RSS

Arsip Bulanan: April 2012

Imam AI-Ghazali: Shalat, Paling Ringan Ditinggalkan

Perbincangan dan diskusi penuh kehangatan seorang syaikh dengan murid-muridnya adalah hal yang biasa terlihat dalam sebuah halaqah atau masjid. Seperti biasanya, Imam AI-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya kesayangannya. Ia begitu mencintai mereka dan mereka pun mencintainya. Di sela-sela kehangatan itulah, Imam AI-GhazaIi mengajukan partanyaan kepada mereka, Pertama, “Wahai anak-anakku sekalian, apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?” tanyanya. Sebagian murid-muridnya ada yang menjawab, “Yang paling terdekat dengan diri kita di dunia ini adalah orangtua.” Sebagian ada yang menjawab, “Teman.” Sebagiannya Iagi, “Guru.” Sebagian Iagi, “keluarga.” Imam Ghazali kemudian menjelaskan, “Wahai anak-anakku sekalian, semua jawaban itu benar tetapi sesungguhnya yang paling dekat dengan kita adalah “mati.” Sebab itu sudah janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali-Imran: 185).

Lalu, Imam Ghazali meneruskan partanyaan yang kedua. “Wahai anak-anakku sekalian, apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab, “Yang paling jauh dari diri kita di dunia ini adalah negara Cina.” Sebagian menjawab, “Bulan.” Sebagian menjawab, “Matahari” Sebagian menjawab, “Bintang-bintang.” Imam Ghazali pun menjelaskan, “Wahai anak-anakku, bahwa semua jawaban yang kalian berikan adalah benar. Tapi, yang paling benar adalah “masa IaIu.” Bagaimanapun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dangan ajaran agama. Besok telah menjadi hari ini, hari ini telah berubah menjadi kemarin. Masa depan telah berubah menjadi masa Ialu, dan Ia akan semakin jauh meninggalkan kita.”

Lalu, Imam Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Wahai anak-anakku, apa yang paling besar di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab, “Gunung” Sebagian menjawab, “Bumi” Sebagian menjawab, “Matahari.” Imam AI-GhazaIi menjelaskan bahwa, “Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu” Sesungguhnya nafsu itu seIaIu menyuruh kepada keburukan. Karena itu, kita harus hati-hati dengan nafsu kIta,jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.”

Imam AI-GhazaIi kemudian melanjutkan pertanyaan keempat, “Apa yang paling berat di dunia ini?.” Sebagian murid ada yang menjawab, “Baja” Sebagian menjawab, “Besi” Sebagian menjawab, “Gajah.” “Semua jawaban kalian hampir benar” kata Imam Ghazali, tapi yang paling berat adalah “memegang amanah.” AIIah telah menyebutkan, “sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada Iangit, bumi dan gunung-gunung, namun semua menolaknya, dan amanah itu diterima oleh manusia, itulah bentuk kezhaliman dan kebodohan (AI-Ahzab: 72).” Walau semua makhluk AIIah menyatakan tidak sanggup, manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan AIIah, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Imam AI-Ghazali melanjutkan pertanyaan kelima, ‘Apa ` yang paling ringan di dunia ini?” Sebagian murid ada yang menjawab, “Kapas,” Sebagian menjawab, “Angin”, Sebagian menjawab, “Debu” Sebagian menjawab, “Daun-daunan.” “Semua itu benar” kata Imam Ghazali, “Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan shalat. Gara-gara pekarjaan kita tinggalkan shalat. Karena pertemuan kita tinggalkan shaIat.”

Lantas, Imam Al-GhazaIi pun melanjutkan pertanyaan ke enam, “Wahai anak-anakku, sekarang pertanyaanku yang terakhir untuk kalian, apakah yang paling tajam di dunia ini?” Murid-muridnya menjawab dengan serentak, “Pedang…” “Benar” kata Imam Ghazali. Tapi, yang paling tajam adalah “Iidah manusia”, karena melalui Iidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. Betapa banyak orang yang tergelincir hanya karena tak kuasa menjaga lidahnya.”

