RSS

Arsip Kategori: ISLAM News

Beginilah mereka menghancurkan kita, lalu bagaimana sikap kita?…

Arrahmah.com/Muslimahzone.com

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

 

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

***

 

Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

 

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

 

-Note From Brother Asep Juju-

(anna/muslimazone.com)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 28, 2013 in ISLAM News

 

13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan

Oleh: DR. Amir Faishol Fath 


 


Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.

Pertama, Tidak Punya Visi
Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.
Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

Kedua, Kasar
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.
Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, Sombong
Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.
Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.

Keempat, Tertutup
Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.
Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, Plinplan
Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Pembohong
Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.
Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.

Ketujuh, Cengeng
Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.
Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut
Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.
Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas
Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak
Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.
Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri
Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Jarang Komunikasi
Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.
Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam

 

Tapi perlu juga diingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna, jika ditemukan sifat sifat diatas, maka tugas sebagai pasangan suami istri untuk selalu saling mengingatkan sehingga dapat terwujud keluarga yang sakinah mawaddah dan wa rohmah. Insya Allah

 

 

Sumber : http://www.dakwatuna.com

 


 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 9, 2012 in ISLAM News

 

RAHASIA DIBALIK KEINGINAN SEBAGIAN WANITA EROPA (INILAH FITRAHNYA WANITA!)

– Seorang wanita berkebangsaan Perancis

Kisah dibawah ini diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman dari seorang dokter muslim laki-laki yang hidup di Perancis ketika dokter laki-laki ini ditanya oleh teman kerjanya -seorang dokter wanita berkebangsaan Perancis yang beragama Nashrani-. Dokter wanita ini bertanya kepadanya tentang keadaan istrinya, seorang muslimah yang berhijab dengan baik terutama bagaimana istrinya menghabiskan hari-harinya di dalam rumah serta aktivitas apa saja yang dijalani setiap harinya.

Sang dokter menjawab: “Ketika istriku bangun dipagi hari maka dia menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan anak-anak di sekolah, kemudian tidur sampai jam 9 atau 10 pagi. Setelah itu dia bangun untuk membersihkan dan mengatur hal-hal lain yang dibutuhkan di dalam rumah. Setelah urusan bersih-bersih selesai maka dia akan sibuk dengan urusan di dapur dan penyiapan makanan.”

Dengan penuh keheranan dokter perempuan tersebut bertanya: “Siapa yang memenuhi kebutuhannya, padahal dia tidak bekerja?!”

Dengan singkat sang dokter mengatakan: “Saya.”

“Lalu siapakah yang membelikan berbagai kebutuhannya?” Lanjut sang dokter wanita tersebut bertanya.
“Aku yang membelikan semua yang dia inginkan.” Jawab dokter muslim tersebut.

Dengan penuh keheranan dan ketercengangan wanita tersebut mengatakan: “Engkau yang membelikan segala sesuatu untuk istrimu?!”

Dia menjawab: “Ya.”

Perempuan tersebut bertanya lagi: “Sampai-sampai urusan perhiasan emas?!”
“Ya.” jawab dokter muslim tersebut sekali lagi.

“Sungguh istrimu adalah seorang permaisuri.” Komentar akhir perempuan tadi.

Dokter yang menceritakan kisah ini bersumpah dengan nama Allah, bahwa pada akhirnya dokter wanita tadi menawarkan diri kepadanya untuk bercerai dan berpisah dari suaminya, dengan syarat dokter tadi mau menikahinya, sehingga dia bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter perempuan, lalu tinggal dirumah sebagaimana layaknya seorang wanita muslimah. Tidak hanya itu, dokter perempuan tersebut rela menjadi istri kedua seorang laki-laki muslim dengan syarat dia diperbolehkan tinggal saja di dalam rumah.

– Seorang wanita berkebangsaan Inggris yang angan-angannya telah ditulis lebih dari seratus tahun yang lewat.

Seorang wanita yang berprofesi sebagai penulis terkenal bernama Ety Rudh menulis dalam sebuah artikel yang disebarluaskan pada tahun 1901: “Sungguh seandainya anak-anak perempuan kita sibuk bekerja dalam rumah sebagai pembantu atau seperti pembantu, itu lebih baik dan lebih ringan resikonya daripada meniti karier diberbagai instansi, karena meniti karir diluar rumah itu menyebabkan seorang wanita ternodai berbagai kotoran yang menghilangkan indahnya kehidupan untuk selama-lamanya.

