RSS

Arsip Bulanan: September 2012

MULIA KARENA MENOLAK JABATAN

Di usia yang semakin sepuh Utsman bin Affan r.a kerap terserang penyakit. Karena khawatir akan kematiannya, maka sahabat Nabi saw. yang saat itu menjabat sebagai khalifah ini menyuruh pembantunya yang bernama Humran untuk menulis wasiat. Isi wasiat itu terkait suksesi kepemimpinan sepeninggalnya.

Dalam wasiat itu Utsman r.a menunjuk Abdurrahman bin Auf r.a untuk menggantikannya. Humran pun segera menemui Abdurrahman. Humran berkata, “Kabar gembira untukmu, wahai Abdurrahman.”

“Apa yang kau maksudkan?” kata Abdurrahman bin Auf r.a.

“Sesungguhnya Utsman telah berwasiat bahwa khalifah penggantinya adalah engkau,” kata Humran.

Bukannya bergembira, tapi Abdurrahman langsung berdiri sambil berdoa, “Ya Allah, jika hal ini memang berasal dari Utsman, maka wafatkanlah aku sebelum terjadi (siyar A’laminnubala.’ 1/102)

Doa yang dibacakan Abdurrahman bin Auf r.a bukanlah basa basi atau retorika politik pencitraan. Doa sahabat yang piawai berbisnis ini justru menggambarkan suasana hatinya yang tiba tiba gusar dan gelisah mengetahui dirinya hendak didaulat menjadi pemimpin. Allah swt pun mengabulkan doa sahabat yang mulia ini. Enam bulan setelah kejadian itu ia pun dipanggil Allah swt.

Satu pertanyaan yang akan muncul, apa sebenarnya yang mendorong sahabat yang satu ini berani memilih sikap seperti itu? Bukankah jabataan bisa dijadikan sarana untuk berbuat kebajikan? Apalagi kala itu syariat Islamlah yang menjadi pedoman sehingga peluang berbuat kebajikan terbuka lebar. Dari sisi kemampuan beliau tidak diragukan. Selain pengusaha sukses juga memiliki jam terbang tinggi dalam urusan politik. Beliau termasuk salah seorang yang ditunjuk Umar r.a untuk memusyawarahkan siapa yang menjadi khalifah setelahnya. Dan kala itu Abdurrahman sepakat untuk mengangkat Utsman bin Affan r.a sebagai khalifah.

Nampaknya, untuk urusan kekuasaan dan jabatan para Sahabat mempunyai hitungan yang lebih jeli. Para Sahabat lebih tenang jika memotret jabatan dari potensi ancaman yang ada di dalamnya. Jika kita membaca Hadist tentang jabatan, memang jabatan akan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Contoh sabda Rasulullah saw berikut, “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (H.r Bukhari no 7148)

Amir bin Sa’ad pernah berkata kepada bapaknya, Sa’ad bin Abi Waqqash r.a,”Wahai ayahku, kenapa engkau lebih memilih berada di pelosok bersama kambing-kambingmu sementara orang sedang membincangkan kekuasaan di kota Madinah?”

Sa’ad r.a berkata,” Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang bertaqwa, berkecukupan dan menyembunyikan popularitasnya.” (siyar A’laminnubala, 1/81)

Memang dalam jabatan ada kemudahan dan keuntungan duniawi yang secara asal mubah untuk diambil dan dimanfaatkan. Tapi bagi seorang Muslim terlalu hina rasanya jika kekuasaan itu dipandang dari sudut kenikmatan duniawi saja. Jika kekuasaan disorot dari sisi negatifnya, maka ambisi kita akan padam dengan sendirinya. Bahkan dalam tingkatan tertentu kita akan menjadi takut dengan jabatan. Tingkatan inilah yang dicapai para sahabat r.hum. mereka mengasingkan diri dan sebagian lagi menghadap langsung untuk menyatakan ketidaksiapannya menerima jabatan. Mereka khawatir keimanan dan kesalehannya tergerus oleh fitnah kekuasaan itu.