Memang begitu. Shalat itu paling mudah ditinggalkan. Hanya gara-gara sinetron, shalat tertunda, hanya gara-gara malas, shalat tidak dikerjakan. Hanya karena ada janji dengan seseorang, shalat dikorbankan. Hanya karena alasan meeting, shalat dikerjakan di akhir waktu. Hanya karena keasyikan main facebook, shalat nyaris tidak dikerjakan. Begitu selanjutnya.Padahal, shalat itu adalah kebutuhannya sendiri. Orang yang menjaga shalatnya sebenarnya ia sedang menyayangi dirinya sendiri. Menunaikan shalat dan tepat waktu itu artinya ia telah memuliakan dirinya sendiri. “]ika kalian berbuat baik maka kebaikan akan kembali kepada dirimu sendiri, dan jika kalian berbuat buruk maka keburukan itu akan kembaIi kepada dirimu sendiri. ” (Al-Israa` : 7)

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2012 in Sucikan Hati

 

Tatkala Hati Membeku

Pernah nggak kita merenung?, sudah berapa kali kita pernah menangis karena takut pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, merasa ngeri ketika ingat nerakanya atau terkenang dengan bertumpuk-tumpuknya dosa yang pernah kita lakukan? Sudah berapa kali shalat yang kita kerjakan begitu kita nikmati karena kita bisa merenungi makna-makna ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca?……….

Itu tentu sangat sulit!……. mungkin seperti itu jawaban sebagian dari kita. Pernah nggak kita berfikir apa yang menjadi sebab hal itu. Penyebabnya nggak lain adalah bekunya hati kita yang menyebabkan kita sulit untuk menangis serta tidak bisa khusuk dalam shalat.

Berikut ini adalah beberapa penyebab kebekuan hati yang kita alami. Sehingga kalau kita sudah mengetahui penyebabnya, kita bisa menterapi hati kita yang sudah terlanjur cool banget.

Bergaul yang tidak Berfaedah.
Teman punya pengaruh yang signifikan pada diri kita. Dia akan memberikan warna dalam kepribadian kita. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam memberi perumpamaan. Teman yang tidak baik itu seperti Pandai Besi, andai tidak terbakarpun, minimal kita, yang mau tidak mau pasti mendapatkan udara yang panas. Karena itu kita harus mampu mengendalikan diri dengan baik agar tidak terjebak dalam pergaulan yang tidak bermanfaat.

Berbicara Yang tidak Perlu.
Sering sekali kita membicarakan hal-hal yang kadang-kadang tidak ada manfaatnya, baik untuk dunia maupun akhirat kita. Hati-hati dengan lisan kita, salah omong urusannya berabe. Apakah kita lupa bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan lidah hany satu dan telinga ada dua, dengan tujuan yaitu supaya kita lebih banyak diam untuk mendengar daripada bicara.

Namun kita sangat sering melupakan hal ini apalagi kalau sedang asyik berbicara, kita lupa untuk mendengar. Jadi perlu pengendalian kata agar tidak percuma dan sia-sia. Karena itu kebisaan gossip mesti dikurangi dan dihilangkan…..!!!

Memandang Yang tidak Perlu.
Tidak mengatur pandangan yang kita lakukan akan menimbulkan tiga dampak negatif yaitu; Terkena panah Iblis yang beracun. Oleh karena itu Nabi menyatakan, yang artinya: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Alloh maka Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik” (HR: Ahmad). Setan masuk seiring pandangan untuk menyalakan api syahwat. Membuat hati lupa dan menyibukkannya sehingga terjerumus ke dalam mengikuti hawa nafsu dan kelalaian.

Berlebih-lebihan dalam Makan.
Imam Syafi’i rahimahulloh mengatakan: “Selama 16 tahun aku hanya pernah kenyang sekali saja, yang akhirnya kumuntahkan. Karena kenyang itu membuat badan terasa berat, hati menjadi keras, kepandaian menjadi hilang, menyebabkan ngantuk dan membuat orang loyo dalam beribadah”. (diwan Imam Syafi’I hal. 14). Sehingga makan itu sekedarnya saja, kalau bisa jangan sampai kekenyangan. Tidak sehat dan membuat malas.

