RSS

Shalat, Ala Bisa Karena Biasa

24 Jan

Hidup itu adalah himpunan kebiasaan. Kita Cuma punya dua pilihan: membiasakan diri pada yang hal-hal yang baik atau kalau tidak pada hal – hal yang buruk. Tidak ada jalan tengah. Dan, shalat itu masuk pada kebiasaan pertama.

Seorang yang berulang melakukan suatu kegiatan akhimya akan terbiasa. Dan, kebiasan itulah yang akan melahirkan skill, dimana ia melakukannya dengan sangat ringan dan enteng.

lni cerita inspiratif tentang kebiasaan yang melahlrkan skill itu.

Zaman dahulu kala, di negeri Tiongkok, hidup seorang panglima perang yang sangat terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada khalayak ramai. Ia pun memerintahkan prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran beserta seratus buah anak panah. Setelah semua siap, panglima itu pun mulai melepaskan satu persatu anak panah ke sasaran yang telah dipasang. Anak-anak panah itu pun tertancap tepat di sasarannya. Rakyat pun bersorak-sorak dan bersiut-siut menyaksikan kehebatan sang panglima dalam memanah. Dengan wajah yang berseri—seri dan penuh kebanggaan, panglima itu berucap, “LihatIah panglimamu ini, keahIian memanahku tidak ada tandingannya di seantero negeri.”

Semua penonton berteriak memuji, “Hebat! Hebat! Hebat!” Namun, di sela-sela teriakan pujian tersebut, tiba—tiba menyeruak seorang penjual minyak yang terlihat sudah tua. la berkata dengan keras, “Panglima memang hebat! Tetapi, kepandaian panglima itu hanyalah kebiasaan kecil yang dilatih terus menerus!”

Sontak panglima dan penonton memandangi kelancangan orang tua penjual minyak itu, tanpa mengerti tujuan perkataannya. Merasa tanggapan orang tak bersahabat, ia pun berkata, “Tunggu sebentar;” sambil beranjak dari tempatnya, Ialu mengambil sebuah uang koin kuno yang memiliki Iubang kecil di tengahnya. Koin itu diletakkannya di atas mulut botol guci minyak kosong. Lalu dengan penuh keyakinan, ia menuang minyak dari atas ke dalam bctol melalui lubang kecil di tengah koin tadi. Tak ada setetes pun minyak yang mengenai permukan koin tersebut!

Melihat perbuatan si tukang minyak, panglima perang dan penonton tercengang, Ialu bersorak—sorak menyaksikan pertunjukan keahlian si tukang minyak. Dengan penuh kerendahan hati, si orang tua penjual minyak itu membungkukkan badan memberi hormat kepada sang panglima, sambil mengucapkan kalimat bijaknya, “Kebiasaan yang diulang terus-menerus, akan melahirkan keahIian,” Panglima pun manggut-. manggut dan membalas hormat dari orang tua si penjual minyak.

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil satu hikmah yaitu, kebiasaan adalah kekuatan. Habit is a power. Semakin sering kita melakukan sesuatu, maka kita makin terampil, apalagi jika kita sudah menjadikannya sebagai kebiasaan. Dalam hal shalat juga demikian, tatkala kita terbiasa melakukannya maka -insya Allah ia akan menjadi sebuah skill dan enteng untuk dilakukan. Seorang yang sudah menjadikan shalat sebagai kebutuhan, maka ketika ia terlambat atau lupa mengerjakannya, seketika jam biologisnya menjadi reminder yang akan segera mengingatkannya bahwa ia belum shalat atau waktu shalat telah tiba.

Sekali lagi, hidup itu adalah kebiasaan dan kebiasaan itu akan melahirkan kemahiran. Shalat yang dilakukan secara berulang akan menjadi power bagi pelakunya, atau dalam teori disebut Repetitive Magic Power yang berarti kekuatan ajaib dari pengulangan.

Apabila seseorang melaksanakan shalat lima waktu, maka ia akan melakukan repetitive magic power ini sebanyak 150 kali dalam sebulan (5×30), atau 1.800 kali dalam setahun (150×12). Apabila ia telah melakukan shalat sepuluh tahun saja, maka ia telah melakukan repetitive magic power sebanyak 15.000 kali. Bagaimana kalau dilakukan seumur hidupnya, bayangkan energi yang ditimbulkannya.

Teori repetitive magic power ini diterapkan di jepang, di mana di beberapa pelatihan para instruktur mewajibkan para siswa eksekutifnya mengucapkan kalimat, “Saya juara!” seratus kali dalam sehari selama masa latihan. Padahal, Islam telah mengajarkan umatnya agar ikrar kalimat syahadat diucapkan paling sedikit sembilan kali dalam sehari semalam yang terdapat dalam “tahiyat awal dan akhir” dalam shalat lima waktu. jika ia terus diucapkan akan menjadi sebuah doktrin maha dahysat yang akan mengisi dan menggetarkan qalbu.

Allah juga sering mengulang ayat-ayat dalam Al-Qur`an sampai beberapa kali. Dalam surat Ar- Rahman, Allah mengulang-ulang ayat, “Fabi ayyi aalaa`i rabbikumaa tukadzibaan” sampai 31 kali. Ini bukan berarti Allah tidak mengerti cara berbahasa. Tapi, supaya setiap kali bertemu dengan ayat itu, kita semakin tersadar bahwa tidak ada nikmat Allah yang pantas didustakan. Semakin diulang, semakin disadari. Berulang-ulang melahirkan kemahiran. Karena itu, jadikanlah shalat sebagai kebiasaan yang diulang secara terus-menerus, dengan begitu ia akan menjadi kekuatan hidup yang tiada tara.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 24, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s