Andaikan saja negeri kita ini seperti negeri orang-orang Islam yang berhias dengan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian !?

Sungguh sebuah aib di negeri Inggris yang menjadikan putri-putrinya sebagai teladan dalam keburukan karena seringnya bercampur baur dengan laki-laki. Jika demikian mengapa kita tidak berusaha untuk  menjadikan putri-putri kita bekerja sesuai dengan fitrah dan tabiatnya sebagai wanita yaitu dengan mengurusi rumah tangga dan membiarkan berbagai jenis pekerjaan laki-laki untuk kaum laki-laki dalam rangka menjaga kemuliaannya.”

– Seorang wanita berkebangsaan Jerman

Dia berkata: “Sesungguhnya aku ingin berada di rumah saja  akan tetapi selama perkembangan ekonomi Jerman akhir-akhir ini tidak bisa menyentuh semua lapisan masyarakat maka permasalahan seperti ini  yaitu back to home adalah sebuah kemustahilan. Sungguh suatu hal yang sangat menyedihkan.” (dikutip dari majalah mingguan berbahasa Jerman)”.

– Seorang perempuan berkebangsaan Italia

Dia berkata kepada dokter Mustafa as-Shiba’i rahimahullah: “Sungguh aku merasa iri dengan wanita muslimah dan aku berangan-angan seandainya aku dilahirkan di negeri kalian.”

Inilah Islam, satu-satunya agama yang benar-benar memuliakan wanita. Karena orang-orang Barat mengetahui bahwa baiknya umat Islam adalah dengan berdiam dirinya kaum wanita mereka didalam rumah-rumah mereka. Oleh karena itu mereka membuat berbagai makar, sehingga wanita muslimah meninggalkan rumah, dan berbagai rencana lain untuk merusak wanita muslimah, sehingga mereka melepas jilbab dan tidak lagi memiliki hubungan dengan agama kecuali pada waktu shalat, inipun seandainya dia masih mau shalat. Berbagai makar ini dikemas dengan dalih kebebasan wanita, demokrasi, hak-hak asasi manusia dan hak-hak wanita.

Sesungguhnya tugas pokok seorang wanita dalam ajaran Islam yang disadari betul oleh orang-orang Barat adalah pembentuk tokoh dan pendidik generasi. Darinyalah anak-anak belajar tentang nilai-nilai luhur, menjaga kehormatan, menjauhi akhlak-akhlak tercela, mencintai Islam, dan mendahulukannya diatas nyawa dan darah.

Sangat disayangkan, setelah menyimak kisah-kisah di atas, kita lihat sebagian wanita muslimah tidak menemukan kemerdekaan kecuali dengan kacamata Barat dan mereka tidak mengetahui hak-hak mereka kecuali dari sudut pandang dari orang-orang Barat.

Yang jelas mereka adalah korban-korban pendidikan yang keliru yang tidak tersentuh nilai Islam sedikitpun. Dalam kesempatan ini kami tegaskan bahwasanya Islam tidak akan berdiri tegak kecuali dengan mengembalikan wanita ke dalam rumah untuk melaksanakan kewajiban mereka yang paling penting yaitu membentuk generasi yang akan mengantarkan umat Islam menjadi pemimpin kemanusiaan.

Sumber: Majalah Qiblati Edisi 7 Tahun I.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 6, 2012 in ISLAM News

 

Hukum Memakai Ayat Al Quran Dan Lafadz Adzan Sebagai Ring Tone

Telah berkembang luas akhir akhir ini, pada sebagian umat Islam fenomena menjadikan ayat-ayat al-Quran dan lafadz adzan sebagai ring tone di telepon dan HP mereka. Dengan tujuan menjauhi ring tone musik yang diharamkan. Akan tetapi, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya.

Ayat Al-Quran dan lafadz adzan sesungguhnya adalah lafadz-lafadz yang digunakan dalam beribadah. Allah sudah menjadikannya terkait dengan hukum-hukum syari’at baik qiraah Al-Quran atau sebagai panggilan untuk shalat. Sebagaimana telah terjelaskan dalam hadist yang menerangkan tentang itu. Dari Malik bin al-Khuairits RA dia berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

“Jika telah datang waktu shalat maka hendaklah salah seorang diantara kalian adzan.” (HR. Bukhari-Muslim).