Tidur yang Berlebihan.
Coba kita renungkan komentar Nabi shalallahu’alaihi wa salam tentang orang yang tidur satu malam penuh, bangun-bangun sudah pagi tanpa shalat malam “Itulah orang yang telinganya atau kedua telinganya dikencingi syetan.” (HR: Bukhari dan Muslim).

Menghina Ulama.
“Daging para ulama itu beracun”, demikian pesan para ulama kita. Terlebih lagi bila kita menghina dan menggunjingkan mereka karena karena ilmu syar’i yang mereka miliki. Jadi sebaiknya kita berhati-hati dalam hal ini.

Tidak Membaca Al Qur’an dengan Merenungi Maknanya.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS: Muhammad: 24).

Orang yang tidak merenungi ayat – ayat Al Qur’an tidak hanya satu atau dua gembok yang mengunci hatinya? Bahkan dalam hati tersebut terdapat banyak gembok. Banyak kan!! Kira-kira ada berapa gembok di hati kita, kalo gitu.

Tidak Merenungi Kematian, Alam Kubur, Surga, dan Neraka.
Nabi memerintahkan kita untuk berziarah kubur, agar kita teringat akan akhirat. Nabi juga memerintahkan untuk banyak mengingat kematian yang merupakan penghancur kesenangan hidup (HR: Abu Daud). Mengapa? Karena mengingat mati adalah mesin penggerak untuk beramal shalih yang ada dalam diri orang beriman.

Tidak Mengkaji Kehidupan Umat Terdahulu Yang Sholeh (Sahabat dan 2 Generasi Setelahnya).
Mereka merupakan manusia terbaik yang dekat dengan masa kenabian. Seluruh keutamaan terkumpul dalam diri mereka. Lihatlah kekhusyua’an mereka dalam shalat, shalat malam mereka, shalat berjamaah mereka, bhakti mereka kepada orang tua, zuhud mereka, antusias mereka dalam mencari ilmu, dan sebagainya. “Siapakah kita dibandingkan mereka?,” Itulah kesimpulannya. Karena kurang mengetahui kehidupan mereka, maka hati kita jadi keras, sombong, ujub, udah merasa beramal dan berjasa besar terhadap Islam.

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala cairkan hati-hati kita yang mulai membeku karena Dialah yang mengendalikan hati-hati hamba-Nya.

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

(Sumber Rujukan: Tazkiyatun Nufus, dll)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 13, 2012 in Sucikan Hati

 

Gubernur Zuhud Yang Menjadi Kuli Di Pasar

Di antara sejumlah peperangan yang paling dahsyat adalah Perang Khandaq. Kala itu kaum Yahudi Madinah melakukan persekongkolan dengan musyrikin Makkah yang terdiri atas berbagai golongan, dan bergabung menjadi satu untuk menghancurkan umat Islam di Madinah.

Blokade dilakukan oleh tentara gabungan itu, didukung dengan sabotase dari dalam oleh orang-orang Yahudi. Umat Madinah sudah mulai dihinggapi kelelahan dan putus asa, kelaparan dan kehilangan semangat, sementara setiap saat tentara musuh bakal menyerbu dengan sengit.

Dalam kekalutan itulah muncul sebuah nama ke permukaan, nama yang tadinya tidak terlalu diperhitungkan milik seorang mualaf muda kelahiran negeri Persia. Ia adalah Salman yang dijuluki al Farisi sesuai tanah tumpah darahnya. Pemuda ini menyarankan agar digali parit panjang dan dalam melingkari kota Madinah.

Rasulullah menyambut gagasan itu dengan gembira. Dan itulah awal kebangkitan semangat umat Islam untuk mempertahankan kedaulatannya dan awal kehancuran musuh-musuh umat Islam.

