RSS

Arsip Kategori: Sucikan Hati

Tiga Pesan Moral dari Air

 

Air dihadirkan oleh Allah dalam kehidupan manusia sebagai rezeki sebagaimana firman Allah :

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS al-Baqarah [2]:22). Namun, air tidak sekadar rezeki, ia pun menjadi ayat kauniyah, tanda kebesaran-Nya, yang perlu dibaca agar kita merengkuh pesan moral seperti yang Allah firmankan : Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (QS adz-Dzariyat [51]: 20-21). Ada sejumlah pesan moral yang dapat dipelajari dari air.

Pertama, air itu menghidupi. Allah SWT berfirman, ” Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.” (QS al-Anbiya’ [21]: 30). Air menumbuhkan tanaman, menyuburkan tanah, bahkan mengalirkan oksigen dalam darah manusia. Di mana pun air berada, ia bermanfaat. Manusia pun selayaknya demikian. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain.” (HR Ahmad).

Kedua, ia bergerak tanpa henti. Karena jika ia diam, pasti kotor dan keruh. Imam Syafii berkata, “Saya lihat air yang diam menyebabkan kotor. Bila dia mengalir, ia menjadi bersih. Dan bila tidak mengalir, ia tidak akan jernih. Singa bila tidak meninggalkan sarangnya, dia tidak akan pernah memakan mangsanya. Dan anak panah bila tidak terlepas dari busurnya, tidak akan pernah mengenai sasarannya.”

Orang yang tidak memiliki aktivitas atau pekerjaan, pikiran dan hatinya kemungkinan besar akan keruh dan kotor. Akibatnya, mata dan hatinya melihat secara negatif segala sesuatunya (suuzhan).

Ketiga, Air tak pernah bisa dipecah, atau dihancurkan. Bahkan, ia akan menenggelamkan benda-benda keras yang menghantamnya dan menghanyutkan. Ia hanya akan pecah saat ia mengeras, membeku. Inilah karakter dasar air, yakni mencair, mudah meresap, menguap, dan kembali turun untuk menyejukkan.

Karakter cair ini berguna jika seseorang menghadapi masalah. Karena bila kita bersikap mengeras, membatu, maka kita mudah pecah, stres, gampang dilempar ke sana-sini, dan seterusnya dalam menghadapi samudera kehidupan.

 

Air berpasrah diri (Islam) secara total pada tatanan (kosmos) alam. Ia mengalir dari tempat tinggi ke arah yang lebih rendah. Ia menguap bila terkena panas, membeku jika tersentuh dingin, meresap di tanah, menguap ke awan, dan turun sebagai hujan. Ia kemudian menyatu di lautan raya, berpencar di sungai, kali, dan selokan.

Air mengikuti harmoni alam (sunatullah) yang digariskan Allah SWT. Harmoni alam itu tunduk dan patuh pada prinsip keseimbangan dan keadilan seperti yang Allah firmankan : Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS al-Rahman [55]:7-9). Jika kesimbangan dirusak maka air pun protes. Air berhak atas tempat resapan. Jika tidak ada tempat resapan, air akan terus mencari tempat yang paling rendah.

Jika tak ada yang tepat sebagai resapannya maka terjadilah banjir. Banjir merupakan bentuk protes air karena tempat resapan serta jalan kembali ke lautan raya, tergusur oleh kerakusan dan keserakahan tangan manusia. Allah berfirman : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS ar-Rum [30]: 41).

Sudahkah kita seperti air, yang berpasrah, tunduk, dan patuh secara total pada Allah SWT? Sudahkah kita memelihara tatanan kehidupan secara adil?

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Oleh M Subhi-Ibrahim http://pribadimanfaat.blogspot.com/

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 26, 2013 in Sucikan Hati

 

Teguran dari Allah

Semoga bermanfaat.


Seorang mandor bangunan yang berada di lt 5 ingin memanggil pekerjanya yang lagi bekerja di bawah…

Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.

Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 1.000- yang jatuh tepat di sebelah si pekerja.

Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tsb dan melanjutkan pekerjaannya.

Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah “sebentar saja” ke atas.

Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.

Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor…

Cerita tersebut di atas sama dengan kehidupan kita, Allah selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi “dunia” kita.

Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kepada NYA

Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang···

Bahkan kita selalu bilang ··· kita lagi “HOKI!”

Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik Allah.

Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan  “batu kecil” yang kita sebut “musibah …!” agar kita mau menoleh kepada-NYA.

Sungguh Allah sangat mencintai kita, marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada NYA sebelum Allah melemparkan batu kecil kepada kita.

 

Jazakumullah Khairon Katsir

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 14, 2013 in Sucikan Hati

 

Dimana posisi Sholat kita?

Abdul Malik bin Muhammad, dalam kitabnya membagi manusia dalam lima tingkatan terkait dengan shalat.

Pertama, Mu’aqab (kelompok yang diazab). Mereka adalah golongan manusia yang mengerjakan sholat, tetapi salah menjalankannya dan jauh dari sempurna. Selain syarat dan rukunnya diabaikan, mulai dari pelaksanaan wudhu hingga soal thoharoh lainnya juga tidak mendapat perhatian. Dapat dikatakan, mereka itu sholat asal-asalan.

Waktu sholat sering dilaksanakan diluar waktunya/ tidak tepat waktu, sering terlambat, bahkan sering kali tidak dilaksanakan. Merekalah yang didalam Al Qur’an disebut “an sholatihim sahun” orang yang lalai dalam mengerjakan sholat. Kelompok ini juga termasuk orang yang dholimun linafsihi, orang yang menzalimi dirinya sendiri.

Kedua, muhasab (kelompok yang dihisab). Golongan ini adalah mereka yang rajin melaksanakan sholat, menjaga waktu waktunya, demikian juga syarat, wajib, dan rukunnya. Secara lahiriyah seluruh ketentuan mengenai sholat sudah dipenuhinya. Wudhunya bagus, pakaiannya menutup aurat, tidak terkena najis, menghadap qiblat, tepat waktu, demikian juga semua rukun sholat tiada cacat.

Sayang, satu hal yang kurang pada kelompok ini adalah kehadiran hatinya. Pada saat sholat hati dan pikirannya tidak dijaga sehingga melayang-layang entah kemana.

Ketiga, mukaffar ‘anhu (yang diampuni dosa-dosanya). Setingkat lebih baik lagi adalah kelompok orang yang senantiasa menjaga batasan-batasan sholat, menjalankan wajib dan rukunnya, bahkan menjalankan sunnah-sunnahnya, sekaligus bersungguh-sungguh di sisi Allah Subhana Wa Ta’ala dari segala godaan nafsu was-was yang mengotori pikiran dan perasaannya.

Dalam sholatnya mereka sibuk menjaga hati dan pikirannya. Mereka berkonsentrasi penuh agar setan tidak berkesempatan mencuri sholatnya.

Keempat, mutsab (yang diberi pahala). Tak sekedar diampuni dosa-dosanya, mereka termasuk orang yang berhak mendapat pahala yang berlimpah. Mereka ini adalah segolongan kecil orang yang aqimush sholat (menegakkan sholat), tidak sekedar menjalankannya.

Golongan ini menegakkan sholat dengan hak-haknya, rukun-rukunnya dan hatinya tenggelam dalam menjaga batasan-batasannya. Mereka tidak membiarkan hatinya sedikitpun terlena dari segala hal yang dapat mengganggu konsentrasi sholatnya. Pada tingkatan ini seluruh anggota tubuhnya berdzikir, pikirannya berdzikir, juga hatinya berdzikir, sebagaimana firman Allah Subhana Wa Ta’ala : “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku” (QS Thaha [20]:14)

Kelima, muqorrib min Robbihi (yang mendekatkan diri kepada Allah). Menurut penulis buku ini, tingkatan yang paling tinggi adalah orang yang menegakkan sholat sampai pada tahap muqorrobin, yaitu orang-orang yang dekat dengan Allah. Ketika sholat, golongan ini merasa benar-benar bertemu dan berhadapan dengan Allah Subhana Wa Ta’ala. Jika tidak melihat Allah, maka mereka yakin bahwa Allah melihatnya. Mereka meletakkan hatinya dihadapan Allah Subhana Wa Ta’ala, merasa diawasi Allah, dan hatinya penuh dengan kedekatan kepada Allah. Di hatinya telah sirna segala was was dan segala pikiran diluar sholat. Mereka itulah orang-orang yang disebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai muhsinin.

