RSS

Arsip Kategori: Hobbies

Lirik Lagu ‘Butet’

 

Butet dipangungsian do apangmu ale butet

Damargurilla damardarurat ale butet

Damargurilla damardarurat ale butet

Butet sotung ngolngolan ro hamuna ale butet

Pai ma tona manang surat ale butet

Pai ma tona manang surat ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

 

Butet tibo do mulak au apangmu ale butet

Masunta ingkon saut do talu ale butet

Masunta ingkon saut do talu ale butet

Butet haru patibu ma magodang ale butet

Asa adong da palang merah ale butet

Da palang merah ni negara ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

 

Artinya

Putriku.. ayahmu sedang mengungsi, oh putriku

Perang gerilya sedang darurat, oh putriku

Perang gerilya sedang darurat, oh putriku

Putriku.. janganlah hatimu jemu, oh putriku

Menanti kabar atau surat, oh putriku

Menanti kabar atau surat, oh putriku

Oh Gusti, adu duh biyung, Oh Gusti

Oh Gusti, adu duh biyung, Oh Gusti

 

Putriku.. ayahmu akan segera pulang, oh putriku

Musuh pasti akan kalah, oh putriku

Musuh pasti akan kalah, oh putriku

Putriku.. lekaslah besar, oh putriku

jadi anggota Palang Merah, oh putriku

Palang Merah negara kita, oh putriku

Oh Gusti, adu duh biyung, Oh Gusti

Oh Gusti, adu duh biyung, Oh Gusti

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 7, 2009 in Hobbies

 

RING FLASH buatan sendiri

Disadur dari situs FN

Membuat RingFlash Murah meriah

Barang yang diperlukan :

1. Lampu LED bercahaya putih terang 12 bh x @ rp.2.000,- (Not led biasa @Rp300)

2. Tempat Battre AA2 yang bisa untuk 4 battre @ Rp.2.000,-

3. Kabel kecil 1 meter @Rp.700,-

4. Potensio meter 1k @Rp 500 (sebagai tahanan, utk pengatur cahaya LED, seperti volume pada tape)

5. Saklar kecil @Rp.250

Langkah Pertama yang harus di persiapkan adalah

  1. Ambil pulpen dan pensil + penggaris.
  2. buatlah potongan kertas 4 cm x 10 cm untuk menutupi ADAPTER dan rekatkan dg slotip

Buatlah potongan kertas 4 cm x 50 cm beberapa buah dan gulunglah pada ADAPTER setebal mungkin, tetapi jangan di selotip ke adapter supaya bisa di lepas. Jangan lupa ketika membuat gulungan usahakan untuk dilem, pake lem AIKA AIBON secukupnya, lepaslah gulungan tersebut dari adapter dan sisi atas di kasih lem AIKA AIBON, untuk mempermudah penyusunan lampu LED NANTI….

Susunlah lampu LED Satu demi satu, dengan jarak yang sama.

Ambil Benang dan lilitkan kada kumpulan LAMPU LED TERSEBUT DAN IKAT MATI.

BENGKOK-kan kaki-kaki LAMPU LED TERSEBUT, pilih yang sejenis (+) POSITIF semua atau pilih yang (-) NEGATIF semua.

 

Tutup kembali kaki-kaki LAMPU LED tersebut sampai hampir menutupi semua kaki-kaki LAMPU LED yang tidak di bengkokkan.

1. Kaki-kaki LAMPU LED yang di bengkokkan di sambung pake kabel yang sudah di kelupas kulitnya.

2. Demikian pula Kaki Kaki LAMPU LED yang tidak di bengkokkan harus di sambung pake kabel yang sudah di kelupas kulitnya.

Ambil potongan karton lagi, dan tutuplah sekali lagi kaki-kaki LAMPU LED yang sudah tersambung oleh kabel. Sambunglah kabel dari lampu led dengan kabel yang lebih panjang ke kabel tempat battre.

(JANGAN TERBALIK ANTARA POSITIF DAN NEGATIF) KAKI LAMPU LED YANG PANJANG ADALAH YANG POSITIF, SEDANGKAN YANG LEBIH PENDEK NEGATIF.

– Kalau proses sudah selesai dan lampu led bisa nyala, PUTUSKAN salah satu kabel POSITIF atau NEGATIF, dan sambungkan ke Saklar dan POTENSIO METER.

– RAPIKAN HASIL KERJAAN, Lem SAKLAR dan POTENSIO METER ke tempat Battre dan BERSIAP UNTUK BERMAKRO MALAM

 

KESIMPULAN :

1. MAKIN BANYAK LAMPU LED MAKIN RAPAT SUSUNAN LAMPU LEDNYA, OTOMATIS CAHAYA MAKIN RATA,

2. Terangnya Cahaya LED bisa diatur di Potensio Meter, akali supaya potensio meter mudah untuk di putar-putar.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2009 in Hobbies, Ilmu Pengetahuan

 

Fotografi Makro

Disadur dari Anif Putramijaya (FN )

Prakata:

Fotografi adalah dua kata yang berarti Photos dan Graphos,

dimana arti secara harfiahnya adalah “Melukis dengan Cahaya”.

Didalam kategori dunia fotografi kita akan menemui salah satunya adalah fotografi makro.Yang mana pada saat ini sedang mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan sangat menarik untuk di pelajari serta di dalami.

Mengapa Makro? Jawabannya mungkin banyak sekali, dan bahkan tidak akan mencukupi bila disebutkan semuanya disini.

Secara garis besarnya fotografi makro diperlukan antara lain:

Untuk bahan Scientific/ identifikasi species (satwa/tumbuh2an).

Untuk Engineering, metallurgy, manufacture.

Untuk tujuan promosi/marketing suatu benda/hewan/tumbuh2an .

Untuk keindahan , bahwa di dunia ini ada makhluk lain cipta’an Tuhan yang tidak bisa kita melihat keindahannya dengan mata biasa.

Dan masih banyak lainnya.

Detail suatu benda/object, komposisi dan bentuk suatu benda yang kecil, pastilah kita akan selalu luput memperhatikannya, maka dengan makro fotografi kita akan bisa melihat dengan jelas secara detail, baik warna maupun bentuknya.

Jadi melalui fotografi makro kita dapat melihat dengan jelas detail mata/facet sebuah lalat (yang mungkin kita akan jijik ketika melihat lalatnya) akan menjadi indah bentuk dan warnanya, proses penyerbukan putik pada bunga oleh lebah, kupu2 yang sedang menghisap madu, lekuk detail ukiran sebuah koin, bahkan membekukan sebuah lebah yang sedang terbang.

Seiring dengan bertambah majunya era digitalisasi saat ini, mempelajari fotografi makro adalah hal yang tidak sulit, tidak seperti di era fotografi saat masih menggunakan kamera analog plus negative film.

Oleh sebab itu pada saat era digital saa ini, fotografi makro dapat dilakukan oleh siapa saja ,tua maupun muda, lelaki atau perempuan, bahkan untuk fotogafer pemula dan kamera yang bukan pro, asal saja dilakukan dengan sungguh-sungguh .

Fotografi Makro

Fotografi makro adalah salah satu kategori fotografi yang membuat pembesaran terhadap suatu object. Atau bisa dengan kata lain dunia fotografi yang diperkecil kedalam dunia Micro.

Pembesaran tersebut bisa dilakukan dengan medekatkan obect dengan kamera, atau pun dari jarak terentu dengan menggunakan lensa tele. dan harus tetap mengusung konsep “Foto yang berbicara” dengan melibatkan unsur komposisi, POI dan keseimbangan.

Benda-benda yang dapat di makro adalah:

Ø Benda mati/diam

Seperti: sendok/garpu,perhiasan, uang koin, perangko,bunga,miniature mobil2an, souvenir dll.

 

Ø Makhluk hidup

Seperti : serangga, kupu-kupu, bunga tanaman, laba2, dll

 

Alat bantu untuk fotografi makro:

* Kamera Saku/Prosumer

Dengan kamera saku/prosumer pun kita bisa mengabadikan keindahan sebuah bunga mawar, sebuah kupu2 yang hinggap di bunga untuk menghisap madunya. Karena saat ini tekhnologi digital telah memungkinkan kita untuk melakukan fotografi makro dengan hasil yang tidak kalah bagusnya dengan kamera professional. Hampir semua kamera saku/prosumer yang sudah menyediakan fasilitas macro (biasanya ditandai dengan lambing gambar bunga tulip). Dan memungkinkan kita memotret dengan jarak focus kamera dan bendanya hingga beberapa sentimeter saja.