Demikian juga hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Aisyah, “Sesungguhnya Bilal menyerukan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum menyeru (adzan).”

Maka prinsip dasar kita dalam beragama adalah ittiba’ (mengikuti sunnah) bukan ibtida’ (menambah atau mengurangi sunnah). Andaikan agama ini berdasarkan pendapat dan hawa nafsu, maka adzan yang lebih utama tentu untuk shalat ‘ied atau khusuf (shalat gerhana) daripada shalat lima waktu. Maka karena dasar agama ini adalah mengikuti sunnah, sehingga yang lebih utama adalah tidak menjadikan lafadz adzan untuk perkara-perkara dunia baik untuk ring tone HP atapun alarm pada jam beker dan semacamnya selain adzan yang digunakan untuk pada masuknya waktu shalat.

Maka menjadikan ayat Al Quran dan lafadz adzan untuk ring tone HP dan sejenisnya adalah sudah termasuk mempermainkannya dan termasuk hal yang sia-sia. Adapun pelakunya telah masuk dalam firman Allah:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً

“Dan berkata rasul, “Wahai Rabb sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Quran ini sebagai yang disia-siakan.”

Hendaknya setiap kita mengetahui, bahwasanya dzikir kepada Allah akan dinilai sebagai ibadah jika dalam bentuk yang disyariatkan bukan dengan perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya syarat suatu amalan adalah ittiba’ dan ikhlas. Tidaklah masuk akal Allah menurunkan Al-Quran untuk dijadikannya ring tone untuk menandai adanya penelpon. Dan barang siapa yang merasa melakukan demikian itu karena senang mendengarkan Al-Quran maka kami katakan, sesungguhnya mendengarkan Al Quran ada beberapa jalan. Diantaranya adalah melalui kaset dan radio. Maka orang yang meletakkan kaset dalam tape recorder pasti dia berniat untuk mendengarkan akan tetapi siapa yang meletakkannya pada ring tone HP, dia justru mempunyai tujuan lain yaitu sebagai tanda adanya penelpon, dan inilah yang dilarang. Andaikan saja seseorang ingin mendengarkan al-Quran sedang dia dalam tempat yang najis, kita katakan bahwa perbuatan ini tidak pantas bagi Al-Quran sehingga dia tidak boleh mendengarkannya. Dan tidak dapat dibenarkan bantahannya dengan alasan ingin mendengarkan al Quran, karena tidak diperdengarkan dengan cara yang benar. Dan kenyataannya, begitu ayat berbunyi langsung dimatikan, karena memang tujuannya bukan untuk mendengarkan ayat.

Musibah yang ditimbulkan dari perbuatan ini tidak terhenti pada hal ini saja tetapi akan berimbas pada yang lain. Lihat saja, ketika datang telepon dari seseorang, sangat mungkin HP yang sedang memperdengarkan ayat-ayat al-Quran dan lafadz adzan itu akan segera dimatikan. Bahkan dia (penerima) menggerutu dan kesal setiap kali ring tone itu berbunyi, padahal ring tone nya adalah bacaan ayat-ayat Al-Quran dan lafadz adzan. Seandainya ada yang membela diri bahwa dia mematikan HP dan menggerutu itu karena adanya penelpon yang tidak disukainya bukan karena ayat-ayat al-Qquran dan lafadz adzan tadi, kami katakan, akan tetapi perbuatan yang kau lakukan ini terjadi terhadap ayat-ayat al-Quran dan lafadz adzan yang kau jadikan sebagai ring tone, maka mengapa kau jadikan ayat-ayat Al-Quran dan lafadz adzan sebagai sasaran? Apakah ini masih termasuk memuliakan ayat-ayat Al Quran dan lafadz adzan? Allah ta’ala berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka dia termasuk dari ketakwaan hati”.