Sejak itu nama Salman al Farisi mencuat naik. Di zaman pemerintahan Umar bin Khaththab, Salman mendaftarkan diri untuk ikut dalam ekspedisi militer ke Persia. Ia ingin membebaskan bangsanya dari genggaman kelaliman Kisra Imperium Persia yang mencekik rakyatnya dengan penindasan dan kekejaman. Untuk membangun istana Iwan Kisra saja, ribuan rakyat jelata terpaksa dikorbankan, tidak setitik pun rasa iba terselip di hati sang raja.

Di bawah pimpinan Panglima Sa’ad bin Abi Waqash, tentara muslim akhirnya berhasil menduduki Persia, dan menuntun rakyatnya dengan bijaksana menuju kedamaian Islam. Di Qadisiyah, keberanian dan keperwiraan Salman al Farisi sungguh mengagumkan sehingga kawan dan lawan menaruh menaruh hormat padanya.

Tapi bukan itu yang membuat Salman meneteskan air mata keharuan pada waktu ia menerima kedatangan kurir Khalifah dari Madinah. Ia merasa jasanya belum seberapa besar, namun Khalifah telah dengan teguh hati mengeluarkan keputusan bahwa Salman diangkat menjadi amir negeri Madain.

Umar secara bijak telah mengangkat seorang amir yang berasal dari suku dan daerah setempat. Oleh sebab itu ia tidak ingin mengecewakan pimpinan yang memilihnya, lebih-lebih ia tidak ingin dimurkai Allah karena tidak menunaikan kewajibannya secara bertanggung jawab.

Maka Salman sering berbaur di tengah masyarakat tanpa menampilkan diri sebagai amir. Sehingga banyak yang tidak tahu bahwa yang sedang keluar masuk pasar, yang duduk-duduk di kedai kopi bercengkrama dengan para kuli itu adalah sang gubernur.

Pada suatu siang yang terik, seorang pedagang dari Syam sedang kerepotan mengurus barang bawaannya. Tiba-tiba ia melihat seorang pria bertubuh kekar dengan pakaian lusuh. Orang itu segera dipanggilnya; “Hai, kuli, kemari! Bawakan barang ini ke kedai di seberang jalan itu.” Tanpa membantah sedikitpun, dengan patuh pria berpakaian lusuh itu mengangkut bungkusan berat dan besar tersebut ke kedai yang dituju.

Saat sedang menyeberang jalan, seseorang mengenali kuli tadi. Ia segera menyapa dengan hormat, “Wahai, Amir. Biarlah saya yang mengangkatnya.” Si pedagang terperanjat seraya bertanya pada orang itu, “Siapa dia?, mengapa seorang kuli kau panggil Amir?”. Ia menjawab, “Tidak tahukah Tuan , kalau orang itu adalah gubernur kami?”. Dengan tubuh lemas seraya membungkuk-bungkuk ia memohon maaf pada ‘ kuli upahannya’ yang ternyata adalah Salman al Farisi .

“Ampunilah saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu. Tuan adalah amir negeri Madain, ” ucap si pedagang. ” Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang mengangkutnya sendiri.” Salman menggeleng, “Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.”

Setelah sekujur badannya penuh dengan keringat, Salman menaruh barang bawaannya di kedai itu, ia lantas berkata, “Kerja ini tidak ada hubungannya dengan kegubernuranku. Aku sudah menerima dengan rela perintahmu untuk mengangkat barang ini kemari. Aku wajib melaksanakannya hingga selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meringankan beban saudaranya?”

Pedagang itu hanya menggeleng. Ia tidak mengerti bagaimana seorang berpangkat tinggi bersedia disuruh sebagai kuli. Mengapa tidak ada pengawal atau tanda-tanda kebesaran yang menunjukkan kalau ia seorang gubernur?.

Ia barangkali belum tahu, begitulah seharusnya sikap seorang pemimpin menurut ajaran Islam. Tidak bersombong diri dengan kedudukannya, malah merendah di depan rakyatnya. Karena pada hakekatnya, ketinggian martabat pemimpin justru datang dari rakyat dan bawahannya.

(Sumber: Kisah Orang-orang Sabar Karangan Nasiruddin M. Ag/Pz) 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 12, 2012 in kisah kisah inspirasi