RSS

Arsip Bulanan: Maret 2012

Menyadari Pentingnya Setiap Detik

Jika orang Barat berkata waktu adalah uang (time is money), lalu bangsa Arab mengibaratkan waktu laksana pedang yang jika tidak ditebas, ia akan menebas. Islam mengajarkan waktu adalah kehidupan.

Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan. Hakikat perjalanan waktu tidak ada yang mulia atau hina, hanya peristiwanya saja yang selalu mengisi waktu dalam keadaan mulia atau hina.

Sumpah Allah dengan keseluruhan waktu menjadi petunjuk atas hal itu. Dalam Al-Qur`an Allah bersumpah dengan waktu Fajar, Subuh, Dhuha, Siang, Ashar dan Malam. Di samping untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, sumpah Allah dengan waktu merupakan isyarat agar manusia mempergunakan waktu yang dimiliki secara optimal.

Waktu terus berjalan, dan tak akan pemah kembali lagi. Seorang ahli bijak, Bill Keane mengatakan, “Waktu cuma ada tiga; Kemarin, esok dan hari ini”. Kemarin adalah masa lalu yang sudah menjadi sejarah, dan esok adalah masa depan yang masih tanda tanya, sementara hari ini adalah hadiah, karena itu disebut ‘present’.”

Hari-hari yang dilalui seorang muslim tanpa shalat, menjadi sejarah kelam tanpa berarti apa-apa, hari-harinya lewat begitu saja tanpa peristiwa mulia dalam hidupnya. Meninggalkan jejaknya tanpa mencetak sejarah yang memuliakan namanya. Padahal, begitu cepatnya waktu berlalu. Perasaan kita; baru saja kita berada di hari jum’at, kini sudah dihampiri lagi oleh jum’at berikutnya dan begitu selanjutnya, padahal amal tidak bertambah.

Ibnu Mas’ud suatu ketika berkata, “Tidak ada yang lebih aku sesali daripada penyesalanku terhadap hari ketika matahari tenggelam sementara umurku berkurang, tapi amalku tidak bertambah.”

Coba kita mencoba belajar memahami setiap detik perjalanan waktu dengan cara-cara berikut ini:

  1. Untuk meresapi makna setahun, tanyakan kepada seorang siswa yang gagal dalam ujian nasionalnya, pasti ia akan rnenyesal karena harus menunggu setahun lagi.
  2. Untuk memahami makna sebulan, tanyakan kepada seorang ibu yang melahirkan secara premature, pasti ia merasa sedih karena buah hatinya lahir tidak sempuma, seandainya ia diberikan waktu menunggu sebulan lagi, ia pasti siap menunggu demi kesehatan buah hatinya.
  3. Untuk memahami makna sepekan, tanyakan kepada seorang editor majalah mingguan, ia pasti bekerja keras selama sepekan untuk mengejar deadline berita
  4. Untuk memahami makna sehari, tanyakan kepada pekerja harian, ia akan merugi apabila sehari tidak bekerja, karena gajinya berdasarkan perhitungan harian. Sehari tidak bekerja, itu artinya ia tidak memperoleh upah sedikit pun.
  5. Untuk memahami makna sejam, tanyakan kepada seorang gadis yang menunggu kekasihnya. Sejam baginya terlalu berarti, ia akan diterpa kegelisahan apabila pada durasi waktu yang seperti itu belum bertemu dengan sang kekasih.
  6. Untuk memahami makna semenit, tanyakan kepada seorang penumpang yang ketinggalan kereta api, ia pasti akan menyesal apabila tertinggal satu menit, karena harus menunggu kereta berikutnya, dan itu akan sangat berpengaruh pada jadwal perjalanan-perjalanan selanjutnya sebelum ia tiba ke rumahnya.
  7. Untuk memahami makna satu detik, tanyakan kepada seorang yang selamat dari kecelakaan; pesawat, mobil atau motor, dll, seandainya dalam hitungan detik ia bisa menghindar mungkin ia tidak celaka.
  8. Untuk memahami mili detik, tanyakan kepada para atlit lari dan lomba-lomba balap motor, seperti Valentino Rossi, Sebastian Vettel dsb, mereka menyentuh garis finish berdasarkan dalam hitungan mili detik.

