RSS

Arsip Kategori: Teori Fotografi

Job List wajib untuk Foto Wedding

Disadur dari : fotografer .net, oleh Widianto H. Didiet

Job List wajib untuk Foto Wedding

Ini daftar take foto yang harus diambil buat foto kawinan pada umumnya..

aku susun berdasarkan pengalaman. biasanya list ini aku kasih ke fotografer freelance yang suka ngebantuin kalau aku motret wedding.

kalau ada yang kurang mungkin bisa dibantu melengkapi..

salam

 

LIST PHOTO WAJIB UNTUK DOKUMENTASI WEDDING

SEBELUM PENGANTIN HADIR

AKAD/PEMBERKATAN/RESEPSI

 

1.Ruangan

Pintu Masuk

Nama Gedung/Mesjid/Gereja

Suasana Ruangan

Ruangan Keseluruhan

Suasana Tamu

Suasana Saudara2

 

2.Dekorasi

Pelaminan Kosong

Bunga-Bunga

Pernak-Pernik Hiasan Ruangan

Meja Penerima Tamu

Souvenir

Untuk Akad : Meja Ijab Kabul

Untuk Gereja : Lilin, Alkitab, Altar,Salib

Karangan Bunga Ucapan Selamat

 

3.Makanan

Susunan Makanan

Gelas berisi Minuman warna warni

Stand-Stand Makanan

PENTING : INISIAL ES

Note : Perhatikan WB & Lighting

 

—————————————————-

MAKE UP PENGANTIN

 

1.Perempuan

Sebelum Di make Up

Make Up Mata, bibir dsb (per-bagian)

Ekspresi keluarga yang ada disekitar

Baju Pengantin

Alat-Alat Make Up

Penata Rias

Pengantin Selesai di make up + POSE

 

2.Pria

Sebelum Di make Up

Make Up Mata, bibir dsb (per-bagian)

Ekspresi keluarga yang ada disekitar

Baju Pengantin

Alat-Alat Make Up

Penata Rias

Pengantin Selesai di make up + POSE

 

3.Keluarga Orang Tua & Saudara-Saudara Dekat Ekspresi

 

Note: Ajak Pengantin bercanda,

keceriaan pengantin adalah nilai point lebih

 

————————————————————————-

 

AKAD NIKAH

 

1.Pengantin

Suasana Lokasi & dekorasi Ruangan

Mobil Pengantin Jika Ada

Pengantin Memasuki ruangan

Ekspresi Keluarga

Suasana Tamu

Ekspresi Pengantin Wanita saat bersyahadat

Ekspresi Pengantin Pria saat mengucap Ijab Kabul

Pengantin, Saksi dan Penghulu Tanda Tangani Buku nikah

Pengantin Sungkem/Sujud ke Orang Tua

Pengantin Pria Memberikan Maskawin

Pengantin Saling Memakaikan Cincin

Pengantin memperlihatkan Cincin Kawin

Photo Bersama Keluarga

Pengantin Memperlihatkan Buku nikah

 

2.keluarga

Pose Formil

ekspresi tangis/haru keluarga

 

3.Pembawa Acara/pengisi Acara

Pidato

Membawakan doa

Penghulu dan saksi

Terutama ketika tanda tangan buku nikah.

 

4.Tamu/Keluarga

Untuk Foto bersama – Pose Formil

Tamu Keseluruhan/berkeliling

Suasana Makan

Kumpulan teman dan kerabat.

 

Note : Untuk agama lain, ikuti acara secara keseluruhan secara detail

Ambil Foto Sebanyak-banyaknya untuk pilihan terbaik di album

 

Untuk Agama Kristen/di Gereja, Perbanyak Candid

Perhatikan Lighting, WB dan Pose Bersama ( JANGAN DISTORSI )

Jangan Gunakan Speed Rendah Usahakan foto FREEZE !

