RSS

Arsip Bulanan: Februari 2012

“Sudah kayakah kita”

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kaya itu bukanlah dengan harta yang berlimpah, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kaya hati.” (muttafaq “Alaih – Misykat)

Maksud dari hadits ini jelas sekali. Jika hati seseorang tidak kaya, walaupun hartanya banyak, pengeluarannya akan berkurang sehingga lebih kurang dari pengeluaran orang-orang miskin (kikir / bakhil). Walaupun hartanya banyak, namun ia selalu berpikir untuk menambahnya. Pikirannya untuk menambah harta akan melebihi pikiran orang-orang miskin dalam menanggung hidup mereka. Jika hati seseorang itu kaya, walaupun hartanya sedikit, tetapi jiwanya akan tetap tenang. Ia akan bebas dari pikiran dan kerisauan untuk menambah hartanya.

Imam Rahib rah.a. berkata “Ghinâ (kaya) digunakan untuk beberapa arti:

  1. Tidak memerlukan apapun. Berdasarkan pengertian ini, maka Al Ghanî (Yang Mahakaya) itu hanya Allah swt. Ia tidak memerlukan sesuatu apapun. Dari segi arti ini, Allah swt. Berfirman:


    ‘Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.'(Q.s. Fathir:15)

  2. Kurang memiliki keperluan. Mengenai maksud ayat ini, Allah swt. Berfirman:


    ‘dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.'(Q.s. Adh-Dhuha:8)

    Terhadap pengertian inilah hadits di atas disabdakan oleh Nabi saw. Bahwa kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.

     

  3. Kelebihan harta dan keadaan dari segi kebendaan. Ayat Al-Qurán yang berkenaan dengan pengertian seperti ini adalah:

    Þ

    “… orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya,….. (Q.s. Al-Baqarah:273)

    Maksud ayat ini adalah, orang yang benar-benar berhak menerima sedekah adalah orang yang sibuk di jalan Allah swt. dan karena mereka tidak meminta-minta, orang yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya menganggap mereka adalah orang kaya.

     

Abu Dzar r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Hai Abu Dzar, apakah menurutmu banyak harta itu kaya?” Abu Dzar r.a. menjawab, “Ya Rasulullah, benar”. Nabi saw. bersabda, “Kekayaan adalah kaya hati dan kemiskinan adalah miskin hati.” (At-Targhib).

Demikianlah, hakikat kekayaan adalah kekayaan hati. Orang yang bernasib baik dan beruntung saja yang dikaruniai Allah swt. sifat ini. Inilah zuhud yang sebenarnya. Barangsiapa yang dalam hatinya tidak ada sedikitpun kecintaan terhadap harta, maka dialah orang kaya sebenarnya, walaupun ia tidak memiliki harta apapun, dan dialah orang zuhud yang sebenarnya. Barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap harta, maka ia adalah orang yang miskin walaupun ia memiliki harta kekayaan yang banyak dan ia adalah seorang ahli dunia.

Al Faqih Abu Laits Samarqandi rah.a. menulis untaian kata-kata hikmah dari seorang ahli hikmah, bahwa kita telah mencari empat perkara, dan dalam mencarinya, ternyata kita telah salah faham.

  1. Kita mencari kekayaan dalam harta, padahal kekayaan itu bukan dalam harta, tetapi dalam qana’ah (rasa puas dan menerima apa adanya). Namun kita selalu mencarinya dalam harta. Bagaimana mungkin kita akan mendapatkannya jika ternyata kekayaan itu tidak terdapat dalam harta.
  2. Kita mencari ketenangan dan kesenangan dalam harta yang melimpah, padahal ketenangan itu terdapat dalam harta yang sedikit.
  3. Kita mencari kemuliaan dari makhluk (berbuat sesuatu agar kita dihormati), padahal kemuliaan itu hanya ada dalam taqwa (barangsiapa yang lebih bertaqwa, maka ia akan lebih memahaminya)
  4. Kita mencari nikmat Allah swt. dalam makan dan minum (dan menganggapnya sebagai nikmat Allah swt. yang terbesar). Padahal nikmat Allah swt. yang terbesar adalah dalam Islam dan ampunan dosa (barangsiapa yang telah menerima kedua nikmat tersebut, berarti ia telah menerima nikmat Allah swt yang terbesar).

