RSS

Arsip Bulanan: Juli 2012

Apakah Mazhab Itu? Mengapa Perlu Untuk Mengikuti Satu Mazhab?

“Slogan-slogan yang kita dengar saat ini tentang ‘mengikuti Alquran dan sunah bukannya mengikuti mahzab’ telah beredar luas… Dalam kenyataannya ini merupakan suatu kemunduran besar, sebuah panggilan untuk meninggalkan usaha ulama Islam selama berabad-abad dalam menemukan dan mengejawantahkan perintah Al-Qur’an dan sunnah kasus per-kasus secara rinci,”

Nuh Ha Mim Keller.

Kata Mazhab berasal dari makna kata Arab “pergi” atau “mengambil sebagai cara”, dan mengacu pada pemilihan mujtahid dalam kaitannya dengan sejumlah kemungkinan penafsiran dalam menurunkan hukum Allah dari teks utama Qur’an dan hadis pada pertanyaan tertentu. Dalam arti yang lebih luas, mazhab mewakili seluruh pemikiran ulama dari Imam mujtahid tertentu, seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, atau Ahmad – bersama-sama dengan banyak ulama generasi pertama yang datang setelah mereka, yang menguji bukti-bukti mereka dan menyempurnakan dan meningkatkan pekerjaan mereka. Para imam mujtahid dengan demikian berperan sebagai penjelas, yang mengoperasionalkan Alquran dan sunah dalam putusan syariah khusus dalam kehidupan kita yang secara kolektif dikenal sebagai fiqh atau “yurisprudensi”. Sehubungan dengan din atau “agama” kita, fiqh ini hanya merupakan bagian dari agama. Untuk pengetahuan agama, masing-masing dari kita memiliki tiga jenis pengetahuan. Jenis pertama adalah pengetahuan umum ajaran keimanan Islam dalam kesatuan Allah, malaikat-Nya, kitab, nabi, kenabian Muhammad SAW, dan seterusnya. Semua dari kita mungkin mendapatkan pengetahuan ini langsung dari Alquran dan hadis, seperti juga halnya dengan jenis pengetahuan kedua, yaitu prinsip-prinsip umum etika Islam untuk berbuat baik, menjauhi maksiat, bekerjasama dengan orang lain dalam pekerjaan baik, dan sebagainya. Setiap muslim dapat mengambil prinsip-prinsip umum, yang membentuk dan yang paling penting dari bagian terbesar agamanya, dari Alquran dan hadis. Jenis ketiga dari pengetahuan agama adalah tentang pemahaman spesifik mengenai perintah dan larangan ilahi tertentu yang membentuk syariah. Di sini, karena alamnya dan banyaknya teks Al-Qur’an dan hadits yang terlibat, orang-orang berbeda dalam kapasitas ilmiah untuk memahami dan menyimpulkan penetapan dari syariah. Tetapi semua dari kita telah diperintahkan untuk menghidupkan syariah dalam kehidupan kita, dalam ketaatan kepada Allah, dan untuk hal ini Muslim terdiri dari dua jenis, yaitu mereka yang dapat melakukan ini sendiri, yaitu mereka adalah imam mujtahid; dan mereka yang harus melakukannya dengan cara lain, yaitu dengan mengikuti Imam mujtahid, sesuai dengan firman Allah di Surat al-Nahl,

“..maka tanyakanlah kepada orang-orang yang diberi pengetahuan, jika Anda tidak tahu” (QS. 16:43), dan dalam Surat An-Nisa, “Bila mereka merujuknya kepada Nabi dan orang-orang yang memiliki kapasitas di antara mereka lalu orang yang tugasnya menemukan akan tahu permasalahannya”(Qur’an 4:83), di mana ungkapan orang dari mereka yang bertugas itu adalah untuk menemukannya, mengungkapkan kata-kata” alladhina yastanbitunahu minhum”, merujuk kepada mereka yang memiliki kapasitas untuk menarik kesimpulan langsung dari bukti-bukti, yang disebut istinbat dalam bahasa Arab. Ayat-ayat ini dan dan hadis-hadis lainnya mewajibkan orang beriman yang tidak berada pada level istinbat atau menurunkan langsung aturan yang berasal dari Alquran dan hadis untuk bertanya dan mengikuti seseorang dalam beberapa ketentuan hukum tersebut kepada mereka yang berada di level ini. Tidak sulit untuk melihat mengapa Allah mengharuskan kita untuk mengikuti para ahli, karena jika kita masing-masing secara pribadi bertanggung jawab untuk mengevaluasi semua teks utama yang berkaitan dengan setiap pertanyaan, seumur hidup belajar tidak akan cukup untuk itu, dan akan meninggalkan mencari nafkah atau meninggalkan satu kebaikan dalam din, itulah sebabnya Allah berfirman dalam surat al-Taubah, dalam konteks jihad:

“Tidak semua orang beriman harus pergi untuk berperang. Dari setiap bagian dari mereka, mengapa tidak sebagian saja pergi, yang sisanya dapat memperoleh pengetahuan agama dan menegur orang-orang mereka ketika mereka kembali, bahwa mungkin mereka dapat mengambil peringatan” (Qur’an 9:122).

Slogan-slogan yang kita dengar saat ini tentang “mengikuti Alquran dan sunah bukannya mengikuti mahzab” telah beredar luas. Semua orang setuju bahwa kita harus mengikuti Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Intinya adalah bahwa Nabi Saw tidak lagi hidup untuk mengajar kita secara pribadi, dan segala sesuatu yang kita miliki dari dia, apakah hadis atau Al Qur’an, telah disampaikan kepada kita melalui ulama Islam. Jadi pertanyaannya bukanlah apakah harus atau tidak untuk kita mengambil din dari ulama, melainkan, dari ulama yang mana? Dan ini adalah alasan kita telah bermahzab dalam Islam: karena keunggulan dan superioritas keulamaan imam mujtahid – bersama dengan para ulama tradisional setelah mereka, yang mengikuti di setiap sekolah mereka dan mengevaluasi dan meningkatkan pekerjaan mereka – telah memenuhi uji penyelidikan ilmiah dan telah memenangkan kepercayaan diri dari pemikiran dan praktek Muslim pada semua abad kebesaran Islam. Alasan mengapa mahzab ada, manfaat dari mereka, masa lalu, sekarang, dan masa depan, adalah bahwa mereka melayani ribuan suara, jawaban berbasis pengetahuan untuk pertanyaan Muslim tentang bagaimana menaati Allah. Muslim telah menyadari bahwa mengikuti mazhab adalah sarana untuk mengikuti ulama super yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang komprehensif dari teks Al-Qur’an dan hadits yang berkaitan dengan setiap masalah di mana dia memberi penilaian, tapi mereka juga hidup di zaman milenium yang lebih dekat kepada Nabi SAW dan para sahabat, ketika taqwa atau “takut pada Allah” adalah norma-baik yang kondisinya sangat jauh berbeda dengan ulama yang ada saat ini. Sementara panggilan untuk kembali ke Qur’an dan sunnah adalah slogan yang menarik, pada kenyataannya ini merupakan suatu kemunduran besar, panggilan untuk meninggalkan usaha cendekiawan Islam selama berabad-abad dalam menemukan dan mengejawantahkan perintah Al-Qur’an dan sunnah kasus per-kasus secara rinci, sebuah upaya interdisipliner yang sangat canggih oleh mujtahid, ahli hadis, mufasir Al Qur’an, pengumpul literatur, dan master lain dari ilmu hukum Islam. Untuk meninggalkan buah dari penelitian ini, syariah Islam, bagi para pengikut syekh kontemporer yang tidak berada pada level pendahulu mereka (tidak seperti yang mereka klaim), adalah seperti mengganti dari sesuatu yang telah diuji dan terbukti kepada sesuatu yang tentatif (belum diuji dan terbukti).

Retorika mengikuti ‘syariah tanpa mengikuti mazhab tertentu’ adalah seperti seseorang datang ke dealer mobil untuk membeli mobil, tetapi bersikeras tidak memakai merek yang telah dikenal luas – bukanlah Volkswagen atau Rolls-Royce atau Chevrolet – tetapi hanya “mobil, murni dan sederhana”. Orang seperti itu tidak benar-benar tahu apa yang dia inginkan, mobil-mobil di stand dealer tidak ada yang seperti itu, tetapi tersedia berdasarkan merk. Salesman mungkin bisa maklum dan sedikit terrsenyum, dan hanya bisa menunjukkan bahwa produk canggih berasal dari sistem produksi yang canggih, dari pabrik-pabrik dengan pembagian kerja antara mereka yang menguji, memproduksi, dan merakit banyak bagian dari produk akhir. Ini adalah kewajaran dari upaya-upaya kolektif manusia untuk menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada kita sendiri bisa menghasilkan dari awal, bahkan jika diberi mesin peleburan logam dan alat-alat produksi, dalam lima puluh tahun, atau bahkan seribu tahun. Demikian juga dengan syariah, yang lebih kompleks daripada mobil karena berhubungan dengan alam tindakan manusia dan berbagai macam interpretasi teks-teks suci. Inilah sebabnya mengapa membuang ulama monumental dari mahzab dalam mengoperasionalkan Qur’an dan sunnah untuk mengadopsi pemahaman seorang syekh kontemporer bukan hanya pendapat yang salah. Ini sama saja dengan merongsokkan Mercedes untuk dijadikan go-kart.