Saat ini sudah tersedia filter/alat tambahan yang dapat di pasang di kamera saku didepan lensanya untuk fotografi makro seperti Raynox dan filter lainnya untuk mendapatkan pembesaran yang lebih .

 

* Kamera SLR (Single Lens Reflex) baik analog maupun digital.

Semua kamera SLRDSLR kini sudah memiliki fasilitas untuk fotografi makro dengan menggunakan lensa yang berbeda-beda , dan biasanya jarak antara focus lensa ke objectnya akan berbeda tergantung jenis lensa yang kita gunakan.

Untuk lensa khusus makro biasanya jarak object ke lensa bisa sampai 20 cm, tapi apabila kita menggunakan lensa tele maka jarak terdekat yang bisa kita dapatkan titik focus biasanya lebih dari 1 meter dari object.

Sekarang telah banyak tersedia alat tambahan berupa filter close up,filter Lup/Raynox dan reverse lens (sebuah lensa yang dimodifikasi) yang di tempelkan didepan lensa, maka jarak antara object dan lensa akan semakin dekat untuk mendapatkan pembesaran lebih dari 1:1. Dan ada juga tele converter dan extension tube yang dipasang diantara lensa dan odi kamera.

 

Pembagian fotografi makro menggunakan kamera SLR/DSLR

Umum:

Menggunakan lensa khusus makro atau lensa zoom yang bertanda “bunga tulip”(bisa untuk foto makro )

Menggunakan lensa tele atau lensa normal plus tele converter..

Untuk lebih jelasnya maka lensa2 dibawah ini adalah yang biasa di pergunakan untuk fotografi makro:

# Lensa Makro Normal : 50mm

# Lensa Makro Mid tele : 90-105mm

# Lensa Makro Tele : 150-180mm

 

Ekstrem:

Memasang lensa tambahan lagi dengan posisi terbalik didepan lensa dengan tambahan sebuah adapter khusus.

Menggunakan filter tambahan seperti filter close-up didepan lensa.

Memakai filter yang seperti sifatnya sebuah kaca pembesar/Lup , Raynox,

Atau bahkan ada juga yang menambahkan sebuah kaca pembesar yang di lekatkan didepan lensa.

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan selama pemotretan makro adalah:

Lighting (sumber cahaya)

Dibagi dalam 2 :

# Natural lighting/cahaya alam/Matahari/available light

# Artifisial lighting (Flash dan lampu studio)

Depth Of Field (DoF)

DOF (kedalaman fokus) dalam fotografi makro, ruang ketajaman suatu foto akan indah bisa dilihat jikalau sesuai dengan object yang akan kita abadikan.

Karena semakin dekat jarak antara titik focus kamera dengan object maka akan semakin tipis/sempit DoFnya, ini dapat kita control dengan mengatur bukaan diafraga dari lensa nya. Tentunya kita tak akan menghasilkan foto kupu2 yang hanya tajam dibagian mata saja sementara keindahan dari warna sayapnya menjadi blur.

Jadi jikalau kita ingin mendapatkan DoF yang lebih lebar, tetapi jarak antara lensa dengan objectnya ingin lebih dekat, maka bukaan difragma haruslah di set semakin kecil nilainya (biasanya antara f/5.6 bisa sampai f/16).

Faktor yang mempengaruhi DoF adalah :

Panjang Lensa :makin panjang lensa makin tipis DOF yang akan dihasilkan

Jarak focus : Makin dekat jarak focus suatu object dari lensa, makin tipis DoF yang akan dihasilkan.

Diafragma: Makin besar bukaan lensa (f/2.8) makin tipis DoF yang akan dihasilkan.

Jadi kesimpulannya, DoF yang dihasilkan adalah kombinasi dari ke 3 variabel tsb.

Pada fotografi makro, DoF yang akan dihasilkan relative sangatlah tipis (kebalikan dari pemotretan landscape).

 

Fokus

# Auto fokus

# Manual fokus

Focusing pada fotografi makro tidaklah sulit apabila kita lakukan pada benda mati/diam. Tapi akan sangatlah sulit jikalau kita melakukannya pada benda yang bergerak seperti serangga yang selalu beterbangan.

Walaupun kini semua lensa sudah dilengkapi dengan fitur auto focus, tapi tidaklah semuanya memiliki kecepatan seperti yang kita harapkan dalam mengikuti object yang bergerak tersebut, jadi manual focusing sangatlah dibutuhkan dalam hal ini.

Setelah cukup terbiasa mendapatkan fokuc yang baik, barulah mencoba mengatur komposisi yang bagus.

 

Komposisi

Membuat komposisi agar sesuai dengan kaidah “Rule Of Third” sangatlah sulit, karena object yang akan kita foto selalu bergerak dan sangatlah kecil, kadangkala seluruh object tersebut mengisi frame kamera sepenuhnya.

Hanya dengan sering berlatih dan berlatihlah maka akan didapat komposisi yang bagus dan kreatifitas seorang fotografer sangatlah berperan sekali dalam menentukan komposisi antara foreground, background yang mendukung object (POI-Point of Interest) dengan DOF yang pas.

 

Lokasi

# Indoor

Didalam ruangan biasanya menggunakan lampu tambahan seperti flash, ringflash, atau bahkan lampu studio.

# Outdoor

Diluar ruangan kita selalu memanfaatkan cahaya matahari sebagai available lightingnya. Biasanya saat yang tepat untuk memotret makro adalah di pagi hari sampai jam 9 pagi, atau di sore hari jam 3-5 sore.

 

Tripod atau handheld

Disaat penggunaan flash tidak memungkinkan (karena serangga yang akan kita foto akan lari menjauh) maka untuk mendapatkan eksposure yang baik antara bukaan diafragma yang kecil (agar DOFnya lebih lebar) dan shutter speed sementara shutter speed yang kita dapat sangat rendah rendah, maka penggunaan tripod/monopod sangatlah di butuhkan agar hasil fotonya tidak menjadi blur.

Untuk jelasnya apabila shutter speed kita dibawah/lebih rendah/kecil dari 1/FL(Focal length) lensa yang dipergunakan maka sebaiknya pergunakanlah tripod/monopod. Contohnya kita memakai lensa yang 100mm, maka apabila shutter speed yang didapat di kamera 1/60 sebaiknya memakai tripod/monopod agar /object moment yang akan kita abadikan tidak menjadi blur.

Penggunaan tripod sangat membantu dalam pengambilan foto makro terutama disaat cuaca/matahari tidak sedang terik .

Monopod lebih flexible terutama dalam pengambilan foto makro serangga.

 

Mood dan kesabaran

Memotet adalah seperti halnya kita melukis sebuah kanvas putih, yang akan di lukis dengan menggunakan cahaya. Mood seorang fotografer akan tertuang dikanvas elektronik tersebut saat mengabadikannya.

Makro fotografi sangatlah menuntut kesabaran yang sangat tinggi dalam memotret sebuah bunga mawar apalagi seekor kupu2/lebah yang sedang sibuk menghisap madu di bunga.

Ingatlah, focus, eksposure dan komposisi dari object yang akan kita lukis di kamera apakah sudah seperti yang akan kita abadikan sesuai dengan mood nya.

 

Moment dan keberuntungan

Moment tidaklah sesulit seperti yang kita bayangkan, kita bisa mempelajari waktu, kebiasaan dan tempat dari setiap serangga keluar (pada umumnya pagi). Atau saat yang tepat/terbaik kapan sebuah bunga mawar akan mekar.

Kadang kala factor keberuntungan lah yang mempertemukan fotografer dengan objectnya.

Tapi janganlah lupa, jikalau kita tidak mendapatkan object baik dan menarik lantas tidak mau berusaha mengulanginya esok harinya.

Karena kunci dari fotografi makro adalah teerus berlatih dan terus berusaha semaksimal mungkin.