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa yang tujuan hidupnya hanya untuk dunia, maka Allah swt akan membebani hatinya dengan tiga hal: 1) kecemasan yang tiada akhir, 2) Kesibukan yang tidak pernah lapang, 3) Kesempitan yang selalu menghimpit.” (Tanbihul-Ghafilin)

Rasulullah saw. bersabda,”Apabila kamu melihat seseorang yang dikaruniai Allah swt. rasa tidak berminat kepada dunia dan sedikit bicara, maka bergaullah kamu dengannya, karena sesungguhnya ia telah dikaruniai hikmah oleh-Nya.” (Misykat)

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 

 

 

 

 

 

 


 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 29, 2012 in Sucikan Hati

 

Manusia punya Energi Menolak Kemunkaran

Menurut hasil penelitian Virginia Tech, yang dipublikasikan oleh Journal of Royal Society Interface, hanya dengan sekali bersin seseorang telah mengontaminasi satu ruangan dengan virus flu. Virus tersebut tetap akan aktif walaupun telah lewat satu jam.

Yang mencengangkan, setelah menganalisis sampel udara dari tiga jenis ruangan, yaitu pesawat terbang, ruang tunggu sebuah klinik kesehatan, dan ruang perawatan, diketahui bahwa setiap meter kubik udara terdapat 16 ribu partikel virus flu. Masya Allah!

Itu baru satu jenis virus. Padahal jumlah jenisnya saja tak terhitung, apalagi jumlah populasinya.

Dengan demikian, jika sampai sekarang populasi manusia masih tetap eksis, itu menunjukkan bahwa manusia memiliki daya tahan tubuh luar biasa.

Jika secara fisik manusia dapat bertahan karena dibekali pertahanan yang kokoh seperti itu, maka demikian pula secara non fisik (kejiwaan), pasti ada sistem pertahanan yang juga luar biasa.

Keselamatan jiwa (hati) menjadi barometer eksistensi diri manusia. Sebab, manusia yang hatinya rusak tidak bisa disebut manusia. Ia telah terjerembab dalam kasta binatang.

Allah swt dalam Al Qur’an surat Al-A’raf [7] ayat 179, menjelaskan bahwa isi neraka Jahannam itu kebanyakan berasal dari bangsa jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah swt. Mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah.

Mereka itu, kata Allah swt, bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Sebagai penegas, Allah swt juga berfirman :

” atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (QS Al-Furqan:44)

Oleh sebab itu, wajar bila manusia normal memiliki fitrah untuk menyelamatkan diri, baik secara fisik maupun non fisik, dari berbagai bahaya (madharrat) yang mengancam eksistensinya. Hanya orang stress yang nekat bunuh diri, atau orang gila yang mau makanan busuk yang kotor dan membahayakan.

Yang harus dicegah.

Fitrah normal yang mendorong manusia untuk menarik sebanyak mungkin manfaat, juga terwujud dalam bentuk dorongan untuk menolak madharrat.

Semangat untuk mengejar peluang kebaikan memberikan daya tolak yang setara terhadap peluang keburukan. Contoh terbaik dalam hal ini tak lain adalah Rasulullah saw. Betapa sering Rasulullah saw berdoa menggunakan kata “as aluka” (aku meminta kepada-Mu). Beliau juga sering menyebut manfaat yang beliau inginkan ketika berdoa. Misalnya, “Allahummaghfirlii warhamnii”.

Beliau juga kerap menggunakan kata yang mengindikasikan penolakan dan pencegahan. Misalnya, “a’udzu”. Semua doa yang diawali dengan kata itu pasti bermakna penolakan terhadap madharrat dan pencegahan dari musibah yang akan menimpa.