© Nuh Ha Mim Keller 1995

Nuh Ha Mim Keller adalah penerjemah Muslim Amerika dan spesialis hukum Islam. Lahir pada tahun 1954 di barat-laut America Serikat, mengikuti pendidikan filosofi dan bahasa Arab di University of Chicago and UCLA. Ia masuk Islam pada tahun 1977 di al-Azhar, Cairo, dan kemudian mempelajari Sains Hadits Islam Tradisional, yurisprudensi Syafi’i dan Hanafi, metodologi hukum (usul al-fiqh), dan `aqidah di Syria dan Jordan, di mana ia tinggal sejak tahun 1980. Terjemahan bahasa Inggris dari `Umdat al-Salik’ [The Reliance of the Traveller] (1250 pp., Sunna Books, 1991) adalah karya hukum Islam pertama dalam bahasa Eropa yang menerima sertifikasi dari Al Azhar, institusi pendidikan tinggi Muslim tertua di dunia. Ia juga menerima ijasah atau “sertifikat otorisasi” dalam yurisprudensi Islam dari para syeikh di Syria dan Jordan.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 30, 2012 in ISLAM

 

Sahur dan Berbuka Puasa menurut Sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

SAHUR

1. Hikmahnya

Allah mewajibkan puasa kepada kita sebagaimana telah mewajibkannya kepada orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183).

Waktu dan hukum yang diwajibkan atas Ahlul Kitab adalah tidak boleh makan, minum, dan jima’ setelah tidur, artinya jika tertidur, maka tidak boleh makan sampai malam berikutnya. Hal itu ditetapkan juga untuk kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan. Maka ketika hukum tersebut dihapuskan, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya makan sahur untuk membedakannya dengan puasa Ahlul Kitab.

Dari ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab adalah makan sahur.” (HR Muslim 1096).

 

2. Keutamaannya

a. Sahur Barokah

Dari Salman radhiyallahu ‘anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barokah ada pada tiga perkara: Jama’ah, Tsarid, dan makan sahur.” (HR Thabrani, Abu Nu’aim).

Dari Abdullah bin Al Harits dari seorang shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Aku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dia makan sahur, beliau berkata, “Sesungguhnya makan sahur adalah barokah yang Allah berikan pada kalian maka janganlah kalian tinggalkan.” (HR An Nasaa`i dan Ahmad).

Keberadaan sahur sebagai barokah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menumbuhkan semangat serta meringankan beban yang berat bagi yang berpuasa, dalam makan sahur juga menyelisihi Ahlul Kitab karena mereka tidak melakukan makan sahur. Oleh karena itu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya makan pagi yang diberkahi sebagaimana dalam dua hadits Al Irbadh bin Sariyah dan Abi Darda` radhiyallahu ‘anhuma, “Marilah menuju makan pagi yang diberkahi, yakni sahur.”

 

b. Allah dan MalaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sahur itu makanan yang barokah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.”

Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala yang besar ini dari Rabb yang Maha Pengasih. Dan sahurnya seorang mukmin yang paling afdhal adalah korma.

Bersabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, Baihaqi).

 

Barangsiapa yang tidak menemukan korma, hendaknya bersungguh-sungguh untuk sahur walau hanya dengan meneguk satu teguk air, karena fadhilah (keutamaan) yang disebutkan tadi, dan karena sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air.”

 

3. Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu melakukan sahur, ketika selesai makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk sholat subuh, dan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat kira-kira lamanya seseorang membaca lima puluh ayat di Kitabullah.

Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, “Kami makan sahur bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat, aku tanyakan (kata Anas): Berapa lama jarak antara adzan dan sahur? Beliau menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca Al Qur’an.” (HR Bukhari Muslim).