 

Beberapa tips & trik makro fotografi serangga dan bunga.

# Pelajari /baca wajah daripada object:

Pada saat memotret makro serangga, buatlah foto saat dia sedang berpose, tunggulah momen saat mata serangga tsb terpaku ke lensa.

Bila memotret bunga, perhatikan dan carilah sisi terbaik dari penampilan bunga tsb. Apakah harus mengambil angle secara keseluruhan, atau hanya diperlukan bagian kecil seperti putik atau benang sarinya.

Bereksperimenlah dengan berbagai arah dan anglenya.

 

# Background yang bersih:

Usahakan semaksimalnya BG/background itu bersih/simple yang mendukung POInya. Kalaupun ingin mendapatkan BG hitam (warna lain) bisa disiasati dengan menggunakan kain berwarna sebagai BGnya.

 

# Hindari Angin:

Memotret makro pada saat angin bertiup adalah hal yang sia2, karena kita akan mendapatkan hasil yang blur, bisa juga disiasati dengan mengatur shutter speed yang cepat, tapi sebisa mungkin hindarilah memotret makro disaat angin sedang bertiup sehingga akan membuat goyangan pada objectnya.

 

# Sabar menunggu momen yang tepat:

Pada saat berburu/hunting makro khususnya serangga, usahakan berdiam diri sehingga segala tidak menarik perhatian serangga tsb.

Apabila kita akan mendekati object, usahakan agar gerakan kita tidak membuat serangga tsb melarikan diri meninggalkan kita.

Dan apabila memotret serangga yang menempel pada bunga, cari posisi yang tepat pada saat dia sedang menghisap madu atau pada saat dia keluar dari bunga adalah moment yang sangat bagus untuk diabadikan.

 

# Tahan napas saat menekan shutter kamera.

Membuat posisi spt segitiga antara lengan dan siku yang ditempel kedada kita akan memperkokoh pegangan kamera, ditambah dengan menahan napas sesaat pada waktu menekan shutter kamera akan mengurangi kemungkinan kamera shake dan bisa menghindari hasil foto yang blur/shake.

 

# Tambahan cahaya:

Walaupun cahaya tambahan seperti flash adalah tidak dianjurkan, tapi jika dengan menggunakan diffuser atau peredam cahaya pada flash akan membuat halus hasil fotonya dan tidak akan terlau keras kontras yang dihasilkan pada objectnya.

Hindari direct flash ,atau tambahkan difusser pada flash, atau gunakan tekhnik bouncing untuk mendapatkan dimensi dari object .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2009 Maret 17 00:23:42

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 9, 2009 in Hobbies

 

ILMU LENSA

Diambil dari beberapa review teman-teman FN

– 18-200 menentukan focal length: 18mm adalah wide angle, 200 mm bisa dimasukkan kategori tele lens, jadi lensa ini bisa diatur mulai wide angle (sudut pandang yang lebar) sampai tele (sudut pandang sempit). Memang makin panjang rentangnya umumnya makin mahal, tapi harus liat feature yang lain dulu

– f/3.5-5.6, artinya diafragma terlebar adalaf f/3.5 pada setting 18mm, dan f/5.6 pada setting 200mm, tentu pada focal length diantaranya, diafragma terlebarnya juga berubah (ya diantara f/3.5 dan f/5.6 tentunya). Makin besar max aperturenya, makin mahal, misal f/2.8 dibandingin f/5.6, harganya significant banget

– G, ini menyatakan lensa Nikkor yang ngga ada aperture ringnya di lensa, jadi pengaturan aperture/diafragma dilakukan pada body camera…

– IF, Internal Focusing: ini teknik focusing di dalam lensa, jadi ada elemen-elemen lensa di dalam yang berubah posisinya sehingga terfocus pada jarak tertentu, lensa non IF biasanya elemen lensa terluar ikut bergerak, sehingga biasanya moncong lensa berputar, ini agak mengganggu kalau kita pasang filter yang berpengaruh pada posisi putaran lensa bagian depan, misal filter polirizer (CPL), kalau pake IF bagian depan ngga ikutan muter

– ED: adalah jenis bahan lensa, Extra Low Disperssion Glass, kaca khusus sehingga hasil gambar lebih tajam dari lensa biasa, tentu lensa dengan ED biasanya mahal Umumnya ada pada lensa tele

– VR: Vibration Reduction: Ini teknologi gyro, sehingga kalau tangan/kamera bergetar pada saat motret, biasanya hasilnya blur kalau shutter speednya kurang cepet, tapi dengan teknologi VR, getaran tangan tadi bisa dikompensasi sehingga efeknya tetap tajam seperti kalau kita pake shutter speed yang tinggi. Sangat berguna untuk low light dengan handheld. Tapi tetap kurang berguna kalau subjectnya bergerak cepat Tentu dengan adanya fasilitas ini lensa yang ada VRnya ya iya lah lebih mahal ada gyronya gitu loh…

 

MAkin lebar range lensa (18-200 VS 70-200), maka biasanya makin murah (lensa type sama).

Tapi biasanya ada bukaan (F number) tertentu yang jadi korban.

Makanya kenapa lensa fix harganya seluar biasa hasilnya.

MAkin besar bukaan (F kecil) makin mahal, ini kayaknya masalah mahalnya technologi.

18-200 VR kelebihannya utamanya di focal lengthnya

bisa cover 18mm (28mm equiv) sampai 200mm (300mm equivalent) dan ada VRIInya, cocok untuk lensa all-around.

kalau 70-200VR kelebihannya di IQ(image quality)nya dan aperaturenya yg 2.8

cocok utk candid dan potraits (bokeh di 200mm @2.8nya terkenal bagus)

jadi penggunaannya lebih spesifik

jadi kalau mencari solusi all-around, beli lah 18-200VR

tapi kalau mencari lensa candid, 70-200VR bisa perform lebih baik (dengan harga yang lebih mahal)

 

Simbol lensa pada Nikon ada:

-F, keluarga besar mulut lensa dg kode ini, walau seri slr, kompatibel dengan system dslr, baik AF dan SWM jika ada pada lensa tsb.

-M/A, singkatan dari manual auto mode, switch autofocus dari auto kemanual tanpa time lag, walau AF mode sedang berjalan, tanpa merusak system.

-D, Distance Information adalah keluarga lensa termasuk juga G-type, yang didesain agar mendukung AF pada body camera dan bersinergi dr 3D Matrix metering dan 3D Multi-sensor Balanced Fill Flash. Untuk D-Type ada Aperture ring pada lensa, tidak untuk G-type yg aperturenya pada body kamera.

-SIC, adalah tehnik multi coating, Super Integrated Coating, yg membantu menghilangkan efek ghost dan flare akibat pantulan sinar, sering di pakai pada lensa zoom yg angka bukaan besar dengan posisi wide angle. Seperti pada zoom terkenalnya 80-200 f/2,8D.

-DX, adalah keluarga lensa yang didesain khusus untuk kebutuhan SLR-SLR yang punya sensor lebih kecil dari36x24mm (APS-H atau APS-C), sama seperti keluarga lensa EF-S pada Canon, lensa ini didesan dan dicoating spesial khusus digital dengan sensor ini saja, apabila dipakai disensor full frame atau 35mm film SLR maka akan menimbulkan vignetting yang parah. Di Sigma DC.

-ASP., adalah lensa dengan elemen aspherical untuk mengurangi jumlah beling yang dipakai didalam dan untuk membuat bodynya jadi ringan dan pendek tanpa pengorbanan kualitas. Di Canon Aspherical Lenses, di sigma ASP juga

-ED, adalah lensa yang menggunakan beling XLD (Extra Low Dispersion) untuk menurunkan Chromatic Abberation, dibuat pertama pd th 1972 pd 300mm f/2,8 ED, ED membuat ketajaman yg superior pada range kecil maupun besar, biasanya lensa-2 yang ada tulisan ini mahal harganya. Di canon Super-UltraLowDispersion dan float, di sigma APO, di Tamron LD dan AD.

