RSS

Shalat Itu Harus Ikhlas

02 Feb

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta`atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya)”. (QS Al-A’raaf : 29)

Shalat itu harus tulus dikerjakan karena Allah. Bukan karena yang lain. Shalat yang tidak yang disertai ikhlas kepada Allah hanya akan menjadi sebuah gerakan olahraga biasa yang tidak berpahala. Bahkan, sangat mudah diganggu setan. Sebaliknya, shalat yang disertai ikhlas akan menjadi kekuatan yang maha dahsyat, lebih kokoh dari gunung-gunung tinggi menjulang. Kisah berikut ini membuktikannya.

Sebuah kisah tentang kekuatan ikhlas yang dinukil Imam lbnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah, “Wal jibala arsaha” (Dan Kami jadikan gunung-gunung sebagai pasaknya) (An-Nazi’at: 32)

Pagi itu, seperti biasa, Rasulullah mengajak para sahabatnya berbincang—bincang seputar masalah agama. Di tengah kerumunan para sahabat, terlihat Anas bin Malik yang sangat khusyu’ menyimak hikmah-hikmah yang keluar dari mulut beliau.

Selanjutnya, Anas mendengar Rasulullah menuturkan, “Ketika Allah menciptakan bumi lalu menghamparkannya, menciptakan gunung-gunung kokoh dan menancapkannya, para malaikat terkaget-kaget.” “Duhai Rabb, Adakah yang lebih hebat penciptaannya dari gunung?” tanya malaikat. Allah menjawab, “Ya ada, yaitu besl.” Malalkat terus bertanya, “Ya Rabb, adakah yang lebih hebat penciptaannya dari besi?”. Allah menjawab, “Ya ada, yaitu api.” Malaikat kembali bertanya, “Ya Rabb, adakah yang hebat penciptaannya dari api?” Allah menjawab, “Ya ada, yaitu air.” Malaikat bertanya, “Ya Rabb, adakah yang lebih hebat penciptaannya dari air?” Allah menjawab, “Ya ada, yaitu angin.” Malaikat, “Ya Allah adakah yang lebih hebat penciptaannya dari angin?” Allah menjawab, “Ya ada, yaitu anak Adam yang selalu lkhlas, saking ikhlasnya, ia berinfak dengan tangan kanannya hingga tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Sedangkan orang yang tidak ikhlas biasanya gerakannya melawan gravitasi bumi, banyak mengeluh dan gampang tumbang oleh hal hal sederhana, Kisah berikut ini juga bagus untuk menjadi pelajaran bagi yang beramal tapi belum ikhlas karena Allah, atau yang ingin sedikit belajar bagaimana akibat ketidakikhlasan.

Dikisahkan dalam kitab Tanbihul Ghafilin oleh Al·Samarqandi, dari Ikrimah,

Suatu ketika, seorang abid (ahli ibadah) melewati sebuah pohon. Dia tiba-tiba sangat marah karena melihat orang-orang berduyun—duyun menyembah pohon itu. Si abid pun kembali ke rumahnya mengambil kapak dan kembali untuk menebang pohon itu. Namun, di perjalanan ia dicegat iblis yang menyerupai manusia melarang abid menebang pohon itu. Sang Abid bersikeras bahwa pohon itu harus ditebang, karena merupakan penyebab kesyirikan, menduakan Allah. Namun, iblis terus mencegatnya hingga terjadi pergulatan. Dengan mudah, abid mengalahkan iblis yang merupa sebagai manusia biasa. Karena kalah, iblis kemudian menawarkan dua dinar yang akan ditaruh di bawah bantal abid setiap harinya. Abid pun setuju, dan beberapa hari berikutnya ia begitu menikmati dua dinar pemberian yang ditaruh di bawah bantalnya. Hingga hari kesekian, seperti biasanya, abid terbangun, namun kali ini ia tidak menemukan apa—apa di bawah bantalnya. “Kurang ajar, aku telah ditipu, sekarang aku akan menebang pohon itu,” seru abid geram. Dijalan ia kembali ditemui iblis dalam bentuk manusia itu Iagi seraya ditanya, “Hendak kemanakah engkau, abid?”. Dengan masih marah, abid menjawab, “Aku akan menebang pohon yang disembah itu.” lblis menukas, “Engkau berbohong, bukan karena itu engkau hendak menebangnya.” Abid terus melangkah untuk menebang pohon yang disembah orang itu, sehingga iblis itu marah dan membantingnya ke tanah Ialu mencekiknya erat, seraya bertanya, “Tahukah engkau, siapakah aku sebenarnya? Aku adalah iblis! Engkau datang pertama kall hendak menebang pohon itu karena semata membela Allah sehingga aku tidak mempunyai cara mengalahkanmu. Lalu, aku perdaya engkau dengan dua dinar dan engkau pun tidak jadi menebangnya. Karena engkau sekarang datang karena marah demi dua dinar itu maka aku dapat mengalahkanmu. Hanya dengan keikhlasan engkau bisa mengalahkanku.”

Hikmah dari cerita ini bahwa seseorang yang beribadah termasuk shalat karena iming-iming dan jauh dari nilai-nilai ketulusan akan sangat mudah tarpengaruh oleh faktor-faktor eksternal.

Insya Allah, dengan keikhlasan, langkah kita dalam mengarungi kehidupan ini akan terasa ringan.

Wallahu a’lam bish-shawab

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 2, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s