 

4. Hukumnya

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya -dengan perintah yang sangat ditekankan. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu.” (HR Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Ya’la, Al Bazzar). Dan bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada barokah.” (HR Bukhari Muslim).

 

Perintah nabi ini sangat ditekankan anjurannya, hal ini terlihat dari tiga sisi:

a. Perintah untuk makan sahur.

b. Sahur adalah syiarnya puasa seorang muslim, dan pembeda antara puasa kita dan puasa ahlul kitab.

c. Larangan meninggalkan sahur.

Inilah qarinah yang kuat dan dalil yang jelas. Walaupun demikian, Al Hafizh Ibnu Hajar menukilkan dalam kitabnya Fathul Bari (4/139) ijma’ atas sunnahnya. Wallahu a’lam.

 

BERBUKA

1. Kapan orang yang berpuasa berbuka?

Allah ta’ala berfirman, “Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.”

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkannya dengan datangnya malam dan perginya siang serta sembunyinya bundaran matahari.

 

Syaikh Abdur Razzaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf (7591) dengan sanad yang dishahihkan oleh Al Hafizh dalam Fathul Bari (4/199) dan Al Haitsami dalam Majma Zawaid (3/154) dari Amr bin Maimun Al Audi, “Para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka puasa dan paling lambat dalam sahur.”

 

2. Menyegerakan berbuka

Wahai saudaraku seiman, wajib atasmu berbuka ketika matahari telah terbenam, janganlah dihiraukan rona merah yang masih terlihat di ufuk, dengan ini berarti engkau mengikuti sunnah Rosulmu shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menyelisihi Yahudi dan Nashara, karena mereka mengakhirkan berbuka hingga terbitnya bintang.

a. Menyegerakan berbuka menghasilkan kebaikan. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan terus dalam kebaikan selama menyegerakan buka.” (HR Bukhari dan Muslim).

b. Menyegerakan buka adalah sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku akan terus dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Ibnu Hibban).

c. Menyegerakan buka berarti menyelisihi Yahudi dan Nashara. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama ini akan terus jaya selama menyegerakan buka, karena orang Yahudi dan Nashara mengakhirkannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban).

d. Berbuka sebelum shalat maghrib. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka sebelum shalat maghrib (HR Ahmad, Abu Dawud), karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para Nabi. Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu, “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan buka, mengakhirkan sahur, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR Thabrani).

 

3. Berbuka dengan apa?

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan berbuka dengan kurma, kalau tidak ada dengan air, ini termasuk kesempurnaan kasih sayang dan semangatnya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk kebaikan) umatnya dan dalam menasehati mereka. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsa kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan kebahagiaanmu), terhadap orang-orang mukmin ia amat pengasih lagi penyayang.” (QS At Taubah: 128).

Dengan memberi sesuatu yang manis (kurma) pada perut yang kosong, maka tubuh akan lebih siap menerima dan mendapatkan manfaatnya, terutama tubuh yang sehat, akan bertambah kuat dengannya. Dan bahwasanya puasa itu menghasilkan keringnya tubuh, maka air akan membasahinya, hingga sempurnalah manfaat makanan.

Dan ketahuilah, bahwa kurma itu memiliki barakah dan kekhususan -demikian pula air- memiliki efek yang positif terhadap hati dan mensucikannya, tiada yang mengetahuinya, kecuali orang-orang yang ittiba’ / mengikuti.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).

 

4. Apa yang Diucapkan ketika Berbuka?

Ketahuilah saudaraku yang berpuasa -semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan Anda untuk selalu mengikuti sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sungguh engkau memiliki do’a yang mustajab, maka ambillah kesempatan itu dan berdo’alah kepada Allah sedang engkau merasa yakin akan dikabulkan -ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan do’a dari hati yang lalai lagi main-main- berdo’alah kepadaNya sesuatu yang engkau inginkan dengan do’a-do’a yang baik, semoga engkau mendapatkan dua kebaikan di dunia dan akhirat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada tiga orang yang tidak akan tertolak do’a mereka: seorang yang puasa ketika sedang berbuka, seorang imam yang adil, dan do’a seorang yang terzholimi.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).

Dan dari Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh bagi orang yang berpuasa itu memiliki do’a yang tidak akan tertolak ketika berhias.” (HR Ibnu Majah, Al Hakim).

Do’a yang paling utama (adalah) yang ma’tsur (diajarkan) dari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a ketika berbuka, “Telah hilang dahagaku, telah basah urat-uratku, dan telah tetap pahala Insya Allah.” (HR Abu Dawud, Al Baihaqi).