Selain hal-hal diatas, hal lain yang kerap dilakukan Rasulullah saw adalah :

  1. Senantiasa memohon agar selalu memberi manfaaat dan menghindari potensi kemungkaran. Pada waktu pagi Nabi saw berdoa: Ya Allah ya Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan di waktu sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan di waktu sesudahnya (riwayat Muslim). Begitu pula banyak doa yang senantiasa beliau panjatkan secara rutin, baik di pagi maupun sore hari.
  2. Nabi saw juga memohon kepada Allah swt untuk dibebaskan dari kemungkaran pihak manapun tanpa terkecuali, dengan doa, “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak akan dilampaui seorang yang baik mapun yang jahat, dari keburukan yang ia ciptakan dari keburukan segala yang turun dari langit dan yang naik ke langit, dan dari keburukan segala yang ia ciptakan di bumi dan yang ke luar darinya” (riwayat Ahmad)

Masih banyak doa-doa Nabi saw yang menandakan sikap waspada dan antisipasi dari berbagai macam bahaya yang terbayangkan maupun yang tidak terduga.

Pihak Pengancam

Ada tiga pihak yang menjadi ancaman manusia terkait eksistensi kehambaan di hadapan Allah swt. Pertama, setan/iblis. Sejak awal penciptaan manusia, iblis telah bersumpah serapah dengan mengatakan:

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”. (QS Al Hijr:39)

Setan mengepung untuk menggoda manusia dari segala sisi. Allah swt mengungkap upaya mereka:

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at). (QS Al A’raf:17)

Kedua, nafsu yang melekat dalam diri manusia. Pada dosis tertentu, nafsu sebenarnya mempunyai manfaat bagi manusia. Namun jika dosisnya lebih dari itu akan menjelma menjadi racun spiritual yang sangat berbahaya. Apalagi setan juga tidak pernah absen mencari kesempatan untuk menungganginya.

Allah swt mengabadikan perkataan emas Zulaikha, istri Al-Aziz, dalam Al Qur’an surat Yusuf ayat 53. Kata Zulaikha,”aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan….”

Ibn Katsir menerangkan makna ayat ini. Katanya, “Nafsu sering kali mendorong pemiliknya untuk berbuat keburukan, misalnya dosa besar, karena nafsu adalah kendaraan setan dan dari situlah setan masuk pada diri manusia (Ibn Katsir, tafsir Al-Qur’an al-adzim, I/400)

Semua manusia pernah takluk kepada nafsu untuk bermaksiat kepada Allah swt, baik kafir maupun Muslim. Banyak hal yang dapat dijadikan bukti atas keberhasilan ideologi nafsu. Dominasi ideologi liberal saat ini adalah bukti kesuksesan nafsu. Menurut kaum liberal, atas dasar kebebasan berpendapat, tak dilarang mengkritik dan menghujat agama dan para Nabi.

Ketiga, manusia yang menjadi kawan setan dan budak nafsu. Mereka adalah sesama manusia yang menjadi penerus misi setan untuk menyesatkan orang lain melalui berbagai upaya.

Usaha mereka bermacam-macam. Mulai dari bujukan, sanjungan, pemberian fasilitas, sampai pada tingkat pemaksaan dan pembunuhan secara nyata.

Tentang hal ini, Allah swt menjelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 217. Kata-Nya, “….Mereka (orang-orang kafir) tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…………”

Melihat semua dalil dan data kongkrit di atas, tak ada pilihan lain bagi seorang muslim kecuali harus melakukan upaya pertahanan, penolakan, dan pencegahan sebagai wujud panggilan fitrahnya.

Fitrah itu menghendaki keselamatan seutuhnya, baik raga dan jiwa, di dunia maupun di akhirat, bagi diri maupun orang-orang yang dicintainya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selamat.

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 

Sumber : Hidayatullah edisi Januari 2012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 24, 2012 in Sucikan Hati

 

Expresi terbaru di bulan ini

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2012 in photo collection

 

Shalatlah, Karena Kematian Itu Sudah Ada Jalannya

SYAIKH Ali Ath-Thanthawi dalam sebuah siaran radio dan televisinya mengabarkan bahwa di Negeri Syam ada Seorang Iaki laki yang memiliki Sebuah mobil truk Lorie (bak terbuka). Ketika mobil itu dijalankan tanpa diketahuinya di atas badan mobil itu ada orang. Mobil itu mengangkut peti yang sudah siap untuk menguburkan mayat. Sedangkan di dalam peti itu terdapat kain yang bisa digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan.