Foto bersama keluarga JANGAN ADA YANG MEREM!perhatikan baik2.

Foto bersama keluarga ambil setidaknya 2 kali untuk backup!

 

—————————————————————————

 

LIPUTAN RESEPSI

 

1.Pengantin

Mobil Pengantin Jika Ada

Pengantin Memasuki ruangan

Pengantin Pidato/Menyanyi/Dsb

Pengantin Melempar Bunga

Pengantin Bersalaman dengan tamu/ Suasana

Pengantin berjalan2

Pengantin makan/minum

Pengantin berpose Mesra Di Pelaminan

 

2.keluarga

Pose Formil

Candid Orang Tua pihak pria/wanita

 

3.Pembawa Acara/pengisi Acara

M.C

Penyanyi

pembuka jalan penganten (untuk adat)

Pengiring Penganten

Panitia-Panitia

Pidato, nyanyi dan sebagainya

 

4.Tamu/Keluarga

Untuk Foto bersama – Pose Formil

Tamu-Tamu Menyerbu makanan/antrian makanan

Tamu-Tamu mengobrol

Kumpulan Teman dan Kerabat

 

Note :

Ambil Foto Sebanyak-banyaknya untuk pilihan terbaik di album

Ikuti Acara Secara Keseluruhan

Perhatikan Lighting – WB -dan Pose Bersama ( JANGAN DISTORSI )

Jangan Gunakan Speed Rendah Usahakan foto FREEZE ! (terutama Lempar Bunga)

Foto bersama keluarga JANGAN ADA YANG MEREM!

 

—————————————————————————-

 

CANDID

 

1.Pengantin

Ekspresi Pengantin Pria

Ekspresi Pengantin Wanita

Ekspresi bersama/mesra dsb

Ekspresi keluarga

Close Up Keluarga Inti

 

Note :

Ambil Foto Sebanyak-banyaknya untuk pilihan terbaik di album

Kejar Pengantin Sebisa Mungkin

Perhatikan Lighting – WB

Kejar Ekspresi Bahagia/Sedih dsb

Buat Foto dengan ART yang tinggi.

 

————————————————————————

 

MINI STUDIO

 

1.Pasangan Pengantin

Pose Sendiri-sendiri

Pose Formil

Pose Mesra

Pose Gaya/Funky

 

2.keluarga

Pose Formil

 

Note :

Harap mengarahkan gaya pengantin agar tampak ok!

Ambil Take Yang Banyak untuk back Up/pilihan terbaik di album

Perhatikan tata lampu jangan ada bayangan di background

———————————————————————–

 

VIDEO SHOOTING

Album foto merupakan storyboard dari Video dokumentasi

Kedetilan dan Kualitas Video terutama Kecerahan gambar sangat penting

Kamera Minimal MD-10000, MD-9000 pada cahaya under gambar pecah

JANGAN PERNAH BERANI2nya SHAKING APALAGI GEMPA BUMI!

JANGAN PERNAH PAKE AUTO WB. set WB manual. perubahan WB pada setting auto (10 detik) sering mengganggu

Perhatikan posisi Lampu. Jangan Backlight.

Jangan bermain-main dengan pergerakan kamera.dokumentasi bukan video art! (kecuali pesanan khusus).

Untuk 2 Video Harap Saling memperhatikan Posisi rekannya agar editing lebih mudah!

Minta ucapan selamat dari tamu-tamu yang kelihatan akrab dengan pengantin/keluarga.