Bagi seorang muslim waktu bukan saja sebagai time to making money (mencari uang) tapi juga ibadah. Di sinilah rahasianya, kenapa dalam beberapa ayat Al-Qur`an, Allah seringkali bersumpah dcngan nama waktu, (Wal Fajr -Demi waktu Fajar, walail -Demi wuktu Malam, wal ashr —Demi Masa-, dan selanjutnya). Sebagian ahli tafsir menjelaskan itu untuk menandakan bahwa waktu itu terlalu penting dan mulia di sisi Allah. Karena itu, Are you ready to be responsible to Allah, how you use every milli-second of your time?

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 15, 2012 in Sucikan Hati

 

Manisnya Iman

Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

dakwatuna.com – Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah swt.
Apa buktinya bila seseorang telah merasakan manisnya Iman?
Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24

“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan perasaan ridha

Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.

Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?

Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah

Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqat”, lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.

“Istildzaadz at-thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :

رَحِمَ الله ُنِسَاءَ اْلاَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَاتِ لَمَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِنَّ “وَلْيَضْرِبْنَ مِنْ جَلاَ بِيْبِهِنَّ عَلَى جُيُوْ بِهِنَّ” شَقَقْنَ مُرُوْطَهُنَّ فَلْيَخْتَمِرْنَ بِهَا

“Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya

Abu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika mendengar seruan jihad, Dalam surat At-Taubah : 41

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.”

Abu Ayub berseru kepada anak-anaknya, “Jahhizuuny! Jahhizuuny!” siapkan peralatan perangku!. Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad, karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku, yang dimaksud ayat tersebut adalah خِفَافًالَكُمْ وَثِقَالاً لٍي , ringan bagi kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Sedangkan Lezatnya kesulitan (Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam, sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka, bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi dakwah Nabi seraya berkata,

“Coba kau robek kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar utusan Allah.”

Yang lainnya pun turut berkomentar,

“Apa tidak ada lagi orang yang lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?”

Dengan penuh kesabaran dan ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung Alaihissalaam menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Tetapi aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka kelak orang-orang (generasi) yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.”

Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman Allah :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Ibrahim : 24)

Yang dimaksud kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimatul ikhlas لا اله الا الله, batang pohonnya adalah pangkal iman, cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya.

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ)). (رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم).

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)

عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ((ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً)) (رواه مسلم).

Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan tiga hal.

Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya

Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 30-31, 33 : 59)

Menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.

عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قاَلَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلِايْمَانِ :اَلاْنِفْاَقُ مِنَ اُلاِقْتَارِ ، وَإِنْصَافُ النَّاسِ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ (رواه عبد الرزاق) علقه البخاري في (كتاب الايمان)

Amar bin Yasir berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan keselamatan (salam) bagi alam.” (Diriwayatkan Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman).

Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman

Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya

Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya

Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ يَجِدْ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلاِيْمَانِ : تَرْكُ اْلمِرَاءِ فيِ الْحَقِّ ، وَاْلكِذْبُ فِي اْلمُزَاحَةِ ، وَيَعْلَمُ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ. (رواه عبد الرزاق)

Ibnu Mas’ud juga berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya akan merasakan manisnya iman, menghindari perdebatan dalam hal kebenaran, tidak berdusta dalam bercanda, dan menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” (Diriwayatkan Abdurrazzaq).

عن أنس مرفوعا: “لاَ يَجِدُ عَبْدٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتىَّ يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ … ” الحديث . أخرجه ابن أبي عاصم ( 247 ) بإسناد حسن عنه. (الألباني – السلسلة الصحيحة)

Dari Anas secara marfu’ mengatakan, “Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya keimanan sehingga dia menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” Hadits tersebut dikeluarkan Ibnu Abi Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits sahih karya Imam Albani.

(قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ) * وَالْغَضُّ عَنِ الْمَحَارِمِ يُوْجِبُ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ، وَمَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلّهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ، وَمَنْ أَطْلَقَ لَحَظَاتِهِ دَامَتْ حَسَرَاتُهُ. (فيض القدير 1/677).