Dengan mengetahui lima golongan ini, marilah kita bercermin kepada diri kita masing-masing sejauh mana kualitas sholat kita. Setelah itu marilah bersama sama untuk meningkatkan kualitas sholat kita sehingga menjadi orang yang mendapatkan ridho dari Allah Subhana Wa Ta’ala.

Wallahu a’lam

Disadur dari majalah hidayatullah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 12, 2013 in Sucikan Hati

 

Seluruh Ummat Muhammad Akan Masuk Surga Kecuali yang Enggan

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)

simak selanjutnya.

Akhlak adalah cerminan dari hati seorang muslim. Sehingga, perangai yang penuh adab dan sopan santun merupakan gambaran dari apa yang ada di dalam hatinya. Sebaliknya, tutur kata yang tidak beradab, sikap yang jelek, itupun merupakan gambaran isi hati seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketahuilah, di dalam jasad ada segumpal daging. Apabila baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, dia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma)

Bahkan akhlak yang baik adalah bukti kebenaran iman seseorang. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi, Kitab Ar-Radha’ Bab Ma Ja`a fi Haqqil Mar`ah ‘ala Zaujiha, no. 1082, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 1232)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita tentang akhlak Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjawab:

“Akhlak beliau adalah Al-Qur`an.” (HR. Muslim)

Karena akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur`an, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa akhlak itu mencakup agama Islam secara keseluruhan. Baik akhlak terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, terhadap rasul-rasul-Nya ‘alaihimussalama, kitab-kitab-Nya, maupun akhlak terhadap hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lainnya.

Dari sini pula kita dapatkan bahwa kebanyakan orang masih berpandangan sempit tentang akhlak. Seakan-akan, akhlak hanya terbatas pada tutur kata dan penampilan yang menarik saja.

Padahal cakupannya luas, seluas syariat Islam.

Di antara hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling berhak untuk kita beradab dan berakhlak yang baik adalah para nabi dan rasul ‘alaihimussalam, terutama Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa demikian? Karena, kita tidak mungkin mengetahui jalan yang benar dan melaksanakan ibadah yang bisa diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali dengan Sunnah dan thariqah (jalan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Realisasi dan wujud berakhlaknya seorang mukmin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya:

1. Beriman kepadanya dan beriman pula kepada apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hadid: 28)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan beberapa perkara kepada orang-orang yang bertakwa dan beriman kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandakan pahalanya dua kali lipat, dan ini merupakan rahmat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepadanya cahaya ilmu dan petunjuk, sehingga mereka bisa berjalan dengannya di dalam gelapnya kejahilan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya.

Inilah buah yang akan didapat oleh orang-orang yang beradab dan berakhlak baik, khususnya terhadap Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebaliknya, orang yang tidak beradab dan berakhlak baik terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan gugur amal-amalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)

Mengangkat suara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja bisa menggugurkan amalan. Lebih-lebih berbagai macam syirik, bid’ah, hizbiyah, kemaksiatan, dan kemungkaran lainnya.

2. Membenarkan segala berita yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 2-4)

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia berkata:

“Aku senantiasa menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk aku hafal. Maka kaum Quraisy melarangku dan berkata: ‘Engkau menulis segala yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia, beliau berkata dalam keadaan marah maupun ridha?’ Aku pun menahan diri dari menulis hingga aku sebutkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah keluar dariku kecuali kebenaran’.” (HR. Ahmad, 2/162. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1532, dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad no. 768)

Sehingga, berita apapun yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib kita membenarkannya, baik berita itu masuk akal ataupun tidak. Baik berita itu sudah terjadi, sedang terjadi, atau yang akan terjadi. Semuanya adalah benar, selama berita tersebut shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh seseorang mempertentangkannya dengan mazhab, pemikiran, atau pendapat siapapun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah (yakni Kitabullah) dan Rasul-Nya (yakni Sunnahnya), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)