 

5. Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Dan hendaklah engkau bersemangat, wahai saudaraku -semoga Allah memberi berkah dan taufikNya kepadamu sehingga mampu mengamalkan kebaikan dan ketaqwaan- (yaitu) bila engkau memberi makan kepada orang puasa, maka padanya terdapat pahala yang agung serta kebaikan yang melimpah ruah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memberi makan seorang yang berpuasa, ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dan apabila seorang muslim yang sedang berpuasa diundang makan, wajib baginya untuk memenuhi undangan tersebut. Karena barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka sungguh ia telah mendurhakai Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan disukai bagi yang diundang (makan) untuk mendo’akan kebaikan kepada si pengundang setelah selesai makan, sebagaimana telah datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam do’a yang bermacam-macam, di antaranya:

“Orang-orang yang baik telah makan makananmu dan para malaikat telah bershalawat kepadamu serta orang-orang yang berpuasa telah berbuka di rumahmu.” (HR Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, An Nasa`i, dan yang lainnya).

“Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi makan kepadaku dan berilah minum orang yang telah memberi minum kepadaku.” (HR Muslim dari Al Miqdad).

“Ya Allah, ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berkahilah terhadap apa yang telah Engkau rizkikan kepada mereka.” (HR Muslim dari Abdullah bin Busr).

 

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 23, 2012 in ISLAM

 

13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan

Oleh: DR. Amir Faishol Fath 


 


Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.

Pertama, Tidak Punya Visi
Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.
Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

Kedua, Kasar
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.
Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, Sombong
Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.
Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.

Keempat, Tertutup
Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.
Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, Plinplan
Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Pembohong
Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.
Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.

Ketujuh, Cengeng
Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.
Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut
Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.
Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas
Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak
Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.
Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri
Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Jarang Komunikasi
Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.
Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam

 

Tapi perlu juga diingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna, jika ditemukan sifat sifat diatas, maka tugas sebagai pasangan suami istri untuk selalu saling mengingatkan sehingga dapat terwujud keluarga yang sakinah mawaddah dan wa rohmah. Insya Allah

 

 

Sumber : http://www.dakwatuna.com

 


 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 9, 2012 in ISLAM News

 

RAHASIA DIBALIK KEINGINAN SEBAGIAN WANITA EROPA (INILAH FITRAHNYA WANITA!)

– Seorang wanita berkebangsaan Perancis

Kisah dibawah ini diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman dari seorang dokter muslim laki-laki yang hidup di Perancis ketika dokter laki-laki ini ditanya oleh teman kerjanya -seorang dokter wanita berkebangsaan Perancis yang beragama Nashrani-. Dokter wanita ini bertanya kepadanya tentang keadaan istrinya, seorang muslimah yang berhijab dengan baik terutama bagaimana istrinya menghabiskan hari-harinya di dalam rumah serta aktivitas apa saja yang dijalani setiap harinya.

Sang dokter menjawab: “Ketika istriku bangun dipagi hari maka dia menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan anak-anak di sekolah, kemudian tidur sampai jam 9 atau 10 pagi. Setelah itu dia bangun untuk membersihkan dan mengatur hal-hal lain yang dibutuhkan di dalam rumah. Setelah urusan bersih-bersih selesai maka dia akan sibuk dengan urusan di dapur dan penyiapan makanan.”

Dengan penuh keheranan dokter perempuan tersebut bertanya: “Siapa yang memenuhi kebutuhannya, padahal dia tidak bekerja?!”

Dengan singkat sang dokter mengatakan: “Saya.”

“Lalu siapakah yang membelikan berbagai kebutuhannya?” Lanjut sang dokter wanita tersebut bertanya.
“Aku yang membelikan semua yang dia inginkan.” Jawab dokter muslim tersebut.

Dengan penuh keheranan dan ketercengangan wanita tersebut mengatakan: “Engkau yang membelikan segala sesuatu untuk istrimu?!”

Dia menjawab: “Ya.”

Perempuan tersebut bertanya lagi: “Sampai-sampai urusan perhiasan emas?!”
“Ya.” jawab dokter muslim tersebut sekali lagi.

“Sungguh istrimu adalah seorang permaisuri.” Komentar akhir perempuan tadi.