Tiba-tiba, hujan turun dan air mengalir deras. Orang itu pun bangun dan masuk ke dalam peti, dan membungkus dirinya dengan kain yang ada di dalam peti. Kemudian, di tengah jalan ada seseorang yang lain naik menumpang ke bak mobil itu di samping keranda. Dia tidak tahu bahwa di dalam peti itu ada orang. Hujan belum berhenti. Orang yang kedua ini mengira bahwa dirinya hanya sendirian di dalam bak mobil itu. Tiba-tiba, dari dalam peti ada tangan terjulur (untuk memastikan apakah hujan sudah berhenti atau belum). Ketika tangan itu terjulur, kain yang membungkusnya juga ikut terjulur keluar. Si penumpang itu kaget dan takut bukan kepalang. Dia mengira bahwa mayat yang ada di dalam peti itu hidup kembali. Karena takutnya, dia terjungkal dari mobil dengan posisi kepala di bawah. Dan, meninggal seketika.

Demikianlah Allah menentukan kematian orang itu dengan cara seperti ini.

Ini juga jalan kematian yang agak berbeda dengan biasanya; Sebuah tv swasta pernah memberitakan bahwa seorang anak berusia 5 tahun di Bone, Sulawesi Selatan, tiba-tiba mati hanya karena kaget mendengar suara meteor. Gara-gara burung, Pesawat Airbus A 320, kedua mesin berpenumpang 155 orang ini tidak berfungsi karena menabrak sekawanan burung. Pesawat jatuh di air, banyak penumpang tewas, pesawat ini milik US Airways (koran republika 2009), atau yang masih hangat, kematian pejalan kaki dan orang orang dipinggir jalan gara gara ditabrak xenia maut di Jakarta.

Yang selalu harus diingat seorang hamba adalah bahwa dia sedang membawa kematian. Bahwa dia sedang berjalan menuju kematian dan bahwa dia sedang menunggu kematian itu entah akan datang pagi atau sore.

Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib “Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Maka, jadilah kalian anak·anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya, hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramaI.”

Ungkapan Ali ini mengingatkan kita, bahwa manusia harus selalu siap siaga, memperbaiki keadaannya, memperbaharui taubatnya, dan mengetahui bahwa dia sedang berhubungan dengan Rabb Yang Maha Mulia, Maha Kuat,Maha Agung, dan Maha Baik.

Kematian itu tidak pernah meminta izin kepada siapa saja. Tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja. Dan, tidak merajuk. Kematian itu tidak pernah memberikan terlebih dahulu. “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34).

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2012 in Sucikan Hati

 

Jangan Salahkan Allah

Banyak orang beralasan bahwa dirinya belum shalat, atau shalatnya masih bolong-bolong karena belum mendapatkan hidayah. Atau, hatinya belum digerakkan oleh Allah SWT untuk mendapatkan untuk menjawab panggilan-panggilan shalat.

Ini sebuah fenomena bahwa banyak yang senang menyembunyikan “sisi-sisi liar” dirinya di balik takdir buruk. Padahal, belum terlihat usaha serius dan maksimal dirinya mendekat kepada hidayah Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah memberikan fasilitas berupa panca indera agar ia mudah menangkap sinyal hidayah itu.

Mata tidak dimaksimalkan untuk melihat kebenaran. Otak tidak dimaksimalkan memikirkan kebaikan. Telinga tidak dimaksimalkan mendengar kisah keshalehan. Bahkan terkadang lebih banyak kufur daripada bersyukurnya. Lebih banyak ingkar daripada taatnya. Lebih banyak menolak daripada menerimanya. Pantaskah jika Allah SWT untuk kemudian disalahkan pada saat hidayah itu tidak menyusup ke dalam dada? TIDAK, Allah SWT tidak boleh disalahkan.