Minta Pesan dari Orang tua dua belah pihak

 

—————————————————————

 

NOTE : List ini adalah untuk acara wedding standard.

untuk lebih detail minta rundown acara.

jika ada bentuk acara khusus list foto akan bertambah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 12, 2010 in Teori Fotografi

 

Tips Pre wedding

01. Tentukan konsep album foto

maksudnya adalah mau dijadikan bentuk seperti apa album yang kita inginkan. Contoh-contoh konsep untuk sebuah album foto pre wedding di antaranya :

Sekadar kumpulan foto indah dengan lokasi indah (seperti album foto konvensional)

Konsep sebuah ceritera sebagaimana skenario film atau sinetron

Konsep kalender yang dapat menggambarkan perubahan suasana dari musim ke musim

Konsep komik dengan word balloons berisi kalimat-kalimat lucu

Konsep majalah di mana ada halaman muka, pengantar redaksi, halaman isi, berbagai halaman rubrik

Dan konsep-konsep lain sesuai imajinasi pasangan pre-wedding

 

02. Tentukan tema foto

tema mengacu kepada nuansa (suasana dan setting) yang ingin dimunculkan dari karya foto. Beberapa contoh tema misalnya: etnik (javanese, minang, chinese, arabic, sundanese), kolonial, masa remaja, oriental, horror, wild western (seperti film-film koboi), casual, office environment, futuristik, luar angkasa, gurun pasir, hutan amazon, dan sebagainya sesuai imajinasi pasangan pre-wedding.

03. Pilih kostum dan lokasi

pemilihan tema di atas sangat penting karena akan menentukan langkah selanjutnya yakni pemilihan kostum dan lokasi pemotretan. Banyak lokasi promosi fotografi di indonesia tersedia untuk mendukung berbagai tema yang diinginkan. Banyak tempat di kota-kota besar juga menyediakan jasa penyewaan kostum untuk berbagai tema tersebut. Jika bingung dengan tema dan daya imajinasi sedang mentok, tema casual yang ringan bisa dijadikan pilihan terakhir

 

04. Pilih fotografer yang tepat

ketiga tips di atas merupakan langkah awal yang sebaiknya dilakukan pasangan pre-wedding. Langkah selanjutnya adalah memilih fotografer yang cocok untuk keperluan sesuai tema. Jika tema yang dipilih menuntut banyak pemotretan di studio dengan menggunakan berbagai efek pencahayaan buatan, maka fotografer atau pameran audio dengan spesialis outdoor kurang dapat memberikan pelayanan yang memuaskan. Sebaliknya, jika sesi pemotretan akan banyak dilakukan di luar ruangan dengan kondisi alam yang mendekati ekstrim (misal sangat panas, sangat dingin, sangat basah, dll), maka pilihlah fotografer yang memang tangguh dan handal untuk kondisi-kondisi semacam itu

 

GOLDEN RULE UNTUK MENDAPATKAN HASIL FOTO YANG BAIK

EXPRESI model, YA EXPRESI anda ini adalah FAKTOR UTAMA yang dapat membuat foto anda terlihat indah dipandang. Your SMILE sangat mewakilkan expresi kebahagiaan sang model. Moment pernikahan adalah moment kebahagiaan, usahakan untuk selalu tersenyum setiap saat. Tanpa Expresi yang baik, sehebat apapun fotografer akan sia sia belaka.

POSE (KOREO), KOSTUM + MAKE UP

Ini adalah faktor terpenting kedua yang bisa membuat foto anda terlihat bagus. Ya, kami menyadari bahwa sebagian besar client kami bukan model professional yang pandai berpose. Tapi jangan kawatir, kami memiliki teknik-teknik tersendiri untuk menciptakan suasana nyaman sehingga client kami bisa borpose dan berekspresi bebas lepas (tidak kaku) tentunya dengan kerjasama anda sebagai clint kami. Siapkanlah beberapa kostum yang akan kita sesuaikan dengan lokasi pemotretan, sebaiknya siapkan minimal 2 kostum yang matching (pria & wanita) dengan warna cerah dan gelap.

LOKASI PEMOTRETAN DAN CUACA

Ini faktor ketiga, pilihlah lokasi yang indah, sesuai dengan selera anda. Juga sesuaikanlah waktu pemotretan anda dengan keadaan cuaca ditempat pemotretan. Jangan sampai cuaca mendung dan hujan mengurangi keindahan foto-foto anda. Meski demikian, cuaca yang sedikit kurang optimal saat ini bisa kita koreksi dengan teknik olah digital.