Berdasarkan ayat ini, berita apapun yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih adalah salah, siapapun yang mengatakannya. Demikianlah seharusnya akhlak dan adab seorang muslim terhadap berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Menaati perintah dan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya)….” (An-Nisa`: 59)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apa saja yang aku larang kalian darinya maka tinggalkanlah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian maka ambillah semampu kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan penyelisihan mereka terhadap para nabi yang diutus kepada mereka.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa ketaatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sebab yang akan memasukkan seseorang ke dalam jannah (surga). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (HR. Al-Bukhari, Kitabul I’tisham bil Kitabi was Sunnah, Bab Al-Iqtida` bi Sunani Rasulillah, no. 6737)

Berbagai musibah, kehinaan dan kerendahan yang menimpa kaum muslimin adalah disebabkan ketidaktaatan dan ketidakberadaban terhadap perintah dan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

4. Mengikuti dan berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seorang muslim tentu mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukti kecintaannya itu adalah dengan mengikuti dan berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

Mengikuti (ittiba’) Rasul merupakan solusi yang tepat tatkala menghadapi perselisihan dan perpecahan yang terjadi pada umat ini. Di samping itu, ittiba’ akan membuahkan keselamatan di dunia dari kesesatan, dan keselamatan di akhirat dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup panjang, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib kalian berpegang dengan Sunnahku dan sunnah para khalifah yang terbimbing, yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dia menyatakan: “Hadits yang hasan shahih dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu.”)

Dari sinilah, ittiba’ Rasul menjadi syi’ar dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah di sepanjang masa dan semua tempat. Sekaligus, bid’ah dan hizbiyah yang merupakan lawan dari ittiba’ adalah tanda dakwah ahli bid’ah dan hizbiyah, yang akan mengajak kepada perpecahan dan perselisihan. Kenapa demikian? Karena tidak ada satu golongan pun kecuali memiliki amalan-amalan, pendapat-pendapat, dan keyakinan-keyakinan yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali Ahlus Sunnah wal Jamaah yang senantiasa mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan al-jamaah.

Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullahu berkata dalam Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: “Penyimpangan-penyimpangan (dari syariat) itu bertingkat-tingkat. Terkadang berupa kekafiran, terkadang berupa kefasikan, terkadang berupa kemaksiatan, dan terkadang berupa kesalahan semata.”

Demikian juga tidak beradab terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnahnya. Ada yang menyebabkan kekafiran, kefasikan, kemaksiatan, dan kesalahan semata. Hal ini dilakukan oleh berbagai golongan yang menisbahkan diri kepada Islam.

 

Wallahu a’lam bi showab

 

Sumber http://qurandansunnah.wordpress.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 29, 2013 in Sucikan Hati

 

Nasihat Setan, terhadap yang menunda Sholat

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dalam buku Mawa’idz Syaithan-Nasihat-nasihat setan yang ditulis oleh Isham Abdul Fattah, ia menukil sebuah riwayat tentang nasihat setan kepada yang melalaikan sholat.

“Wahai Muhammad! Ada sebagian dari umatmu yang suka mengakhirkan sholat sejam demi sejam. Tatkala ingin mengerjakan shalat yang menjadi kewajibannya, maka aku menggodanya dengan mengatakan: ” waktunya masih ada sementara kamu masih sibuk” hingga dia mengakhirkan sholat dan menjalankan diluar waktunya (tidak awal waktu).

Dengan itu, wajahnya akan dipukul pada Hari Kiamat. Jika dia bisa mengalahkanku, maka aku akan kirimkan kepadanya satu setan yang berbentuk manusia yang menyibukkan waktu sholatnya. Jika dia dapat mengalahkanku, aku tinggalkan dia hingga dia menjalankan sholat, akan aku katakana kepadanya untuk melihat ke arah kanan dan ke arah kiri, maka diapun mengikuti perintahku untuk melihat ke kanan dan ke kiri. Ketika itu, aku usap wajahnya dengan tanganku, aku cium bagian di antara kedua matanya, dan aku katakan kepadanya apa yang telah kamu lakukan tidak akan sah selamanya.