Tidak sedikit yang sering menyodorkan pertanyaan menggelitik, “Bukankah Allah SWT memiliki hak prerogatif menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki?” atau “Bukankah Allah SWT telah menentukan siapa-siapa yang masuk surga dan siapa-siapa yang masuk neraka. Jika demikian ketetapannya, untuk apa kita shalat, untuk apa kita beramal?”

Ya, memang Allah SWT lah yang menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberi hidayah siapa yang dikehendaki. Namun jangan lupa bahwa Allah SWT juga telah membekali manusia berupa fasilitas agar mereka menerima hidayah berupa :

  1. Fitrah yang suci, Rasulullah SAW bersabda, ” Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.” (Al Bukhari). Dengan fitrah dan nuraninya yang suci manusia dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang halal dan yang haram, yang shaleh dan yang fasad (rusak)
  2. Alat panca indera untuk membantu mendeteksi kebenaran, Allah SWT berfirman,”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kalian tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggunganjawabnya” ( QS Al-Isra:36)
  3. Akal, Allah SWT berfirman,”Dan mereka berkata:”Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala (QS Al-Mulk:10)
  4. Hak memilih, Allah SWT berfirman,”katakanlah kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS Al-Kahfi:29)
  5. Diutusnya Rasul, Allah SWT berfirman,”Dan Kami tidak akan mengadzab suatu kaum sebelum Kami mengutus seorang Rasul kepada mereka (QS Al-Isra: 15)
  6. Beban amal yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan manusia, Allah SWT berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS Al-Baqarah:185)

Karena itu, daripada terus-terusan mengutuk kegelapan lebih baik kita menyalakan lilin untuk sebuah cahaya. Daripada terus-terusan menyalahkan Allah SWT lebih baik banyak introspeksi diri serta bercermin tentang sejauh apa usaha yang telah dilakukan untuk mengundang hidayah Allah SWT agar menjadi hamba Allah SWT yang sholeh. Karena, biasanya seseorang yang rajin bercermin, wajahnya akan bersih dan terlihat cantik. Allah SWT tidak akan ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sementara manusia pasti akan ditanya semua perbuatan mereka. Termasuk shalat-shalat yang telah dilalaikannya.

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2012 in Sucikan Hati

 

Shalatlah, Karena Waktu Hidup Anda Tinggal Sedikit

YA, waktu kita sedikit. Kita sudah berada di ujung zaman. Atau, dalam kosakata persepakbolaan sudah berada pada “injury time”. Pada waktu ini biasanya para pemain akan habis-habisan walaupun sudah Ietih.

Kita hidup di ujung waktu, cukuplah perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada tubuh kita menjadi penasehat yang baik untuk kita menyadari siapa diri ini sebenarnya dan kemana arah hendak dituju? .

Kita berada, dimana Hari Kiamat sudah menjelang. Berapa banyak waktu yang telah kita gunakan beramal shaleh dalam hidup ini. Sudahkah kita menggunakan beberapa jenak waktu kita untuk bersama dengan orang-orang shaleh guna melembutkan hati kita, agar arah hidup kita lebih lurus? Pernahkah kita membangun niat untuk mengerjakan shalat secara sungguh-sungguh?

Dan, kalau kita sudah melakukan sholat, maka jangan hiraukan omongan semua orang.

Terkadang, kita sering mendengar komentar miring tentang orang yang shalat atau yang baru memulai sholat; “dasar lo, sok alim” atau, “tumben lho, tiba-tiba sholat”, atau peci dan sarungnya tidak maching tuh”, atau “rapih amat mo sholat aja”, atau ” sudah bau tanah baru mau sholat” atau, “percuma aja lo sholat tidak yang puji” atau sekarang koq sudah agak reliji ya” dan seterusnya.