“Katakanlah kepada mukmin laki-laki agar menahan pandangan mereka…” (An-Nur: 30). Yaitu menahan dari apa yang diharamkan Allah swt. pasti akan mendatangkan manisnya iman, dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya, dan barangsiapa yang membebaskannya walau hanya sekejap maka akan abadi penyesalannya”

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَلاَ تَجِدُ امْرَأَةٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا عَلَى قَتَبٍ.” (المعجم الكبير للطبراني)

Dari Muadz bin Jabal berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada yang lainnya, maka akan aku perintahkan isteri sujud kepada suaminya, karena hak-hak suami atasnya, dan tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya iman sehingga Ia menunaikan hak suaminya, walaupun suaminya memintanya, sedang Ia sedang berada di atas sekedupnya

قاَلَ اِبْنُ رَجَبْ فِي (فَتْحِ الْبَارِي: 1/27): فَإِذَا وَجَدَ اْلقَلْبُ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ أَحَسَّ بِمَرَارَةِ اْلكُفْرِ وَاْلفُسُوْقِ وَاْلعِصْيَانِ وَلِهَذَا قَالَ يُوْسُفُ عَلَيْهِ السَّلاَم ُ: {رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ} [يوسف33].

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 12, 2012 in Sucikan Hati

 

Sholatlah tepat waktu

Rasulullah saw. Bersabda,”Barangsiapa meninggalkan sholat hingga lewat waktunya, lalu ia mengqadhanya, maka ia akan disiksa di neraka selama satu huqub. Satu huqub sama dengan delapan puluh tahun dan satu tahun terdiri dari 360 hari, dan ukuran sehari (akhirat) adalah seribu tahun (di dunia) (dari hitungan ini satu huqub sama dengan 28.800.000 tahun).” (Majaalisil-Abraar).

Dari segi bahasa, huqub artinya waktu yang sangat panjang. Tetapi, menurut kebanyakan hadits, huqub artinya masa di atas delapan puluh tahun. Demikian perhitungan yang ditulis dalam Durrul-Mantsur berdasarkan beberapa riwayat. Ali r.a. pernah bertanya kepada Hilal Hijri rah.a.,”berapa lamakah satu huqub itu?” Hilal Hijri rah.a. menjawab,”satu huqub adalah delapan puluh tahun, dan setahun itu dua belas bulan, dan dalam setiap bulannya terdiri dari tiga puluh hari, dan setiap harinya sama dengan seribu tahun.”

Abdullah bin Mas’ud r.a. meriwayatkan dengan shahih bahwa satu huqub adalah delapan puluh tahun. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. Bersabda,”satu huqub adalah delapan puluh tahun, dan satu tahun terdiri dari 360 hari, dan satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun perhitunganmu di dunia ini.” Juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar r.huma, ia berkata,”Hendaknya seseorang tidak merasa tenang bahwa dengan adanya iman, suatu saat pasti keluar dari neraka. Memang, setelah dibakar selama 28.800.000 tahun ia akan keluar, dengan catatan, tidak ada hal lain yang membuatnya tinggal lebih lama di neraka. Masih banyak lagi riwayat tentang satu huqub tersebut.

Dalam Qurratul-‘Uyuun, Abu Laits Samarqandi rah.a. menyebutkan sebuah hadits Nabi saw. Bahwa barangsiapa sengaja meninggalkan sholat fardhu, walaupun hanya satu sholat saja, maka akan tertulis namanya di pintu neraka yang harus ia masuki. Dari Ibnu Abbas r.huma, Rasulullah saw. pernah berdoa,”Ya Allah, jangan jadikan salah seorang diantara kami termasuk dalam golongan orang yang sengsara dan celaka.” Lalu beliau bertanya kepada para sahabat,”Tahukah kamu, siapakah orang yang sengsara dan celaka itu?” Jawab para sahabat r.hum., “Engkau lebih tahu, ya Rasulullah.” Sabda beliau,” orang yang sengsara adalah orang yang meninggalkan sholatnya. Di dalam Islam, mereka tidak akan mendapatkan apapun.”

Disebutkan dalam hadits yang lain,”Barangsiapa meninggalkan sholat tanpa alasan syar’i, maka pada hari kiamat Allah tidak akan mempedulikannya, bahkan Allah akan menyiksanya dengan adzab yang sangat pedih.”