 

FOTOGRAFER YANG BAIK DAN BERPENGALAMAN

Fotografer adalah ujung tombak dari semuanya, fotografer yang baik dan berpengalaman mampu mengarahkan semua elemen untuk menghasilkan foto yang baik dan artistik. Tugas fotografer bukanlah hanya sekedar menjepret, tapi juga sebagai director team untuk mengoptimalkan karya fotografinya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 26, 2009 in Teori Fotografi

 

ilmu fotografi

From : http://www.ilmugrafis.com

Kata photography berasal dari kata photo yang berarti cahaya dan graph yang berarti gambar. Jadi photography bisa diartikan menggambar/melukis dengan cahaya.

Kamera film, sekarang juga disebut dengan kamera analog oleh beberapa orang.

Format film

Sebelum kita melangkah ke jenis-jenis kamera film ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu berbagai macam format/ukuran film.

1. APS, Advanced Photography System. Format kecil dengan ukuran film 16x24mm, dikemas dalam cartridge. Meski format ini tergolong baru, namun tidak populer. Toko yang menjual film jenis ini susah dicari di Indonesia

2. Format 135. Dikenal juga dengan film 35mm. Mempunyai ukuran 24x36mm, dikemas dalam bentuk cartridge berisi 20 atau 36 frame. Format ini adalah format yang paling populer, banyak kita temui di sekitar kita

3. Medium format

4. Large format

Jenis Film

1. Film B/W, film negatif hitam putih

2. Film negatif warna. Paling populer, sering kita pakai

3. Film positif, biasa juga disebut slide. Lebih mahal dan rawan overexposure. Meski demikian warna-warna yang dihasilkan lebih bagus karena dapat menangkap rentang kontras yang lebih luas

 

Jenis-jenis kamera Film

1. Pocket/compact. Kamera saku. Populer bagi orang awam, sederhana dan mudah dioperasikan. Menggunakan film format 35mm

2. Rangefinder. Kamera pencari jarak. Kecil, sekilas mirip dengan kamera saku. Bedanya, kamera ini mempunyai mekanisme fokusing (karenanya disebut rangefinder). Umumnya menggunakan film format 35mm

3. SLR, Single Lens Reflex. Kamera refleks lensa tunggal. Populer di kalangan profesional, amatir dan hobiis. Umumnya mempunyai lensa yang dapat diganti. Menggunakan film format 35mm. Disebut juga kamera sistem

4. TLR, Twin Lens Reflex. Kamera refleks lensa ganda. Biasanya menggunakan format medium

5. Viewfinder. Biasanya menggunakan format medium

Kamera manual dan kamera otomatis. Kamera-kamera SLR terbaru umumnya sudah dilengkapi sistem autofokus dan autoexposure namun masih dapat dioperasikan secara manual.

Kamera digital

Menggunakan sensor digital sebagai pengganti film

1. Consumer. Kamera saku, murah, mudah pemakaiannya. Lensa tak dapat diganti. Sebagian besar hanya punya mode full-otomatis. Just point and shoot. Beberapa, seperti Canon seri A, memiliki mode manual.

2. Prosumer. Kamera SLR-like, harga menengah. Lensa tak dapat diganti. Shooting Mode manual dan auto

3. DSLR. Digital SLR

 

 

Lensa Kamera

mata dari kamera, secara umum menentukan kualitas foto yang dihasilkan lensa memiliki 2 properties penting yaitu panjang fokal dan aperture maksimum.

Field of View (FOV)

tiap lensa memiliki FOV yang lebarnya tergantung dari panjang fokalnya dan luas film/sensor yang digunakan.

