RSS

MULIA KARENA MENOLAK JABATAN

14 Sep

Di usia yang semakin sepuh Utsman bin Affan r.a kerap terserang penyakit. Karena khawatir akan kematiannya, maka sahabat Nabi saw. yang saat itu menjabat sebagai khalifah ini menyuruh pembantunya yang bernama Humran untuk menulis wasiat. Isi wasiat itu terkait suksesi kepemimpinan sepeninggalnya.

Dalam wasiat itu Utsman r.a menunjuk Abdurrahman bin Auf r.a untuk menggantikannya. Humran pun segera menemui Abdurrahman. Humran berkata, “Kabar gembira untukmu, wahai Abdurrahman.”

“Apa yang kau maksudkan?” kata Abdurrahman bin Auf r.a.

“Sesungguhnya Utsman telah berwasiat bahwa khalifah penggantinya adalah engkau,” kata Humran.

Bukannya bergembira, tapi Abdurrahman langsung berdiri sambil berdoa, “Ya Allah, jika hal ini memang berasal dari Utsman, maka wafatkanlah aku sebelum terjadi (siyar A’laminnubala.’ 1/102)

Doa yang dibacakan Abdurrahman bin Auf r.a bukanlah basa basi atau retorika politik pencitraan. Doa sahabat yang piawai berbisnis ini justru menggambarkan suasana hatinya yang tiba tiba gusar dan gelisah mengetahui dirinya hendak didaulat menjadi pemimpin. Allah swt pun mengabulkan doa sahabat yang mulia ini. Enam bulan setelah kejadian itu ia pun dipanggil Allah swt.

Satu pertanyaan yang akan muncul, apa sebenarnya yang mendorong sahabat yang satu ini berani memilih sikap seperti itu? Bukankah jabataan bisa dijadikan sarana untuk berbuat kebajikan? Apalagi kala itu syariat Islamlah yang menjadi pedoman sehingga peluang berbuat kebajikan terbuka lebar. Dari sisi kemampuan beliau tidak diragukan. Selain pengusaha sukses juga memiliki jam terbang tinggi dalam urusan politik. Beliau termasuk salah seorang yang ditunjuk Umar r.a untuk memusyawarahkan siapa yang menjadi khalifah setelahnya. Dan kala itu Abdurrahman sepakat untuk mengangkat Utsman bin Affan r.a sebagai khalifah.

Nampaknya, untuk urusan kekuasaan dan jabatan para Sahabat mempunyai hitungan yang lebih jeli. Para Sahabat lebih tenang jika memotret jabatan dari potensi ancaman yang ada di dalamnya. Jika kita membaca Hadist tentang jabatan, memang jabatan akan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Contoh sabda Rasulullah saw berikut, “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (H.r Bukhari no 7148)

Amir bin Sa’ad pernah berkata kepada bapaknya, Sa’ad bin Abi Waqqash r.a,”Wahai ayahku, kenapa engkau lebih memilih berada di pelosok bersama kambing-kambingmu sementara orang sedang membincangkan kekuasaan di kota Madinah?”

Sa’ad r.a berkata,” Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang bertaqwa, berkecukupan dan menyembunyikan popularitasnya.” (siyar A’laminnubala, 1/81)

Memang dalam jabatan ada kemudahan dan keuntungan duniawi yang secara asal mubah untuk diambil dan dimanfaatkan. Tapi bagi seorang Muslim terlalu hina rasanya jika kekuasaan itu dipandang dari sudut kenikmatan duniawi saja. Jika kekuasaan disorot dari sisi negatifnya, maka ambisi kita akan padam dengan sendirinya. Bahkan dalam tingkatan tertentu kita akan menjadi takut dengan jabatan. Tingkatan inilah yang dicapai para sahabat r.hum. mereka mengasingkan diri dan sebagian lagi menghadap langsung untuk menyatakan ketidaksiapannya menerima jabatan. Mereka khawatir keimanan dan kesalehannya tergerus oleh fitnah kekuasaan itu.

Ketika Yazid bin Muhallab menjadi Gubernur di Khurasan, ia mengatakan kepada stafnya,”carikan untukku seorang lelaki yang sempurna perilaku dan karakternya.” Mereka pun menyebut nama Abu Burdah al Asya’ri. Lalu sang Gubernur segera menemui Abu Burdah. Betul apa yang dikatakan stafnya. Bahkan ia melihat sosok Abu Burbah jauh lebih baik dari yang didengarnya sehingga sang Gubernur langsung mengangkatnya jadi pejabat.

Tapi apa yang terjadi? Abu Burdah menolaknya dan berkata,”Tidakkah aku kabarkan kepadamu Hadist Rasulullah saw,”Siapa yang memikul satu pekerjaan padahal ia tahu dirinya bukan ahli dalam pekerjaan itu maka siapkanlah baginya neraka, dana aku bersaksi bahwa aku tidak ahli pada jabatan yang engkau berikan (Aina Nahnu min Akhlaissalaf, 39)

 

PISAU BERMATA DUA

Menjadi pejabat atau penguasa seperti pisau bermata dua. Ia merupakan sebab meraih fadhilah dan menjadi sarana yang mengantarnya ke surga, tapi disaat yang sama juga bisa menjerumuskan ke neraka. Jika kekuasaan itu dijalankan sesuai syariat Allah swt. maka tentu akan mengantarkan ke surga. Tapi jika sebaliknya, maka kita yakin jabatan itu akan menjadi sarana yang melancarkan perjalanan kita ke neraka.

Wajar jika Nabi saw. tidak terlalu memotivasi umatnya untuk menjadi penguasa. Bahkan Beliau saw. justru mewanti wanti umatnya agar menjauhi kekuasaan. Beliau saw. pernah berpesan kepada sahabatnya, Abu Dzar r.a ,”Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut (H.r Muslim, 1825)

Abu Dzar r.a adalah sahabat yang sangat zuhud. Namun zuhud yang dimilikinya belum mencukupi untuk menjadi penguasa. Kekuatan jiw mesti ada untuk menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar serta butuh keberanian untuk tidak mencampur adukkan yang hak dan yan bathil.

 

MENOLAK LEBIH SELAMAT

Saat ini kita berada di zaman yang orang-orang di dalamnya sebagian besar salah kaprah dalam melihat jabatan. Mereka mengira dengan jabatan ia akan dihormati, kekayaan dan kenikmatan duniawi lainnya bisa disergap. Akhirnya mereka pun berebut untuk menjadi pejabat.

Perebutan kekuasaan saat ini sejatinya adalah lautan fitnah yang tidak bertepi. Syaikh Shalih al-Munajjid berkata ,” Di antara yang merusak keihklasan hati dan memperkuat keterkaitannya dengan dunia dan berpaling dari akhirat adalah cinta kekuasaan. Ia penyakit berbahaya; uang dihamburkan, permusuhan terjadi, pertumpahan darah antara bapak dan anaknya tak terelakkan. Karenanya, ini dikatakan sebagai syahwat khafiyah (syahwat terselubung).” ( Hubbu Arri’asah, Muhammad Shaleh al Munajjid,5)

Akhirnya kita pun akan memilih, masuk dalam kubangan fitnah atau menghindarinya. Pastikan kita memilih yang kedua. Karena pilihan inilah yang menjamin terjaganya akidah, keistiqomahan dan kesalehan kita.

Wallahu a’lam bis showab.

 

 

SUMBER : MAJALAH HIDAYATULLAH

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 14, 2012 in ISLAM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s