Hadits lainnya juga menyebutkan,”Ada sepuluh orang yang akan disiksa sangat keras, diantaranya adalah orang yang melalaikan dan meninggalkan sholat. Tangan mereka akan dibelenggu, mulut mereka akan dikunci, dan para malaikat terus menerus memukuli mereka dari depan dan dari belakang. Surga berkata kepada mereka,”Kamu tidak memiliki hubungan apapun denganku. Aku bukan untuk orang sepertimu dan kamu bukan untukku.” Jahannam berkata,”Mari, kemari mendekatlah kepadaku, kamu untukku dan aku untukmu.” Dalam hadits ini diriwayatkan bahwa di neraka terdapat suatu lembah yang bernama lam –lam. Di dalamnya ada seekor ular yang sangat besar, sebesar leher unta, dan panjangnya seperti sebulan perjalanan. Ular itu diciptakan untuk menyiksa orang-orang yang meninggalkan sholat. Memang, Allah swt. Dengan mudah dapat mengampuni dosa hamba-Nya, tetapi siapakah yang dapat menjamin bahwa Allah swt. Akan mengampuni kita?

Di dalam Az-Zawajir, Ibun Hajar rah.a. menulis,”Seseorang wanita meninggal dunia, lalu saudara laki-lakinya ikut dalam pengebumiannya. Ketika penguburan, dompetnya terjatuh dan masuk ke liang kubur. Saat itu ia tidak memperhatikannya, tetapi kemudian ia teringat. Diam-diam, ia pergi ke kubur saudara perempuannya itu untuk mengambil dompetnya. Baru saja kubur itu dibuka, terlihat kobaran api memenuhi kubur itu. Ia sangat kaget terhadap kejadian itu. Lalu ia mengadukan kepada ibunya sambil menangis dan meminta penjelasan mengenai kejadian tersebut, “mengapa hal itu terjadi?” jawab ibunya,”saudara perempuanmu selalu malas mengerjakan sholat dan selalu mengqadha sholatnya.” Semoga Allah swt. Menjaga diri kita dari perbuatan tersebut.

Ancaman Allah swt. sangat keras mengenai sholat ini. Tetapi kadang kita yang mengaku sebagai umat Islam tidak menaruh perhatian mengenai hal ini. Ancaman melalaikan sholat saja sedemikian dahsyat, apalagi tidak mengerjakan sholat. Na’udzu Billahi min Dzalik.

Janganlah menunda-nunda perintah Allah swt. karena kita tidak pernah tahu sampai dimana umur kita. Bisa 20 tahun lagi, bisa 1 tahun lagi, bisa 1 hari lagi, atau bahkan 1 detik kedepan.

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 9, 2012 in Sucikan Hati

 

Janganlah sekali-sekali melalaikan Sholat

Dari Ibnu Abbas r.huma, Rasulullah saw. Bersabda, “Barangsiapa menyatukan dua sholat tanpa udzur, sungguh ia telah memasuki salah satu pintu dari pintu-pintu dosa besar.” (Hakim – At-Targhib)

Ali r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda,”Jangan melambat-lambatkan tiga hal: (1) Sholat jika telah tiba waktunya, (2) Jenazah jika siap dikuburkan, (3) Seorang gadis jika sudah menemukan jodohnya (cepat dinikahkan).”

Banyak orang yang mengaku sebagai orang yang taat beragama dan berdisiplin dalam menjaga sholat, namun terkadang mereka meng-qodho sholatnya di rumah masing-masing dengan alasan perjalanan, sibuk berdagang, atau bekerja. Padahal, banyak sekali waktu luang mereka. Jika hal itu dilakukan tanpa udzur, berarti mereka telah terjerumus ke dalam dosa besar, walaupun apa yang mereka lakukan hanya sholat tidak pada waktunya. Memang, dosanya tidak seperti dosa meninggalkan sholat, tetapi sholat tidak tepat waktu juga akan dapat menyeretkan pada dosa besar.

Di Hadist lain juga disabdakan sebagai berikut :

Dari naufal bin Mu’awiyah r.a., bahwa Nabi saw. Bersabda, “Barangsiapa terlepas satu sholatnya, seolah-olah ia telah kehilangan seluruh keluarga dan hartanya (Ibnu Hibban, At-Targhib).