Field of View Crop

sering disebut secara salah kaprah dengan focal length multiplier. Hampir semua kamera digital memiliki ukuran sensor yang lebih kecil daripada film 35mm, maka pada field of view kamera digital lebih kecil dari pada kamera 35mm. Misal lensa 50 mm pada Nikon D70 memiliki FOV yang sama dengan lensa 75mm pada kamera film 35mm (FOV crop factor 1.5x)

 

Jenis-jenis Lensa

a. berdasarkan prime-vario

1. Fixed focal/Prime, memiliki panjang fokal tetap, misal Fujinon 35mm F/3.5 memiliki panjang fokal 35 mm. Lensa prime kurang fleksibel, namun kualitasnya lebih tinggi daripada lensa zoom pada harga yang sama

2. Zoom/Vario, memiliki panjang fokal yang dapat diubah, misal Canon EF-S 18-55mm F/3.5-5.6 memiliki panjang fokal yang dapat diubah dari 18 mm sampai 55 mm. Fleksibel karena panjang fokalnya yang dapat diatur

 

b. berdasarkan panjang focal

1. Wide, lensa dengan FOV lebar, panjang fokal 35 mm atau kurang. Biasanya digunakan untuk memotret pemandangan dan gedung

2. Normal, panjang fokal sekitar 50 mm. Lensa serbaguna, cepat dan harganya murah

3. Tele, lensa dengan FOV sempit, panjang fokal 70mm atau lebih. Untuk memotret dari jarak jauh

 

c. berdasarkan aperture maksimumnya

1. Cepat, memiliki aperture maksimum yang lebar

2. Lambat, memiliki aperture maksimum sempit

 

d. lensa-lensa khusus

1. Lensa Makro, digunakan untuk memotret dari jarak dekat

2. Lensa Tilt and Shift, bisa dibengkokan

 

Ketentuan lensa lebar/tele (berdasarkan panjang focal) di atas berlaku untuk kamera film 35mm. Lensa Nikkor 50 mm menjadi lensa normal pada kamera film 35mm, tapi menjadi lensa tele jika digunakan pada kamera digital Nikon D70. Pada Nikon D70 FOV Nikkor 50 mm setara dengan FOV lensa 75 mm pada kamera film 35mm

 

Peralatan bantu lain

– Tripod , diperlukan untuk pemotretan dengan kecepatan lambat. Pada kecepatan lambat, menghindari goyangan kamera jika dipegang dengan tangan (handheld). Secara umum kecepatan minimal handhel adalah 1/focal.

Membawa tripod saat hunting bisa merepotkan. Untuk keperluan hunting biasanya tripod yang dibawa adalah tripod yang ringan dan kecil.

– Monopod , mirip tripod, kaki satu. Lebih mudah dibawa. Hanya dapat menghilangkan goyangan vertikal saja.

– Flash/blitz/lampu kilat , untuk menerangai obyek dalam kondisi gelap

– Filter , untuk menyaring cahaya yang masuk. Ada banyak jenisnya :

UV, menyaring cahaya UV agar tidak terjadi hazy pada foto2 landscape, sering digunakan untuk melindungi lensa dari debu.

PL/CPL (Polarizer/Circular Polarizar) untuk mengurangi bayangan pada permukaan non logam. Bisa juga untuk menambah kontras langit

 

Exposure

jumlah cahaya yang masuk ke kamera, tergantung dari aperture dan kecepatan.

– Aperture/diafragma . Makin besar aperture makin banyak cahaya yang masuk. Aperture dinyatakan dengan angka angka antara lain sebagai berikut: f/1,4 f/2 f/3,5 f/5.6 f/8. semakin besar angkanya (f number), aperture makin kecil aperturenya

– Shutter speed/kecepatan rana . Makin cepat, makin sedikit cahaya yang masuk

– ISO , menyatakan sensitivitas sensor/film. Makin tinggi ISOnya maka jumlah cahaya yang dibutuhkan makin sedikit. Film ISO 100 memerlukan jumlah cahaya 2 kali film ISO 200

Contoh: kombinasi diafragma f/5.6 kec. 1/500 pada ISO 100 setara dengan diafragma f/8 kec 1/500 atau f/5.6 kec. 1/1000 pada ISO 200.