-VR, adalah singkatan dari Vibration Reduction, gunanya untuk mengurangi guncangan pada kamera. sama dengan image Stabilizer di Canon. Di Sigma OS

-CRC, Close Range Correction adalah lensa yang fokusnya ada di belakang dan juga didepan, setiap lempeng lensa dapat bergerak secara independent, sehingga dapat meningkatkan ketajaman, untuk kecepatan dan ketenangan dan lensa seperti ini tidak membuat flower-shaped lens hood berubah posisinya. Nikon mengklaim Cuma dia yg bias begini, banyak dipakai pada lens micro, wide, dan medium tele.

-RF, Rear Focusing adalah lensa yang fokusnya ada di belakang untuk kecepatan dan ketenangan dan lensa seperti ini tidak membuat flower-shaped lens hood berubah posisinya di canon Internal/Rear Focusing, di Sigma juga RF

-IF. Internal Focusing adalah lensa yang focusnya internal tapi didepan (dekat ujung lensa) sehingga tidak membuat flower-shaped lens hood berubah juga posisinya, dan tidak merubah size lensa, serta menambah kecepatan focus. Di sigma juga IF

– SWM, singkatan dari Silent Wave Motor, lensa-2 berkode ini menggunakan motor ultrasonic, sama dengan Canon USM Ultra Sonic Motor agar autofocusnya jadi secepat dan sesunyi ninja. Di Sigma HSM

 

 

Simbol lensa pada Canon ada:

Ini kode lensa yang umumnya ada di websitenya si Canon sendiri, brosur, review, dan di lensa:

-, u/ simbol ini dibentuk dari huruf USM, singkatan dari Ultra Sonic Motor. Lensa-2 yang mempunyai kode ini, punya motor autofocus secepat dan setenang ninja. Ada 2 generasi USM, generasi pertama motornya berisik, mengeluarkan suara *ngiing ngiing* yang kencang, lalu kalau mentok ada bunyi *tok*, saya punya lensa 28-70mm yang sudah lama sekali tapi udah mokad, ngga bisa fokus lebih jauh dari 5 meter. USM generasi ke-2 udah ninja silent, jadi ngga begitu lagi. Di sigma HSM Hyper Sonic Motor, di Nikon SWM

-,i/r ini artinya Internal/Rear Focusing, lensa berkode ini mempunyai fokus internal atau ring fokus dibelakang (dekat mounting lensa ke body kamera) sehingga tidak mengganggu fungsi flower-shaped lens hood atau filter-2 tertentu yang tidak kita kehendaki berpindah (misalnya: gradual ND). Di sigma dan Nikon RF Rear Focus

-,ca ini BUKAN singkatan dari “Color Abberation” seperti yang disalahpahamkan kebanyakan orang. CA adalah singkatan dari “Circular Aperture”. Lensa yang mempunyai simbol ini mempunyai diafragma yang bulet dari diafragma terbesarnya hingga terkecilnya, contoh lensa yang berlogo CA adalah lensa 70-200mm f/2.8 yang sangat terkenal itu. Lensa dengan CA bisa membuat CoC (Circle of Confusion/bokeh yang bulet-2 seperti yang disukai banyak orang) serta sanggup diintegrasikan dengan high-speed shooting (10 FPS pada EOS 1vHS?) di sigma DG

-, ftm singkatan dari FullTime-Manual, maksudnya adalah setelah fokus didapat oleh autofokus, kita bisa dengan aman menggerakan ring fokus lensa andaikata kita tidak setuju dengan penempatan fokus dari autofokus tanpa harus khawatir akan merusak motor/bagian lensa lainnya. Di Sigma beberapa seri EX. Excellent.

-, sud singkatan dari Super-UltraLowDispersion. Karena keberadaan CaF (Calcium Flourite) sangat langka (otomatis jadi mahal), dan lagipula tidak tahan panas (itulah kenapa lensa yang memakai beling ini dicat putih, supaya memantulkan panas sehingga tidak berpengaruh terhadap elemen CaF didalamnya), sehingga Canon menciptakan beling yang serupa karakteristiknya dengan CaF ini, walaupun tidak mungkin 100% identik, tapi dari segi harga pun berbeda. Angka 1 di simbol tersebut artinya beling S-UDnya cuma ada 1. di sigma APO, di Nikon ED, di Tamron LD dan AD.

-, al singkatan dari Aspherical Lenses, lensa-2 yang berkode seperti ini punya beling aspherical. Umumnya lensa terdiri dari lensa cembung untuk menangkap cahaya, sayangnya lensa ini punya cacad yang bisa membuat gambarnya pun kembung… oleh karena itu ditaruhlah beling aspherical ini agar cacadnya berkurang. Angka 3 pada logo ini berarti ada 3 beling aspheical didalam lensa itu. Di Sigma dan Nikon ASP. di Tamron ASL.

, is singkatan dari Image Stabilizer. Lensa berkode ini punya sensor gyro didalamnya, dan beberapa beling yang dapat bergerak sesuai sumbu yang diperlukan untuk membantu kita memotret dalam suasana kurang cahaya. Secara normal, aturan 1/focal length mengatakan bahwa kita harus menggunakan speed minimum 1/focal lengthnya. Misalnya kita menggunakan lensa 50mm, maka speed minimumnya adalah 1/50 atau resiko gambar akan blur, begitu juga dengan lensa 100mm, maka shutter speed minimumnya adalah 1/100, bagaimana kalau 500mm? Ya, dianjurkan menggunakan 1/500 detik. Hal ini bukan masalah kalau kita memotret di pantai, atau di suasana outdoor lainnya, tapi bagaimana kalau kita di orchestra? museum? fashion show? atau ditempat-2 yang melarang blitz lainnya (upacara adat, dll.). Image Stabilizer ada yang punya mode 1 & 2 (seperti pada 70-200mm f/2.8 L IS), dimana pada mode 1, Image Stabilizer akan menggerakan lensa di 2 sumbu (horizontal dan vertikal), sementara mode 2 hanya sumbu horizontalnya saja untuk keperluan panning, ada juga Image Stabilizer yang tidak ada pilihan ini (seperti pada 28-135mm f/3.5-5.6 IS). Di Sigma OS optical stabilizer, di Nikon VR

-, afs singkatan dari AutoFocus-Stop, adalah sebuah tombol di lensa yang berguna untuk men-stop sementara autofokus pada saat mode disetel ke AI-Servo. Tombol ini hanya ada di lensa-2 telephoto Canon (300mm, 400mm, 500mm, 600mm, 1200mm), sebuah tombol yang jarang dilihat orang, di Nikon M/A.

-, do singkatan dari Difractive Optics. Lensa berkode DO ini mempunyai ring hijau (lain dari yang lain). Lensa berelemen DO ini menggunakan beling yang diberi guratan-2 khusus seperti ini:. Guratan-2 itu bertugas untuk mengumpulkan cahaya lebih banyak, sehingga tidak perlu banyak beling untuk menghasilkan focal length yang tinggi dengan kemampuan mengumpulkan cahaya yang baik. Lensa DO kalau dilihat dari atas tampangnya akan seperti air beriak-2. Lensa DO ini beratnya bisa lebih ringan sampai 50%, dan ukurannya lebih pendek 33%, sayang hanya ada 2 seri lensa DO yaitu 70-300mm dan 400mm fixed focal length. Lensa DO ini walaupun tidak mempunyai gelang merah, tetapi sama istimewanya dengan gelang merah “L”, hanya gelangnya bewarna hijau, tapi harganya sama mahalnya, bahkan yang 400mm DO lebih mahal dari 400mm biasa.