Sesungguhnya kritikan pedas dan komentar orang tentang kebaikan yang dikerjakan tidak akan pernah habisnya. Shalat, dikomentari. Tidak shalat, -apalagi-, komentamya lebih pedas. Karena itu, jika shalat dan hati sudah merasa nyaman maka tidak perlu merasa gelisah dengan omongan semua orang. Jika Anda sudah shalat, pada saat itu jiwa Iepas dan bebas seperti digambarkan orang-orang shaleh bagaikan rajawali yang terbang bebas menggapai ridha-Nya.

Kisah berikut ini barangkali bisa menjadi salah satu renungan kita. Kisah ini dinukil dari kitab Mi`ah Wa Qashshah karya Muhammad Amin Al-jundi.

Suatu kali, tersebutlah Juha, yang ingin memberikan pelajaran kepada anaknya agar mendapatkan manfaat yang bisa digunakannnya dalam menghadapi hidup nantinya. Dia pun mengambil seekor keledai Ialu menungganginya dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, Iewatlah sebagian wanita yang Ialu menyoraki Juha, “Wah, ada apa dengan orang ini! Tidakkah ada kasih sayang di hatimu? Kok, kamu yang naik sedangkan anakmu yang kecil itu kelelahan berjalan di belakang?” Mendengar itu, Juha pun turun dari dan menyuruh sang anak yang naik. Tak berapa lama berjalan, mereka melewati segerombolan orangtua yang sedang duduk di bawah tarik matahari, mereka pun berkata, “Wahai orang tua, mengapa kamu berjalan kaki meski sudah tua sementara anakmu kau biarkan naik kendaraan. Bagaimana kamu bisa mendidiknya agar memiliki rasa malu?”. Apakah kamu mendengar omongan mereka? Kalau begitu, mari kita naik bareng-bareng,” kata Juha kepada anaknya. Lalu, mereka bersama menunggangi keledai yang sebenarnya ukurannya tak seberapa. Tetapi di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan sekelompok orang yang dikenal sebagai kelompck pencinta binatang. Melihat pemandangan itu, mereka meneriaki sang ayah dan anak, “Takutlah kepada Allah, kasihanilah binatang yang kurus-kering itu. Kenapa kalian berdua menungganginya padahal berat kalian lebih berat daripada keledai ini?” “Kamu dengar tadi?” kata juha kepada anaknya sambil ia turun dan menurunkan anaknya. “Kalau begitu, mari kita berjalan bersama- sama dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita,” kata Juha Iagi. Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan, sementara keledai berjalan di depan mereka. Tak mereka sangka, mereka melintasi segerombolan pemuda. Melihat pemandangan Juha dan anaknya, pemuda gerombolan ini tak tinggal diam, “Demi Allah, yang pantas adalah keledai itu yang menaiki kalian bardua, sehingga kalian dapat membuatnya terhindar dari kendala—kendala dijalan.” Juha rupanya terpengaruh dengan ucapan pemuda tersebut. Juha dan anaknya kemudian memikul keledai mereka menggunakan batang kayu yang mereka temukan di jalan. Baru saja Juha dan anaknya berlalu melanjutkan perjalanan, orang-orang di belakang mereka menertawakan pemandangan yang aneh tersebut. Karena dianggap gila, mereka berdua digiring oIeh pemuka setempat untuk dimintai keterangan. Setelah ditangkap, Juha pun menjelaskan ringkasan percobaannya. Dia menoleh ke arah anaknya, “Wahai anandaku, inilah akibat bagi orang yang selalu mendengar omongan orang-orang. Serta hanya ingin mendapatkan kerelaan semua orang.”

Karena itu, teruslah shalat dan tidak terlalu pusing dengan omongan semua orang.

Sesungguhnya kepulangan kepada Allah adalah sebuah fitrah. Kepulangan-kepulangan kecil di dunia adalah sebagai pendahuluan sebelum kita mengalami kepulangan besar. Ketika jauh dari orangtua, terbesit kerinduan untuk segera pulang ke kampung halaman. Ketika berada di tempat kerja, terlintas kerinduan untuk segera pulang ke rumah. Ketika berada di luar negeri, muncul kerinduan untuk segera pulang bertemu sanak keluarga dan handai tolan. Kalaulah disadari, bahwa sesungguhnya kepulangan-kepulangan kecil ini adalah pengantar sekaligus ‘pemanasan’ sebelum menjalani kepulangan besar.