 

Exposure meter , pengukur cahaya. Hampir tiap kamera modern memiliki pengukur cahaya internal. Selain itu juga tersedia pengukur cahaya eksternal

Exposure metering ( sering disingkat dengan metering )

adalah metode pengukuran cahaya

1. Average metering , mengukur cahaya rata-rata seluruh frame

2. Center-weighted average metering , mengukur cahaya rata-rata dengan titik berat bagian tengah

3. Matrix/Evaluative metering , Mengukur cahaya di berbagai bagian dari frame, untuk kemudian dikalkulasi dengan metode-metode otomatis tertentu

4. Spot metering , mengukur cahaya hanya pada bagian kecil di tengah frame saja

 

Exposure compensation, 18% grey . Exposure meter selalu mengukur cahaya dan menhasilkan pengukuran sehingga terang foto yang dihasilkan berkisar pada 18% grey. Jadi kalau kita membidik sebidang kain putih dan menggunakan seting exposure sebagaimana yang ditunjukan oleh meter, maka kain putih tersebut akan menjadi abu-abu dalam foto. Untuk mengatasi hal tersebut kita harus melakukan exposure compensation. Exposure kita tambah sehingga kain menjadi putih.

 

Under exposured = foto terlalu gelap karena kurang exposure

Over exposured = foto terlalu terang karena kelebihan exposure

 

Istilah stop

Naik 1 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 2 kali.

Naik 2 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 4 kali.

Turun 1 stop exposure diturunkan menjadi 1/2 kali.

Turun 2 stop exposure diturunkan menjadi 1/4 kali.

 

Kenaikan 1 stop pada aperture sebagai berikut: f/22; f/16; f/11; f/8; f/5,6; f/4; f/2,8; f/2.

Beda f number tiap stop adalah 0,7 kali (1/ akar2).

 

Kenaikan 1 stop pada kec. Rana sebagai berikut: 1/2000; 1/1000; 1/500; 1/250; 1/125; 1/60; 1/30; 1/15; 1/8; 1/4; 1/2; 1.

Beda speed tiap stop adalah 2 kali

 

DOF , Depth of Field, kedalaman medan. DOF adalah daerah tajam di sekitar fokus.

Kedalaman medan dipengaruhi oleh besar aperture, panjang fokal, dan jarak ke obyek.

1. Aperture, semakin besar aperture (f number makin kecil) maka DOF akan makin dangkal/sempit

2. Panjang fokal (riil), semakin panjang fokal, DOF makin dangkal/sempit

3. Jarak ke obyek, semakin dekat jarak ke obyek maka DOF makin dangkal/sempit

 

Pemilihan DOF

– Jika DOF sempit, FG dan BG akan blur. DOF sempit digunakan jika kita ingin mengisolasi/menonjolkan obyek dari lingkungan sekitarnya misalnya pada foto-foto portrait atau foto bunga.

– Jika DOF lebar, FG dan BG tampak lebih tajam. DOF lebar digunakan jika kita menginginkan hampir seluruh bagian pada foto nampak tajam, seperti pada foto landscape atau foto jurnalistik.

 

Shooting mode

Mode auto , mode point and shoot, tinggal bidik dan jepret

1. Full auto, kamera yang menentukan semua parameter

2. Portrait, kamera menggunakan aperture terbesar untuk menyempitkan DOF

3. Landscape, kamera menggunakan aperture terkecil

4. Nightscene, menggunakan kecepatan lambat dan flash untuk menangkap obyek dan BG sekaligus

5. Fast shuter speed

6. Slow shutter speed

 

Creative zone

1. P, program AE. Mirip dengan mode auto dengan kontrol lebih. Dengan mode ini kita bisa mengontrol exposure compensation, ISO, metering mode, Auto/manual fokus, white balance, flash on/off, dan continues shooting.

