RSS

Arsip Bulanan: November 2012

Pengunjung Terakhir Akan Datang

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri.!! Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!

Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!

Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu.!!

Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan perantara yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu! Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuannya!

Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu seutuhnya bukan separoh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!! Allah subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS: As-Sajadah: 11)

Dan firman-Nya, yang artinya: “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS: Al-An’am: 61)

 

Kereta Usia

Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti? Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan ‘kereta usia’ sudah mendekati rute terakhirnya? Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?”

 

Berhati-hatilah!

Semoga anda tidak termasuk orang yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan, artinya: “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (QS: Muhammad: 27) Atau firman-Nya, yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS: An-Nahl: 28-29)

Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?

Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka’at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?

‘Kontrak’ amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!

Allah subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).” Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS: Al-Mu’minun: 99-100)

 

Persiapkan Dirimu!

Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Alloh Al-Jabbar? Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasululloh shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Berhitunglah Atas Dirimu!

Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dalam ladang amal dengan sungguh-sungguh di masa luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.

Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cobaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan memberikan toleransi padamu!

(Sumber Rujukan: Az-Zâ’ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih)

 

Niat amal dan sampaikan.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 29, 2012 in Sucikan Hati

 

Kewajiban Menutup Aurat Secara Sempurna

Oleh : Tias Yuliana

Tanya :

Setelah melalui proses pencarian dan pengkajian yang panjang, akhirnya beberapa hari lalu saya memutuskan untuk menutup aurat secara sempurna. Tidak hanya mengenakan kerudung tetapi juga beserta jilbabnya. Namun terkadang ada sedikit godaan dan kekhawatiran. Bagaimana sih agar saya bisa mengenakan jilbab dengan istiqomah? Bagaimana menghilangkan ketakukan-ketakutan itu? Apalagi kebijakan di kampus, saya tidak diperkenankan mengenakan jilbab ketika mengikuti kegiatan praktikum. Meskipun kerudung masih boleh dikenakan, tapi untuk jilbab tidak ada toleransi.

Yayuk – DPD IPB

 

Jawab :

Kewajiban Menutup Aurat Secara Sempurna

Pernahkah terpikir pertanyaan tentang, “kenapa kita harus mengenakan pakaian?” heehee… Jika kita mengaku sebagai seorang muslim tentu tidak akan menjawab “untuk menghindari masuk angin” J Berpakaian dengan tujuan utamanya untuk menutup aurat, merupakan suatu ibadah wajib bagi setiap kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan.

Allah SWT berfirman :

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu, dan pakaian indah untuk perhiasan.” [QS. al-A’raaf : 26]

Ya, pakaian untuk menutupi aurat dan sebagai “perhiasan” bagi diri kita. Aurat itu apa sih? Kenapa harus ditutupi? Menurut pengertian bahasa, aurat merupakan kekurangan dan sesuatu yang mendatangkan celaan (aurat manusia dan semua yang bisa mendatangkan rasa malu dan tercela bila terlihat). Aurat adalah bagian tubuh yang tidak boleh dilihat oleh wanita lain dan laki-laki lain yang memang tidak memiliki hak atasnya.

Bagian mana saja sih yang disebut aurat dan harus ditutupi dengan pakaian? Untuk muslimah batasan auratnya adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan.

Rasulullah SAW bersabda :

“Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.” [HR. Muslim]

Bagaimana syarat menutup aurat yang disyariatkan oleh Islam? Tentu saja menutup aurat harus dilakukan hingga warna kulitnya tertutup. Seseorang tidak bisa dikatakan menutup aurat, iika auratnya sekedar ditutup dengan kain atau sesuatu yang tipis sehingga warna kulitnya nampak. Menutup aurat hukumnya wajib bagi seluruh kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan dengan batasan yang telah ditentukan oleh syara’, dimanapun dan kapanpun. Bahkan ketika seseorang itu sedang sendiri tetap diwajibkan untuk menutup auratnya, kecuali jika ia sedang mandi, buang hajat, dan ketentuan lain yang dibenarkan oleh syara’.

 

Jilbab ≠ Kerudung

Syariat Islam tidak hanya memerintahkan seorang muslimah untuk menutup auratnya, tetapi juga mewajibkannya untuk mengenakan busana khusus jika hendak keluar rumah. Nah kewajiban mengenakan pakaian khusus di luar rumah ini terpisah dari kewajiban menutup aurat seperti sebelumnya. Jadi para wanita muslimah dikenakan dua hukum dalam hal menutup aurat : (1) menutup aurat saat di kehidupan privat (rumah) dan (2) menutup aurat dengan pakaian khusus ketika di kehidupan publik (di luar rumah).

Pertanyaan selanjutnya, pakaian luar rumah itu seperti apa? Apa bedanya dengan pakaian biasa yang kita kenakan?