Oleh karenanya dalam hal ini, lebih utama bagi seseorang untuk mengganti ring tone nya dengan suara-suara yang lain, yang tidak berbau agama juga bukan pula berupa musik atau nyanyian. Inilah jalan yang lebih selamat bagi semuanya.

sumber: qiblati.com
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 2, 2011 in ISLAM News

 

FENOMENA HAJI DAN PERUBAHAN SOSIAL

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian sama sucinya seperti hari ini, di negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah SWT ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya.”

Begitulah cuplikan pidato Rasulullah SAW beribu tahun yang lalu terhadap sahabatnya setelah melalui ritual ibadah haji. Pidato yang merupakan dekralasi atas kesamaan hak manusia di muka bumi ini. Tidak ada kaum yang lebih tinggi ataupun lebih rendah derajatnya. Semua sama di mata Allah SWT, yang membedakan hanya takwa.
Pidato ini pula menjadi isyarat betapa sucinya makna persaudaraan. Betapa pentingnya cinta kasih sesama manusia. Betapa tingginya arti solidaritas sosial dalam tatanan masyarakat. Apabila bangunan persaudaraan itu runtuh, maka kehancuran suatu bangsa akan bisa diramalkan. Karena kehormatan setiap manusia sama sucinya dengan negeri makkah, tanah yang suci.
Haji merupakan simbol semangat bagi umat muslim untuk bertemu dengan tuhannya. Kerinduan akan perjumpaan dengan Allah SWT adalah puncak tertinggi kebahagiaan umat muslim. Hal ini terlihat jelas betapa merindunya orang-orang untuk segera bergegas ke ‘rumah-Nya’. Banyak yang akan rela menabung bertahun-tahun untuk melepas dahaga akan salah satu kewajiban umat Islam itu.
Maka, seiring dengan waktu, haji pun menjadi fenomena dan popular dalam kehidupan masyarakat kita. Jangan harap, begitu ada uang, Anda akan bisa langsung meluncur ke tanah suci. Harus menunggu antrian hingga ribuan orang. Terkecuali mungkin program khusus.
Namun, seiring dengan waktu pula, haji menjadi tanda tanya. Sebab berbondong-bondongnya umat muslim mengejar haji ternyata tidak sebanding dengan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Haji di Indonesia menjamur di tengah maraknya kasus korupsi, menjulangnya angka pengangguran, meningginya tingkat kemiskinan, rawannya konflik sosial, dan lain sebagainya.
Ini merupakan pukulan telak. Ruh ratusan ribu hingga jutaan orang bergelar haji di negeri ini seolah hampa. Islam pun sebagai agama yang sempurna kian dipertanyakan.
Menurut Haedar Nashir, tinggi dan menguatnya tradisi keberagamaan dan keislaman di Indonesia, ternyata tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara nasional. Angka kemiskinan dan pengangguran masih sangat menakutkan. Inilah akibat dari tidak terjaganya bandul keseimbangan dari agama Islam.
Umat Islam begitu bangga bila menunaikan ibadah haji hingga berkali-kali. Namun, tidak sadar bahwa di sekelilingnya masih banyak orang yang tidak bisa berdiri tegak beribadah karena kelaparan. Umat Islam ada yang begitu sedih tidak dapat menunaikan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Namun, lupa akan keberadaan tetangganya yang sangat membutuhkan uluran tangan darinya.