2. Tv, shutter speed priority AE. Kita menetukan speed, kamera akan menghitung aperture yang tepat

3. Av, aperture priority AE. Kita menentukan aperture, kamera mengatur speed

4. M, manual exposure. Kita yang menentukan aperture dan speed secara manual

 

Komposisi dan Angle

Komposisi adalah penempatan obyek dalam frame foto

Angle adalah sudut pemotretan, dari bawah, atas, atau sejajar

Komposisi dan angle lebih menyangkut ke seni dari fotografi. Faktor selera fotografer sangat besar pengaruhnya.

 

Semoga Bermanfaat

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 4, 2009 in Teori Fotografi

 

Kombinasi Shutter Speed dan Aperture

Kombinasi Shutter Speed dan Aperture dan ISO akan menghasilkan foto dengan exprosure tertentu.

Sebenarnya tidak ada rumusan baku dalam menentukan kombinasi kedua hal tersebut, yang perlu diketahui adalah efek dari aperture dan shuter speed itu sendiri, dari sana kita bisa menentukan kombinasi dari nilai tersebut.

Efek dari Aperture:

1. ruang tajam (DOF)

Aperture yang mengatur volume cahaya dari lensa berpengaruh langsung terhadap daerah ketajaman gambar di depan dan dibelakang objek foto. Semakin kecil bukaan diagfragma maka akan semakin luas ruang tajam yang dihasilkan dan sebaliknya.

Contohnya, kalau saya ingin memotret orang dengan background terlihat blur menggunakan fix lens maka saya akan memotret orang tersebut dengan bukaan kecil misal f/1.8 sementara shutter speed dan ISOnya menyesuaikan. Teknik ini biasa disebut dengan teknik open lens.

Tapi satu hal yang perlu diingat, bahwa efek ruang tajam tidak hanya dihasilkan oleh aperture saja, melainkan juga jarak pemoteretan dan panjang fokus lensa.

 

2. Ketajaman gambar optimal (yang dihasilkan dari lensa tersebut)

Aperture mempengaruhi ketajaman gambar yang dihasilkan. Foto yang diambil dengan aperture yang lebar umumnya tidak setajam foto dengan aperture menengah (sekitar 2 – 3 stop dari maksimum). Itu mengapa untuk foto landscape, banyak yang menganjurkan menggunakan bukaan menengah (f/8, f/11, atau f/16). Tapi hal ini tidak baku, sebagai contoh untuk pemotretan produk, terkadang digunakan bukaan sampai f/22 atau f/32.

 

3. Difraksi.

Aperture yang terlalu kecil (misal f/16 atau f/22), dapat memberikan efek difraksi. Coba anda motret lampu penerangan jalan dengan bukaan kecil, maka biasanya pada foto, lampu tersebut akan terlihat seperti bintang.

 

Efek dari Shutter Speed :

1. Freeze

efek dari shutter speed yang tinggi adalah efek “freeze” atau membekukan objek. cocok bila anda ingin membuat foto yang seolah olah membekukan pergerakan objek. Berapa besar nilainya, tergantung kecepatan pergerakan objek itu sendiri.

 

2. Slow Motion.

efek dari shutter speed rendah biasanya 1 detik keatas, adalah slow motion. Bila anda ingin melihat perbedaan efek shutter speed tinggi dengan rendah, coba anda foto sebuah keran air yang sedang menyala, satu dengan shutter tinggi, misal 1/500 dan satu dengan shutter rendah, misal 2 detik.