-, fp singkatan dari Focus Preset, sebuah kemampuan lensa untuk “mengingat” posisi-2 fokus, dan lalu nanti kita dengan mudahnya untuk menggunakan memori fokus tersebut. Fitur ini baru ada di lensa-2 telephoto

-, Caf21ini adalah simbol unsur Calcium Flourite, sebuah unsur yang bisa dipergunakan sebagai optik yang ditemukan tahun 1880 untuk pembuatan mikroskop, karena indeks refraksinya yang sangat kecil, maka Canon menggunakannya untuk bahan lensa, sayangnya karena bahan ini hanya tersedia sedikit dan harganya mahal, maka tidak semua lensa mempunyainya (bahkan 70-200mm f/2.8 pun tidak dikasih, kasihan…,, tapi anehnya yang 70-200mm f/4 ada)

-, FLOAT bukan singkatan dari apa-2, sesuai artinya dalam bahasa Indonesia yaitu “mengambang”, didalam lensa-2 berkode FLOAT ini ada elemen yang mengkoreksi Chromatic Abberation yang dapat bergerak sesuai pergerakan zoom, biasanya ada di lensa-2 wide angle. dan tilt & shift. Di sigma APO, di Nikon ED. di Tamron LD dan AD.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 8, 2009 in Hobbies

 

TIPS foto Landscape

14 Tips untuk memperbaiki/improve foto Landscape anda ( disadur dari Fotografer.net / Yadi Yasin)

1. Maksimalkan Depth of Field (DoF)

Sebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape selayaknya sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dgn kata lain bidang depth of focus (DOF) yang selebar2nya, bisa menggunakan apperture (bukaan diafragma) yang sekecil mungkin (f number besar), misalnya f14, f16, f18, f22, f32, dst.

Tentu saja dgn semakin kecilnya apperture, berarti semakin lamanya exposure.

Karena keterbatasan lensa (yang tidak mampu mencapai f32 dan/atau f64) atau posisi spot di mana kita berdiri tidak mendukung, sebuah pendekatan lain bisa kita gunakan, yaitu teori hyper-focal, untuk mendapatkan bidang fokus yang “optimal” sesuai dgn scene yang kita hadapi. Inti dari jarak hyper-focal adalah meletakan titik focus pada posisi yang tepat untuk mendapatkan bidang focus yg seluas-luasnya yg dimungkinkan sehingga akan tajam dari FG hingga ke BG.

Dengan DoF lebar, akibat penggunaan f/20 dan pengaplikasian hyper-focal distance untuk menentukan focus

Masih dgn pengaplikasikan hyper-focal untuk mendapatkan DoF yg seluas2nya

2. Gunakan tripod dan cable release

Dari #1 diatas, akibat dari semakin lebarnya DOF yang berakibat semakin lamanya exposure, dibutuhkan tripod untuk long exposure untuk menjamin agar foto yang dihasilkan tajam. Cable release juga akan sangat membantu. Jika kamera memiliki fasilitas untuk mirror-lock up, maka fasilitas itu bisa juga digunakan untuk menghindari micro-shake akibat dari hentakkan mirror saat awal.

3. Carilah Focal point atau titik focus

Titik focus disini bukanlah titik dimana focus dari kamera diletakkan, tapi lebih merupakan titik dimana mata akan pertama kali tertuju (eye-contact) saat melihat foto.

Hampir semua foto yang “baik” mempunyai focal point, atau titik focus atau lebih sering secara salah kaprah disebut POI (Point of Interest). Sebetulnya justru sebuah landscape photography membutuhkan sebuah focal point untuk menarik mata berhenti sesaat sebelum mata mulai mengexplore detail keseluruhan foto. Focal point tidak mesti harus menjadi POI dari sebuah foto.

Sebuah foto yang tanpa focal point, akan membuat mata “wandering” tanpa sempat berhenti, yang mengakibatkan kehilangan ketertarikan pada sebah foto landscape. Sering foto seperti itu disebut datar (bland) saja.

Focal point bisa berupa berupa bangunan (yg kecil atau unik diantara dataran kosong), pohon (yg berdiri sendiri), batu (atau sekumpulan batu), orang atau binatang, atau siluet bentuk yg kontrast dgn BG, dst.

Peletakan dimana focal point juga kadang sangat berpengaruh, disini aturan “oldies” Rule of Third bermain.

Pada contoh foto dbawah, focal point adalah org berpayung yang berbaju merah

Focal point pada contoh foto dibawah adalah pada org berperahu disisi kiri

Focal point adalah pada matahari dan pantulannya di sawah.

Focal point adalah petani dan kerbaunya.

4. Carilah Foreground (FG)

Foreground bisa menjadi focal point bahkan menjadi POI (Point of Interest) dalam foto landscape anda.

Oleh sebab itu carilah sebuah FG yang kuat. Kadang sebuah FG yang baik menentukan “sukses” tidaknya sebuah foto landscape, terlepas dari bagaimanapun dasyatnya langit saat itu.

Sebuah object atau pattern di FG bisa membuat “sense of scale” dr foto landscape kita.

Contoh pengaplikasian FG

Apapun bisa menjadi object yg kuat di FG

Dari hanya rumput…

… hingga batu

5. Pilih langit atau daratan

Langit yang berawan bergelora, apalagi pada saat sunset atau sunrise, akan membuat foto kita menarik, tapi kita tetap harus memilih apakah kita akan membuat foto kita sebagian besar terdiri dari langit dgn meletakan horizon sedikit dibawah, atau sebagian besar daratan dgn meletakkan horizon sedikit dibagian atas.

Seberapa bagus pun daratan dan langit yang kita temui/hadapi saat memotret, membagi 2 sama bagian antara langit yang dramatis dan daratan/FG yang menarik akan membuat foto landscape menjadi tidak focus, krn kedua bagian tersebut sama bagusnya.

Komposisi dgn menggunakan prisip “oldies” Rule of Third akan sangat membantu. Letakkan garis horizon, di 1/3 bagian atas kalau kita ingin menonjolkan (emphasize) FG nya, atau letakkan horizon di 1/3 bagian bawah, kalau kita ingin menonjolkan langitnya.

Tentu saja hukum “Rule of Third” bisa dilanggar, andai pelanggaran itu justru memperkuat focal point dan bukan sebaliknya. Juga tidak selalu dead center adalah jelek.

Pelangaran “Rule of Third” dgn menempatkan horizon jauh di bawah

Pelanggaran Rule of Third yang membagi 2 sama antara langit dan bumi

6. Carilah Garis/Lines/Pattern

Sebuah garis atau pattern bisa membuat/menjadi focal yang akan menggiring mata untuk lebih jauh mengexplore foto landscape anda. Kadang leading lines atau pattern tersebut bahkan bisa menjadi POI dari foto tersebut.

Garis-garis, juga bisa memberikan sense of scale atau image depth (kedalaman ruang).

Garis atau pattern bisa berupa apa saja, deretan pohon, bayangan, garis jalan,tangga, dst.

Patterns

Lines & shape

7. Capture moment & movement

Sebuah foto Landcsape tidak berarti kita hanya menangkap (capture) langit, bumi atau gunung, tapi semua elemen alam, baik itu diam atau bergerak seperti air terjun, aliran sungai, pohon2 yang bergerak, pergerakan awan, dst, dapat menjadikan sebuah foto landscape yang menarik.

Sebuah foto landscape tidak harus mengambarkan sebuah pemandangan luas, seluas luasnya, tapi sebuah isolasi detail, baik object yang statis maupun yg secara dinamis bergerak, bisa menjadi sebuah subject dari sebuah foto landscape. Untuk itu lihat #13.

Movement

8. Bekerja sama dengan alam atau cuaca

Sebuah scene dapat dengan cepat sekali berubah. Oleh sebab itu menentukan kapan saat terbaik untuk memotret adalah sangat penting. Kadang kesempatan mendapat scene terbaik justru bukan pada saat cuaca cerah langit biru, tapi justru pada saat akan hujan atau badai atau setelah hujan atau badai, dimana langit dan awan akan sangat dramatis.

Selain kesabaran dalam “menunggu” moment, kesiapan dalam setting peralatan dan kejelian dalam mencari object dan Focal Point seperti awan, ROL (ray of light), pelangi, kabut, dll

3 jam pada satu lokasi menghasilkan ratusan shot dgn berbagai shading/shadow dan high-light pada puncak2 gunung dan object yang berbeda semua

9. Golden Hours & Blue hours

Pada normal colour landscape photography, saat terbaik biasanya adalah saat sekitar (sebelum) matahari terbenam (sunset) atau setelah matahari terbit (sunrise).

Golden hours adalah saat, biasanya 1-2 jam sebelum matahari terbenam (sunset) hingga 30 menit sebelum matahari terbenam, dan 1-3 jam sejak matahari terbit, dimana “golden light” atau sinar matahari akan membuat warna keemasaan pada object.

