RSS

Manusia punya Energi Menolak Kemunkaran

24 Feb

Menurut hasil penelitian Virginia Tech, yang dipublikasikan oleh Journal of Royal Society Interface, hanya dengan sekali bersin seseorang telah mengontaminasi satu ruangan dengan virus flu. Virus tersebut tetap akan aktif walaupun telah lewat satu jam.

Yang mencengangkan, setelah menganalisis sampel udara dari tiga jenis ruangan, yaitu pesawat terbang, ruang tunggu sebuah klinik kesehatan, dan ruang perawatan, diketahui bahwa setiap meter kubik udara terdapat 16 ribu partikel virus flu. Masya Allah!

Itu baru satu jenis virus. Padahal jumlah jenisnya saja tak terhitung, apalagi jumlah populasinya.

Dengan demikian, jika sampai sekarang populasi manusia masih tetap eksis, itu menunjukkan bahwa manusia memiliki daya tahan tubuh luar biasa.

Jika secara fisik manusia dapat bertahan karena dibekali pertahanan yang kokoh seperti itu, maka demikian pula secara non fisik (kejiwaan), pasti ada sistem pertahanan yang juga luar biasa.

Keselamatan jiwa (hati) menjadi barometer eksistensi diri manusia. Sebab, manusia yang hatinya rusak tidak bisa disebut manusia. Ia telah terjerembab dalam kasta binatang.

Allah swt dalam Al Qur’an surat Al-A’raf [7] ayat 179, menjelaskan bahwa isi neraka Jahannam itu kebanyakan berasal dari bangsa jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah swt. Mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah.

Mereka itu, kata Allah swt, bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Sebagai penegas, Allah swt juga berfirman :

” atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (QS Al-Furqan:44)

Oleh sebab itu, wajar bila manusia normal memiliki fitrah untuk menyelamatkan diri, baik secara fisik maupun non fisik, dari berbagai bahaya (madharrat) yang mengancam eksistensinya. Hanya orang stress yang nekat bunuh diri, atau orang gila yang mau makanan busuk yang kotor dan membahayakan.

Yang harus dicegah.

Fitrah normal yang mendorong manusia untuk menarik sebanyak mungkin manfaat, juga terwujud dalam bentuk dorongan untuk menolak madharrat.

Semangat untuk mengejar peluang kebaikan memberikan daya tolak yang setara terhadap peluang keburukan. Contoh terbaik dalam hal ini tak lain adalah Rasulullah saw. Betapa sering Rasulullah saw berdoa menggunakan kata “as aluka” (aku meminta kepada-Mu). Beliau juga sering menyebut manfaat yang beliau inginkan ketika berdoa. Misalnya, “Allahummaghfirlii warhamnii”.

Beliau juga kerap menggunakan kata yang mengindikasikan penolakan dan pencegahan. Misalnya, “a’udzu”. Semua doa yang diawali dengan kata itu pasti bermakna penolakan terhadap madharrat dan pencegahan dari musibah yang akan menimpa.

Selain hal-hal diatas, hal lain yang kerap dilakukan Rasulullah saw adalah :

  1. Senantiasa memohon agar selalu memberi manfaaat dan menghindari potensi kemungkaran. Pada waktu pagi Nabi saw berdoa: Ya Allah ya Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan di waktu sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan di waktu sesudahnya (riwayat Muslim). Begitu pula banyak doa yang senantiasa beliau panjatkan secara rutin, baik di pagi maupun sore hari.
  2. Nabi saw juga memohon kepada Allah swt untuk dibebaskan dari kemungkaran pihak manapun tanpa terkecuali, dengan doa, “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak akan dilampaui seorang yang baik mapun yang jahat, dari keburukan yang ia ciptakan dari keburukan segala yang turun dari langit dan yang naik ke langit, dan dari keburukan segala yang ia ciptakan di bumi dan yang ke luar darinya” (riwayat Ahmad)

Masih banyak doa-doa Nabi saw yang menandakan sikap waspada dan antisipasi dari berbagai macam bahaya yang terbayangkan maupun yang tidak terduga.

Pihak Pengancam

Ada tiga pihak yang menjadi ancaman manusia terkait eksistensi kehambaan di hadapan Allah swt. Pertama, setan/iblis. Sejak awal penciptaan manusia, iblis telah bersumpah serapah dengan mengatakan:

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”. (QS Al Hijr:39)

Setan mengepung untuk menggoda manusia dari segala sisi. Allah swt mengungkap upaya mereka:

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at). (QS Al A’raf:17)

Kedua, nafsu yang melekat dalam diri manusia. Pada dosis tertentu, nafsu sebenarnya mempunyai manfaat bagi manusia. Namun jika dosisnya lebih dari itu akan menjelma menjadi racun spiritual yang sangat berbahaya. Apalagi setan juga tidak pernah absen mencari kesempatan untuk menungganginya.

Allah swt mengabadikan perkataan emas Zulaikha, istri Al-Aziz, dalam Al Qur’an surat Yusuf ayat 53. Kata Zulaikha,”aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan….”

Ibn Katsir menerangkan makna ayat ini. Katanya, “Nafsu sering kali mendorong pemiliknya untuk berbuat keburukan, misalnya dosa besar, karena nafsu adalah kendaraan setan dan dari situlah setan masuk pada diri manusia (Ibn Katsir, tafsir Al-Qur’an al-adzim, I/400)

Semua manusia pernah takluk kepada nafsu untuk bermaksiat kepada Allah swt, baik kafir maupun Muslim. Banyak hal yang dapat dijadikan bukti atas keberhasilan ideologi nafsu. Dominasi ideologi liberal saat ini adalah bukti kesuksesan nafsu. Menurut kaum liberal, atas dasar kebebasan berpendapat, tak dilarang mengkritik dan menghujat agama dan para Nabi.

Ketiga, manusia yang menjadi kawan setan dan budak nafsu. Mereka adalah sesama manusia yang menjadi penerus misi setan untuk menyesatkan orang lain melalui berbagai upaya.

Usaha mereka bermacam-macam. Mulai dari bujukan, sanjungan, pemberian fasilitas, sampai pada tingkat pemaksaan dan pembunuhan secara nyata.

Tentang hal ini, Allah swt menjelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 217. Kata-Nya, “….Mereka (orang-orang kafir) tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…………”

Melihat semua dalil dan data kongkrit di atas, tak ada pilihan lain bagi seorang muslim kecuali harus melakukan upaya pertahanan, penolakan, dan pencegahan sebagai wujud panggilan fitrahnya.

Fitrah itu menghendaki keselamatan seutuhnya, baik raga dan jiwa, di dunia maupun di akhirat, bagi diri maupun orang-orang yang dicintainya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selamat.

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 

Sumber : Hidayatullah edisi Januari 2012

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 24, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s