Ritual Haji dan Kemanusiaan
Ritual haji sesungguhnya adalah proses menuju ‘kesempurnaan manusia’. Mereka yang terpanggil oleh Allah SWT menginjakkan kakinya di tanah suci akan rela melepas segala atribut keduniaannya. Panggilan suci ini akan menanggalkan sifat-sifat keiblisannya diganti dengan siraman cahaya nurani.
Pakaian ihram yang hanya merupakan selembar kain putih tak berjahit merupakan bagian dari ritual haji yang menyimbolkan persamaan derajat manusia. Status sosial, kedudukan ataupun jabatan akan diruntuhkan dengan ritual ini.
Wukuf di Arafah melambangkan betapa kecilnya umat manusia di hadapan Sang Pencipta. Manusia hanya seperti butiran pasir di tengah gurun yang amat luas. Hanya seperti setetes air di tengah hamparan samudera. Maka, tidak ada alasan manusia untuk menyombongkan diri. Tidak alasan untuk menindas satu sama lain.
Thawaf yang disimbolkan dengan mengelilingi Ka’bah mengisyaratkan kesamaan manusia di hadapan tuhannya. Semua suku, bangsa adalah sama.
Sa’i yang ditandai dengan berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah melambangkan bahwa manusia bertanggung jawab atas sesamanya. Orang kaya punya tanggung jawab terhadap orang miskin. Penguasa bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.
Seorang haji di mata Allah SWT adalah yang tersempurnakan syahadat, shalat, puasa, dan zakatnya. Maka sebagai manusia yang ‘tersempurnakan’ sudah seharusnya kepekaan sosialnya lebih tinggi atas lainnya. Kualitas ibadah haji seseorang akan ternilai melalui kemampuannya bertransformasi terhadap lingkungan.
Haji yang dibawa kembali ke tanah air tidak membuat seseorang menjadi feodal baru. Tapi, justru harus membawa semangat pembebasan. Dahulu, ketika awal modernisasi di Indonesia, awal abad 20-an, seseorang bergelar haji akan membawa pengaruh sangat tinggi di kalangan masyarakat. Mereka biasanya membawa pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan dan progresif.
Progresifitas itu, baik pemikiran maupun ekonomi, tidak terlepas dari modenisasi timur tengah kala itu. Semangat pembaharuan Islam banyak diadopsi oleh jamaah haji kemudian diterapkan di tanah air. Hal itulah kemudian menjadi pilar modernisasi di Indonesia. Menurut Belanda, seorang haji akan semakin ulet dalam berdagang, dan juga tidak kompromi melakukan perlawanan terhadap penjajah.
Semangat haji seseorang, hendaknya ditransformasikan melalui etika kejujuran dan bersih apabila ia politisi. Hendaknya ditransformasikan melalui pengembangan keilmuan bagi ia yang akademisi. Hendaknya ditansformasikan melalui keberpihakannya pada yang lemah apabila ia seorang pemimpin.
Haji bukanlah simbol sebagai golongan orang yang dijamin masuk surga di daerahnya. Haji jangan sampai hanya dijadikan fashion sebagian orang. Yang membuatnya memiliki identitas sendiri dibanding kelompok masyarakat lainnya.
Absurditas haji akan muncul apabila kehajiannya dieksploitasi sedemikian rupa untuk mengejar kepentingan dunia. Haji absurd apabila itu menjadikannya alasan untuk tidak bergaul dengan masyarakat kelas rendah, merasa angkuh selalu berdiri di kelasnya sendiri.

Haji yang Rahmatan Lil ‘Alamin
Dalam buku ‘Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan’, Moeslim Abdurrahman menyatakan gagasannya tentang konsep Islam yang murni. Menurutnya, Islam yang paling murni itu hanya bisa dilihat dari pergulatan hidup sehari-hari para pemeluknya. Seorang muslim dapat dikatakan menjadi seorang muslim yang sebenarnya apabila dia telah membuktikan kemuslimannya. Bagaimana hidup kesehariannya dalam menegakkan keadilan itulah yang membuktikan derajat kemusliman seseorang. Islam adalah ruh kemanusiaan yang menuntun perubahan, terutama dalam pemerdekaan, untuk mewujudkan keadaban dan peradaban, dan untuk menghidupkan cita-cita kemanusiaan yang merdeka, bebas, dan terhormat.
Begitu pula dengan kehajian seseorang. Haji yang murni adalah haji yang membawanya untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat. Mereka selalu yang menjadi pelopor perubahan.
Kesempurnaan haji justru diraih pada perjuangannya memberantas kebodohan- misalnya. Haji dinilai pada pergulatannya memperjuangkan kaum-kaum yang ditindas oleh penguasa, dan membebaskan belenggu kemiskinan. Pengalaman spiritualnya ditransfer untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan di bumi tempat ia berpijak.
Di tengah kondisi bangsa akhir-akhir ini, bencana alam, korupsi merajalela, perekonomian yang sulit, semoga semangat iman dan islam para peserta haji bisa membumi di Indonesia hingga negeri ini menjadi baldatun toyibbatun warobbun ghofur.