Shutter rendah juga biasa digunakan pada saat membuat foto dengan teknik “painting with light” dan “camera toss”

Satu hal yang perlu diperhatikan dari shutter speed adalah batas minimum shutter untuk mencegah kegoyangan kamera. Senior saya pernah bilang bahwa untuk mencegah kegoyangan kamera pada kondisi pencahayaan normal adalah “1/Focal Length Lens”. Contoh, lensa yang digunakan 100mm, maka shutter speed minimum yang dianggap masih aman untuk mencegah kegoyangan kamera adalah 1/100.

 

Nah dengan mengetahui efek2 dari aperture dan shutter speed, maka kita dapat mengkombinasikan keduanya, sesuai dengan foto yang akan kita buat.

Kenali dan pahami kamera yang anda gunakan lalu optimalkan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 4, 2009 in Teori Fotografi

 

Filter CPL dan ND

Untuk Filter Circular Polarize atau CPL itu biasanya digunakan ketika memotret landscape yang efeknya bisa membirukan warna langit. Namun syaratnya kondisi langit pada saat pemotretan harus sudah biru. Fungsi kedua dari CPL ini adalah untuk digunakan menghilangkan refleksi, contoh ketika memotret etalase toko dapat menggunakan filter ini agar bayangan si pemotret tidak nampak. Bisa juga untuk memotret objek di dalam ruangan kaca agar tidak ada pantulan sinar.

Untuk ND Filter atau neutral density filter secara umum berfungsi untuk menggelapkan tanpa mengubah warna dan kontras. Filter ND ini berguna pada saat anda menginginkan kecepatan sangat lambat pada kondisi cahaya sangat kuat. Misalnya anda ingin memotret buih-buih air di sungai dengan kecepatan 4 detik, sedangkan cahaya matahari sangat kuat. Dengan menggunakan filter ND kita bisa bermain dengan kecepatan sangat lambat walau kondisi cahaya sangat terang.

Hitungan ND secara global adalah sebagai berikut :

ND2 —–> 2 = 2 pangkat 1 ——> jadi turun 1 stop
ND4 —–> 4 = 2 pangkat 2 ——> jadi turun 2 stop
ND8 —–> 8 = 2 pangkat 3 ——> jadi turun 3 stop

dst…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 12, 2009 in Teori Fotografi

 

Apa itu Aperture atau Diafragma?

Apa itu Aperture atau Diafragma? ( disadur dari Teddy widhi Blogspot )

Didalam dunia fotografi, pasti ada istilah Aperture atau Diafragma. Aperture atau Diafragma berguna untuk mengatur banyak sedikitnya intensitas “volume” cahaya yang masuk kedalam kamera yang ditangkap oleh sensor/film. Alat ini biasanya terletak di belakang lensa, tersusun dari lempengan logam yang sangat tipis, sehingga bisa diatur agar bisa membuka lebih lebar atau menyempit. Dibawah ini gambaran umum diafragma yang ada di kamera:

Biasanya penulisan angka-angka diafragma atau aperture pada kamera seperti berikut ini : f/2, f/2.8, f/4 dst. seperti gambar diatas. Perlu diketahui, semakin kecil angka diafragma akan semakin banyak cahaya yang disalurkan oleh lensa kedalam kamera.

Pada dasarnya Apertuer itu sendiri adalah lubang ditengah-tengah bilah besi diafragma, dimana cahaya dapat masuk atau nyelonong dalam sebuah lensa. dan besar kecilnya lubang itu sendiri tidak lain diatur dengan bilah-bilah diafragma.

Rumus dasar dari angka diafragma diperoleh dari perbandingan antara panjang fokus lensa dan diameter permukaan lensa.

Note :

Setiap kali mengecilkan bukaan diafragma satu stop, berarti mengurangi volumi cahaya (yang masuk melalui lensa) sebanyak setengahnya. sebaliknya, bila memperlebar bukaan diafragma satu stop, berarti menambah volume cahaya sebanyak dua kali lipat dari sebelumnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 11, 2009 in Teori Fotografi