RSS

“Sudah kayakah kita”

29 Feb

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kaya itu bukanlah dengan harta yang berlimpah, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kaya hati.” (muttafaq “Alaih – Misykat)

Maksud dari hadits ini jelas sekali. Jika hati seseorang tidak kaya, walaupun hartanya banyak, pengeluarannya akan berkurang sehingga lebih kurang dari pengeluaran orang-orang miskin (kikir / bakhil). Walaupun hartanya banyak, namun ia selalu berpikir untuk menambahnya. Pikirannya untuk menambah harta akan melebihi pikiran orang-orang miskin dalam menanggung hidup mereka. Jika hati seseorang itu kaya, walaupun hartanya sedikit, tetapi jiwanya akan tetap tenang. Ia akan bebas dari pikiran dan kerisauan untuk menambah hartanya.

Imam Rahib rah.a. berkata “Ghinâ (kaya) digunakan untuk beberapa arti:

  1. Tidak memerlukan apapun. Berdasarkan pengertian ini, maka Al Ghanî (Yang Mahakaya) itu hanya Allah swt. Ia tidak memerlukan sesuatu apapun. Dari segi arti ini, Allah swt. Berfirman:


    ‘Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.'(Q.s. Fathir:15)

  2. Kurang memiliki keperluan. Mengenai maksud ayat ini, Allah swt. Berfirman:


    ‘dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.'(Q.s. Adh-Dhuha:8)

    Terhadap pengertian inilah hadits di atas disabdakan oleh Nabi saw. Bahwa kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.

     

  3. Kelebihan harta dan keadaan dari segi kebendaan. Ayat Al-Qurán yang berkenaan dengan pengertian seperti ini adalah:

    Þ

    “… orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya,….. (Q.s. Al-Baqarah:273)

    Maksud ayat ini adalah, orang yang benar-benar berhak menerima sedekah adalah orang yang sibuk di jalan Allah swt. dan karena mereka tidak meminta-minta, orang yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya menganggap mereka adalah orang kaya.

     

Abu Dzar r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Hai Abu Dzar, apakah menurutmu banyak harta itu kaya?” Abu Dzar r.a. menjawab, “Ya Rasulullah, benar”. Nabi saw. bersabda, “Kekayaan adalah kaya hati dan kemiskinan adalah miskin hati.” (At-Targhib).

Demikianlah, hakikat kekayaan adalah kekayaan hati. Orang yang bernasib baik dan beruntung saja yang dikaruniai Allah swt. sifat ini. Inilah zuhud yang sebenarnya. Barangsiapa yang dalam hatinya tidak ada sedikitpun kecintaan terhadap harta, maka dialah orang kaya sebenarnya, walaupun ia tidak memiliki harta apapun, dan dialah orang zuhud yang sebenarnya. Barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap harta, maka ia adalah orang yang miskin walaupun ia memiliki harta kekayaan yang banyak dan ia adalah seorang ahli dunia.

Al Faqih Abu Laits Samarqandi rah.a. menulis untaian kata-kata hikmah dari seorang ahli hikmah, bahwa kita telah mencari empat perkara, dan dalam mencarinya, ternyata kita telah salah faham.

  1. Kita mencari kekayaan dalam harta, padahal kekayaan itu bukan dalam harta, tetapi dalam qana’ah (rasa puas dan menerima apa adanya). Namun kita selalu mencarinya dalam harta. Bagaimana mungkin kita akan mendapatkannya jika ternyata kekayaan itu tidak terdapat dalam harta.
  2. Kita mencari ketenangan dan kesenangan dalam harta yang melimpah, padahal ketenangan itu terdapat dalam harta yang sedikit.
  3. Kita mencari kemuliaan dari makhluk (berbuat sesuatu agar kita dihormati), padahal kemuliaan itu hanya ada dalam taqwa (barangsiapa yang lebih bertaqwa, maka ia akan lebih memahaminya)
  4. Kita mencari nikmat Allah swt. dalam makan dan minum (dan menganggapnya sebagai nikmat Allah swt. yang terbesar). Padahal nikmat Allah swt. yang terbesar adalah dalam Islam dan ampunan dosa (barangsiapa yang telah menerima kedua nikmat tersebut, berarti ia telah menerima nikmat Allah swt yang terbesar).

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa yang tujuan hidupnya hanya untuk dunia, maka Allah swt akan membebani hatinya dengan tiga hal: 1) kecemasan yang tiada akhir, 2) Kesibukan yang tidak pernah lapang, 3) Kesempitan yang selalu menghimpit.” (Tanbihul-Ghafilin)

Rasulullah saw. bersabda,”Apabila kamu melihat seseorang yang dikaruniai Allah swt. rasa tidak berminat kepada dunia dan sedikit bicara, maka bergaullah kamu dengannya, karena sesungguhnya ia telah dikaruniai hikmah oleh-Nya.” (Misykat)

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 

 

 

 

 

 

 


 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 29, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s