Selain itu, saat golden hours juga akan membuat bayangan pada oject, baik itu pohon, atau orang menjadi panjang dan bisa menjadi leading lines spt yg disebutkan pada #6 diatas.

Jika kita memotret pada saat golden hours sudah lewat, atau pada saat matahari sudah terik, biasanya hasilnya akan flat atau harsh lightingnya krn matahari sudah jauh diatas.

Ini berlawananan dgn IR landscape photography yg tidak mengenal golden hours, dimana saat terbaik justru pada saat tengah teriknya matahari.

Blue hours adalah beberapa saat, biasanya hingga 20-30 menit setelah matahari terbenam (sunset), dimana matahari sudah tebenam, tapi langit belum gelap hitam pekat. Pada saat ini langit akan berwarna biru.

Jadi adalah kurang tepat, bahwa pada saat matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap (oleh mata kita), kita langsung mengemas/beres2 gear/tripod kita. Justru pada saat ini kita bisa mendapatkan sebuah scene yang bagus dimana langit akan berwarna biru dan tidak hitam pekat. Biasanya dgn long exposure, awan pun (walau kalau kita lihat dgn mata telanjang sdh tidak tampak) masih akan terlihat jelas dan memberikan texture pada langit biru.

Before sunset

Golden hours…

Blue hour …. 5-10 menit setelah sunset

10. Cek Horizon

Walaupun sekarang dgn mudah kesalahan ini dapat di koreksi dgn image editor tapi saya masih berkeyakinan “get it right the first time” akan lebih optimal.

Ada 2 hal terakhir saat sebelum kita menekan shutter:

– Apakah horizonya sudah lurus, ada beberapa cara untuk bisa mendapatkan horion lurus saat eksekusi di lapangan, lihat #12

– Apakah horizon sdh di komposisikan dgn baik, lihat #5 untuk pengaplikasian Rule of third. Peraturan/rule kadang dibuat untuk dilangar, tapi jika scene yang akan kita buat tidak cukup kuat (strong) elementnya, biasanya Rule of Third akan sangat membantu membuat komposisi menjadi lebih baik. Memang dgn croping nantinya di software pengolah gambar, kita bisa memperbaikinya. Tapi kalau tidak dgn terpaksa, lebih baik pada saat eksekusi kita sudah menempatkan horizon pada posisi yang sebaiknya.

Contoh foto dibawah adalah salah satu dr foto yang saya ambil amannya (save) untuk posisi horizon pada saat eksekusi. Oleh krn itu horizon saya letakkan pas ditengah saja, dgn harapan pada saat itu, saya bisa melakukan cropping nantinya (baik dicrop bagian atas atau pun bagian bawah).

Horizon lurus?

11. Ubah sudut pandang/angle/view anda

Kadang kita terpaku dgn sudut pandang atau angle yang umum kita lakukan, atau mungkin kalau kita mengunjungi suatu tempat yang sering kita lihat fotonya baik itu dimajalah atau website seperti di FN ini, kita menjadi “latah” dan memotret dgn angle yang sama.

Banyak cara untuk mendapatkan fresh point of view. Tidak selamanya “eye-level angle” (posisi normal saat kita berdiri) dalam memotret itu yang terbaik. Coba dgn high-angle (kamera diangkat diatas kepala), waist-level angle, low level, dst, coba berbagai format horizontal dan/atau vertikal.

Atau mencoba mencari spot atau titik berdiri yang berbeda atau tempat yang berbeda, misalnya dari atas pohon (ada memang fotografer senior yang saya kenal yang senang memanjat pohon untuk utk mendapatkan view yg berbeda, dan hasilnya memang berbeda dan unik), atau mencoba berdiri lebih ketepi jurang, atau bahkan tiduran ditanah… tentu saja dgn lebih mengutamakan keselamatan anda sendiri sbg faktor yang lebih utama dan menghitung resiko yang mungkin didapatkan.

Satu hal yang harus dipahami, mencoba dengan sudut pandang yang berbeda tidak selalu otomatis gambar kita akan lebih bagus atau lebih baik, tapi begitu sekali anda mendapatkan yang lebih bagus, dijamin pasti berbeda dgn yang lain.

Dengan sering ber-experimen dgn berbagai angle, lama-kelamaan insting anda akan terlatih saat berada di lapangan untuk mendapatkan tidak hanya angle yang bagus, tapi juga berbeda.

Jangan memotret berulang2 pada satu titik/spot. Cobalah untuk bergeser beberapa meter kesamping atau kedepan, atau bahkan berjalan jauh.

Juga sesekali coba untuk menoleh kebelakang untuk melihat, kadang bisa mendapatkan angle yang menarik dan berbeda.

3-5 exposure/jepretan pada satu titik dan “move on, change spot, change orientation (landscape <-> portrait), look back, change lenses”.

Terutama jika anda sering travelling, baik itu ke tempat yang sudah umum atau ke tempat yang jarang di kunjungi fotografer. Ada kalanya kita ada pada suatu spot dimana foto dari lokasi itu sudah merupakan lokasi “sejuta umat” dimana ratusan bahkan ribuan fotografer pernah memotret di spot yg sama dan menghasilkan foto yang mirip atau beda-beda tipis.

Gunakan foto-foto yang sering anda lihat tersebut sebagai referensi, pelajari dan aplikasikan tekniknya dan coba menemukan sesuatu yang berbeda. Make a difference.

Kalau tidak keberatan tiduran sejenak di aspal

Kalau tidak keberatan tiduran sejenak dibawah unta yg disekitarnya dipenuhi kotoran unta

12. Pergunakan peralatan bantu

Penggunaan beberapa peralatan bantu dibawah akan sangat membantu untuk mendapatkan foto landscape yang lebih baik.

– CPL filter

– ND filter

– Graduated ND filter, lihat disitu ttg Graduated Natural Density (Grad ND): What, How, & When

– Graduated color filter

– Bubble level jika tdk ada grid pada view finder atau gunakan focusing screen dgn grid, sangat membantu untuk mencapai levelnya horizon

Memang dgn semakin mudahnya penggunaan software dan semakin canggihnya feature software pengolah gambar untuk memperbaiki/koreksi kesalahan pada saat eksekusi yang bisa mengatasi kesalahan exposure atau kemiringan horizon, penggunaan alat2 tersebut diatas kadang terasa kurang diperlukan, tapi umumnya “get it right the first time” akan bisa menghasilkan foto yang lebih baik dan natural, dibandingkan kalau foto itu harus dipermak habis-habisan nanti hanya agar bisa tampak “baik”.

Jika sudah melakukan segalanya dgn baik dan benar, akan lebih terbuka luas lagi kemungkinannya untuk mengolahnya dgn lebih sempurna nantinya.

Contoh foto penggunaan grad ND

13. Lensa yang dipergunakan

Kadang sering ada asumsi bahwa sebuah foto landscape itu harus menggunakan lensa yang selebar mungkin. Tapi dalam membuat sebuah foto landscape, semua lensa dapat dipergunakan, dari lensa super wide (14mm, 16mm, dst), wide (20mm – 35m), medium, (50mm – 85mm), hingga tele/super tele (100mm – 600mm). Semua range lensa bisa dan dapat dipergunakan.

Semua itu tergantung atas kebutuhan dan scene yang kita hadapi. Lensa wide/super wide kadang dibutuhkan jika kita ingin merangkum sebuah scene seluas-luasnya dgn memasukan object yang banyak atau yang berjauhan atau ingin mendapatkan perspektif yg unik.Tapi kadang sebuah tele bisa digunakan untuk mengisolasi scene sehingga lebih un-cluttered, simple dan focus.

Jika tiba pada suatu lokasi/spot, usahakan mencoba dgn semua lensa yang anda bawa. Jangan terpaku pada satu lensa dan memotret berulang-ulang.

Kadang diperlukan kejelian, untuk melihat dan mencari suatu bentuk unik atau pattern dari luasnya sebuah scene landscape, sehingga kita dapat meng-isolasi dgn menggunakan lensa yang tepat. Hanya dengan sering memotret dan menghadapi berbagai scene di berbagai kondisi yang dapat mengasah insting anda, baik itu object apa yang harus dicari ataupun lensa apa yg harus dipergunakan.

