RSS

Imam AI-Ghazali: Shalat, Paling Ringan Ditinggalkan

23 Apr

Perbincangan dan diskusi penuh kehangatan seorang syaikh dengan murid-muridnya adalah hal yang biasa terlihat dalam sebuah halaqah atau masjid. Seperti biasanya, Imam AI-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya kesayangannya. Ia begitu mencintai mereka dan mereka pun mencintainya. Di sela-sela kehangatan itulah, Imam AI-GhazaIi mengajukan partanyaan kepada mereka, Pertama, “Wahai anak-anakku sekalian, apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?” tanyanya. Sebagian murid-muridnya ada yang menjawab, “Yang paling terdekat dengan diri kita di dunia ini adalah orangtua.” Sebagian ada yang menjawab, “Teman.” Sebagiannya Iagi, “Guru.” Sebagian Iagi, “keluarga.” Imam Ghazali kemudian menjelaskan, “Wahai anak-anakku sekalian, semua jawaban itu benar tetapi sesungguhnya yang paling dekat dengan kita adalah “mati.” Sebab itu sudah janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali-Imran: 185).

Lalu, Imam Ghazali meneruskan partanyaan yang kedua. “Wahai anak-anakku sekalian, apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab, “Yang paling jauh dari diri kita di dunia ini adalah negara Cina.” Sebagian menjawab, “Bulan.” Sebagian menjawab, “Matahari” Sebagian menjawab, “Bintang-bintang.” Imam Ghazali pun menjelaskan, “Wahai anak-anakku, bahwa semua jawaban yang kalian berikan adalah benar. Tapi, yang paling benar adalah “masa IaIu.” Bagaimanapun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dangan ajaran agama. Besok telah menjadi hari ini, hari ini telah berubah menjadi kemarin. Masa depan telah berubah menjadi masa Ialu, dan Ia akan semakin jauh meninggalkan kita.”

Lalu, Imam Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Wahai anak-anakku, apa yang paling besar di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab, “Gunung” Sebagian menjawab, “Bumi” Sebagian menjawab, “Matahari.” Imam AI-GhazaIi menjelaskan bahwa, “Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu” Sesungguhnya nafsu itu seIaIu menyuruh kepada keburukan. Karena itu, kita harus hati-hati dengan nafsu kIta,jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.”

Imam AI-GhazaIi kemudian melanjutkan pertanyaan keempat, “Apa yang paling berat di dunia ini?.” Sebagian murid ada yang menjawab, “Baja” Sebagian menjawab, “Besi” Sebagian menjawab, “Gajah.” “Semua jawaban kalian hampir benar” kata Imam Ghazali, tapi yang paling berat adalah “memegang amanah.” AIIah telah menyebutkan, “sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada Iangit, bumi dan gunung-gunung, namun semua menolaknya, dan amanah itu diterima oleh manusia, itulah bentuk kezhaliman dan kebodohan (AI-Ahzab: 72).” Walau semua makhluk AIIah menyatakan tidak sanggup, manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan AIIah, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Imam AI-Ghazali melanjutkan pertanyaan kelima, ‘Apa ` yang paling ringan di dunia ini?” Sebagian murid ada yang menjawab, “Kapas,” Sebagian menjawab, “Angin”, Sebagian menjawab, “Debu” Sebagian menjawab, “Daun-daunan.” “Semua itu benar” kata Imam Ghazali, “Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan shalat. Gara-gara pekarjaan kita tinggalkan shalat. Karena pertemuan kita tinggalkan shaIat.”

Lantas, Imam Al-GhazaIi pun melanjutkan pertanyaan ke enam, “Wahai anak-anakku, sekarang pertanyaanku yang terakhir untuk kalian, apakah yang paling tajam di dunia ini?” Murid-muridnya menjawab dengan serentak, “Pedang…” “Benar” kata Imam Ghazali. Tapi, yang paling tajam adalah “Iidah manusia”, karena melalui Iidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. Betapa banyak orang yang tergelincir hanya karena tak kuasa menjaga lidahnya.”

Memang begitu. Shalat itu paling mudah ditinggalkan. Hanya gara-gara sinetron, shalat tertunda, hanya gara-gara malas, shalat tidak dikerjakan. Hanya karena ada janji dengan seseorang, shalat dikorbankan. Hanya karena alasan meeting, shalat dikerjakan di akhir waktu. Hanya karena keasyikan main facebook, shalat nyaris tidak dikerjakan. Begitu selanjutnya.Padahal, shalat itu adalah kebutuhannya sendiri. Orang yang menjaga shalatnya sebenarnya ia sedang menyayangi dirinya sendiri. Menunaikan shalat dan tepat waktu itu artinya ia telah memuliakan dirinya sendiri. “]ika kalian berbuat baik maka kebaikan akan kembali kepada dirimu sendiri, dan jika kalian berbuat buruk maka keburukan itu akan kembaIi kepada dirimu sendiri. ” (Al-Israa` : 7)

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga kita diberi kepahaman dan kemudahan untuk amal dan sampaikan.

Insya Allah. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan semata mata karena masih sangat sedikitnya pengetahuan saya pribadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2012 in Sucikan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s