Ok, sebelum membahas pakaian khusus di luar rumah, ada baiknya kita bahas dulu pakaian yang harus kita gunakan untuk kewajiban “menutup aurat” di wilayah privat (kewajiban pertama). Dalam konteks “menutup aurat”, syariat Islam tidak mensyaratkan bentuk pakaian tertentu atau bahan tertentu yang digunakan untuk menutup aurat. Syariat hanya mensyaratkan agar pakaian yang kita gunakan tidak menampakkan warna kulit. Jadi kalau di dalam rumah, mau pakai baju model dan warna apapaun tidak masalah, selama tidak menampakkan warna kulit.

Tetapi akan menjadi berbeda ketika seorang muslimah hendak keluar dari rumah. Dia harus mengenakan pakaian khusus (kewajiban kedua). Seorang muslimah wajib mengenakan khimar (kerudung) dan jilbab. Khimar dan kerudung ini harus dipakai diluar pakaian yang biasa kita kenakan. Jadi kayak pakai mantel atau jas.

Eeh tunggu dulu, khimar (kerudung) dan jilbab?

Yah benar, khimar (kerudung) berbeda dengan jilbab. Sedangkan selama ini banyak kaum muslimin yang menganggap bahwa keduanya adalah sama. Meskipun kita telah menutup seluruh tubuh (kecuali muka dan dua telapak tangan) serta mengenakan kerudung tapi belum mengenakan jilbab, yah sama ajah kita belum menutup aurat secara sempurna untuk kewajiban yang kedua (di kehidupan publik).

1. Perintah mengenakan khimar (kerudung)

Dalil yang menunjukkan perintah ini yakni firman Allah SWT :

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” [QS. an-Nuur : 31]

Ayat ini menjelaskan perintah Allah kepada muslimah untuk mengenakan kerudung yang menutupi kepala, leher, hingga dadanya.

2. Perintah mengenakan jilbab

Sedangkan kewajiban mengenakan jilbab untuk wanita mukminat dijelaskan dalam surat al-Ahzab ayat 59. Allah SWT berfirman :

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mu’min : “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” [QS. al-Ahzab : 59]

Kedua ayat di atas sudah sangat jelas kan, kalau kerudung dan jilbab itu adalah dua hal dan dua kewajiban yang terpisah tapi harus dikenakan bersama. Pada ayat kedua kita diperintahkan untuk mengenakan jilbab. Jika jilbab itu bukan khimar (kerudung), seperti apakah bentuk jilbab itu?

Jilbab adalah milhafah (baju kurung) dan mula’ah (kain panjang yang tidak berjahit). Dalam kamus al-Muhith dijelaskan bahwa jilbab itu seperti sirdaab (terowongan) atau sinmaar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.

Heeem, udah kebayang belum?

Jadi busana yang harus dikenakan muslimah saat keluar dari rumah selain mengenakan kerudung, ia juga harus mengenakan jilbab (pakaian luas yang dikenakan diluar pakaian sehari-hari dan wajib diulurkan hingga menutupi ke bawah kaki).

 

Istiqomah dalam Mengenakan Jilbab?

Saat ini memang belum banyak muslimah yang memahami bagaimana menutup aurat yang sempurna jika berada di luar rumah. Banyak muslimah yang tidak mampu membedakan antara kerudung dan jilbab. Kalaupun ada muslimah yang mengenakan jilbab, bagi sebagian awam akan tampak “aneh” dan terkesan asing (karena belum terbiasa).

Sikap parno itu tidak hanya melanda sebagian kaum muslimin, bahkan institusi baik pendidikan maupun yang lainnya. Banyak kampus, sekolah, atau perusahaan yang melarang pelajar atau pegawainya mengenakan jilbab tapi masih diperkenankan memakai kerudung. Memutuskan untuk berjilbab, menutup aurat secara sempurna, berarti selangkah kita telah mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman :

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [QS. al-Baqarah : 214]

Menutup aurat secara sempurna merupakan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah. Bersegera dalam menjalankan perintah-Nya adalah langkah yang terbaik. Ketika pilihan tersebut terbentur dengan kebijakan institusi, pandanglah hal tersebut sebagai ujian untuk meningkatkan kadar keimanan kita. Rasulullah SAW bersabda:

“… seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kuat, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya…”

Sabar adalah ketika kita mengatakan yang hak dan melaksanakannya. Sikap menanggung resiko dan penderitaan di jalan Allah karena mengatakan dan mengamalkan kebenaran tanpa berpaling, bersikap lemah, atau lunak sedikitpun. Sabar yang sebenarnya adalah sabar yang tela dijadikan Allah sebagai buah ketakwaan. Allah berfirman :

“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [QS. Yusuf : 90]

Sabar terhadap cobaan dan qadha adalah sesuatu yang akan menuntun menuju sikap konsisten, bukan sikap yang labil. Sabar yang akan mendorong untuk senantiasa berpegang teguh pada kitab Allah, bukan melemparkannya dengan dalih beratnya cobaan.

 

Wallahu a’lam bis showab.

 

Sumber : http://dakwahkampus.com


 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 26, 2012 in Sucikan Hati