RSS

Engkau Lebih Gagah dari Abdullah bin Ummi Maktum

30 Jan

Suatu ketika, Abdullah bin Ummi Maktum, laki-laki buta, datang kepada Rasulullah meminta diberikan keringanan khusus agar tidak datang shalat ke masjid karena memang dari hitungan matematika, ia berhak mendapatkan dispensasi. Ia buta,

Tidak sekadar buta, ia juga memiliki udzur-udzur syar’i yang lain. Bahkan, Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya Ahamiyyatu Shalatil Jama’ah merinci udzur-udzurnya;

a. Ia seorang laki-laki buta. Jangankan berjalan menuju masjid, walau hanya sekadar keluar dari pintu rumah saja, ia sudah tak sanggup. Terlalu sulit dan bahaya baginya jikalau ia memaksakan diri.

b. Tidak ada guide (pemandu) yang menemaninya di perjalanan, ia hidup seorang diri.

c. Jarak yang cukup jauh antara rumah dan masjid Rasulullah. Perjalanan pun hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Karena saat itu, segala sesuatunya masih serba bersahaja, belum ada fasilitas kendaraan seperti masa kini.

d. Di Madinah kala itu, banyak pohon-pohon kurma besar nan menjulang. Ditambah lagi, belum ada fasilitas penerangan, seperti listrik atau senter.

e. Banyaknya binatang buas yang sangat berbahaya.

f. Usianya yang sudah renta dan tulang-tulangnya pun sudah melemah.

Tapi, sebelum beranjak, Rasulullah menyodorkan pertanyaan kepadanya, “Wahai saudaraku, apakah engkau mendengar kumandang adzan?” Abdullah bin Ummi Maktum menukas, “Iya, saya mendengarnya wahai Rasulullah” . Rasulullah menutup percakapan dengan mengatakan, Jika demikan, engkau tetap wajib memenuhi panggilan adzan. ” (HR. Muslim)

Jika kita mencoba membanding-bandingkan diri ini dengan pribadi Abdullah bin Ummi Maktum; maka kita tentunya lebih unggul dan lebih gagah dalam banyak hal;

a. Kita memiliki kualitas penglihatan yang sempurna dan sangat jelas. Bahkan, bisa mendengar suara adzan yang bertalu-talu dari corong-corong masjid. Apalagi, saat ini hampir semua masjid telah menggunakan pembesar suara.

b. Kita memiliki kendaraan; sepeda, motor, mobil, mulai dari yang sederhana sampai yang mewah, bahkan mulai dari buatan lndonesia sampai made in Eropa dengan speed yang tinggi. Sayangnya, fasilitas mewah i itu jarang sekali mengantarkan pemiliknya ke rumah-rumah Allah, majelis-majelis taklim dan tempat-tempat yang Allah senangi. Bahkan parahnya, setiap kali diarahkan ke sana, selalu saja ada halangan.

c. Jarak antara rumah kita dan masjid terlalu dekat. Bahkan, terkadang ada di antara kaum muslimin yang rumah dan masjid atau mushalla hanya dibatasi dinding.

d. Jalan antara masjid dan rumah telah diaspal licin. Di beberapa tempat, jalan dikelilingi oleh taman-taman indah. Ruang-ruang Masjid pun sudah dilengkapi AC yang menambah suasana masjid semakin nyaman.

e. Usia kita relatif masih muda dan sangat sehat, otot-otot masih sangat kuat.

Coba bayangkan, ketika kondisi kita berada di puncak kejayaan fisik, ekonomi seperti sekarang ini, lalu kita menghampiri Rasulullah untuk meminta keringanan seperti yang pernah diminta Abdullah bin Ummi Maktum. Jawaban apa gerangan yang beliau akan sampaikan kepada kita?

Yang jelas, kita lebih sehat dan gagah dari Abdullah bin Ummi Maktum. Laki-laki buta itu telah mengajarkan kita tentang kemuliaan shalat dan kemuliaan rumah – rumah Allah.

Jangan hanya sekedar kita mengaku bahwa kita adalah umat Rasulullah SAW, tetapi apa yang dicontohkan dan disabdakan Beliau seharusnya menjadi pegangan kita untuk menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.

Semoga kita diberi kemudahan dan kepahaman untuk niat amal dan sampaikan.

Insya Allah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 30, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s