Sementara, engkau wahai Muhammad mengetahui bahwa siapapun yang banyak bergerak ( termasuk tengok kanan dan kiri) dalam sholatnya, maka dia akan dipukul (pada hari kiamat). Jika dia menjalankan sholat sendirian, aku akan perintahkan untuk melakukannya dengan tergesa gesa, seolah olah seperti ayam yang sedang mematuk biji-bijian dengan cepat. Jika dia dapat mengalahkanku karena menjalankan sholatnya berjamaah, aku akan mengekangnya dengan rantai. Kemudian aku angkat kepalanya sebelum gerakan imam dan aku akan meletakkan sebelum gerakan imam.

Engkau wahai Muhammad telah mengetahui bahwa barangsiapa yang melakukan perbuatan semacam itu, maka batallah sholatnya. Dan, Allah akan mengganti kepalanya dengan kepala keledai pada hari kiamat. Jika dia mampu mengalahkankku dengan hal itu, aku akan memerintahkannya untuk meretakkan jari jarinya dalam sholat, sehingga dia termasuk orang mau memujiku, sementara dia dalam keadaan sholat.

Jika hal tersebut dapat mengalahkanku, maka aku akan menghembuskan angin kepada hidungnya hingga dia menguap dalam keadaan sholat. Jika dia tidak meletakkan tangannya pada mulutnya, setan akan masuk kedalam perutnya, maka dengan hal itu akan menambah ketamakan dan kecintaannya pada dunia, dan dia akan mendengar dan mentaati apa yang kami perintahkan.

Kebahagiaan macam apa yang bisa didapatkan umatmu, sementara aku penyeru orang-orang miskin untuk meninggalkan sholat dengan mengatakan kepadanya: “Tidak ada kewajiban bagimu untuk menjalankan sholat, karena sholat itu hanya diwajibkan bagi orang yang diberi nikmat sehat, karena Allah berfirman,”Tiada dosa atas orang orang yang buat dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit apabila tidak ikut berperang.” (Qs. Al Fath:17)

Jika engkau sadar, engkau menjalankan sholat, dan jika tidak sadar engkau tidak menjalankan sholat hingga dia mati dalam keadaan kafir. Jika dia mati dalam keadaan sakit dan meninggalkan sholat, maka dia akan bertemu dengan Allah yang sangat marah atas perbuatannya wahai Muhammad.”

 

Dikutip dari buku jangan sekali kali lalaikan sholat, Muhamad Yasir

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 17, 2012 in Sucikan Hati

 

Pengunjung Terakhir Akan Datang

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri.!! Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!

Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!

Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu.!!

Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan perantara yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu! Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuannya!

Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu seutuhnya bukan separoh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!! Allah subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS: As-Sajadah: 11)

Dan firman-Nya, yang artinya: “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS: Al-An’am: 61)

 

Kereta Usia

Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti? Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan ‘kereta usia’ sudah mendekati rute terakhirnya? Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?”

 

Berhati-hatilah!

Semoga anda tidak termasuk orang yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan, artinya: “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (QS: Muhammad: 27) Atau firman-Nya, yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS: An-Nahl: 28-29)

Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?

Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka’at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?

‘Kontrak’ amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!

Allah subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).” Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS: Al-Mu’minun: 99-100)

 

Persiapkan Dirimu!

Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Alloh Al-Jabbar? Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasululloh shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Berhitunglah Atas Dirimu!

Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dalam ladang amal dengan sungguh-sungguh di masa luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.

Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cobaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan memberikan toleransi padamu!

(Sumber Rujukan: Az-Zâ’ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih)

 

Niat amal dan sampaikan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 29, 2012 in Sucikan Hati

 

Kewajiban Menutup Aurat Secara Sempurna

Oleh : Tias Yuliana

Tanya :

Setelah melalui proses pencarian dan pengkajian yang panjang, akhirnya beberapa hari lalu saya memutuskan untuk menutup aurat secara sempurna. Tidak hanya mengenakan kerudung tetapi juga beserta jilbabnya. Namun terkadang ada sedikit godaan dan kekhawatiran. Bagaimana sih agar saya bisa mengenakan jilbab dengan istiqomah? Bagaimana menghilangkan ketakukan-ketakutan itu? Apalagi kebijakan di kampus, saya tidak diperkenankan mengenakan jilbab ketika mengikuti kegiatan praktikum. Meskipun kerudung masih boleh dikenakan, tapi untuk jilbab tidak ada toleransi.

