RSS

Shalatlah, Karena Waktu Hidup Anda Tinggal Sedikit

14 Feb

YA, waktu kita sedikit. Kita sudah berada di ujung zaman. Atau, dalam kosakata persepakbolaan sudah berada pada “injury time”. Pada waktu ini biasanya para pemain akan habis-habisan walaupun sudah Ietih.

Kita hidup di ujung waktu, cukuplah perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada tubuh kita menjadi penasehat yang baik untuk kita menyadari siapa diri ini sebenarnya dan kemana arah hendak dituju? .

Kita berada, dimana Hari Kiamat sudah menjelang. Berapa banyak waktu yang telah kita gunakan beramal shaleh dalam hidup ini. Sudahkah kita menggunakan beberapa jenak waktu kita untuk bersama dengan orang-orang shaleh guna melembutkan hati kita, agar arah hidup kita lebih lurus? Pernahkah kita membangun niat untuk mengerjakan shalat secara sungguh-sungguh?

Dan, kalau kita sudah melakukan sholat, maka jangan hiraukan omongan semua orang.

Terkadang, kita sering mendengar komentar miring tentang orang yang shalat atau yang baru memulai sholat; “dasar lo, sok alim” atau, “tumben lho, tiba-tiba sholat”, atau peci dan sarungnya tidak maching tuh”, atau “rapih amat mo sholat aja”, atau ” sudah bau tanah baru mau sholat” atau, “percuma aja lo sholat tidak yang puji” atau sekarang koq sudah agak reliji ya” dan seterusnya.

Sesungguhnya kritikan pedas dan komentar orang tentang kebaikan yang dikerjakan tidak akan pernah habisnya. Shalat, dikomentari. Tidak shalat, -apalagi-, komentamya lebih pedas. Karena itu, jika shalat dan hati sudah merasa nyaman maka tidak perlu merasa gelisah dengan omongan semua orang. Jika Anda sudah shalat, pada saat itu jiwa Iepas dan bebas seperti digambarkan orang-orang shaleh bagaikan rajawali yang terbang bebas menggapai ridha-Nya.

Kisah berikut ini barangkali bisa menjadi salah satu renungan kita. Kisah ini dinukil dari kitab Mi`ah Wa Qashshah karya Muhammad Amin Al-jundi.

Suatu kali, tersebutlah Juha, yang ingin memberikan pelajaran kepada anaknya agar mendapatkan manfaat yang bisa digunakannnya dalam menghadapi hidup nantinya. Dia pun mengambil seekor keledai Ialu menungganginya dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, Iewatlah sebagian wanita yang Ialu menyoraki Juha, “Wah, ada apa dengan orang ini! Tidakkah ada kasih sayang di hatimu? Kok, kamu yang naik sedangkan anakmu yang kecil itu kelelahan berjalan di belakang?” Mendengar itu, Juha pun turun dari dan menyuruh sang anak yang naik. Tak berapa lama berjalan, mereka melewati segerombolan orangtua yang sedang duduk di bawah tarik matahari, mereka pun berkata, “Wahai orang tua, mengapa kamu berjalan kaki meski sudah tua sementara anakmu kau biarkan naik kendaraan. Bagaimana kamu bisa mendidiknya agar memiliki rasa malu?”. Apakah kamu mendengar omongan mereka? Kalau begitu, mari kita naik bareng-bareng,” kata Juha kepada anaknya. Lalu, mereka bersama menunggangi keledai yang sebenarnya ukurannya tak seberapa. Tetapi di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan sekelompok orang yang dikenal sebagai kelompck pencinta binatang. Melihat pemandangan itu, mereka meneriaki sang ayah dan anak, “Takutlah kepada Allah, kasihanilah binatang yang kurus-kering itu. Kenapa kalian berdua menungganginya padahal berat kalian lebih berat daripada keledai ini?” “Kamu dengar tadi?” kata juha kepada anaknya sambil ia turun dan menurunkan anaknya. “Kalau begitu, mari kita berjalan bersama- sama dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita,” kata Juha Iagi. Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan, sementara keledai berjalan di depan mereka. Tak mereka sangka, mereka melintasi segerombolan pemuda. Melihat pemandangan Juha dan anaknya, pemuda gerombolan ini tak tinggal diam, “Demi Allah, yang pantas adalah keledai itu yang menaiki kalian bardua, sehingga kalian dapat membuatnya terhindar dari kendala—kendala dijalan.” Juha rupanya terpengaruh dengan ucapan pemuda tersebut. Juha dan anaknya kemudian memikul keledai mereka menggunakan batang kayu yang mereka temukan di jalan. Baru saja Juha dan anaknya berlalu melanjutkan perjalanan, orang-orang di belakang mereka menertawakan pemandangan yang aneh tersebut. Karena dianggap gila, mereka berdua digiring oIeh pemuka setempat untuk dimintai keterangan. Setelah ditangkap, Juha pun menjelaskan ringkasan percobaannya. Dia menoleh ke arah anaknya, “Wahai anandaku, inilah akibat bagi orang yang selalu mendengar omongan orang-orang. Serta hanya ingin mendapatkan kerelaan semua orang.”

Karena itu, teruslah shalat dan tidak terlalu pusing dengan omongan semua orang.

Sesungguhnya kepulangan kepada Allah adalah sebuah fitrah. Kepulangan-kepulangan kecil di dunia adalah sebagai pendahuluan sebelum kita mengalami kepulangan besar. Ketika jauh dari orangtua, terbesit kerinduan untuk segera pulang ke kampung halaman. Ketika berada di tempat kerja, terlintas kerinduan untuk segera pulang ke rumah. Ketika berada di luar negeri, muncul kerinduan untuk segera pulang bertemu sanak keluarga dan handai tolan. Kalaulah disadari, bahwa sesungguhnya kepulangan-kepulangan kecil ini adalah pengantar sekaligus ‘pemanasan’ sebelum menjalani kepulangan besar.


“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) “. (Al-Baqarah: 281)

Insya Allah kita diberi kemudahan dan kepahaman untuk niat amal dan sampaikan.

 


 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 14, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s