Ketika Yazid bin Muhallab menjadi Gubernur di Khurasan, ia mengatakan kepada stafnya,”carikan untukku seorang lelaki yang sempurna perilaku dan karakternya.” Mereka pun menyebut nama Abu Burdah al Asya’ri. Lalu sang Gubernur segera menemui Abu Burdah. Betul apa yang dikatakan stafnya. Bahkan ia melihat sosok Abu Burbah jauh lebih baik dari yang didengarnya sehingga sang Gubernur langsung mengangkatnya jadi pejabat.

Tapi apa yang terjadi? Abu Burdah menolaknya dan berkata,”Tidakkah aku kabarkan kepadamu Hadist Rasulullah saw,”Siapa yang memikul satu pekerjaan padahal ia tahu dirinya bukan ahli dalam pekerjaan itu maka siapkanlah baginya neraka, dana aku bersaksi bahwa aku tidak ahli pada jabatan yang engkau berikan (Aina Nahnu min Akhlaissalaf, 39)

 

PISAU BERMATA DUA

Menjadi pejabat atau penguasa seperti pisau bermata dua. Ia merupakan sebab meraih fadhilah dan menjadi sarana yang mengantarnya ke surga, tapi disaat yang sama juga bisa menjerumuskan ke neraka. Jika kekuasaan itu dijalankan sesuai syariat Allah swt. maka tentu akan mengantarkan ke surga. Tapi jika sebaliknya, maka kita yakin jabatan itu akan menjadi sarana yang melancarkan perjalanan kita ke neraka.

Wajar jika Nabi saw. tidak terlalu memotivasi umatnya untuk menjadi penguasa. Bahkan Beliau saw. justru mewanti wanti umatnya agar menjauhi kekuasaan. Beliau saw. pernah berpesan kepada sahabatnya, Abu Dzar r.a ,”Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut (H.r Muslim, 1825)

Abu Dzar r.a adalah sahabat yang sangat zuhud. Namun zuhud yang dimilikinya belum mencukupi untuk menjadi penguasa. Kekuatan jiw mesti ada untuk menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar serta butuh keberanian untuk tidak mencampur adukkan yang hak dan yan bathil.

 

MENOLAK LEBIH SELAMAT

Saat ini kita berada di zaman yang orang-orang di dalamnya sebagian besar salah kaprah dalam melihat jabatan. Mereka mengira dengan jabatan ia akan dihormati, kekayaan dan kenikmatan duniawi lainnya bisa disergap. Akhirnya mereka pun berebut untuk menjadi pejabat.

Perebutan kekuasaan saat ini sejatinya adalah lautan fitnah yang tidak bertepi. Syaikh Shalih al-Munajjid berkata ,” Di antara yang merusak keihklasan hati dan memperkuat keterkaitannya dengan dunia dan berpaling dari akhirat adalah cinta kekuasaan. Ia penyakit berbahaya; uang dihamburkan, permusuhan terjadi, pertumpahan darah antara bapak dan anaknya tak terelakkan. Karenanya, ini dikatakan sebagai syahwat khafiyah (syahwat terselubung).” ( Hubbu Arri’asah, Muhammad Shaleh al Munajjid,5)

Akhirnya kita pun akan memilih, masuk dalam kubangan fitnah atau menghindarinya. Pastikan kita memilih yang kedua. Karena pilihan inilah yang menjamin terjaganya akidah, keistiqomahan dan kesalehan kita.

Wallahu a’lam bis showab.

 

 

SUMBER : MAJALAH HIDAYATULLAH

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 14, 2012 in ISLAM

 

Menjual Waktu dengan Pahala

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-hadid: 16)

Maha Suci Allah yang menggantikan malam dengan siang dan sore pun menyongsong malam. Hari berlalu menyusun pekan. Hitungan bulan-bulan pun membentuk tahun. Tanpa terasa, pintu ajal kian menjelang. Sementara, peluang hidup tak ada siaran ulang.

Siap atau tidak, waktu pasti akan meninggalkan kita

Sejauh apa pun satu tahun ke depan jauh lebih dekat daripada satu detik yang lalu. Karena waktu yang berlalu, walaupun satu detik, tidak akan bisa dimanfaatkan lagi. Ia sudah jauh meninggalkan kita.

Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Pagi ini adalah pagi ini. Kalau datang siang, ia tidak akan pernah kembali. Kalau kesempatan di pagi ini lewat, hilang sudah momentum yang bisa diambil. Karena, belum tentu kita bisa berjumpa dengan pagi esok.

Itulah yang pernah menggugah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, karena sangat lelah, Umar menolak kunjungan seorang warga. “Esok pagi saja!” ucapnya spontan. Khalifah Umar berharap esok pagi ia bisa lebih segar sehingga urusan bisa diselesaikan dengan baik.

Tapi, sebuah ucapan tak terduga tiba-tiba menyentak kesadaran Khalifah kelima ini. Warga itu mengatakan, “Wahai Umar, apakah kamu yakin akan tetap hidup esok pagi?” Deg. Umar pun langsung beristighfar. Saat itu juga, ia menerima kunjungan warga itu.

Kalau kita menganggap remeh sebuah ruang waktu, sebenarnya kita sedang membuang sebuah kesempatan. Kalau pergi, kesempatan tidak akan kembali. Ia akan pergi bersama berlalunya waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (Al-Ashr: 1-2)

Siap atau tidak, jatah waktu kita terus berkurang

Ketika seseorang sedang merayakan hari ulang tahun, sebenarnya ia sedang merayakan berkurangnya jatah usia. Umurnya sudah berkurang satu tahun. Atau, hari kematiannya lebih dekat satu tahun. Dalam skala yang lebih luas, pergantian tahun adalah berarti berkurangnya umur dunia. Atau, hari kiamat lebih dekat satu tahun dibanding tahun lalu.

Ketika jatah-jatah waktu itu terus berkurang, peluang kita semakin sedikit. Biasanya, penyesalan datang belakangan. “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 23-24)

Tak banyak yang sadar, begitu banyak peluang menghilang

Kadang, seseorang menganggap biasa mengisi hari-hari dengan santai, televisi, dan berbagai mainan. Bahkan ada yang bisa berjam-jam bersibuk-sibuk dengan video game. Sedikit pun tak muncul rasa kehilangan. Apalagi penyesalan.

Padahal kalau dihitung, amal kita akan terlihat sedikit jika dibanding dengan kesibukan rutin lain. Dengan usia tiga puluh tahun, misalnya. Selama itu, jika tiap hari seorang tidur delapan jam, ternyata ia sudah tidur selama 87.600 jam. Ini sama dengan 3.650 hari, atau selama sepuluh tahun. Dengan kata lain, selama tiga puluh tahun hidup, sepertiganya cuma habis buat tidur.

Jika orang itu menghabiskan empat jam buat nonton televisi, setidaknya, ia sudah menonton televisi selama 43.200 jam. Itu sama dengan 1.800 hari, atau lima tahun. Bayangkan, dari tiga puluh tahun hidup, lima tahun cuma habis buat nonton teve. Belum lagi urusan-urusan lain. Bisa ngobrol, curhat, ngerumpi, jalan-jalan, dan sebagainya.

Lalu, berapa banyak porsi waktunya buat ibadah? Kalau satu salat wajib menghabiskan waktu sepuluh menit, satu hari ia salat selama lima puluh menit. Ditambah zikir dan tilawah selama tiga puluh menit, ia beribadah selama delapan puluh menit per hari. Jika dikurangi sepuluh tahun karena usia kanak-kanak, ia baru beribadah selama 1.600 jam. Atau, 1,8 persen dari waktu tidur. Atau, 3,7 persen dari lama nonton teve.

Betapa banyak peluang yang terbuang. Betapa banyak waktu berlalu tanpa nilai. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3)

Tak seorang pun tahu, kapan waktunya berakhir. Tiap yang bernyawa pasti mati. Termasuk, manusia. Kalau dirata-rata, usia manusia saat ini tidak lebih dari enam puluhan tahun. Atau, setara dengan dua belas kali pemilu di Indonesia. Waktu yang begitu sedikit.

Saatnya buat orang-orang beriman memaknai waktu. Biarlah orang mengatakan waktu adalah uang. Orang beriman akan bilang, “Waktu adalah pahala!”

 

Sumber : http://www.dakwatuna.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 4, 2012 in ISLAM