Penggunaan lensa yg tidak standard seperti fish-eye (baik itu yang diagonal maupun yang full-circular) bisa juga mendapatkan view yang menarik, tentu dgn pengunaan pada saat yang tepat. Tidak selalu penggunaan fish-eye menghasilkan foto yg “bagus” walau memang berbeda.

Contoh foto landscape dgn lensa 200mm

Contoh foto landscape dgn lensa 300mm

14. Persiapkan diri dan sesuaikan peralatan

Walau ini tidak berhubungan langsung, tapi kadang sangat menentukan. Sering kali kita membutuhkan research atau tanya dulu kiri kanan, baik itu dgn googling atau bertanya dgn fotografer yang sudah pernah kesana ke satu lokasi sebelumnya, terutama jika mengunjungi tempat yang berbeda jauh iklim maupun cuacanya, krn itu akan menentukan kesiapan kita baik fisik maupun peralatan yang harus dibawa, baik itu peralatan fotografi maupun peralatan penunjang.

Cek ulang dan test semua camera dan lensa yang akan dibawa.

Akan lebih baik kalau semua perlataan yang akan dibawa dalam keadaan bersih, baik itu lensanya, filter2 maupun kamera (sensor) nya.

Membawa semua lensa yang kita punya kadang tidak bijaksana. Mungkin suatu trip hanya membutuhkan satu atau dua lensa saja, atau justru membutuhkan lebih dr itu krn kita sudah mempunyai gambaran atau informasi atau trip tersebut merupakan pengulangan trip yg sudah pernah dilakukan.

Mengetahui alam dan lingkungan dan adat (jika ada penduduknya) dari lokasi pemotretan juga akan sangat membantu.

Bahkan kadang dgn membawa peta (atau mungkin GPS) akan membantu kita menemukan suatu tempat atau spot, khususnya bila kita hunting di daerah ayng tidak ketahui atau lokasi yang kita tidak hapal.

Kesiapan diri dan peralatan akan menentukan apakah photo trip kita berhasil atau tidak.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah melindung seluruh peralatan yang anda bawa selama photo trip/hunting, baik itu hanya day-trip, overnight trip atau trip berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Sebelum berangkat, pastikan anda memilki check-list perlaatan apa saja yg anda bawa. Catat juga semua model dan serial numbernya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 24, 2009 in Hobbies

 

Jatuhkah Gengsi anda jika menggunakan jam Tangan Replika


Suatu kali saya bertemu dengan seorang kawan dia menanyakan kepada saya: “Memakai Jam Tangan REPLIKA jika sampai diciri orang malunya lebih mahal dari membeli JAM TANGAN ASLI!” menyimak kalimat kawan saya ini membuat saya berpikir : “separah itukah anggapan orang mengenai Jam Tangan REPLIKA?”.
Sidang pembaca yang bijaksana! ada bagi sebagian kita memiliki anggapan bahwa Jam Tangan REPLIKA adalah Jam Tangan PALSU, yang membuat sipemakai jadi turun pamor jika mengenakannya.Berangkat dari anggapan inilah saya hendak membuat sebuah penjabaran mudah-mudahan setelah anda membaca dan merenungkanya anda akan memiliki pendapat baru lepas setuju atau tidak inikan sekedar pemikiran toh kita sekarang hidup dimasyarakat modern nan demokratis dimana perbedaan pemikiran sudah bukan jaman lagi untuk dipertentangkan,betul?.

JAM TANGAN REPLKIA BUKAN JAM TANGAN ASLI
Pertama-tama kita meski mendasari pemikiran bahwa Jam Tangan REPLIKA itu bukan Jam Tangan autenthik, dengan demikian kemanapun kita pergi,dimanapun kita mengenakannya,kepada siapapun kita bicara meski disadari bahwa yang melingkar dipergelangan tangan kita adalah sebuah Jam Tangan REPLIKA, kata REPLIKA disini saya pergunakan untuk menyebutkan bahwa Jam Tangan tersebut dibuat menyerupai kondisi autenthiknya dengan kata lain bahwa Jam Tangan tersebut ada versi autenthiknya (baca:asli).
Sama halnya jika anda penyuka mainan model/miniatur baik itu mobil-mobilan ataupun motor pun pesawat terbang pastilah sipembuat tatkala mendisain,membuat serta memasarkannya tidak akan pernah berpikir bahwa produk mereka adalah autenthik namun kita suka oleh sebab sebab tertentu membuat kita mati-matian memburunya tidak jarang meski merogoh kocek dalam-dalam karena saking mahalnya.
Seperti inilah yang ada dibenak pemikiran saya bahwa Jam Tangan REPLIKA itu just toys! dimana memiliki unsur have fun saat kita mengenakanya. Namun tidaklah sesederhana pemikiran diatas sebab Jam Tangan REPLIKA pun memiliki unsur seni tidak kalah dengan miniatur mobil-mobilan/motor/pesawat. Sebab Jam Tangan REPLIKA adalah karya serius seserius versi autenthiknya bayangkan saja jika versi autenthiknya berfitur chronograph,GMT,Moonphase atau apapun fiturnya diversi REPLIKA juga sama,hebat bukan! bandingkan dengan miniatur mobil/motor/pesawat tidak ada yg demikian.

JAM TANGAN REPLIKA : COLLECTOR ITEM
Memiliki Jam Tangan REPLIKA sama dengan memiliki barang koleksi artinya jika anda membeli Jam Tangan jenis ini sama halnya membeli barang-barang collector item. Dimana sebenarnya letak kekhas-an nya sehingga bisa disebut sebabagai barang-barang koleksi, Pembaca artikel yg bijak! semua Jam Tangan REPLIKA dibuat dengan tangan (perakitannya manual) sehingga setiap edisi selalu tidak sama, mahal dan tidaknya tergantung tingkat kehalusan finisingnya. Jadi amat berbeda dengan Jam Tangan lansiran pabrikan yang jelas-jelas mass product. Yang dibuat berulang-ulang.

Hanya saja perlu pengetahuan yang baik agar apa yang anda beli dan koleksi benar-benar sepadan dengan nominal yang kita keluarkan,sebab uang anda adalah tanggung jawab anda! tidak semua yang ditawarkan sebagai Jam Tangan REPLIKA memiliki kelayakan yang baik untuk itu belilah dari ahlinya bukan sekedar pedagang yang hanya mau uang anda saja,ingat! uang anda dicari setengah mati…paling tidak anda meski medapat jaminan reparasi juga spare part kalo kedua hal ini dijamin itu namanya pedagang yg bertanggung jawab bukan HIT AND RUN abis jual cuci tangan.

BEDA JAM TANGAN REPLIKA DENGAN JAM TANGAN PALSU
Barang kali perlu dipertegas disini bahwa tatkala kita membicarakan Jam Tangan itu sebenarnya kita sedang membicarakan 3 (tiga) jenis Jam Tangan yakni :autenthik,REPLIKA dan palsu
secara singkat saya uraikan sebagai berikut:
Autenthik sebagai mana arti katanya adalah asli jadi Jam Tangan autenthik itu merupakan versi asli lansiran merek tertentu resmi baik merek,model juga movementnya pada umumnya terdaftar didepartemen perindustrian negara pembuat (baca:swiss) sedangkan REPLIKA adalah Jam Tangan tiruan (yg berati bentuk/model, merek juga movement meniru/menjiplak/plagiat dari versi autenthik) dengan demikian pada dasarnya Jam Tangan REPLIKA itu bukan resmi lansiran merek tertentu namun baik model,fitur serta jenisnya dibuat sama persis. Jam Tangan palsu merupakan Jam Tangan dengan merek yang tidak jelas,bisa saja memakai merek tertentu lalu mengaku buat negara tertentu (swiss) namun sebenarnya bukan buatan negara tsb,mesin/movement pada umumnya buatan jepang (namun tidak pernah diakui) tidak memiliki patent resmi dari negara yang diakui sebagai produsen, nah terhadap jenis inilah kita meski waspada karena biasanya Jam Tangan ini dicitrakan sebagai Jam Tangan berkelas dimana sejatinya tidak lebih dari Jam Tangan palsu!.