Yayuk – DPD IPB

 

Jawab :

Kewajiban Menutup Aurat Secara Sempurna

Pernahkah terpikir pertanyaan tentang, “kenapa kita harus mengenakan pakaian?” heehee… Jika kita mengaku sebagai seorang muslim tentu tidak akan menjawab “untuk menghindari masuk angin” J Berpakaian dengan tujuan utamanya untuk menutup aurat, merupakan suatu ibadah wajib bagi setiap kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan.

Allah SWT berfirman :

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu, dan pakaian indah untuk perhiasan.” [QS. al-A’raaf : 26]

Ya, pakaian untuk menutupi aurat dan sebagai “perhiasan” bagi diri kita. Aurat itu apa sih? Kenapa harus ditutupi? Menurut pengertian bahasa, aurat merupakan kekurangan dan sesuatu yang mendatangkan celaan (aurat manusia dan semua yang bisa mendatangkan rasa malu dan tercela bila terlihat). Aurat adalah bagian tubuh yang tidak boleh dilihat oleh wanita lain dan laki-laki lain yang memang tidak memiliki hak atasnya.

Bagian mana saja sih yang disebut aurat dan harus ditutupi dengan pakaian? Untuk muslimah batasan auratnya adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan.

Rasulullah SAW bersabda :

“Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.” [HR. Muslim]

Bagaimana syarat menutup aurat yang disyariatkan oleh Islam? Tentu saja menutup aurat harus dilakukan hingga warna kulitnya tertutup. Seseorang tidak bisa dikatakan menutup aurat, iika auratnya sekedar ditutup dengan kain atau sesuatu yang tipis sehingga warna kulitnya nampak. Menutup aurat hukumnya wajib bagi seluruh kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan dengan batasan yang telah ditentukan oleh syara’, dimanapun dan kapanpun. Bahkan ketika seseorang itu sedang sendiri tetap diwajibkan untuk menutup auratnya, kecuali jika ia sedang mandi, buang hajat, dan ketentuan lain yang dibenarkan oleh syara’.

 

Jilbab ≠ Kerudung

Syariat Islam tidak hanya memerintahkan seorang muslimah untuk menutup auratnya, tetapi juga mewajibkannya untuk mengenakan busana khusus jika hendak keluar rumah. Nah kewajiban mengenakan pakaian khusus di luar rumah ini terpisah dari kewajiban menutup aurat seperti sebelumnya. Jadi para wanita muslimah dikenakan dua hukum dalam hal menutup aurat : (1) menutup aurat saat di kehidupan privat (rumah) dan (2) menutup aurat dengan pakaian khusus ketika di kehidupan publik (di luar rumah).

Pertanyaan selanjutnya, pakaian luar rumah itu seperti apa? Apa bedanya dengan pakaian biasa yang kita kenakan?

Ok, sebelum membahas pakaian khusus di luar rumah, ada baiknya kita bahas dulu pakaian yang harus kita gunakan untuk kewajiban “menutup aurat” di wilayah privat (kewajiban pertama). Dalam konteks “menutup aurat”, syariat Islam tidak mensyaratkan bentuk pakaian tertentu atau bahan tertentu yang digunakan untuk menutup aurat. Syariat hanya mensyaratkan agar pakaian yang kita gunakan tidak menampakkan warna kulit. Jadi kalau di dalam rumah, mau pakai baju model dan warna apapaun tidak masalah, selama tidak menampakkan warna kulit.

Tetapi akan menjadi berbeda ketika seorang muslimah hendak keluar dari rumah. Dia harus mengenakan pakaian khusus (kewajiban kedua). Seorang muslimah wajib mengenakan khimar (kerudung) dan jilbab. Khimar dan kerudung ini harus dipakai diluar pakaian yang biasa kita kenakan. Jadi kayak pakai mantel atau jas.