*Penulis adalah Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Unhas

sumber http://fitrawanumar.blogspot.com
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2011 in ISLAM News

 

Harian The Independent Sebut Makkah Hanya untuk Orang Kaya dan ‘Mirip Vegas’

Harian The Independent Sebut Makkah Hanya untuk Orang Kaya dan 'Mirip Vegas'

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Dalam 10 tahun ini, Makkah mengalami transformasi yang luar biasa; lokasi Masjidil Haram ditata ulang, dan bermunculan gedung-gedung pencakar langit dan hotel berbintang berkelas internasional.

Dalam sebuah tulisan feature, harian The Independent mengupas sisi dalam Kota Suci. “Meski Nabi Muhammad datang untuk menekankan kesetaraan, Makkah berubah menjadi taman bermain bagi kaum kaya dimana kapitalisme secara kasat mata mengaburkan nilai spiritualitas kota,” tulis mereka, mengutip kata-kata seorang kritikus.

Harian ini menyoroti, betapa demi membangun kota yang kini ‘serupa Las Vegas’, banyak bangunan bersejarah yang dikorbankan. “Tak ada yang memperjuangkan aksi vandalisme budaya ini,” kata  Dr Irfan al-Alawi, direktur eksekutif The Islamic Heritage Research Foundation. “Kami sudah kehilangan 400-500 situs bersejarah. Saya harap belum terlambat untuk menyelamatkan yang tersisa.”

Sami Angawi, pakar arsitektur Islam Arab saudi, sama-sama prihatin. “Ini adalah kontradiksi mutlak untuk sifat Makkah dan kesucian rumah Allah,” katanya kepada kantor berita Reuters awal tahun ini. “Kedua kota [Makkah dan Madinah] secara historis hampir punah. Anda tidak menemukan apa-apa kecuali gedung pencakar langit.”

Kekhawatiran dr Alawi yang paling mendesak adalah ekspansi yang direncanakan senilai miliaran dolar AS dari Masjidil Haram, situs paling suci dalam Islam dimana Kabah berada. Konstruksi resmi dimulai awal bulan ini. Menteri Kehakiman, Mohammed al-Eissa, berseru bahwa proyek ini akan menghormati “kesucian dan kemuliaan dari Masjid Suci, dan demi kepentingan jamaah.”

Area perluasan sekitar 400 ribu meter persegi tengah dibangun untuk mampu meningkatkan daya tampung  1,2 juta jamaah lagi tiap Musim Haji tiba. Pembangunan ini, menurut The Islamic Heritage Research Foundation, bukan tanpa risiko. Lembaga ini menyusun daftar situs sejarah yang terancam diratakan dengan tanah akibat pembangunan ini, termasuk bangunan sisa-sisa peninggalan era Usmaniyah dan Abbasiyah. Termasuk dalam bangunan yang terancam dihancurkan adalah rumah di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan rumah pamannya, Hamzah, tumbuh.

Argumen yang selalu dikemukakan, tulis The Independent, adalah bahwa Makkah dan Madinah sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur. Dua belas juta peziarah mengunjungi kedua kota ini setiap tahun dengan jumlah yang diperkirakan meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.

Tetapi para kritikus khawatir bahwa keinginan untuk memperluas situs ziarah telah memungkinkan pihak berwenang untuk menginjak-injak warisan budaya di daerah itu. Lembaga yang dipimpin Alawi mencatat setidaknya 95 persen bangunan bersejarah yang berusia ratusan tahun telah dibongkar dalam dua dekade terakhir saja.

Kehancuran telah disokong oleh paham Wahabisme.Dengan alasan takut menjadi ajang sirik, bangunan bersejarah diratakan.

Sedikit catatan dari The Independent: Untuk membangun kota pencakar langit di Makkah, sebuah gunung didinamit dan diratakan, menghancurkan Benteng Ajyad di era usmaniyah yang berdiri di atasnya. Lalu, rumah Khadijah istri pertama Nabi telah berubah menjadi blok toilet masjidil Haram, sedang rumah tempat lahirnya bahkan diratakan begitu saja.

Alawi berharap masyarakat internasional ‘terbangun dari tidurnya’ dan melihat apa yang terjadi terhadap warisan sejarah Islam di Makkah. “Kami tidak akan mengizinkan seseorang pun untuk menghancurkan Piramida, jadi mengapa kita membiarkan sejarah Islam lenyap?” katanya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2011 in ISLAM News