Biasanya, sholat terabaikan karena sibuk dengan keluarga atau harta. Nabi saw. Bersabda,”Jika harta telah melalaikan satu sholat saja, maka kita harus bersedih seolah-olah kita telah kehilangan seluruh keluarga dan harta kita, tinggal kita sendiri di dalam rumah kita.” Jadi seberapa banyak kerugian kita jika kehilangan semua itu, sebanyak itu pula kerugian kita bila meninggalkan sholat. Begitu pula sejauh mana kita bersedih jika kehilangan keluarga dan harta kita, sejauh itu pula hendaknya kita bersedih jika kehilangan sholat. Jika ada seseorang yang terpercaya berkata bahwa di jalan itu ada perampok, siapapun yang melewati jalan itu pada tengah malam pasti akan dibunuh dan dirampoknya, maka siapakah yang berani melewati jalan itu pada malam hari?… Jika malam hari begitu menakutkan, siang hari pun orang-orang akan enggan melewat jalan itu. Sedangkan Rasulullah saw. Adalah orang yang sangat terpercaya. Beliau sering memperingatkan kita, tetapi kita sering melalaikannya. Kita sering mengaku sebagai pengikutnya yang setia, namun adakah pengaruh dari sabda beliau yang melekat pada diri kita?..

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 8, 2012 in Sucikan Hati

 

Hidup adalah Mitra, Carilah Mitra yang Bisa Menjadi Pesaing Ibadah

Hidup ini tergantung orang-orang yang ada di sekeliling kita alias siapa mitra dan teman hidup kita. Orang yang tidak memiliki teman atau pesaing maka hidupnya tidak akan tertantang. Pepatah Arab mengatakan, “Seburuk-buruk negeri adalah negeri dimana kita tidak punya teman atau pesaing.”

Kita akan bersemangat mengerjakan sebuah ibadah termasuk shalat, apabila keluarga, tetangga, warga, teman kantor, teman di mushalla yang sekomplek dengan kita adalah orang-orang yang memiliki motivasi dan semangat beribadah tinggi. Secara bertahap, kita akan kecipratan pengaruh positif dengan kebaikan dan keshalehan mereka. Sebaliknya, kita akan menjadi pribadi pemalas, kurang gairah mengerjakan aktivitas ibadah jika mitra hidup adalah orang-orang yang tidak memiliki orientasi akhirat yang terukur, malas beribadah bahkan jauh dari Allah swt. Serajin-rajinnya seseorang, suatu saat, lambat atau cepat ia akan terbawa oleh gaya hidup yang pemalas.

Sebagai ilustrasi sederhana. jika Anda hobi bermain bulutangkis. Lalu bertanding dengan yang memiliki teknik bermain indah serta smash tajam dan akurat, insya Allah sepanjang permainan, Anda akan terus bersemangat, bersaing, berupaya mengimbangi permainannya. Dan, tidak lama setelah itu, Anda juga akan pintar dan mahir seperti dia.

Akan tetapi, jika lawan main Anda biasa-biasa saja, bahkan Anda lebih baik dari dia. Maka, yang jadi, Anda tidak tertantang, skill tidak terasah bahkan cenderung terbawa arus permainan yang melelahkan lagi membosankan.

ltulah kemudian, mengapa Rasulullah menyarankan orang-orang mukmin mencari mitra hidup dari kalangan orang-orang shaleh. Karena, mereka ibarat penjual minyak wangi yang menebarkan aroma minyak wanginya walaupun tidak pada sampai dibeli. Sebaliknya, menghindari mitra hidup dari kalangan orang-orang jahat, karena merekaibarat tukang pandai besi. Tidak membeli pun, cipratan api sungguh sangat mengganggu.

Rasulullah bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah seperti penjual misk (minyak wangi) dengan peniup api (pandai besi). Si penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau membeli minyak itu darinya, atau engkau mendapatkan baunya yang harum. Sedangkan pandai besi, mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu mendapati bau yang busuk darinya.” (HR. Al·Bukhari dan Muslim)

Seorang salaf berkata, “Selain nikmat Islam, seseorang tidak diberi nikmat yang lebih baik dari seorang sahabat yang shaleh. Karena itu, jika seorang di antara kalian melihat kasih sayang dari saudaranya, pertahankan.”

Mitra hidup baik adalah sahabat yang bisa memotivasi shalat-shalat agar dikerjakan tepat pada waktunya. Mengingatkan kita ketika mulai menjauh dari Allah, bersahabat dengan kita dalam suka dan duka. Oprah Gail Winfrey, wanita Afrika Amerika pertama yang berhasil daftar miliarder versi majalah Forbes mengatakan, “Banyak orang yang ingin bersamamu ketika berada dalam mobil mewah. Namun, yang kita butuhkan adalah orang yang mau bersamamu ketika mobil itu rusak.”

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2012 in Sucikan Hati