Eeh tunggu dulu, khimar (kerudung) dan jilbab?

Yah benar, khimar (kerudung) berbeda dengan jilbab. Sedangkan selama ini banyak kaum muslimin yang menganggap bahwa keduanya adalah sama. Meskipun kita telah menutup seluruh tubuh (kecuali muka dan dua telapak tangan) serta mengenakan kerudung tapi belum mengenakan jilbab, yah sama ajah kita belum menutup aurat secara sempurna untuk kewajiban yang kedua (di kehidupan publik).

1. Perintah mengenakan khimar (kerudung)

Dalil yang menunjukkan perintah ini yakni firman Allah SWT :

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” [QS. an-Nuur : 31]

Ayat ini menjelaskan perintah Allah kepada muslimah untuk mengenakan kerudung yang menutupi kepala, leher, hingga dadanya.

2. Perintah mengenakan jilbab

Sedangkan kewajiban mengenakan jilbab untuk wanita mukminat dijelaskan dalam surat al-Ahzab ayat 59. Allah SWT berfirman :

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mu’min : “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” [QS. al-Ahzab : 59]

Kedua ayat di atas sudah sangat jelas kan, kalau kerudung dan jilbab itu adalah dua hal dan dua kewajiban yang terpisah tapi harus dikenakan bersama. Pada ayat kedua kita diperintahkan untuk mengenakan jilbab. Jika jilbab itu bukan khimar (kerudung), seperti apakah bentuk jilbab itu?

Jilbab adalah milhafah (baju kurung) dan mula’ah (kain panjang yang tidak berjahit). Dalam kamus al-Muhith dijelaskan bahwa jilbab itu seperti sirdaab (terowongan) atau sinmaar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.

Heeem, udah kebayang belum?

Jadi busana yang harus dikenakan muslimah saat keluar dari rumah selain mengenakan kerudung, ia juga harus mengenakan jilbab (pakaian luas yang dikenakan diluar pakaian sehari-hari dan wajib diulurkan hingga menutupi ke bawah kaki).

 

Istiqomah dalam Mengenakan Jilbab?

Saat ini memang belum banyak muslimah yang memahami bagaimana menutup aurat yang sempurna jika berada di luar rumah. Banyak muslimah yang tidak mampu membedakan antara kerudung dan jilbab. Kalaupun ada muslimah yang mengenakan jilbab, bagi sebagian awam akan tampak “aneh” dan terkesan asing (karena belum terbiasa).

Sikap parno itu tidak hanya melanda sebagian kaum muslimin, bahkan institusi baik pendidikan maupun yang lainnya. Banyak kampus, sekolah, atau perusahaan yang melarang pelajar atau pegawainya mengenakan jilbab tapi masih diperkenankan memakai kerudung. Memutuskan untuk berjilbab, menutup aurat secara sempurna, berarti selangkah kita telah mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman :

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [QS. al-Baqarah : 214]

Menutup aurat secara sempurna merupakan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah. Bersegera dalam menjalankan perintah-Nya adalah langkah yang terbaik. Ketika pilihan tersebut terbentur dengan kebijakan institusi, pandanglah hal tersebut sebagai ujian untuk meningkatkan kadar keimanan kita. Rasulullah SAW bersabda:

“… seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kuat, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya…”

Sabar adalah ketika kita mengatakan yang hak dan melaksanakannya. Sikap menanggung resiko dan penderitaan di jalan Allah karena mengatakan dan mengamalkan kebenaran tanpa berpaling, bersikap lemah, atau lunak sedikitpun. Sabar yang sebenarnya adalah sabar yang tela dijadikan Allah sebagai buah ketakwaan. Allah berfirman :

“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [QS. Yusuf : 90]

Sabar terhadap cobaan dan qadha adalah sesuatu yang akan menuntun menuju sikap konsisten, bukan sikap yang labil. Sabar yang akan mendorong untuk senantiasa berpegang teguh pada kitab Allah, bukan melemparkannya dengan dalih beratnya cobaan.

 

Wallahu a’lam bis showab.

 

Sumber : http://dakwahkampus.com


 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 26, 2012 in Sucikan Hati