dan memaksimalkan tekad menerima ajakan itu, maka ceramah itu hanya menjadi ucapan-ucapan biasa tanpa makna dan bisa dipastikan perubahan itu tidak akan terjadi,

Apalagi kalau sedari awalnya, seseorang sudah merasa apriori dengan petuah, trauma dengan ceramah-ceramah berbau agama, atau secara frontal mcnolak, “Awas ya, saya tidak usah diceramahi tentang Islam, saya Iebih tahu dari Anda, saya lebih tahu apa yang mesti dilakukan, saya lebih sukses dari Anda, dll,” sungguh, tindakan penolakan ini tidak akan membuka pintu hidayah Allah, sebab menolak, mendemo, dan mengkritisi kebenaran adalah kesombongan tingkat tinggi,

Tidak sedikit yang terus konsisten dengan pandangan kelirunya dengan mengatakan, “Tidak shalat pun atau sholat tidak tepat waktupun, saya sudah merasa bahagia, istri dan anak·anak saya selalu sehat, karir saya lancar, persahabatan dengan banyak orang tetap tercipta, bahkan saya memerhatikan orang-orang yang shalat rezekinya selalu seret, banyak menghadapi masalah, hidupnya miskin, dll.”

Kadang-kadang faktanya memang begitu. Tapi, ada satu hal yang dilupakan bahwa shalat itu melahirkan ketenangan jiwa, kelezatan spiritual, kenikmatan hakiki dalam kalbu. Apabila spiritual sehat, secara otomatis anggota—anggota tubuh yang lain menjadi sehat, kalaulah ia dikonversikan ke rupiah boleh jadi nilainya jauh lebih mahal dari materi yang terlihat secara kasat mata.

Faktanya, Rasulullah SAW hidupnya sangat bersahaja, tapi sejarah mencatatnya sebagai sosok yang paling berbahagia. Bahagia itu ia peroleh melalui shalat.

Karena itu, gapailah sukses dan berbahagialah orang-orang yang sadar lebih awal untuk meraih dua misi besar ini; shalat dan kesuksesan besar.

Insya Allah niat amal dan sampaikan.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 20, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s