Dokter yang menceritakan kisah ini bersumpah dengan nama Allah, bahwa pada akhirnya dokter wanita tadi menawarkan diri kepadanya untuk bercerai dan berpisah dari suaminya, dengan syarat dokter tadi mau menikahinya, sehingga dia bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter perempuan, lalu tinggal dirumah sebagaimana layaknya seorang wanita muslimah. Tidak hanya itu, dokter perempuan tersebut rela menjadi istri kedua seorang laki-laki muslim dengan syarat dia diperbolehkan tinggal saja di dalam rumah.

– Seorang wanita berkebangsaan Inggris yang angan-angannya telah ditulis lebih dari seratus tahun yang lewat.

Seorang wanita yang berprofesi sebagai penulis terkenal bernama Ety Rudh menulis dalam sebuah artikel yang disebarluaskan pada tahun 1901: “Sungguh seandainya anak-anak perempuan kita sibuk bekerja dalam rumah sebagai pembantu atau seperti pembantu, itu lebih baik dan lebih ringan resikonya daripada meniti karier diberbagai instansi, karena meniti karir diluar rumah itu menyebabkan seorang wanita ternodai berbagai kotoran yang menghilangkan indahnya kehidupan untuk selama-lamanya.

Andaikan saja negeri kita ini seperti negeri orang-orang Islam yang berhias dengan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian !?

Sungguh sebuah aib di negeri Inggris yang menjadikan putri-putrinya sebagai teladan dalam keburukan karena seringnya bercampur baur dengan laki-laki. Jika demikian mengapa kita tidak berusaha untuk  menjadikan putri-putri kita bekerja sesuai dengan fitrah dan tabiatnya sebagai wanita yaitu dengan mengurusi rumah tangga dan membiarkan berbagai jenis pekerjaan laki-laki untuk kaum laki-laki dalam rangka menjaga kemuliaannya.”

– Seorang wanita berkebangsaan Jerman

Dia berkata: “Sesungguhnya aku ingin berada di rumah saja  akan tetapi selama perkembangan ekonomi Jerman akhir-akhir ini tidak bisa menyentuh semua lapisan masyarakat maka permasalahan seperti ini  yaitu back to home adalah sebuah kemustahilan. Sungguh suatu hal yang sangat menyedihkan.” (dikutip dari majalah mingguan berbahasa Jerman)”.

– Seorang perempuan berkebangsaan Italia

Dia berkata kepada dokter Mustafa as-Shiba’i rahimahullah: “Sungguh aku merasa iri dengan wanita muslimah dan aku berangan-angan seandainya aku dilahirkan di negeri kalian.”

Inilah Islam, satu-satunya agama yang benar-benar memuliakan wanita. Karena orang-orang Barat mengetahui bahwa baiknya umat Islam adalah dengan berdiam dirinya kaum wanita mereka didalam rumah-rumah mereka. Oleh karena itu mereka membuat berbagai makar, sehingga wanita muslimah meninggalkan rumah, dan berbagai rencana lain untuk merusak wanita muslimah, sehingga mereka melepas jilbab dan tidak lagi memiliki hubungan dengan agama kecuali pada waktu shalat, inipun seandainya dia masih mau shalat. Berbagai makar ini dikemas dengan dalih kebebasan wanita, demokrasi, hak-hak asasi manusia dan hak-hak wanita.

Sesungguhnya tugas pokok seorang wanita dalam ajaran Islam yang disadari betul oleh orang-orang Barat adalah pembentuk tokoh dan pendidik generasi. Darinyalah anak-anak belajar tentang nilai-nilai luhur, menjaga kehormatan, menjauhi akhlak-akhlak tercela, mencintai Islam, dan mendahulukannya diatas nyawa dan darah.

Sangat disayangkan, setelah menyimak kisah-kisah di atas, kita lihat sebagian wanita muslimah tidak menemukan kemerdekaan kecuali dengan kacamata Barat dan mereka tidak mengetahui hak-hak mereka kecuali dari sudut pandang dari orang-orang Barat.

Yang jelas mereka adalah korban-korban pendidikan yang keliru yang tidak tersentuh nilai Islam sedikitpun. Dalam kesempatan ini kami tegaskan bahwasanya Islam tidak akan berdiri tegak kecuali dengan mengembalikan wanita ke dalam rumah untuk melaksanakan kewajiban mereka yang paling penting yaitu membentuk generasi yang akan mengantarkan umat Islam menjadi pemimpin kemanusiaan.

Sumber: Majalah Qiblati Edisi 7 Tahun I.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 6, 2012 in ISLAM News