Sehingga ketika kita sudah mengetahui kondisi diatas sebagai konsumen yg bijak maka diharapkan pada waktu memutuskan membeli bukan lagi membeli kucing dalam karung yang tidak tahu apa isinya sesuai yg di janjikan, sekali lagi Jam Tangan REPLIKA tidak pernah dikatakan sebagai Jam Tangan autenthik (meski sebagian pedagang ada yg bilang autenthik) jika hal ini anda jumpai itu penipuan! 

KESIMPULAN

Akhir kata saya perlu menegaskan bahwa banyak kalangan penggemar Jam Tangan yang sinis/memandang sebelah mata Jam Tangan REPLIKA namun saya bilang mereka salah! REPLIKA memang tidak diakui oleh pabrikan namun bukan berarti tidak baik untuk dikoleksi, REPLIKA memang bukan autenthik namun bukan berarti tidak bermutu.

REPLIKA juga bukan berarti jika anda memakainya akan jatuh gengsi, tidak! kalau dari awal anda menyadari bahwa ini just toys, serta tidak dalam rangka menipu siapa saja dengan mengatakan kalau ini autenthik. REPLIKA is REPLIKA namun anda akan menemukan kepuasan yang tidak kalah serunya dibandingkan versi autenthiknya bayangkan saja hanya dengan uang 2-3jt-an anda bisa mengenakan Jam Tangan jika versi autenthiknya seharga mobil atau rumah kelas menengah/mewah,gimana masih ragu?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2009 in Hobbies

 

Mengenal klasifikasi JAM TANGAN

Mengenal klasifikasi JAM TANGANBanyak diantara kita yg kurang paham bahwa didalam dunia per Jam Tanganan ada juga “kasta” kalau anda ingat bahwa dalam artikel saya terdahulu (Jam Tangan koleksi dan investasi) sudah disebutkan bahwa merek amat memegang peranan, dalam tulisan kali ini saya akan membahas kelas/klasifikasi Jam Tangan setidaknya dengan ini kita akan mengerti mana-mana Jam Tangan yg memiliki nilai tambah atau sekedar sebagai alat penunjuk waktu semata.BERBAGAI JENIS JAM TANGAN
Ada beberapa jenis Jam Tangan yg dapat kita temukan dipasaran namun secara umum dibagi menjadi beberapa jenis yakni: Sport,fashion/dress watch,complicated/rumit atau ada beberapa rekan yang menggunakan istilah mid-end itu adalah jenis sport, low-end sama dengan dress watch (Jam Tangan yg dipergunakan semata-mata untuk menunjang penampilan /fashion) dan high-end yang adalah topnya jenis Jam Tangan. Perlu dicatat disini adalah bahwa setiap merek pada umumnya memiliki 3 (tiga) jenis yg disebutkan diatas sehingga tidak bisa dibilang merek A itu identik pada jenis fashion (pada pembahasan nanti akan saya kemukakan pendapat saya mengenai merek tertentu yg adalah jenis Jam Tangan yg tidak masuk 3 (tiga) kategori diatas).

JAM TANGAN LOW-END / FASHION 
Pada segmen ini barang kali kalau mau disebutkan satu persatu akan menyita ruangan dari artikel ini, namun secara umum kelas ini adalah papan bawah artinya Jam Tangan jenis ini nilai jual seken hennya jatuh bisa lebih dari 70-80% dari harga baru, murah sekali!. Pemain dikelas ini adalah:
japan made : Alba,Guess,Nautica,Fossil,Elle,DKNY,Morgan,Bonia,Angel,Christ verra,George Claude,Alexandre Christie,swiss expedition,swiss army,Chronomaster,levi’s, (banyak lagi mungkin anda bisa mencantumkan daftarnya sendiri)
Swiss made : Gucci,Fendi,Nina Ricci,Da Vinci,Guy laroche,Charles Jourdan,Aigner,Charriol,Esprit,Swatch,Raymond Weil,(masih banyak lagi merek lainnya )
Pada bagian ini prinsipnya ialah bahwa setiap merek yg berangkat dari MAIN PRODUCT bukan Jam Tangan dapatlah dikategorikan pada klasifikasi fashion misal:Gucci, Fendi,Nina Ricci,Hermes,Guess,Nautica,Levi’s,Diesel,police,marc ecko dll mereka ini cuma punya merek selebihnya cuma akal-akalan iklan yg bombastis seolah-olah mereka adalah industriawan Jam Tangan kampiun (padahal cuma tukang ‘jahit’ belaka: artinya mesin beli dimana, casing bikin dimana).
Tapi ada yg lebih parah lagi ialah dengan sekedar menggunakan mesin swiss (kalau cuma begini siapa saja bisa) paling-paling RONDA,ISAsudah mengklaim sebagai Jam Tangan swiss made, memakai kata ’swiss made’ menurut hemat saya tidaklah segampang hanya memasang mesin buatan swiss ( karena mesin swiss bisa dg mudah kita beli) yg jelas swiss made itu sebuah pengertian yg meliputi mesin,proses produksi,qualiti kontrol dilakukan di swiss “final inspection in swizserland”.

JAM TANGAN MEDIUM END
Pada kelas ini Jam Tangan dibuat tidak sekedar untuk menunjang penampilan dikarenakan Jam Tangan diciptakan untuk keperluan tertentu semisal: olah raga,penunjuk zona waktu yg berbeda (GMT/Dual Time),dll. Ciri Jam Tangan kelas menengah ini adalah mereka-mereka yg memang memiliki sejarah panjang sebagai industriawan Jam Tangan contohnya: TAG Huer, TISSOT,MIDO,RADO,RAYMON WEIL,OMEGA,ROLEX,HAMILTON,TUDOR,BAUME et MERCIER,ORIS, BREITLING dsb. Merek-merek yg tersebut diatas boleh menjadi acuan untuk dimiliki dikarenakan memang benar-benar swiss made disamping brand imagenya bagus (nilai jual ulangnya/sekenhen masih lumayan).
Dengan demikian apa yg dimaksudkan Jam Tangan paling tidak adalah merek-merek tersebut diatas (medium end) bukan low end! 

JAM TANGAN HIGH END
Kalau berbicara ‘mbahnya’ Jam Tangan ya kelas ini meminjam analogi kawan saya “Jam Tangan high end lebih merangsang ketimbang melihat julia perez telanjang”, bagaimana tidak dari segi harga saja sudah bisa membuat kita ‘tegang’ kisarannya bisa ratusan juta hingga milyaran rupiah, gila bukan?! belum lagi bicara teknologi mesin yg digunakan ck..ck..ck..(bukan merek Jam Tangan lho!) ‘mak nyuus’.
Jam Tangan yg dapat dikategorikan pada kelas ini memiliki ciri: case dari material abadi LM (logam mulia), mesin berkelas wahid misal:TOURBILLON,MINUTE REAPETER & RETROGRADE memang masih ada jenis mesin lain tapi paling tidak ketiga jenis yg saya sebutkan sudah dapat mewakili siapa saja yg termasuk dalam kelas ini? mereka adalah: PATTEK PHILIPE,VACHERON CONSTANTIN,PIAGET,PARMIGIANI,FP JOURNE,BLANCPAIN,BREGUET,CORUM,AUDEMARS PIGUET,ARNOLD&son,A LANGE&son, GLASSAUTE,GRAHAM,ANTOINE PREZIUSO,DANIEL ROTH,DEWITT,DELANEAU dsb.

KESIMPULAN
Jika hendak membeli Jam Tangan pertama-tama yg perlu diperhatikan adalah dana yg tersedia berapa, dari dana kita baru bisa menentukan Jam Tangan kelas apa yg dapat kita peroleh ratusan ribu hingga jutaan adalah kelas fashion, jutaan hingga puluhan kelas medium, puluhan hingga tak terbatas merupakan Jam Tangan high klas! namun yg terpenting yg perlu dicatat adalah pastikan anda membeli Jam Tangan apapun kelasnya ditempat yg tepat (agen resmi)pastikan kwalitas yg kita beli sesuai dengan spesifikasinya,demikian halnya garansi meliputi apa saja dan yg terakhir keasliannya. Sebab saya akan tahu anda siapa dari Jam Tangan yg anda kenakan! 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2009 in Hobbies