“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) “. (Al-Baqarah: 281)

Insya Allah kita diberi kemudahan dan kepahaman untuk niat amal dan sampaikan.

 


 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 14, 2012 in Sucikan Hati

 

Perbanyak Dzikir

Firman Allah swt.

artinya : “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. Al Ahzaab : 41-42)

Hadist

Dari lbnu Abbas r.huma, Rasulullah saw. bersabda, Barangsiapa di antara kalian yang tidak dapat beribadah pada malam hari karena malas, dan tidak menginfakkan hartanya karena kikir; dan tidak berjihad karena takut, maka perbanyaklah dzikrullah.” (Al-Bazzar).

Dengan memperbanyak dzikir, maka kesalahan-kesalahan dalam ibadah akan tertutupi. Dari Anas r.a, Rasulullah saw. bersabda, “Dzikir adalah ciri—ciri keimanan dan akan membebaskan dari sifat nifak, melindungi dari syaitan, dan melindungi dari api neraka.” Sangat banyak keuntungan dzikir terutama dapat menyelamatkan dari penguasaan syaitan, dan dzikir membantu untuk menghalanginya. Disebutkan dalam hadits bahwa syaitan selalu rnenyelubungi hati seseorang, kecuali jika ia berdzikir kepada Allah, maka syaitan akan meninggalkannya dengan rasa hina dan rendah. Dan jika seseorang lalai, maka syaitan akan memasukkan rasa was—was ke dalam dirinya. Oleh sebab itu para ahli sufi berlatih memperbanyak dzikir agar hati tidak merasa was-was. Kekuatan dzikir membuat hati mampu melawannya. Inilah rahasia kekuatan hati para sahabat r.hum., sehingga mereka memperoleh derajat yang tinggi. Itulah keberkahan bersahabat dengan Nabi saw, padahal beliau tidak perlu menekan para sahabat r.hum.

Seiring dengan bertambah jauhnya masa kini dengan zaman Rasulullah saw., maka usaha menguatkan hati sangatlah penting. Dewasa ini, hati manusia telah mencapai suatu derajat kerusakanyang sangat parah, sehingga berbagai usaha penyembuhan tidak dapat menyembuhkan penyakit ini. Seandainya berhasil, keberhasilan itu merupakan keuntungan yang besar. Bahkan menghalangi penyakit agar tidak menjalar pun sudah merupakan suatu usaha yang baik. Diceritakan tentang seorang ahlullah yang berdoa agar Allah swt. membukakan pintu kasyaf baginya, yakni bagaimana syaitan menggoda dan memasukkan rasa was-was ke dalam hati manusia. Maka Allah swt. mengabulkan doanya. Ia dapat melihat ke arah sebelah kiri hatinya ketika syaitan akan memasukkan belalainya. Syaitan itu berbentuk seperti nyamuk yang sedang duduk dengan belalai panjang di mulutnya, bentuknya seperti jarum. Jika ia berdzikir kepada Allah, belalai itu akan segera ditarik ke belakang. Dan jika ia lalai, melalui belalai tersebut, syaitan akan memasukkan rasa was-was dan racun dosa ke dalam hatinya. Sebuah hadits menyebutkan bahwa syaitan selalu duduk sambil meletakkan ujung hidungnya di hati manusia. Jika hati itu berdzikir maka dengan perasaan hina syaitan akan mundur ke belakang. Dan jika hatinya lalai dari dzikrullah, maka hati orang itu akan dijadikan sasaran godaan dan serangannya.

Oleh karena itu, perbanyaklah berdzikir dan basahi lidah ini dengan dzikrullah. Karena sebenarnya kegiatan dzikir ini sangat mudah dilakukan dan sangat besar manfaat dan pahalanya.

Semoga kita diberi kemudahan untuk niat amal dan sampaikan.

Insya Allah

Sumber : fadhilah Amal

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 3, 2012 in Sucikan Hati